Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 15 : Pengakuan Kania



"Kania" panggil Raihan, Kania baru saja akan membuka pintu utama.


Kania membalik 'kan badannya melihat ke arah sumber suara. Raihan baru saja keluar dari kamar tamu untuk menemui Malvin dan tentu saja Malvin tidak ada di sana.


"Kak Raihan!" kata Kania.


"Abis ketemu Paula?"


"Iya kak"


"Tumben pulang, biasanya juga kamu nginep di sini"


"He.. He.. Maunya sih gitu kak. Tapi kayaknya Paula lagi sibuk dan gak bisa di ganggu"


Raihan mengernyitkan kedua alisnya. "Sibuk apa dia?" tanyanya kemudian.


"Pacaran" kata Kania penuh penakanan sembari melihat ke arah Paula yang sedang menuruni anak tangga.


"Pantes aja dia gak ada di kamarnya, ternyata dia ada di kamar Paula" kata Raihan. "Kania, aku ke atas ya" sambungnya lagi.


Paula dan Raihan papasan di tangga.


"Jangan sampai gol, kalian belum nikah. Kau ini terlalu agresif" Raihan terkekeh.


"Apaan sih kak" kesal Paula langsung pergi.


"Pau, kau sudah dua kali mencemari mataku. Pertama, saat kalian tidur di mobil dan sekarang kalian.. Oh ya ampun, entah apa lagi nanti" kata Kania. Saat ini mereka berada di ruang tamu. Mereka mengobrol sambil menonton Drama Korea.


"Kamunya aja yang selalu datang di saat yang tidak tepat" kata Paula, matanya fokus menatap layar tv dan tangannya sibuk memasuk 'kan snack ke dalam mulutnya.


"Iya juga sih. Kau tau pau, jiwa jomblo ku meronta-ronta melihat kemesraan kalian berdua"


"Makanya cari pacar!"


"Maunya sih gitu. Tapi kamu 'kan tau standar ku itu tinggi. Aku ingin punya pacar yang wajahnya sama kayak aktor korea"


"Hahh.. Kania.. Kania.. Kalau gitu kamu pacaran aja dalam mimpi"


"Paula!" kesal Kania.


"Apa?"


"Maaf" lirih Kania tiba-tiba.


Paula menatap Kania penuh selidik. Ia sangat mengenal sifat sahabatnya itu. Paula tau ada hal yang mengganggu pikiran Kania dan itu pasti menyangkut dirinya. Jika bukan, kenapa Kania meminta maaf? Padahal satu detik sebelumnya ia sangat marah.


"Kali ini, apa yang kamu lakukan?"


"Tidak banyak, aku hanya memberi tau Stella jika kamu sudah bertunangan" jujur Kania. "Dan Kabar kamu yang sudah bertunangan itu sudah tersebar ke semua pegawai" Kania menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Paula menghela napasnya dalam. "Sudahlah, biarkan saja" kata Paula tenang.


"Kamu gak marah?" tanya Kania. "Bukankah kamu gak mau jika orang-orang tau tentang hubungan mu dangan pak Malvin. Tapi kamu tenang aja, aku gak bilang kok kalau tunangan kamu itu pak Malvin" sambungnya lagi.


Paula tersenyum.


"Kenapa tersenyum?"


"Stella tau kalau aku adalah Michelle" kata Paula.


"Haahh.. Kok bisa?" kaget Kania.


"Dia belum tau pasti sih, dia masih curiga. Kamu ingat saat ponsel ku tertinggal di kantin dan aku kembali untuk mengambilnya" tanya Paula.


Kania mengangguk 'kan kepalanya sebagai jawaban.


"Saat itu aku mendengar pembicaraan Stella dengan gengnya. Dia mengatakan, kalau dia mencurigai aku adalah Michelle pada teman-temannya itu"


"Terus.. Apa mereka percaya?" tanya Kania penasaran.


"Menurut kamu? Apa mereka akan mempercayai ucapan Stella begitu aja"


"Haahh.. Sekarang aku mengerti" Kania menghela napasnya kasar. "Jadi ini alasan dia mendekati aku. Dia ingin mengorek informasi tentang diri mu untuk membuktikan kalau ucapannya itu benar pada teman-temannya" sambungnya lagi.


"Stella! Berani sekali kau memanfaatkan ku. Aku akan memberi mu pelajaran nanti" kesal Kania. "Terus sekarang gimana Pau?" tanyanya kemudian.


"Bukankah aku sudah mengatakannya tadi, biarkan saja. Lagian sekarang aku udah gak peduli lagi kalau orang-orang tau tentang hubungan ku dengan Malvin" jawab Kania.


"Kamu serius Pau? Kamu tau 'kan resikonya jika orang-orang tau. Apa kamu akan baik- baik aja?" tanya Kania khawatir.


"Aku akan baik-baik aja Kania. Yang terpenting saat ini adalah aku dan kak Mark bahagia. Aku gak peduli apa kata orang nanti"


"Kau sudah mengambil keputusan yang tepat Paula. Semoga hubungan kalian langgeng"


"Terimakasih Kania" mereka berpelukkan.


Kania melepaskan pelukannya setelah ia menyadari sesuatu. "Ehh, sebentar. Tadi kamu bilang bahagia sama siapa? Kak Mark? Siapa dia? Paula! Kamu selingkuh?" tuduh Kania.


Paula hanya terkekeh mendengar tuduhan Kania. "Kak Mark itu adalah Malvin, Kania" jelasnya kemudian.


"Hahh.. Maksudnya?"


"Jadi kalian udah kenal lama?"


"Iya, tapi karena saat itu aku masih kecil jadi aku lupa. Kania kau tau?"


"Apa?"


Paula menceritakan tentang Malvin yang membongkar perselingkuhan pacarnya Paula. Mereka sudah melupakan drama korea yang sedang mereka tonton.


"Haahh.." kaget Kania setelah Paula selesai bercerita. Kania sampai tidak bisa berkata-kata lagi.


"Aku beruntung sangat beruntung menjadi wanita yang di cintai kak Mark. Dia sangat menyayangi ku dan selalu menjaga ku. Dan aku juga sangat mencintainya"


"Aku lebih mencintai mu sayang" kata Malvin berbisik di telinga Paula. Entah sejak kapan Laki-laki itu datang.


"Kak Mark"


"Pak Malvin"


Suara Paula dan Kania terdengar secara bersamaan.


Malvin duduk di sebelah Paula kemudian memeluknya. "Aku merindukan mu"


Kania berdehem. "Pau, a-aku pulang" setiap bertemu dengan Malvin, Kania selalu gugup. Ia takut melakukan kesalahan.


"Kania, kau santai saja. Di sini saya bukan bos kamu. Saya hanya kekasih sahabat kamu. Jadi kau tidak usah sungkan" jelas Malvin.


"Ba-baik pak"


Haa.. Haa.. Haa


Suara tertawa seseorang terdengar sangat keras. Raihan tertawa sangat puas. Ia menertawakan Kania yang cerewet berubah menjadi Kania yang pendiam di depan Malvin.


Paula, Malvin dan Kania hanya menatap Raihan bingung. Raihan duduk di sebelah Kania.


"Apa kau sangat takut dengan Malvin?"


"En-nggak" elak Kania.


Paula melempar Raihan dengan bantal kecil yang ada di sofa. "Kak Raihan, kau selalu saja menggoda Kania. Jangan mengganggunya terus"


"Iya bapau. Kania Maaf"


"Ahh.. Iya. Gak papa kok kak"


"Kamu belum tidur? Bukankah tadi aku meminta mu untuk istirahat" tanya Paula pada Malvin.


"Tadi aku udah tidur sayang, tapi kebangun. Gara-gara dia tuh" Malvin menunjuk kesal Raihan sedangkan Raihan kembali tertawa.


"Emangnya kak Raihan ngelakuin apa?"


FLASH BACK ON


Saat Raihan tau jika ternyata Malvin ada di kamar Paula, ia langsung pergi ke kamar Paula untuk menemui Malvin, karena ada hal yang ingin ia bicarakan dengan Malvin.


Saat Raihan membuka pintu kamar ia melihat Malvin yang sudah tertidur. Raihan mendekat ke arah ranjang berniat untuk membangunkan Malvin. Tapi saat akan membangunkannya, Malvin malah menarik tangan Raihan hingga jatuh ke dalam pelukan Malvin.


Sebenarnya Malvin baru saja tertidur. Saat ia mendengar suara pintu terbuka, ia pikir itu adalah Paula.


"Apa kau sudah gila" sarkas Raihan. Ia bangkit dari atas tubuh Malvin.


"Kau.." Malvin tersentak saat mendengar suara Raihan bukannya Paula kemudian ia juga bangkit dari tidurnya.


"Iya ini aku, menurut mu siapa?"


"Aishhh.. Pergilah. Kau mengganggu tidur ku saja"


"Aku ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting dengan mu"


"Nanti saja. Kau sudah merusak tidur ku. Aku akan menemui Paula" Malvin langsung pergi meninggalkan Raihan.


FLASH BACK OFF


Haa.. Haa.. Haa..


Tawa Paula dan Kania pecah setelah mendengar cerita dari Malvin.


"Haahh.. Perut aku sakit" kata Paula.


"Ya udah deh Pau, aku pulang sekarang. Ini udah terlalu malam" pamit Kania.


"Iya"


"Ayo sayang, kita ke kamar" kata Malvin setelah Kania pergi.


"Pau, kau pergilah duluan. Ada hal yang ingin kakak bicarakan dengan Malvin" kata Raihan mengintrupsi. Malvin menatap Raihan penuh tanya.


"Pergilah sayang, aku akan menyusul mu" kata Malvin pada Paula.


"Hmm.. Baiklah" kania pergi ke kamarnya meninggalkan Malvin dan Raihan berdua. Entah apa yang akan di bicarakan Raihan kepada Malvin.