
Malam harinya..
Kania pergi ke rumah Paula dan mereka saat ini tengah berada di halaman belakang rumah Paula.
"Pau, tadi saat di restoran aku bertemu dengan Marissa dan Angel. Mereka ingin meminta maaf pada mu dan mereka akan datang ke rumah mu besok. Tak apa 'kan?"
"Iya tak apa. Aku juga sebenarnya ingin meminta maaf pada mereka, karena aku mereka jadi kehilangan pekerjaan mereka"
"Kau sangat baik Paula. Tambah sayang deh, sini peluk" Kania merentangkan tangannya.
"Jangan peluk Paula, peluk aku aja" kata Raihan yang baru saja datang.
"Ish.. Kak Rai, apaan sih! Pelukan aja sana sama tiang listrik" kata Kania.
"Kesetrum dong. Emang kamu gak mau aku peluk?" tanya Raihan.
"Gak mau! Emangnya kak Rai siapanya aku?"
"Jadi kalau kita ada apa-apa kamu mau aku peluk?"
"Ekhm.. Udah deh kak Rai langsung lamar aja Kanianya nanti keburu di gondol orang. Masih inget 'kan janji kak Rai sama mama? Yang ada aja udah langsung kenalin ke mama terus nikah deh" kata Paula mengulum senyumnya.
"Paula apaan sih?" pipi Kania sudah sangat memerah.
Paula terkekeh. "Dih.. Itu pipi kenapa?"
"Paula!!!" kesal Kania.
"Apa sih Pau? Aku cuma bercanda tadi. Lagian aku juga udah anggep Kania itu adik aku, sama kayak kamu" kata Raihan.
"Yah.. Padahal aku udah berharap banget kalau aku sama Kania akan jadi ipar" kata Paula.
Mendengar ucapan Raihan yang menganggapnya adik, entah kenapa Kania merasa kecewa.
"Ya udah deh Pau, aku pamit pulang ya" kata Kania.
"Kenapa pulang? Nginep aja di sini" kata Paula.
"Gak akh.. Nanti kamu tidur sama pak Malvin terus aku tidur di mana?"
"Kak Mark malam ini tidur di rumahnya. Kamu lihat sendiri 'kan dia gak ada di sini"
"Ya udah deh iya aku nginep"
Kamar Paula..
Tiga jam sudah Kania menjadi nyamuk di antara Malvin dan Paula karena mereka sedang melakukan panggilan video.
Kania sudah mencoba untuk mengabaikannya dan lebih memilih untuk tidur tapi tetap saja itu tidak bisa.
Kania menjerit tertahan kemudian ia bangkit dari tidurnya dan melangkahkan kakinya pergi ke luar kamar.
"Mau kemana?" tanya Paula yang melihat Kania hendak membuka pintu.
"Aku laper Pau, aku mau cari sesuatu yang bisa aku makan" jawab Kania.
"Kamu gak bisa tidur ya? Karena aku, maaf.." sesal Paula. Ia merasa sangat tidak enak karena sudah mengganggu tidur sahabatnya itu.
"Iya.."
Ingin rasanya Paula mengatakan kata itu tapi tidak bisa karena Malvin juga pasti mendengarnya. Jadi Kania hanya bisa mengatakan kata itu dalam hatinya saja.
"Nggak Pau, aku beneran lapar. Udah kamu lanjutin aja" kata Kania dan berlalu pergi.
"Kak Mark udah dulu ya, aku gak enak sama Kania" kata Paula seraya menatap ponselnya.
"Sebentar sayang, aku masih kangen"
"Kita 'kan ketemu lagi besok"
"Ya udah kalau gitu, aku ke rumah kamu sekarang. Aku tidur di sana sama kamu"
"Jangan! 'Kan di sini lagi ada Kania, kalau kak Mark ke sini terus Kania tidur di mana?"
"Kania suruh pulang aja, rumahnya juga deket 'kan?"
Paula menghela napasnya dalam. "Kalau kak Mark ke sini, aku marah!" ancam Paula dan langsung menutup panggilan videonya.
"Dia sangat menggemaskan" kata Malvin.
"Haahh.. Sepertinya aku harus tidur sendiri malam ini"
"Selamat tidur sayang, aku mencintai mu"
Sementara itu di dapur, Kania sedang mencari makanan tapi tidak ada. Kania duduk di meja makan.
"Haahh.. Tau gini tadi aku tolak aja ajakan Paula untuk nginep. Gak bisa tidur 'kan? Mana besok kerja. Sekarang aku laper tapi nggak ada makanan yang bisa aku makan. Lengkap sudah"
Kania menumpuk 'kan kepalanya di atas meja makan dengan tangan sebagai tumpuannya.
"Kania"
"Kak Rai"
"Kok belum tidur?" tanya Raihan.
"Laper" Kania memegang perutnya sendiri.
"Sama aku juga laper"
"Tapi di sini gak ada makanan"
"Ya udah kita keluar aja cari makan"
"Tapi kak Rai ini udah jam setengah dua belas malam, emangnya masih ada penjual makanan yang masih buka?" tanya Kania.
"Kita cari aja, pasti ada"
"Ok"
Diam-diam Paula memperhatikan interaksi antara kakak dan sahabatnya itu. Paula sangat berharap jika mereka berjodoh. Paula ingin Raihan segera menemukan kebahagiaannya.
Raihan pernah memiliki kekasih bahkan mereka sudah berencana untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, pernikahan. Tetapi manusia hanya bisa berencana karena tuhanlah yang menentukan hasil akhirnya.
Kekasih Raihan seorang Pramugari dan ia sudah meninggal tiga tahun lalu saat sedang bekerja. Pesawat yang ia tumpangi terjatuh dan tidak ada yang selamat dalam kecelakaan itu.
"Semoga ini awal yang baik untuk mereka" kata Paula tulus kemudian ia kembali ke kamarnya.
Kania di bonceng Raihan dengan motornya menyusuri jalanan mencari tempat makan yang masih buka di tengah malam seperti ini.
"Kak Rai stop, kita makan di sana aja" Kania menunjuk sebuah kedai yang bertengger di pinggir jalan.
Sebagian besar dari kedai-kedai itu memang sudah tutup tapi ada satu kedai yang masih buka.
Raihan menghentikan motornya di kedai yang masih buka itu. Raihan membuka helmnya kemudian melihat ke arah Kania di belakangnya. "Sate ayam?"
"Iya, gak papa 'kan? Tapi kalau kak Rai gak mau, kita cari tempat lain aja" kata Kania.
"Kita makan di sini aja, aku juga lagi pengen makan sate"
Kania tersenyum senang kemudian ia turun dari motor Raihan.
"Ayo kak Rai, aku udah laper banget" kata Kania dan berlalu pergi meninggal 'kan Raihan yang masih berada di atas motornya.
Raihan terkekeh. "Dia persis seperti Paula"
Raihan dan Kania makan sate ayam dengan tenang. Sesekali Raihan menatap Kania yang makan dengan sangat lahap.
"Kania pelan-pelan aja makannya" kata Raihan.
"Aku lagi kesel kak Rai"
"Kesel kenapa?" tanya Raihan.
"Ini karena Paula dan pak Malvin. Kak Rai tau, Paula dan pak Malvin video call-an sampe tiga jam dan aku gak bisa tidur karena itu. Rasanya telinga ku seperti terbakar mendengar obrolan mereka. Kak Rai tau sendirilah gimana bucinnya pak Malvin sama Paula. Aku mau marah juga gak bisa, malah nanti kalau aku marah bisa-bisa aku di pecat lagi. 'Kan nyebelin"
Raihan terkekeh mendengar curahan hati sahabat adiknya itu.
"Kak Rai kenapa tertawa? Ini aku lagi curhat lho bukan lagi ngelawak"
Raihan semakin terkekeh.
"Kak Rai!! Tau akh.. Kak Rai sama aja nyebelin!!" Kania melanjutkan lagi makannya yang sempat tertunda karena curhat tadi.
Rai mengelus pucuk kepala Kania dan itu sontak langsung membuat kania mematung.
Deg.. Deg.. Deg..
Kania mendengar suara detak jantungnya sendiri yang seakan di dalam sana sedang ada pertunjukan drumband.
"Iya maaf, aku ngerti kok. Jangan ngambek gitu nanti cantiknya ilang" kata Raihan plus gombalannya yang receh itu.
Kania masih mematung. Ini pertama kalinya ia merasakan perasaan yang aneh saat bersama Raihan.
"Kania kenapa?" tanya Raihan yang melihat Kania diam saja.
Kania masih diam.
"Kania.. Kania.." kata Raihan seraya memegang tangan Kania yang bertengger di atas meja.
Kania terlonjak kaget saat tangan Raihan berada di atas tangannya.
"Hah.. Iya, aku gak papa"
"Lanjutkan lagi makannya, setelah itu kita langsung pulang"
"I-iya kak Rai" kata Kania seraya menatap tangannya yang di pegang Raihan.
"Ada apa dengan diri ku? Kania sadarlah!! Kau sendiri tadi denger 'kan? Kak Rai hanya menganggap mu sebagai adiknya saja tidak lebih. Sadarlah sebelum terlambat!!" gumam Kania dalam hatinya.