Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 5 : Konferensi Pers



Chapter 5 : Konferensi Pers


"Tuan, nona Paula akan sampai lima menit lagi" kata Leon.


"Baiklah, kita mulai sekarang"


Ting..


Pintu lift terbuka dan di sana terlihat Malvin dengan kharismanya berdiri gagah dan di sampingnya berdiri asisten Leon tak kalah gagahnya. Ya walau pun tetap Malvin yang paling gagah. Kedua pria tampan itu berjalan menuju tempat di adakannya Konferensi pers. Malvin mengadakan konferensi pers di kantornya. Para wartawan pun sudah duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Konferensi pers pun di mulai. Konferensi pers itu di siarkan secara langsung di semua stasiun telivisi dan juga platfrom media online. Para pewarta pencari berita pun kini sudah bersiap-siap mereka tidak ingin sedetik pun kehilangan momen. Ada yang sibuk memotret. Ada yang sedang berkutat dengan laptopnya, memainkan jari-jari mereka dengan sangat lihainya di atas keyboard. Ada juga yang sibuk mengatur posisi kamera supaya mereka bisa mendapatkan kualitas gambar terbaik.


"Selamat siang semuanya. Terimakasih sebelumnya sudah hadir di konferensi pers ini. Saya Malvin Mark Vuitton, pemimpin Vuitton Grup. Di konferensi pers ini saya akan mengklarifikasi mengenai kejadian yang terjadi di pesta tadi malam" kata Malvin. Ia memandang ke arah depan. Matanya menatap seorang wanita yang berdiri di belakang para wartawan.


Paula dan Kania yang saat itu baru saja memasuki lobi kantor di kejutkan dengan banyaknya wartawan. Ia berdiri di belakang wartawan dan melihat Malvin yang saat itu juga sedang melihat ke arahnya. Paula sangat takut dengan apa yang akan Malvin katakan.


"Kania, apa yang akan terjadi sekarang?" tanya Paula. Detak jantung berdetak sangat cepat. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Tangannya meremas lengan Kania yang berada di sebelahnya.


"Aw.. Paula sakit" pekik Kania karena Paula sangat keras meremas lengannya.


"Ma-maaf. Ayo Kania kita pergi aja"


"Eh tunggu dulu Paula. Emangnya kamu gak penasaran apa yang akan big bos katakan?" tanya Kania menahan tangan Paula yang hendak pergi.


Paula menghela napasnya dalam. Ia kembali melihat ke arah Malvin yang masih setia menatapnya.


"Aku juga penasaran Kania, tapi aku takut" cicit Paula.


"Ck! Dasar. Sudah kita di sini aja dulu" putus Kania.


"Ya benar. Di pesta tadi malam saya melamar seorang wanita yang sangat saya cintai. Lamaran ini memang sangat mengejutkan semua orang. Tapi saya pastikan, lamaran ini tidak ada kaitannya dengan urusan bisnis. Jika kalian berpikir lamaran ini sengaja di lakukan untuk menaikan pasar perusahaan big no, kalian salah besar. Saya melamarnya karena memang saya tulus mencintainya dan ingin menghabiskan sisa waktu ku bersamanya" kata Malvin. Matanya terus saja menatap Paula. Tapi para wartawan tidak ada yang memperhatikannya, mungkin mereka terlalu fokus dengan apa yang Malvin katakan.


Sementara Paula hanya terdiam mematung begitu juga dengan Kania. Semua pegawai Vuitton Grup juga kini sedang menonton konferensi pers itu di ponselnya masing-masing. Mereka menghentikan aktivitasnya, mereka melupakan pekerjaan mereka yang menumpuk.


"Baiklah, sekarang jika ada yang ingin bertanya. Silahkan" kata Leon.


Seorang wartawan pria berkacamata terlihat mengacungkan jarinya. Ia masih sangat muda. Leon mempersilahkan wartawan itu untuk bertanya.


"Terimakasih sebelumnya. Perkenalkan nama saya Rian, saya dari kantor berita liputan 9. Pertanyaan saya, siapakah sosok wanita yang semalam anda lamar? Apakah dia berasal dari kalangan selebritas atau anak dari salah satu rekan bisnis pak Malvin?"


"Oh, ya ampun. Kania, habislah aku. Gimana kalau pak Malvin nyebutin nama aku?" panik Paula. Wajahnya terlihat sangat pucat.


"Bukankah itu bagus Paula. Kau akan menjadi selebritas dalam waktu semalam" kata Kania.


"Kania!" geram Paula.


Paula melihat ke arah Malvin. Ia menggelengkan kepalanya cepat, memberi kode pada Malvin untuk tidak membongkar identitasnya. Malvin mengulum senyumnya ketika melihat tingkah Paula, ia mengerti arti dari kode itu.


"Bukan, dia bukan dari kalangan selebritas atau pun anak dari rekan bisnis saya. Dia hanya seorang wanita yang berhasil membuat saya merasakan jatuh cinta" jawab Malvin tanpa keraguan.


"Jika boleh, bisa pak Malvin sebutkan namanya?" tanya wartawan berkacamata itu lagi.


"Namanya.." Malvin menjeda ucapannya. Ekor matanya melirik Paula, entah apa yang di rasakan wanita itu. Malvin sangat suka menggoda Paula. Itu sudah menjadi hobby barunya sejak kemarin malam.


Banyak orang di negeri ini yang sudah sangat penasaran, mereka menunggu Malvin menyebutkan nama wanita yang sangat beruntung itu dengan gemas. Ada yang menonton bersama keluarga di rumah. Ada yang menonton sendiri di dalam bis, bahkan wanita itu sampai berteriak gemas ketika Malvin menjeda ucapannya, orang-orang yang ada di dalam bis itu pun hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya. Dan ada juga sekumpulan emak-emak pecinta Malvin yang tak kalah hebohnya, mereka sampai membuat layar hanya untuk nobar konferensi pers itu. Sungguh, bukankah itu sangat berlebihan?


Paula menahan napas, menutup mata dan telinganya. Sungguh rasanya ingin mengubur diri saja.


"Michelle" Malvin mengucapkan nama itu seraya melihat Paula entah apa yang wanita itu rasakan.


Setelah mendengar ucapan Malvin. Paula merasa sedikit lega karena Malvin tidak menyebutkan namanya secara lengkap. Tapi tetap saja bagaimana nanti jika orang-orang mulai mencari tau siapa wanita bernama Michelle itu. Cepat atau lambat mereka semua pasti akan tau bukan?


"Lebih tepatnya sih.. Paula Michelle Zourist" kata Kania yang sedikit kecewa.


"Kania, mulut mu itu. Bagaiman jika ada yang mendengarnya" cicit Paula, ia memukul lengan sahabatnya itu.


"Kenapa pak Malvin tidak menyebutkan nama mu secara lengkap? Jika saja di sebutkan, uuuhh.. kantor ini pasti akan gempar. Akan banyak drama yang terjadi. Pasti sangat seru" kata Kania sambil membayangkannya.


"Kania.." sungut Paula. Sungguh ia sudah sangat kesal. "Diam" sambungnya lagi sembari membekap mulut Kania.


Sementara itu para pegawai pembuat gosip mulai menebak-nebak siapa wanita bernama Michelle itu.


"Mungkinkah wanita itu berasal dari luar negeri?" kata Dona.


"Bukankah pak Malvin kuliah di luar negeri? Bisa saja wanita itu teman kuliahnya" kata Dini.


"Kalian lihat deh" kata Stella menunjukan video saat Malvin dan Paula dansa. "Rasanya aku pernah melihat wanita itu, tapi di mana?" sambungnya lagi.


"Iya kau benar. Sepertinya wanita ini terasa sangat tidak asing?" kata Melly.


Mereka menatap sosok perempuan bertopeng itu tanpa berkedip. Berharap bisa menemukan petunjuk di sana. Tapi nihil mereka tidak menemukan apa-apa.


Ke empat wanita itu memang yang selalu paling semangat dengan hal-hal seperti ini. Mereka akan menjadi detektif dadakan yang akan mengungkap siapa wanita yang bernama Michelle itu.


Kembali lagi ke tempat konferensi pers. Kali ini giliran seorang wanita berambut kriting mengacungkan tangannya. Leon mempersilahkan wanita itu untuk bertanya.


"Terimakasih sebelumnya. Perkenalkan nama saya Grace, saya dari media infotainment kepo maksimal. Pertanyaan saya, Apakah pernikahan kalian akan segera di langsungkan?"


"Mengenai hal itu, saya masih menunggu jawabannya. Mungkin hanya itu saja yang bisa saya sampaikan" kata Malvin. Ia berdiri dan sedikit membungkukkan kepalanya dan pergi meninggalkan tempat konferensi pers itu. Sebelumnya Malvin memberikan kode pada asistennya dan Leon menganggukkan kepalanya tanda mengerti arti dari kode yang di berikan sang big bos itu.


Malvin masuk ke dalam lift dan menuju ke ruangan kerjanya sedangkan Leon menuju tempat di mana Paula dan Kania berdiri sedari tadi menyaksikan konferensi pers itu. Bahkan sekarang kaki mereka sudah terasa sedikit pegal.


"Permisi. Nona Paula dan nona Kania" kata Leon saat ia sudah berada di depan Paula dan Kania. Sedangkan kedua wanita itu merasa terkejut saat asisten sang big bos itu menyapa mereka. Pasalnya ini pertama kalinya Leon berbicara pada mereka.


"Ohh.. Iya. Ada apa asisten Leon" tanya Paula yang sudah bisa menguasai diri dari rasa keterkejutannya.


"Mari ikut saya, kalian berdua sudah di tunggu pak Malvin di ruangannya" jelas Leon.


"APA" kaget Paula dan Kania secara bersamaan. Mereka bertatapan.


"Paula, bagaimana ini? Apa pak Malvin tau kita terlambat? Apakah kita akan di pecat? Bagaimana nasib kita sekarang?" batin Kania menatap Paula.


Seakan tau apa yang di katakan Kania lewat matanya Paula pun menjawab.


"Ck! Ini semua salah mu Kania. Jika saja kita pergi dari sini sejak tadi, pak Malvin gak akan melihat kita yang datang terlambat" batin Paula menyalahkan Kania.


"Kenapa kalian diam? Pak Malvin sudah menunggu" kata Leon yang sontak menghentikan aktivitas kedua wanita yang sedang berkomunikasi lewat batin itu.


"Ahh.. Iya"