Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 44 : Jenazah yang Terbakar



Saat ini Malvin, Raihan dan Leon sedang memastikan bahwa jenazah wanita yang terbakar itu adalah Paula atau bukan.


Dengan perlahan Polisi itu menyingkap kain putih yang menutupi jenazah itu dan saat kain putih itu tersingkap tidak ada yang sanggup membuka matanya. Raihan dan Leon munutup matanya kecuali Malvin.


"Tidak.. Bukan, itu bukan Paula" kata Malvin yakin.


"Pak Malvin yakin ini bukan calon istri anda?" tanya Polisi itu.


"Saya sangat yakin itu bukan Paula"


Wajah jenazah itu memang sudah sangat sulit untuk di kenalin karena terbakar, tapi Malvin sangat yakin jika jenazah itu bukanlah Paula.


Raihan dan Leon bisa bernapas lega setelah mendengar ucapan Malvin. Meraka yakin jika Malvin tidak akan pernah salah mengenali Paula.


Tiba-tiba datang seorang perawat yang memberikan plastik kecil berisikan sebuah barang yang menempel di tubuh jenazah itu pada Polisi.


Malvin menajamnya penglihatannya kala ia memperhatikan barang yang di bawa perawat itu. Malvin sangat mengenali barang yang berupa sebuah cincin itu.


"Tidak mungkin" gumam Malvin kemudian ia merebut cincin itu dari tangan Polisi.


"Ada apa pak Malvin? Apa anda mengenali cincin itu?" tanya Polisi.


"I-ini cincin Paula" tangan Malvin bergetar saat memegang cincin itu. "Ini cincin yang saya berikan pada Paula"


Cincin itu sebagian sudah menghitam karena terbakar tapi lagi dan lagi Malvin yakin cincin itu milik Paula karena masih terlihat jelas di cincin itu terukir inisial Malvin dan Paula 'MP', Malvin sendiri yang mendesainnya.


Malvin merasakan sesak di dadanya, mendadak ia sangat sulit untuk bernapas dan kemudian ia luruh jatuh ke lantai yang dingin itu.


"Tuan.." kata Leon yang tidak tega melihat kesedihan di mata bosnya yang terkenal arogan itu.


Raihan mendekat ke arah jenazah yang sudah tertutup kembali oleh kain putih itu.


"Ini bukan kamu 'kan Pau? Kakak tau kamu masih hidup"


Raihan tak kuasa menahan tangisnya. Laki-laki itu menangis di hadapan jenazah yang terbakar itu.


"Tidak.. Tidak.. Itu bukan Paula.. Itu bukan Paula"


"Sayang, kau tidak bisa meninggalkan ku. Tidak, jangan tinggalkan aku, aku mohon"


"Paula.."


Perlahan Paula membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya melihat sekitar ruangan yang terasa sangat asing. "Di mana ini?" gumam Paula.


"Kamu udah bangun sayang?"


Suara itu berhasil membuat tubuh Paula menegang karena Paula sangat mengenal suara itu. Suara orang yang sudah menggoreskan luka di hatinya.


"Di-dimas?!"


"Iya sayang, ini aku"


"Kau? Ke-kenapa kau ada di sini?"


"Ini rumah ku"


"Apa?"


"Aku tau kau pasti bingung, aku akan menjelaskannya tapi nanti. Sekarang kamu makanlah dulu, aku yang masak lho. Aku masak makanan kesukaan kamu"


"Di mana Malvin? Kenapa aku bisa ada di sini?"


"Aku akan menyuapi mu. Aaa.. Bukalah mulut mu"


Dimas mengarahkan sendok yang berisi nasi dan lauknya lalu di arahkan ke mulut Paula tapi Paula mengalihkan wajahnya ke samping.


"Makanlah sayang, kamu belum makan dari siang"


"Apa? Ini sudah malam?" Paula menatap Dimas sengit.


Dimas tersenyum. "Setelah sekian lama akhirnya aku bisa melihat mata indah mu itu lagi. Mata yang selalu aku rindukan selama ini. Mata yang selalu memancarkan cinta untuk ku"


"Apa kau sudah gila?" sarkas Paula.


"Aku gila karena kau, Paula?"


"Aku akan menyimpan makanannya di sini" Dimas menyimpan piring makanan itu di atas nakas. "Kalau kamu butuh sesuatu panggil saja aku" sambungnya lagi dan berlalu pergi.


Dimas membawa Paula ke luar kota. Dimas dan Paula saat ini berada di sebuah villa yang letaknya jauh dari pusat kota. Di sekitar villa itu ada sawah, gunung dan juga ada beberapa rumah penduduk asli sana.


"Kau mau pergi ke mana? Antarkan aku pulang? Dimas.."


Paula menggebrak-gebrak pintu yang terkunci itu. Paula berusaha membuka pintu itu tapi tidak bisa kemudian Paula melangkah kan kakinya ke arah jendela berusaha untuk membuka jendela itu tapi sama tidak bisa juga.


"Kak Mark, kamu di mana? Cepat datanglah! Aku takut!" lirih Paula, butiran bening itu mengalir deras dari manik matanya.


Sementara itu Dimas sedang menyaksikan siaran berita di televisi yang memberitakan tentang penculikan Paula.


"Teruslah berusaha Malvin, kau tidak akan pernah bisa menemukan Paula karena kau sangat bodoh"


"Aku mencintai mu Paula, sangat mencintai mu. Tidak akan ku biarkan kau pergi lagi dari hidup ku"


Keesokkan harinya..


Paula terus saja menangis karena hanya itu yang ia bisa lakukan saat ini. Dimas mengurungnya di sebuah ruangan yang tidak ada celah untuk kabur. Makanan yang di bawa Dimas semalam pun sama sekali tidak di sentuh oleh Paula.


Terdengar suara pintu yang terbuka dan Dimas masuk dengan membawa nampan berisikan sarapan untuk Paula.


Dimas menghela napasnya saat ia melihat makanan yang di bawanya masih utuh.


"Sayang, kenapa makanannya tidak di makan?" tanya Dimas seraya duduk di sebelah Paula.


"Jangan panggil aku sayang!" sengit Paula.


"Iya, ok. Tapi kamu harus makan, aku udah masakin kamu nasi goreng. Jangan sampai gak di makan lagi makanannya nanti kamu sakit"


"Aku tidak akan pernah makan masakan buatan kamu!"


Dimas menghela napasnya dalam. "Kamu mau apa? Mau makan apa? Aku akan belikan"


"Aku mau pulang"


"Ini rumah kamu Paula, rumah kita. Kamu mau pulang ke mana?"


Paula tersenyum sinis. "Jangan bermain-main dengan ku Dimas"


"Aku serius Paula. Kita mulai semuanya dari awal lagi. Dulu aku sangat bodoh karena sudah mengkhianati mu. Kasih aku satu kali kesempatan lagi, aku berjanji aku tidak akan mengecewakan kamu lagi. Kembalilah pada ku Paula, aku akan memberikan seluruh kebahagiaan di dunia ini untuk mu. Aku sangat mencintai mu"


Paula tertawa hambar menanggapi ucapan Dimas, sungguh ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan mantan kekasihnya itu. Jika memang benar dia mencintai dirinya seperti apa yang di ucapannya, tapi kenapa dengan sangat teganya ia dulu mengkhianatinya. Bukankah itu sangat lucu?


"Jika benar kau mencintai ku dan akan memberikan seluruh kebahagiaan di dunia ini untuk ku, maka biarkanlah aku menikah dengan orang yang sangat aku cintai"


"Kau tenang saja Paula, kita akan segera menikah"


"Dimas.. Bangunlah dari mimpi mu itu"


"Jika mimpi ini sangat indah, kenapa aku harus bangun dari mimpi yang sangat indah ini?"


"Kau gila Dimas! Benar-benar gila!"


"Aku tau Paula, jauh di dalam lubuk hati mu itu kamu masih mencintai ku. Kamu bersedia menikah dengan Malvin itu karena kamu pasti ingin membalas sakit hati mu itu pada ku. Cukup Paula, sudah cukup. Aku tidak bisa menerimanya lagi, aku tidak sanggup melihat mu bersama laki-laki lain. Kau itu milik ku Paula, hanya milik ku"


Paula kehabisan kata-katanya menghadapi kegilaan mantan pacarnya itu. Paula tau, jika ia terus menanggapi ucapan Dimas tidak akan pernah ada habisnya. Jadi Paula lebih memilih untuk diam.


Paula mengambil piring yang berisi nasi goreng itu kemudian melahapnya. Sebelumnya Paula memang mengatakan jika ia tidak akan pernah memakan makanan yang Dimas buat tapi sekarang ia malah menelan ludahnya sendiri.


Paula berfikir realistis. Jika ia tidak makan, tubuhnya tidak akan memiliki tenaga dan jika seperti itu bagaimana caranya ia bisa kabur dari cengkraman Dimas.


"Makannya pelan-pelan Paula, aku akan balik lagi nanti" Dimas keluar dari kamar itu dan menguncinya kembali.


Paula menulikan pendengarannya dan terus melanjutkan makannya.


"Aku terpaksa memakan makanan ini, aku harus bertahan hidup untuk bisa bertemu lagi dengan kak Mark. Cepat datanglah kak Mark" gumam Paula saat Dimas sudah keluar dari ruangan itu.


Di balik pintu yang terkunci itu Dimas tersenyum penuh kemenangan karena Paula mau memakan makanannya padahal sebelumnya ia tidak mau menyentuhnya sama sekali.


"Aku akan membuat mu jatuh cinta lagi pada ku Paula sama seperti dulu" gumam Dimas.