
MAAF YA AKU LAMA UP NYA. SOALNYA AKU LAGI NGERJAIN REVISI NOVEL BARU YANG IKUT LOMBA.
NOVEL INI MASIH LANJUT KOK!! TAPI MUNGKIN UP NYA JARANG.
SILAHKAN YANG BERKENAN MAMPIR KE NOVEL TERBARU AKU JUDULNYA "TRANSMIGRASI SEXY MAFIA" DI TUNGGU YA KAKA. MOHON DUKUNGAN NYA.
***
Saat Dimas membuka pintu kamar mandi, Paula sudah tergeletak tak sadar 'kan diri di sana. Darah terlihat keluar di area pergelangan tangan nya. Tanpa berpikir panjang Dimas langsung membawa Paula ke rumah sakit.
Dokter di bantu dengan seorang perawat baru saja selesai mengobati luka Paula. Keadaan Paula sudah baik baik saja dan kini ia sudah sadar. Luka Paula tidak terlalu parah.
Paula melukai pergelangan tangan nya sendiri menggunakan pecahan gelas tapi untung saja tidak sampai terkena urat nadi nya.
"Nona Paula istirahatlah, semua akan baik baik saja" kata Ryan, Dokter yang mengobati Paula.
"Terima kasih, Dok" kata Paula lemah.
Ryan dan perawat itu keluar Dari ruang UGD.
"Bagaimana keadaan Paula, Dok?" tanya Dimas saat Ryan baru saja keluar dari ruang UGD.
"Nona Paula baik baik saja. Luka nya sudah di obati" jelas Ryan.
"Apa Paula bisa pulang hari ini?"
"Setelah infus nya habis, nona Paula sudah boleh pulang"
"Baik, terima kasih dok" Dimas masuk ke UGD.
Ryan berlari pergi ke ruangan nya dan ia langsung membuka laptopnya dengan terburu buru.
"Malvin Mark Vuitton"
Itulah kalimat yang Ryan ketikan di halaman pencarian di laptop nya.
"Turut berduka : Calon istri dari Malvin Mark Vuitton, pemimpin Vuitton Grup di kabarkan meninggal dunia akibat kecelakaan"
Ryan membaca salah satu artikel berita yang muncul di halaman pencarian. Ryan membaca artikel itu dan betapa terkejut nya ia ketika melihat foto Paula, wajah Paula sama dengan wajah pasien yang baru saja di obati nya itu.
"Apa yang dia ucapkan benar. Wanita itu dalam bahaya, aku harus menolong nya" kata Ryan.
FLASH BACK ON
Secara perlahan Paula membuka mata nya. Senyum terlihat di bibir nya kala ia melihat Dokter yang sedang merawat nya.
"Dokter, tolong saya" kata Paula lemah.
"Iya, saya sudah mengobati luka nona. Keadaan nona sekarang baik baik saja, nona tidak usah khawatir" jelas Ryan.
"Dokter, tolong saya. Saya di culik"
Ryan dan perawat itu saling menatap.
"Apa maksud nona?" tanya Ryan.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan nya sekarang. Saya harus segera mengabari keluarga saya. Saya minta pada Dokter untuk menghubungi calon suami saya dia Malvin Mark Vuitton, Dokter bisa mencari informasi tentang nya di internet. Saya harap Dokter mempercayai ucapan saya. Saya mohon bantu saya Dokter, hanya dokter yang bisa membantu saya"
"Baik, nona tenanglah. Saya akan membantu nona"
"Dokter kita harus melaporkan ini ke polisi" saran suster.
"Tidak kita tidak boleh gegabah. Jika kita melapor ke polisi bisa saja nyawa nona Paula terancam"
"Apa yang Dokter katakan benar juga, tapi apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya suster.
"Kita harus bersikap biasa saja, kita tidak boleh membuat nya curiga. Saat nona Paula pulang nanti, saya akan mengikuti nona Paula jadi saya bisa tau kemana dia membawa nona Paula setelah itu saya akan menghubungi calon suami nona dan juga polisi. Tapi nona Paula harus pastikan dia tidak membawa nona pergi lagi dari sana"
"Iya saya mengerti dok, terima kasih Dokter sudah mau menolong saya, suster juga, terima kasih"
Dimas masuk ke ruang UGD dan langsung memeluk Paula.
"Lepas! Jangan sentuh aku!" sentak Paula.
"Apa yang kamu rasakan? Apa kamu baik bain saja?" tanya Dimas sangat khawatir tapi Paula tidak menjawab pertanyaan nya.
Dimas menatap pergelangan tangan Paula yang sudah di perban kemudian ia meraih tangan itu lalu mencium nya.
"Maaf kan aku, aku tidak bisa menjaga mu, maaf kan aku"
Dimas mengelus pucuk kepala Paula lembut. "Istirahatlah, aku akan mengurus administrasi setelah itu kita akan pulang"
Sesaat setelah Dimas keluar, Ryan masuk ke ruang UGD.
"Dokter"
"Nona Paula bacalah artikel ini" kata Ryan seraya memberikan ponsel nya pada Paula.
Paula membaca artikel yang menyatakan jika dirinya telah meninggal.
"Hah?" Paula membekap mulutnya sendiri, butiran bening itu pun mengalir dari sudut mata nya. "Jadi keluarga ku menganggap jika aku sudah meninggal?"
"Nona Paula tenanglah, kita tidak punya banyak waktu, dia akan segera kembali. Aku hanya ingin bertanya, apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkan keluarga mu supaya mereka bisa mempercayai ku?"
"Kelinci kecil"
"Kelinci kecil?" beo Ryan.
"Iya. Katakan saja itu di depan calon suami saya, dia akan mempercayai mu"
"Baiklah. Nona simpan ponsel itu, nanti aku akan menghubungi nona. Sembunyi kan ponsel nya, jangan sampai ketahuan sama penculik itu"
"Dokter"
Suara itu berhasil membuat Paula dan Ryan terkejut. Paula sontak menyembunyi kan ponsel itu sedangkan Ryan memeriksa infus Paula.
"Cairan infus nya sudah habis, saya akan melepas nya" kata Ryan.
"I-iya dok" kata Paula.
"Paula, kau kenapa? Kenapa berkeringat?" tanya Dimas.
"Tidak apa apa" ketus Paula.
"Dok, Paula bisa pulang sekarang?" tanya Dimas.
"Iya, nona Paula bisa pulang sekarang. Tapi nona Paula masih harus tetap beristirahat"
"Baik dok"
Paula menatap Ryan dan Ryan mengangguk 'kan kepala nya seakan mengatakan jika semua akan baik baik saja, jangan khawatir.
Dimas membawa Paula pergi dari rumah sakit itu dan tentu saja Ryan mengikuti nya dari belakang.
"Akh sial!"
Kesal Ryan saat ia terjebak lampu merah sedangkan mobil Dimas sudah hilang dalam penglihatan nya.
Ryan mengingat sesuatu.
"Untung saja aku sudah memasang GPS di ponsel yang di bawa nona Paula"
Ryan mengeluar kan ponsel untuk melihat lokasi Paula. Ryan terus saja mengikuti titik merah di ponsel nya itu. Dan akhir nya setelah satu jam titik merah itu membawa Ryan ke sebuah Villa yang letak nya sangat jauh dari pusat kota.
Mobil Ryan berhenti tidak jauh dari villa tersebut. Dari dalam mobil, Ryan melihat jika banyak sekali bodyguard yang berjaga di sana.
"Aku harus segera memberi tau keluarga nona Paula jika nona Paula masih hidup"