
Leon tengah mempersiapkan berkas-berkas untuk meeting. Tak lama ponselnya berdering kemudian ia mengangkatnya.
(In Call)
"Ada apa?" tanya Leon.
"Maaf tuan, apa nona Paula tidak jadi pergi?" tanya Bodyguard yang di tugaskan untuk mengawal Paula. Sebelumnya Leon memang sudah mengatakan jika Paula akan pergi dan mereka harus mengawalnya.
Leon mengerutkan kedua alisnya. "Apa maksud mu? Nona Paula sudah pergi lima belas menit yang lalu"
"Ha? Tapi tuan, saya sudah menunggu sedari tadi. Saya tidak melihat nona Paula keluar dari kantor"
"Apa? Bagaimana bisa? Kalian cepat periksa CCTV. Cari nona Paula sampai ketemu"
"Baik tuan"
(Call End)
"Sial.." Leon meremas ponselnya lalu berlari menuju ruang CCTV.
Ruang CCTV..
Leon dan beberapa bodyguard sangat serius memperhatikan rekaman CCTV yang jumlahnya sangat banyak itu.
"Fokuslah pada rekaman CCTV yang menuju keluar kantor dari ruangan pak Malvin" kata Leon.
"Tuan lihatlah" salah satu bodyguard menunjuk rekaman CCTV yang berada di lobi. "Bukankah itu nona Paula?"
Mereka semua melihat Paula menghentikan langkahnya saat di lobi kemudian berbicara dengan Jennie setelah itu Paula pergi sendiri tanpa di temani Jennie.
"Kemana nona Paula akan pergi?" tanya Leon.
"Tuan sepertinya nona Paula pergi ke toilet"
Dan benar saja Paula terekaman CCTV yang berada di lorong menuju toilet. Paula masuk ke dalam toilet wanita.
"Percepat rekamannya" titah Leon.
"Baik tuan"
Bodyguard itu mempercepat rekamannya dan..
"Stop.." kata Leon dan bodyguard itu mem-pause rekamannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa banyak sekali orang yang masuk ke dalam toilet wanita?" tanya Leon bingung.
"Putar lagi rekamannya" titah Leon dan bodyguard itu kembali memutar rekamannya.
"Nona Paula.." pekik Leon.
Rekaman CCTV itu menunjukkan Paula yang keluar dari toilet dengan penampilan yang berantakan dan wajahnya yang penuh dengan luka dan lebam. Bukan hanya Paula, Jennie juga keluar dengan kondisi yang sama.
Karena di dalam toilet tidak ada CCTV jadi Leon tidak bisa melihat apa yang terjadi di sana.
Leon mengepalkan tangannya dan berlalu pergi. Leon pergi ke klinik kantor karena ia sangat yakin jika saat ini Paula ada di sana.
Brak..
Leon membuka pintu klinik dengan sangat keras hingga Paula, Jennie dan juga seorang Dokter yang berada di sana merasa terkejut.
"Asisten Leon.." pekik Paula.
Leon menghampiri Paula yang baru saja selesai di obati. "Nona Paula apa yang terjadi?" tanya Leon panik.
"Kak Mark di mana?" tanya Paula.
"Nona Paula.."
"Kak Mark di mana?" tanya Paula lagi.
"Ada di ruangannya" jawab Leon.
"Asisten Leon, kau belum mengatakan apa pun 'kan sama kak Mark?"
"Belum nona"
Paula menghela napasnya lega.
Leon menatap tajam ke arah Jennie. "Apa yang terjadi?" tanyanya marah.
Jennie menegang melihat wajah Leon yang tidak bersahabat kemudian wanita itu menceritakan semua yang terjadi di dalam toilet.
"Asisten Leon sudahlah, di sini aku yang salah. Aku yang menampar wanita itu duluan" cegah Paula. Ia tidak mau masalah ini menjadi semakin rumit.
"Saya tidak bisa membiarkan ini nona. Nona Paula istirahatlah, tetap di sini. Jennie jagalah nona Paula, jangan biarkan dia pergi dari ruangan ini" kata asisten Leon.
"Baik asisten Leon" kata Jennie.
"Asisten Leon, kau mau kemana?" tanya Paula.
"Saya akan memberitahu masalah ini pada pak Malvin" jawab Leon dan berlalu pergi.
"Tidak, jangan. Asisten Leon tunggu"
"Biarkan saja asisten Leon pergi Paula, pak Malvin memang harus tau masalah ini. Mereka sudah sangat keterlaluan. Aku sangat mengenal mereka. Jika ini di biarkan begitu saja, mereka pasti akan mengganggu mu lagi nanti" jelas Jennie.
"Tapi Jen, kau pernah lihat sendiri 'kan kemarahan kak Mark. Entah apa yang akan dia lakukan setelah mengetahui ini?" panik Paula.
Jennie mengingat kembali kemarahan Malvin padanya waktu itu. Wanita itu bahkan sampai bergidik ngeri ketika bayangan wajah Malvin yang marah muncul di benaknya. Itu sangat mengerikan.
"Paula, apa yang akan terjadi pada Marissa dan Angel?" setelah mendengar perkataan Paula kini Jennie sangat mengkhawatirkan kedua temannya itu. Memang sikap mereka sudah sangat keterlaluan dan tidak bisa di benarkan tapi tetap saja mereka adalah temannya.
Paula menggelengkan kepalanya lemah.
Tuk.. Tuk..
Leon mengetuk pintu ruangan Malvin kemudian ia masuk ke dalam.
"Ada apa? Apa klien dari Macau sudah sampai?" tanya Malvin.
"Tidak, belum tuan" jawab Leon.
Malvin mengerutkan alisnya bingung. "Terus, ada apa?" tanyanya kemudian.
"Tuan, nona Paula.."
"Ada apa dengan Paula?" tanya Malvin panik.
Leon menceritakan semua yang terjadi dengan pula saat di toilet. Mendengar Paula terluka Malvin sangat marah, laki-laki itu bahkan sampai menonjok meja kerjanya.
Malvin dengan langkah besarnya pergi menuju klinik kantor.
Brak..
Malvin membuka pintu klinik kantor dengan sangat keras kemudian ia langsung memeluk Paula.
Malvin melepaskan pelukannya. Laki-laki itu mengeraskan rahangnya saat melihat wajah Paula yang penuh dengan luka dan lebam.
"Kak Mark aku gak apa-apa?" kata Paula.
Tanpa berkata Malvin langsung menggendong Paula ala bridal style keluar dari ruangan itu.
Keributan yang terjadi di toilet kini semua pegawai sudah mengetahuinya. Berita itu menyebar dengan sangat cepat seperti virus yang menular dari satu orang ke orang lainnya.
Orang-orang menanyakan tentang apa yang terjadi di toilet? Kenapa mereka sampai ribut di toilet? Jika saja saat itu tidak ada pegawai yang datang ke toilet mungkin keributan itu masih berlangsung sampai sekarang.
Sementara itu Marissa dan Angel yang juga mengalami luka dan lebam kini berada di ruang kerjanya.
"Aaarrghh.." Marissa mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
"Mar tenanglah" kata Angel mencoba untuk menenangkan temannya itu.
"Bagaimana aku bisa tenang? Kau lihat sendiri 'kan tadi bagaimana sikapnya, dia nampar aku Angel! Paula nampar aku!" geram Marissa.
Marissa tersenyum sinis. "Ini belum berakhir Paula. Lihat saja nanti, aku akan membalas mu" desisnya kemudian.
Tiba-tiba saja ada seorang pegawai wanita yang menghampiri Marissa dan Angel.
"Marissa, Angel bersiaplah. Kalian berdua dalam masalah besar" kata pegawai wanita itu.
"Apa maksud mu?" tanya Marissa.
"Lihatlah"
Pegawai wanita itu menunjukan sebuah video di ponselnya. Di video itu menunjukan Malvin yang sedang menggendong Paula menuju ke luar kantor.
Video itu di ambil salah satu pegawai yang tidak sengaja berpapasan dengan Malvin yang sedang menggendong Paula. Pegawai itu merekamnya kemudian mengirimnya ke grup chat kantor.
"Sebenarnya ada hubungan apa di antara pak Malvin dengan Paula? Kenapa pak Malvin sangat perhatian padanya?" tanya Marissa.
"Entahlah Mar dan jika memang benar mereka memiliki hubungan, habislah kita" lirih Angel.