
FLASH BACK ON
Setelah Paula memergoki kekasihnya yang selingkuh dengan resepsionis di tangga darurat, Paula langsung pergi begitu saja dari kantor ia pergi untuk menenangkan dirinya sendiri. Kania tidak membiarkan sahabatnya itu sendiri dalam keadaan seperti ini, ia menemani Paula dan akhirnya mereka pergi dari kantor dan tidak kembali lagi pada hari itu. Bahkan mereka sampai melupakan berkas yang seharusnya mereka antarkan ke ruangan Malvin.
Di sisi lain Malvin yang sangat marah langsung memanggil ke dua orang itu ke ruangannya.
"Kalian berdua saya pecat!" kata Malvin to the point dan berhasil membuat ke dua orang di depannya saat itu terkejut dan kebingungan.
"Ha.. Di pecat? Salah saya apa? Kenapa saya di pecat?" tanya Dimas yang tak terima dengan keputusan sepihak Malvin. Sedangkan si wanita tidak mengeluarkan satu kata pun, wanita itu takut pada Malvin yang saat itu terlihat sangat marah.
"Menyingkirlah dari hadapan ku, dan jangan pernah menampakan wajah kalian di kantor ini lagi" kata Malvin datar tetapi tetap saja itu bisa membuat siapa pun yang mendengarnya bergidik ngeri.
Dua orang bodyguard menyeret ke dua orang itu keluar dari kantor Vuitton Grup. Semua pegawai menatap mereka penasaran.
"Ada apa ini?"
"Kenapa mereka di seret ke luar?"
"Apa yang sudah mereka lakukan?"
"Kesalahan apa yang mereka lakukan hingga mereka berakhir seperti itu?"
Seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan para pegawai yang melihatnya.
Dimas yang tak terima di perlakukan seperti itu terus saja memberontak tatapi usahanya sia-sia karena ia tidak cukup kuat untuk melawan bodyguard itu. Sedangkan si wanita hanya menangis dan tertunduk malu. Sungguh ia tidak tau apa yang terjadi saat ini? Kesalahan apa yang dia buat sampai harus mendapatkan perlakuan memalukan seperti itu.
"Asisten Leon, di mana Paula sekarang?" tanya Malvin khawatir.
"Nona Paula pergi meninggalkan kantor tuan, dia pergi bersama nona Kania" jawab Leon.
"Kemana mereka pergi?"
"Saya tidak tau tuan, tapi saya sudah menugaskan dua orang bodyguard untuk mengikuti mereka"
"Minta mereka untuk share lokasi keberadaan Paula sekarang"
"Baik tuan"
Saat Malvin dan Leon hendak ke luar kantor, keadaan di lobi sudah sangat kacau. Dimas terus saja melawan para bodyguard berusaha untuk kembali menemui Malvin meminta penjelasan kenapa ia sampai di pecat. Laki-laki itu terlihat sangat menyedihkan, pakaian dan rambutnya sudah sangat berantakan dan wajahnya juga terlihat babak belur karena terkena bogem mentah dari bodyguard yang menyeretnya ke luar.
Bruk..
Dimas terjatuh tepat di depan kaki Malvin. Sudut bibir laki-laki itu terlihat sedikit mengeluarkan darah.
"Kenapa mereka masih ada di sini?" sarkas Malvin mengepalkan ke dua tangan sampai urat-urat terlihat. Malvin sudah sangat muak melihat ke dua orang yang menyakiti hati pujaannya itu.
Keputusan Malvin ini memang sangat tidak profesional. Memecat pegawai karena masalah pribadi. Tapi itu harus Malvin lakukan. Jika tidak, ia tidak tau apakah ia bisa menahan emosinya untuk tidak melukai mereka. Jika Malvin sudah mengeluarkan sifat hewannya, bisa saja ke dua orang itu berakhir di rumah sakit atau bahkan yang lebih parah Malvin bisa menghilangkan nyawa mereka berdua.
"Pak Malvin, apa salah saya? Kenapa bapak memecat saya?" tanya Dimas yang terduduk lemah di lantai.
"Iya pak. Apa salah saya? Kenapa bapak juga memecat saya?" tanya wanita itu.
Malvin berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Dimas. "Kantor saya tidak sudi mempekerjakan pegawai yang mesum seperti kalian berdua" kata Malvin menatap tajam ke dua orang yang ada di hadapannya. Laki-laki itu menunjukkan smirknya dan berlalu pergi meninggalkan banyak pertanyaan di benak para pegawai yang melihat kejadian itu. Asisten Leon mengikutinya dari belakang.
"Oh.. Ya ampun, apa mereka ketahuan melakukan hal yang tak pantas saat di kantor"
"Bukankah itu Dimas pacarnya Paula?"
"Jadi mereka berselingkuh"
"Kasihan sekali Paula"
"Menjijikan sekali mereka"
"Wanita ******"
Wanita itu tidak tahan menahan ejekan dari para pegawai, ia lantas pergi dengan rasa malu yang teramat besar. Dimas mengeraskan rahangnya, ia sangat tidak terima di permalukan seperti itu.
"MALVIN MARK VUITTON. AKU BERSUMPAH AKU AKAN MEMBALAS PERLAKUAN MU INI. AKU AKAN MENGHANCURKAN MU SAMPAI KAU BENAR-BENAR HANCUR" sumpah Dimas seraya mengepalkan tangan sampai urat-uratnya terlihat jelas.
FLASH BACK OFF
"Jadi, pak Malvin bukan hanya memberi tau Paula saja tapi dia juga memberi tau semua pegawai di kantor tentang perselingkuhan itu" kata Kania.
"Beneran, saat itu Malvin langsung memecat mereka?" tanya Paula yang langsung di angguki oleh Stella.
"Pantes aja setelah kejadian itu, aku gak pernah lihat mereka lagi di kantor. Bahkan sampai sekarang pu aku gak pernah ketemu lagi sama mereka" kata Paula.
"Paula, apa mungkin yang di katakan Stella itu benar? Dimas kembali hanya untuk membalaskan dendamnya pada pak Malvin" tanya Kania.
"Setelah mendengar cerita Stella tadi, aku juga langsung berfikir seperti itu karena aku sangat mengenal karakter Dimas" jawab Paula.
"Terus, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
Paula mengambil surat yang di pegang Kania. "Aku akan memberitahu Malvin"
"Kau benar Paula, kau harus memberi tau pak Malvin supaya tidak terjadi kesalah pahaman nantinya. Paula kau harus ingat, aku akan selalu ada di pihak mu. Aku akan selalu membantu mu" kata Kania.
"Paula, aku memang tidak terlalu mengenal diri mu karena kita baru saja dekat. Tapi kalau kamu butuh bantun ku, aku juga akan membantu mu" kata Stella tulus. Stella benar-benar mengerti perasaan Paula saat ini.
"Terimakasih, kalian memang orang yang sangat baik" kata Paula menatap Kania dan Stella. Ketiga wanita itu berpegangan tangan saling menguatkan.
Di sisi lain sosok yang bernama Dimas yang ketiga wanita itu bicarakan diam-diam mengawasi mereka dari luar restoran. Laki-laki itu menatap ke arah Paula dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, hanya dia dan tuhanlah yang tau arti dari tatapan itu.
"Cantik.. Kau masih sangat cantik Paula. Bahkan sekarang kau terlihat sangat menawan" gumam Dimas dengan senyum smirknya.
Sementara itu Malvin berada di sebuah restoran mewah sedang makan malam bersama kliennya.
"Terimakasih pak Malvin. Saya harap kerja sama ini akan terus berlanjut. Kalau begitu saya permisi" kata klien Malvin.
"Sama-sama. Saya harap juga begitu" kata Malvin. Mereka berjabat tangan dan kemudian klien itu pergi.
Ting..
Nada pesan terdengar dari ponsel Malvin kemudian ia melihat pesannya. Pesan itu di kirim dari nomor yang tidak di kenal dan pesan itu berisi beberapa foto Paula saat sedang makan siang di restoran. Malvin meremas ponselnya saat melihat itu.
Ting..
Nada pesan kembali terdengar dari ponsel Malvin kemudian ia membacanya.
'BUKANKAH DIA SANGAT CANTIK'
Malvin semakin meremas ponselnya. Napasnya memburu menahan amarah. "Brengsek.. Siapa dia?" marah Malvin.
Dimas yang mengirimkan pesan itu pada Malvin. Laki-laki itu memang kembali hanya untuk membalaskan dendamnya pada Malvin dan menurutnya ini adalah waktu yang sangat tepat.
Hari itu Dimas mengetahui dari temannya yang bekerja di Vuitton Grup jika Malvin sedang di rawat di rumah sakit. Lantas Dimas pergi ke rumah sakit, niat awalnya memang hanya untuk memata-matai Malvin saja untuk mencari tau kelemahan seorang Malvin.
Tapi saat sampai di rumah sakit, Dimas malah mendapatkan fakta yang sangat menguntungkan untuk dirinya. Dia mengetahui jika Malvin dan Paula mempunyai hubungan. Laki-laki itu bahkan mengikuti mereka sampai rumah Paula.
"DULU KAU YANG MERUSAK HUBUNGAN KU DENGAN PAULA DAN SEKARANG AKU YANG AKAN MERUSAK HUBUNGAN MU DENGAN PAULA. KAU TUNGGU SAJA MALVIN. AKU AKAN MEREBUT KEMBALI APA YANG MENJADI MILIK KU. PAULA ITU ADALAH MILIK KU DAN AKAN SELALU MENJADI MILIK KU UNTUK SELAMANYA" gumam Dimas menyeringai. Laki-laki itu tersenyum puas melihat pesannya yang sudah di baca oleh Malvin.
Dimas kembali melihat ke arah Paula. "Tunggu aku sayang, kita akan segera bertemu dan kita akan hidup bahagia bersama selamanya. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, jika ada yang berani memisahkan kita maka orang itu akan MATI" kata Dimas dengan penuh penekanan di kata terakhirnya.