Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 6 : Kelinci Kecilku



Tok.. Tok..


"Masuk" terdengar suara bariton dari dalam ruangan sang big bos.


Leon membuka pintu dan mempersilahkan Paula dan Kania masuk terlebih dahulu.


Saat masuk ke dalam ruangan, Paula dan Kania melihat Malvin yang duduk di sofa single sembari melipatkan kedua tangan di dadanya.


"Kalian duduklah" perintah Malvin. Kedua wanita itu pun duduk. Paula duduk tepat di sebelah Malvin dan Kania duduk di sebelah Paula sedangkan Leon berdiri di samping Malvin.


Tak lama datang seorang office boy membawa dua porsi makanan. Office boy itu menyimpan makanannya di atas meja dan kemudian pergi.


"Makanlah" kata Malvin menatap Paula yang juga sedang menatapnya meminta penjelasan.


"Kamu belum sarapankan?" tanya Malvin.


"Darimana dia tau aku belum sarapan? Oh.. Ya ampun, apakah dia seorang cenayang?" batin Paula, ia mengkerutkan kedua alisnya merasa bingung.


Paula menganggukkan kepalanya.


"Makanlah" kata Malvin mengelus kepala Paula.


Setiap kali mendapat perlakuan manis dari Malvin, wajah Paula pasti langsung memerah. Ia sangat malu, terlebih lagi di sana ada asisten Leon dan juga Kania sahabatnya yang sedari tadi hanya diam. Entah apa yang ada di pikiran kedua orang itu.


"Kau juga makanlah Kania. Dan pastikan kelinci kecil ku ini menghabiskan makanannya, jika tidak kau akan terkena masalah" perintah Malvin lengkap dengan ancamannya pada Kania.


"I-iya pak" jawab Kania terbata.


Ucapan Malvin sontak membuat Kania ketakutan. Napasnya tercekat seperti ada yang mencekiknya. Tetapi sebenarnya Malvin tidak sepenuh hati mengatakan itu, ia hanya ingin memastikan Paula makan dengan benar. Malvin juga tidak akan mungkin menyakiti Kania, karena ia tau Paula sangat menyayanginya. Malvin tidak akan mungkin melakukan hal yang membuat kelinci kecilnya itu menangis.


Sedangkan Paula merasa sangat tidak asing dengan panggilan 'kelinci kecil' itu. Itu terasa sangat familiar di telinga Paula. Tapi ia tidak bisa mengingatnya.


"Paula maaf. Aku tidak bisa menemani mu makan saat ini. Aku ada meeting. Tidak apakan?" kata Malvin menyesal.


"Ah.. Iya. Jika pak Malvin ada meeting pergilah. Saya dan Kania juga akan langsung bekerja" kata Paula.


Malvin tersenyum melihat Paula. Tangannya menggenggam tangan Paula.


"Kania" kata Malvin. suara itu menjadi alarm bahaya untuk Kania.


"Saya akan memastikan Paula menghabiskan makanannya. Pak Malvin tidak usah khawatir" potong Kania cepat.


"Setelah kamu selesai makan, kamu boleh bekerja. Tapi ingat, jangan kerja terlalu berlebihan nanti kamu sakit" Malvin mengelus pipi Paula dan berlalu pergi di ikuti asisten Leon.


Haaahh..


Haaahh..


Helaan napas Paula dan Kania terdengar saat Malvin dan Leon keluar dari ruangan. Bahkan Kania sampai menghela napasnya beberapa kali.


"Paula cepat makan dan habiskan makanan mu. Jika tidak habislah aku" kata Kania menyuruh Paula untuk segera makan.


"Kania maaf" cicit Paula.


"Untuk?"


"Gara-gara aku, kamu jadi di ancam sama pak Malvin"


"Oh god. Paula kau ini sangat polos atau kau bodoh sih? Aku memang takut dengan ancama pak Malvin. Tapi aku mengerti kenapa dia melakukan itu. Itu karena dia perhatian sama kamu Paula. Pak Malvin hanya ingin memastikan kamu makan dengan benar" Kania terkekeh melihat kepolosan sahabatnya itu.


"Sudahlah sekarang kita makan saja. Kita harus bekerja juga bukan?" sambungnya lagi.


Paula menganggukkan kepalanya. Mereka pun mulai makan.


Ting..


Nada pesan terdengar dari ponsel Paula. Ia kemudian membaca pesan itu.


Paula memang sengaja makan dengan cepat karena ia ingin segera keluar dari ruangan Malvin. Tapi bagaimana bisa Malvin mengetahui akan hal itu. Apakah di ruangan ini ada kamera CCTV? Paula mengedarkan pandangannya lalu ia menghela napasnya ketika ia sudah melihat apa yang di carinya. Dasar bodoh! Tentu saja di ruangan sang big bos pasti ada kamera CCTV-nya. Bukankah itu hal biasa?


(Paula : Iya pak. Terimakasih)


Setelah membalas pesan dari Malvin Paula kembali melanjutkan makannya. Kali ini dengan tenang. Malvin yang melihatnya pun hanya tersenyum tipis. Di sela-sela rapatnya ia masih bisa mengawasi Paula dari kamera CCTV yang terpasang di ruangannya. Setelah Malvin melihat Paula makan dengan tenang, ia kembali fokus pada meetingnya. Ya walau pun sesekali masih melihat tabnya untuk mengawasi Paula. Berlebihan memang, tapi Malvin hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Paula dan memastikan kelinci kecilnya itu baik-baik saja.


"Paula cepat habiskan makanan mu. Kita harus segera pergi dari sini. Jika tidak bu Rina pasti akan memarahi kita. Karena kita datang terlambat bahkan ini sudah sangat terlambat" kata Kania ketika ia sudah menghabiskan makanannya.


"Lihatlah" kata Paula menunjuk 'kan pesan yang di kirim Malvin pada Kania.


"Paula, kenapa gak kasih tau aku dari tadi. Ahhh.. Kau ini" kesal Kania. Jika saja Paula memberitahunya, ia tidak akan makan dengan terburu-buru. Ia akan menikmati makanan lezat itu.


"Kau tidak bertanya" jawab Paula santai.


"Paula! Gara-gara kau, aku jadi gak bisa nikmatin makanannya. Padahalkan makanannya enak banget" gerutu Kania.


Setelah selesai makan Paula dan Kania pergi ke ruangan mereka.


"Selamat siang bu" sapa Paula dan Kania pada bu Rina.


"Iya. Kalian tidak apa-apa 'kan? Tadi kata asisten Leon kalian sedikit terkena masalah saat di jalan" kata bu Rina.


"Ahh.. Iya bu, kami baik-baik saja" jawab Kania. Sedangkan Paula diam saja, ia merasa tidak enak karena sudah membohongi seniornya itu.


"Syukurlah, ya sudah kalian lanjutkan pekerjaan kalian" titah bu Rina.


"Baik bu, Terimakasih" jawab Kania.


Saat jam makan siang Paula dan Kania makan di kantin kantor. Mereka duduk satu meja dengan geng wanita pembuat gosip.


"Eh sumpah, aku penasaran banget sama si Michelle itu?" kata Stella.


"Sama. Secantik apa sih dia? Sampai bisa buat big bos kita yang kaya kulkas itu suka sama dia?" kata Dona.


"Apa dia secantik Kylie Jenner Model Amerika yang sexy itu?" kata Dini.


"Atau mungkin secantik Song Hye-kyo Aktris Korea Selatan yang cantiknya alami itu" kata Melly.


Uhuk.. Uhuk..


Paula tersendak dan seketika itu juga geng wanita pembuat gosip melihat ke arahnya secara bersamaan. Melihat sahabatnya yang mulai ketakutan Kania mulai bertindak menangani situasi itu.


"Kalian ngapain lihat-lihat? Belum pernah ya lihat cewek cantik batuk" kata Kania yang sontak mendapatkan tatapan tidak suka dari keempat wanita itu.


"Siapa juga yang liatin kalian. Gak penting banget" kata Dona dengan mengibaskan rambutnya.


Keempat wanita itu memutar matanya malas. Mereka melanjutkan kembali makan, eh bukan lebih tepatnya sih melanjutkan gosipnya.


"Nih minum" kata Kania memberikan segelas air pada Paula. "Jangan dengerin ucapan mereka" sambungnya lagi dengan sedikit berbisik.


Paula merasa ada seseorang yang sedang mengawasinya kemudian ia memalingkan wajahnya ke samping dan benar saja ada satu wanita dari geng pembuat gosip itu sedang memperhatikannya. Wanita itu menatap wajah Paula tanpa berkedip.


"Kenapa kamu liatin aku kayak gitu?" tanya Paula, ia merasa sangat risi di tatap seperti itu.


"Enggak, jangan geer deh. Siapa juga yang liatin kamu" elak Stella kemudian memalingkan wajahnya. Ya Stella adalah orang yang dari tadi memperhatikan Paula.


"Kania, aku balik ke ruangan duluan ya" kata Paula.


"Kenapa? Makanan kamu belum abis itu" kata Kania.


"Aku udah kenyang"


"Ya udah ayo, aku juga ikut"


Paula dan Kania pergi dari kantin meninggalkan keempat wanita pembuat gosip itu.