
FLASH BACK ON
Saat Malvin baru keluar dari rumah sakit, Raihan melihat seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan topinya terlihat seperti sedang mengawasi mereka dari dalam mobilnya. Awalnya Raihan tidak curiga dengan orang itu. Tapi saat mereka dalam perjalan pulang, Raihan menyadari jika ada mobil yang mengikuti mobil mereka.
"Sepertinya mobil itu mengikuti ku. Eoh.. Bukankah itu mobil yang tadi?" batin Raihan saraya melihat kaca spion samping.
Kemudian Raihan melajukan mobilnya sedikit lebih cepat, tapi tetap saja mobil hitam itu terus mengikuti mobil Raihan.
"Ada apa?" tanya Malvin yang duduk di samping kemudi.
"Tidak ada" Malvin sengaja tidak memberitahu Malvin karena di sana juga ada Mayang dan Paula. Raihan tidak ingin membuat mama dan adiknya itu khawatir.
Sampai pada akhirnya mereka sampai di rumah. Mobil itu terus saja mengikuti mereka. Mobil itu bahkan sampai berhenti sebentar tepat di depan gerbang dan kemudian pergi.
"Siapa dia? Kenapa dia mengikuti ku?" batin Raihan melihat ke arah mobil itu. Ia mulai khawatir akan keselamatan keluarganya.
FLASH BACK OFF
"Raihan, apa kau yakin dia mengikuti mobil kita?" tanya Malvin setelah mendengar cerita dari Raihan.
"Aku sangat yakin Vin, dia bahkan sampai mengikuti kita sampai depan rumah"
"Siapa dia? Apa motif dan tujuan dia mengikuti kita?"
"Entahlah Vin, saat ini yang aku pikirkan hanyalah keselamatan mama dan Paula"
Setelah kematian ayahnya, Raihan lah yang bertanggung jawab menjaga kedua bidadari dalam hidupnya itu. Raihan akan melakukan apa pun untuk melindungi mereka. Itu janji Raihan sama mendiang ayahnya sebelum dia meninggal lima tahun lalu.
"Kau tenang saja Rai, aku akan menyelidiki ini. Aku juga akan menempatkan beberapa bodyguard untuk menjaga rumah ini" kata Malvin.
Keesokkan paginya..
"Raihan.." teriak Mayang. Ia terkejut saat akan ke luar rumah mendapati beberapa orang laki-laki berbadan tegap yang berpakaian serba hitam berdiri di depan pintu utama.
Semalam Malvin memang langsung menghubungi asisten Leon untuk mengirim beberapa bodyguard untuk berjaga di rumah Paula. Malvin juga meminta asisten Leon untuk menyelidiki orang yang mengikuti mereka.
Mendengar teriakan Mayang, Raihan yang masih berada di dalam kamarnya sontak langsung berlari ke luar. Begitu juga dengan Malvin dan Paula.
"Ma, ada apa?" panik Raihan seraya mengatur napasnya.
"Itu.." Mayang menunjuk bodyguard. Ia takut jika bodyguard itu adalah orang jahat.
"Oh.. Mama tenang aja gak usah khawatir, itu bodyguardnya Malvin ma" jelas Raihan.
"Kenapa mereka ada di sini?"
"Ma, Malvin itu bukan orang sembarang wajar saja 'kan kalau dia harus selalu di kawal sama bodyguard"
"Iya, kamu benar juga"
"Mama kenapa? Mama baik-baik aja 'kan?" tanya Paula yang baru saja datang bersama Malvin.
"Iya, mama baik-baik aja sayang"
"Lah.. Bukankah mereka bodyguard kak Mark ya? Kenapa mereka ada di sini?" tanya Paula, ia tau jika orang-orang itu adalah bodyguard yang selalu mengawal Malvin saat di kantor.
"Iya sayang, mereka bodyguard aku dan kenapa mereka ada di sini, ya itu karena aku juga ada di sini bukan" kata Malvin.
Paula hanya mengangguk 'kan kepalanya tanda mengerti.
Malvin dan Raihan sengaja tidak memberitahu alasan yang sebenarnya karena mereka tidak ingin Paula dan Mayang merasa khawatir.
Saat mereka semua sarapan, datang asisten Leon yang membawa koper berisi baju Malvin.
"Asisten Leon duduklah, ikut kita sarapan" kata Paula.
"Terimakasih nona, saya sudah sarapan" kata Leon.
"Asisten Leon, apa jadwal saya hari ini" tanya Malvin.
"Tuan, siang ini anda ada meeting bersama klien yang dari Kanada" jawab Leon.
"Hmm.. Baiklah. Sayang aku akan bersiap, kita berangkat ke kantor bersama nanti" kata Malvin.
"Nggak, kamu gak boleh kerja dulu. Kamu harus istirahat" tegas Paula.
"Aku gak mau tau, kamu harus istirahat" kata Paula tidak mau di bantah.
"Itu meeting penting sayang"
"Kamu lebih penting" kata Paula penuh penekanan. Ia menatap Malvin lekat.
Malvin tersenyum seraya mengelus pucuk kepala Paula. "Baiklah sayang, aku gak akan ke kantor. Tapi untuk hari ini aja ya, besok aku harus kembali bekerja"
"Iya" Paula tersenyum.
"Asisten Leon, kau tangani meeting itu" titah Malvin.
"Baik tuan"
"Ma, Paula pamit. Aku titip Malvin, awasi dia jangan sampai pergi ke kantor" kata Paula.
"Malvin, sepertinya calon istri mu ini sangat posesif" kata Mayang.
"Iya tan, tapi aku suka" goda Malvin pada Paula.
"Kalian apaan sih, udah ah. Aku berangkat" Paula memalingkan wajahnya yang mulai memerah.
"Ayo Pau, hari ini kakak yang akan anterin kamu ke kantor" kata Raihan. Raihan melakukan itu bukan tanpa alasan, ia hanya ingin memastikan adiknya itu baik-baik saja sampai di kantor.
"Lah tumben amat, ada apa ini? Pasti ada maunya deh, iya 'kan?" curiga Paula. Tidak biasanya Raihan menawarkan diri untuk mengantarkan Paula. Biasanya saat Raihan ada di rumah ia memanfaatkan waktunya itu untuk istirahat.
"Ya ampun Pau, gak ada. Kakak hanya ingin mengantar mu aja, lagiankan udah lama juga kakak gak anterin kamu pake motor kakak. Tapi, ya udah kalau kamu gak mau?"
"Pake motor kakak?" kata Paula. Mendengat kata motor Paula semangat karena ia sudah lama tidak berkendara menaiki motor.
"Iya"
"Ya udah ayo cepetan, nanti aku telat. Kak Mark, mama. Aku pergi" pamit Paula lagi.
"Iya sayang" Malvin mengecup kening Paula.
"Kak Mark!" pekik Paula, ia merasa malu di depan mama dan kakaknya.
Raihan dan Mayang hanya tersenyum melihat keromantisan pasangan itu.
"Vin, ma. Kita berangkat" kata Raihan.
"Kalian hat-hati. Rai, kamu jangan ngebut bawa motornya" kata Mayang.
"Iya ma"
"Tuan, saya juga permisi" kata Leon yang sedari tadi diam.
"Kau urus semua urusan di kantor hari ini, jika terjadi sesuatu segera hubungi saya" titah Malvin.
"Baik tuan, saya mengerti" kata Leon sedikit membungkuk 'kan kepalanya hormat dan berlalu pergi.
Urusan kantor yang Malvin sebutkan tadi bukanlah masalah pekerjaan kantornya, melainkan Paula. Malvin sudah memberikan tugas pada Asistennya itu untuk selalu mengawasi dan menjaga Paula, di saat ia sedang tidak ada di kantor.
Di kantor..
Paula turun dari motor Raihan. Banyak pasang mata yang melihat ke arah Paula. Terlebih lagi saat kabar Paula sudah bertunangan tersebar banyak orang yang penasaran siapa sosok pria yang menjadi tunangan Paula. Raihan tidak melepas helmnya.
Setelah kejadian perselingkuhan antara pacar Paula dan resepsionis itu terbongkar dan sempat menggemparkan seisi kantor. Semua orang mengenal Paula.
Paula menghiraukan tatapan penasaran dari rekan kerjanya, ia memasuki kantor dan Raihan pergi melesat dengan motornya.
"Oh ya ampun. Ternyata benar apa kata Kania semalam. Semua orang tau jika aku sudah tunangan dan pasti mereka pikir kak Raihan adalah tunangan aku" gumam Paula tersenyum tipis.
Entah kerena kebetulan atau memang sudah takdir? Di saat yang bersamaan geng wanita pembuat gosip itu juga ada di sana. Mereka melihat Paula yang datang bersama seorang pria yang mereka yakini itu adalah tunangan Paula.
"Stella, kau lihat sendiri 'kan itu tunangan Paula dan itu membuktikan kalau Paula itu bukanlah Michelle. Mereka orang yang berbeda" kata Dona
"Iya Stell. Jika Paula itu Michelle, berarti pria itu adalah pak Malvin. Tapi aku yakin dia bukan pak Malvin. Dari postur tubuhnya aja sangat berbeda" kata Dini.
"Menyerahlah Stella. Paula itu bukan Michelle" kata Melly menepuk-nepuk pundak Stella.
Stella menghempaskan tangan Melly. "Aku tidak akan menyerah, aku akan buktiin ke kalian semua jika Paula itu adalah Michelle. Kalian lihat saja nanti" kesal Stella dan langsung pergi meninggal 'kan ketiga temannya itu.