Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 30 : Go Public



"Kak Mark! Apa ini? Kenapa aku harus di rawat di rumah sakit?" tanya Paula kesal karena Malvin membawanya ke rumah sakit.


"Maaf" lirih Malvin seraya menggenggam tangan Paula.


"Kenapa minta maaf? Ini bukan salah kak Mark"


Malvin mengecup semua luka dan lebam yang ada di wajah Paula dengan sangat lembut. Seakan menyalurkan kekuatan pada wanitanya itu untuk segera sembuh.


Tuk.. Tuk..


Leon dan Jennie masuk ke ruang inap Paula. Sebenarnya Malvin sudah menawarkan Jennie untuk di rawat juga tapi ia menolak. Jennie merasa jika luka dan lebamnya itu tidak terlalu parah dan juga sebelumnya sudah di obati saat di klinik kantor tadi.


"Sayang istirahatlah" kata Malvin seraya mengelus-elus pucuk kepala Paula.


Mata Paula memicing. "Kak Mark mau ke mana?" tanyanya kemudian.


"Aku akan segera kembali" Malvin mengecup kepala Paula dan berlalu pergi begitu juga dengan Leon.


"Jen, apa kau tau sesuatu?" tanya Paula setelah Malvin dan Leon pergi.


"Aku tadi sempat dengar saat asisten Leon sedang menelepon seseorang" jawab Jennie.


"Dengar apa?"


"Asisten Leon seperti sedang menyiapkan acara konferensi pers"


"Apa? Kau serius?"


Jennie mengangguk 'kan kepalanya sebagai jawaban.


"Sayang.." teriak Mayang yang baru saja datang.


"Mama!" kaget Paula.


Mayang memeluk erat putrinya itu. Air matanya jatuh begitu derasnya.


"Ma.. Jangan nangis. Paula baik-baik aja" kata Paula menenangkan Mayang.


Mayang melepaskan pelukannya. "Gimana bisa baik-baik aja? Sayang.. Lihatlah wajah mu" Mayang menatap lekat wajah sang putri.


Mayang tak tahan melihat wajah putrinya yang penuh luka dan lebam seperti itu. Rasanya bagaikan ribuan belati jatuh menusuk tepat ke dalam hatinya. Sangat menyakitkan. Jikalau bisa biarkan saja Mayang yang terluka dari pada ia harus melihat putrinya yang terluka.


"Sayang.. Mama, Malvin dan orang tuanya sudah memutuskan" kata Mayang.


"Memutuskan apa?" tanya Paula.


"Kamu dan Malvin akan langsung menikah"


"Ha?"


"Dan pernikahan kalian akan di adakan tiga hari lagi"


Paula membulatkan matanya sempurna begitu juga dengan Jennie yang sedari tadi hanya diam saja mendengar percakapan ibu dan anak itu.


Di kantor..


Malvin duduk di tempat yang sudah di persiapkan. Di hadapannya sudah banyak wartawan yang sudah siap menjalankan tugasnya.


"Selamat siang semuanya. Terimakasih sebelumnya sudah hadir di konferensi pers ini. Saya Malvin Mark Vuitton, pemimpin Vuitton Grup. Di konferensi pers kali ini saya akan menyampaikan mengenai pernikahan saya"


"Dalam tiga hari saya akan melangsungkan pernikahan saya dengan wanita yang sangat saya cintai"


"Saya tau kalian semua penasaran tentang siapa wanita itu dan di konferensi pers kali ini saya akan mengungkapkan identitas calon istri saya"


"PAULA MICHELLE ZOURIST dia adalah wanita sederhana yang berhasil membuat saya jatuh cinta"


"Saya meminta do'a dan restu dari kalian, semoga pernikahan saya dan Paula berjalan lancar dan kehidupan pernikahan kami bahagia"


"Hanya itu saja yang ingin saya sampai 'kan. Terimakasih untuk semua yang sudah hadir di konferensi pers ini"


Malvin berdiri kemudian sedikit menunduk 'kan kepalanya dan pergi meninggalkan tempat konferensi pers itu.


Semua pegawai Vuitton Grup mematung saat Malvin menyebut nama calon istrinya. Mereka semua menonton konferensi pers itu secara live di ponselnya masing-masing.


"Apa ini? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah Paula itu tunangannya asisten Leon?" tanya Dona bingung.


"Apakah nama yang pak Malvin sebut tadi adalah nama orang yang kita kenal? Atau mungkin hanya kebetulan saja namanya sama tapi mereka orang yang berbeda?" tanya Melly bingung.


"Paula Michelle Zourist, Stella apa kau tau sesuatu?" tanya Dini menatap ke arah Stella, begitu juga dengan Melly dan Dona berharap wanita itu bisa menjelaskannya.


"Apa aku masih harus menjawabnya? Bukankah pak Malvin sudah sangat jelas mengatakan nama calon istrinya" jelas Stella.


Stella merasa sangat lega karena akhirnya Malvin mengungkapkan identitas calon istrinya. Sekarang ia tidak harus lagi menjaga rahasia ini karena Malvin sendiri lah yang sudah mengungkap identitas calon istrinya yakni Paula.


"Stella, kau sudah tau?" tanya Dona.


"Iya, aku sudah tau" jawab Stella.


"Jadi ini alasan kamu menghindari kita selama ini?" tanya Melly.


"Iya aku takut keceplosan dan membongkar semuanya pada kalian. Karena jika itu terjadi kalian tau apa yang akan terjadi pada ku"


"Apa?" tanya Dini.


"Tidak ada" Stella menunjukan cengir kudanya.


"Stella! Kita serius!" kesal Dona.


"Baiklah.. Baiklah.. Aku memang sempat di ancam sama asisten Leon dan tentu saja aku merasa sangat taku. Tapi setelah aku berbicara dengan Paula, aku merasa jauh lebih baik karena aku tau Paula tidak akan membiarkan sesuatu hal yang buruk terjadi pada ku" jelas Stella.


Melly menghela napasnya dalam. "Jadi ini alasan yang sebenarnya kenapa asisten Leon saat itu terlihat sangat marah mendengar Paula terluka, karena itu adalah tugasnya untuk menjaga Paula yang merupakan calon istri pak Malvin?" tanyanya kemudian dan di jawab anggukan kepala oleh Stella.


"Stella sejak kapan kau mengetahui semua ini? Dan bagaimana bisa kau mengetahuinya?" tanya Dini.


Stella tersenyum karena teringat kembali kejadian itu. Kejadian saat ia tidak sengaja memergoki Malvin dan Paula sedang bercumbu di kantor.


"Stella kenapa kau tersenyum? Ayo jawab, ceritakan semuanya ke kita" kata Dona.


"Aku akan menceritakannya, tapi nanti. Karena sebentar lagi akan terjadi drama yang sangat seru. Kita harus menyaksikannya" kata Stella.


"Drama apa?" tanya Dini.


"Apa maksud mu?" tanya Melly.


Stella menunjukan senyum smirknya. "Kalian tunggu saja"


Dan benar saja apa yang di katakan Stella karena tak lama grup chat kantor sudah sangat ramai karena di sana ada video Marissa dan Angel yang sedang di seret ke luar kantor oleh bodyguard.


Kedua wanita itu penampilannya sudah sangat kacau. Wajah mereka terlihat sangat menyedihkan karena baru saja Leon memecat mereka dengan sangat tidak hormat.


Ya.. Leon yang memecat Marissa dan Angel dengan sangat tidak hormat. Setelah konferensi pers selesai Malvin langsung kembali lagi ke rumah sakit. Karena jika Malvin bertemu dengan kedua orang yang sudah menyakiti Paula itu, Malvin tidak yakin ia akan mampu menahan emosinya. Jadi Malvin memilih untuk segera pergi dan meminta Leon untuk memecat mereka.


Malvin tidak membalas mereka dengan kekerasan karena mau bagaimana pun mereka adalah seorang wanita. Malvin tidak mungkin melakukan kekerasan terhadap seorang wanita. Lain halnya jika mereka adalah laki-laki, mungkin saat ini Malvin sudah melayangkan bogem mentahnya.


Saat ini para pegawai tengah berada di lobi melihat secara langsung Marissa dan Angel yang di seret keluar dari kantor.


Kedua bodyguard yang menyeret Marissa dan Angel menghempaskan tangan kedua wanita itu hingga mereka terpelanting. Kini mereka sudah berada di luar gedung Vuitton Grup.


"Asisten Leon, saya mohon maafkan saya" kata Angel.


"Maafkan saya asisten Leon, saya sangat menyesal" kata Marissa.


Kedua wanita itu berlutut di hadapan Leon.


"Tidak ada gunanya kalian memohon bahkan berlutut seperti itu di hadapan saya. Karena itu tidak akan merubah apa pun" kata Leon dingin.


Terlihat sosok seorang wanita paruh baya keluar dari mobil hitam tepat di depan Leon dan kedua wanita itu.


"Nyonya besar" sapa Leon seraya menunduk hormat.


Nyonya besar itu adalah Sania (ibu Malvin). Setelah mendengar jika Paula di perlakukan tidak baik oleh pegawai putranya sendiri, Sania sangat marah dan ia ingin bertemu langsung dengan orang yang sudah menyakiti calon menantunya itu.


"Apa mereka orangnya?" tanya Sania.


"Iya, mereka orangnya nyonya" jawab Leon.