Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 34 : Masa Lalu Leon



FLASH BACK ON


Paula sampai di kantor tepat jam dua belas siang. Paula menghentikan langkah kakinya saat akan memasuki lift karena ada suara yang sangat ia kenal memanggil namanya.


"Paula.." teriak Kania.


Kania dan Stella akan makan siang di restoran dekat kantor. Kania tidak sengaja melihat Paula yang akan masuk ke dalam lift.


Kania dan Stella menghampiri Paula yang berdiri di depan lift.


"Ekhm.. Mau nganterin makan siang ya buat calon suami" goda Stella.


Paula tersenyum malu.


"Paula kangen" kata Kania seraya memeluk Paula.


"Kania, kau ini kenapa?" tanya Paula bingung.


"Makan siang bareng yuk, sekalian aku mau curhat sama kamu" ajak Kania.


"Tapi.."


"Ayolah Pau, sebentar aja. Dua hari lagi 'kan kamu udah nikah. Kapan lagi coba kita makan siang bareng. Kita makan siang di kantin kantor aja"


Kania tau setelah Paula nikah nanti, ia pasti akan merasa sangat kehilangan sahabatnya itu. Melihat sikap Malvin yang pesesif dan selalu menempel dengan Paula akan susah untunya bisa menghabiskan waktu bersama Paula walau hanya untuk makan siang saja.


Kania juga pasti akan sangat merindukan saat-saat mereka bekerja bersama di kantor.


"Ya udah deh, tapi sebentar aja ya" putus Paula.


Paula, Kania dan Stella makan siang di kantin kantor. Paula tidak ikut makanan. Paula mengiyakan ajakan Kania tadi karena ia tidak mungkin mengabaikan permintaan sahabat terbaiknya itu.


FLASH BACK OFF


Malvin dan Leon masih mencari Paula.


"Toilet.." kata Malvin ambigu.


"Ha?" bingung Leon.


Malvin langsung berlari menuju toilet. Leon menatap sang big bosnya itu bingung dan tak lama Leon juga berlari mengikuti Malvin.


"Tuan jangan.." cegah Leon saat melihat Malvin akan masuk ke dalam toilet wanita.


"Tuan itu toilet wanita" peringatnya kemudian.


"Ada apa dengan pak Malvin? Aku tau dia khawatir, tapi bagaimana bisa dia masuk ke toilet wanita begitu aja" kata Leon dalam hatinya. Laki-laki itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah bosnya itu.


"Akh.. Sial.. Bodoh.. Apa yang akan di pikirkan asisten Leon pada ku? Pasti dia mikir yang aneh-aneh deh" kata Malvin dalam hatinya merutuki kebodohannya itu.


Cklek..


Pintu toilet itu terbuka dan menampilkan dua orang wanita yang berdiri terkejut saat melihat Malvin dan Leon berdiri tepat di depan mereka. Kedua wanita itu menunduk hormat.


"Apa di dalam ada Paula?" tanya Malvin pada ke dua wanita itu.


"Ha?"


"Paula, calon istri saya? Apa dia ada di dalam?" tanya Malvin lagi.


"T-tidak, tidak ada siapa-siapa di dalam selain kita berdua" jawab salah satu wanita itu.


Malvin tidak mempercayai ucapan kedua wanita itu begitu saja. Malvin langsung masuk ke dalam toilet itu mencari Paula di sana.


"Kalian berdua pergilah" titah Leon pada kedua wanita itu.


Kedua wanita itu menunduk hormat dan berlalu pergi.


Leon menghela napasnya. "Setelah bertahun-tahun bekerja bersama pak Malvin, baru kali ini aku melihat sikapnya yang seperti ini. Biasanya pak Malvin terlihat sangat sempurna dalam segala hal tapi kali ini ia bersikap begitu bodoh. Ini nih alasan kenapa aku malas berhubungan dengan yang namanya perempuan, ribet bikin pusing" gumam Leon.


Selama ini Leon memang tidak terlalu memusingkan masalah pasangan. Leon berpikir jika semua wanita itu ribet dan selalu bikin pusing. Leon lebih memilih pusing mikirin pekerjaan dari pada pusing mikirin wanita.


Leon bersikap seperti itu bukan tanpa alasan, bertahun-tahun lalu Leon memiliki seseorang yang sangat di cintainya bahkan Leon sudah memimpikan akan hidup bahagia bersamanya selamanya. Tapi itu hanya mimpi, karena kenyataannya itu tidak terjadi karena wanita itu pergi meninggalkannya dan memberikan luka yang teramat dalam bagi Leon.


Malvin keluar dari toilet setelah menggeledahnya dan tidak menemukan Paula di sana. Tak lama ponsel Leon berdering kemudian ia mengangkat panggilan teleponnya.


(In Call)


"Apa kalian sudah menemukan nona Paula?" tanya Leon.


"Iya tuan, nona Paula saat ini berada di kantin kantor" jawab bodyguard itu seraya melihat rekaman CCTV di kantin kantor yang memperlihatkan jika Paula berada di sana.


Leon memutus panggilannya sepihak.


(Call End)


"Tuan nona Paula ada di kantin" lapor Leon.


Tanpa berkata Malvin langsung berlari ke kantin kantor dan lagi-lagi Leon hanya bisa menghela napasnya melihat tingkah bosnya itu.


"Dasar bucin" batin Leon.


Kantin kantor..


Niat awal Paula hanya sebentar tapi ini sudah hampir dua puluh menit dan Paula masih asik mengobrol sama Kania dan Stella. Paula sepertinya lupa jika ia harus mengantarkan makan siang untuk Malvin. Benar apa kata orang jika para wanita sudah berkumpul mereka pasti lupa waktu bahkan lupa semuanya.


Kania dan Stella sedari tadi menertawakan orang-orang yang gugup saat bertemu dengan Paula. Bahkan ada yang sampai salah makan, orang itu tanpa sadar memakan sambal yang ada di piringnya dan membuatnya sampai kepedesan. Karena orang itu duduk tepat di samping Paula.


"Ini minumlah" kata Paula memberikan minum pada pegawai wanita itu.


"T-terimakasih bu Paula" pegawai wanita itu menunduk hormat kemudian meminum minuman yang di berikan Paula.


"Bersikaplah biasa aja, makan yang tenang. Aku juga tidak akan memakan mu" kata Paula.


"I-iya m-maafkan aku" pegawai itu menunduk kemudian melanjutkan makannya dengan sangat tidak tenang.


"Hah.. Sakit perut aku" kata Kania memegang perutnya.


"Iya aku juga" kata Stella kemudian ia meminum minumannya.


"Kalian ini apaan sih, dari tadi ketawa mulu" kesal Paula.


"Eh.. Paula, aku gak mau tau ya. Besok kamu harus menghabiskan semua waktu mu itu bersama kita. Anggap saja ini pesta perpisahan sebelum kau menikah" kata Kania.


"Iya bawel. Pokoknya besok kita akan bersenang-senang" kata Paula.


"Mmm.. Paula aku juga akan ajak Dona, Melly sama Dini biar tambah rame, gak papa 'kan?" tanya Stella.


"Iya gak papa, aku malah seneng. Semakin banyak orang semakin seru" jawab Paula.


Aaa..


Paula terkejut saat ada orang yang memeluknya dari belakang.


"Sayang, kamu ke mana aja?" bisik Malvin tepat di telinga Paula dan Paula tau benar itu suara siapa.


Paula menepuk keningnya sendiri. "Oh ya ampun.. Aku lupa. Kak Mark maaf"


Semua pegawai yang ada di kantin kantor saat itu hanya bisa diam melihat adegan romantis yang di tampilkan sang big bos. Tidak ada yang bersuara mereka semua menunduk takut melihat Malvin.


Paula yang menyadari itu berusaha untuk melepaskan pelukan Malvin, tapi laki-laki itu malah semakin erat memeluknya.


"Kak Mark lepas" kata Paula.


"Aku lapar"


"Iya lepas dulu. Kita makan di ruangan kak Mark aja"


"Iya ayo" Malvin melepaskan pelukannya lalu menggenggam tangan Paula kemudian mereka berdua pergi dari kantin menuju ruangan Malvin.


Setelah Malvin dan Paula pergi terdengar helaan napas dari semua pegawai yang ada di sana.


Kania menghela napasnya dalam. "Semoga kamu berhasil mendapatkan ijin dari pak Malvin, Paula"


"Setelah melihat ini aku ragu, apa Paula besok bisa pergi?" kata Stella.