Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 37 : Dare



"Sekarang aku yang akan memutar botolnya" kata Dona.


"Eh.. Sebentar Don" cegah Stella.


"Kenapa?" tanya Dona.


"Gimana kalau kita buat peraturan" usul Stella.


"Peraturan apa?" tanya Melly.


"Dalam permainan ini tidak ada 'Truth' yang ada hanya 'Dare' jadi siapa pun yang di tunjuk botolnya dia harus menyelesaikan satu tantangan. Tantangannya akan di berikan oleh si pemutar botol" jelas Stella. "Gimana kalian setuju?" tanyanya kemudian.


"Ok"


Semua mengangguk setuju.


"Aku putar sekarang" kata Dona.


Botol itu berputar dengan sangat cepat namun kemudian botol itu mulai melambat dan perlahan berhenti. Botol itu berhenti tepat menunjuk ke arah Kania.


"Kania.." Dona menyeringai.


"A-aku.." Kania menunjuk dirinya sendiri.


Saat melihat wajah Dona kania mulai was-was. Ia tidak tau tantangan apa yang akan di berikan Dona padanya.


"Tantangannya adalah" Dona menjeda kalimatnya. Ia menatap Kania. "Kania kau harus bisa mendapatkan nomor ponsel laki-laki yang memakai kemeja hitam itu" sambungnya lagi seraya menunjuk seorang laki-laki yang tengah duduk sendiri.


"Apa? Nggak! Aku gak mau" tolak Kania.


"Kania, kau harus melakukannya. Kau hanya perlu meminta nomornya saja setelah itu selesai" kata Stella.


"Iya tapi, bagaimana caranya?" tanya Kania.


"Pikirkanlah, kau pasti bisa" kata Stella.


"Baiklah"


Kania menghela napasnya dalam kemudian ia mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah laki-laki yang memakai kemeja hitam itu.


"Apa aku boleh duduk di sini?" tanya Kania menunjuk kursi kosong di sebelah laki-laki itu.


Laki-laki itu menatap Kania dari ujung kaki hingga ujung rambut lalu tersenyum seraya menatap Kania.


"Duduklah"


"Terimakasih. Mmm.. Sebelumnya maaf, apa boleh aku meminta nomor ponsel mu?" tanya Kania.


"Nomor ponsel?" laki-laki itu menatap Kania dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Iya. Kau lihatlah para gadis yang duduk di sana" Kania menunjuk ke arah teman-temannya dan laki-laki itu melihat ke arah yang Kania tunjuk.


"Eh.. Kenapa laki-laki itu melihat ke arah kita?" tanya Dini.


"Apa yang Kania rencanakan?" tanya Melly.


"Pau menurut kamu, Kania bisa menyelesaikan tantangan ini gak?" tanya Stella menatap Paula.


"Kania pasti bisa menyelesaikan tantangan ini. Tapi perasaan ku mulai tidak enak" kata Paula.


"Apa maksud mu?" tanya Stella lagi.


"Tunggu saja"


"Kau lihat gadis yang memakai dress biru itu" Kania menunjuk Paula. "Dia menyukai mu, dia ingin meminta nomor ponsel mu, tapi dia orangnya sangat pemalu jadi dia meminta ku untuk melakukannya" sambungnya lagi.


Laki-laki itu tersenyum ke arah Paula. "Siapa namanya?" tanyanya kemudian.


"Mmm.. Michelle"


"Dia sangat cantik" puji laki-laki itu seraya terus menatap Paula.


"Ha iya.. Jadi gimana? Boleh tidak?"


"Tentu saja boleh"


"Terimakasih, ini" Kania memberikan ponselnya pada laki-laki itu.


"Katakan pada Michelle, Eza menunggu telepon darinya"


"Eza?" tanya Kania.


"Itu nama ku"


Eza mengembalikan ponsel Kania setelah ia menuliskan nomornya.


"Oh.. Iya Eza, aku akan memberitahunya. Sekali lagi terimakasih" kata Kania dan berlalu pergi kembali ke mejanya.


Huu..


Setelah kembali Kania di sambut dengan sorakan.


"Ini nomor ponselnya" Kania menunjukkan nomor ponsel Eza. "Aku berhasil menyelesaikan tantangannya.


"Ternyata jago juga kau" puji Dona.


"Iyalah Kania"


"Kania kau tidak melakukan hal yang aneh 'kan?" tanya Paula curiga.


Kania menunjukan cengir kudanya. "Sedikit.."


"Kania apa yang kau lakukan?"


Paula tersentak saat ada seseorang yang menyentuh pundaknya dari belakang. Sontak Paula langsung membalikan badannya untuk melihat siapa orang itu dan..


"Hai Michelle, aku Eza. Aku akan menunggu telpon dari mu. Kau sangat cantik" kata Eza seraya mengedipkan sebelah matanya dan berlalu pergi keluar dari restoran itu.


"Kania......." teriak Paula.


Kania membentuk tanda 'V' dengan tangannya tanda damai.


"Maaf"


Sementara itu di sudut restoran ada orang yang sedang mati-matian menahan amarahnya. Ya orang itu Malvin, sedari tadi Malvin mengikuti Paula. Dari mulai menonton di bioskop sampai makan di restoran. Malvin tidak sendiri karena Leon setia menemaninya.


"Akh.. Brengsek!! Berani sekali dia menyentuh Paula, rasanya ingin sekali aku memotong tangannya itu" geram Malvin tidak terima jika ada laki-laki lain menyentuh wanitanya.


"Tuan tenanglah, jika tidak bisa ketahuan nanti kita" kata Leon berusaha menenangkan bosnya yang tengah cemburu itu.


Malvin menggebrak meja kala ia melihat Eza mengedip 'kan matanya pada Paula. Malvin hendak berjalan ke arah meja Paula tapi Leon lebih dulu menahannya.


"Jangan tuan, jika nona Paula tau tuan mengikutinya. Nona Paula pasti sangat marah"


Malvin menghela napasnya kasar. "Akh.. Sial!!"


Jarak antara Malvin dan Paula cukup jauh, jadi Malvin tidak bisa mendengar apa yang di bicarakan Paula dengan teman-temannya itu, ia hanya bisa mengawasinya saja.


"Ok, sekarang giliran aku yang memutar botolnya" kata Kania.


Botol itu berputar dan kali ini berhenti tepat menunjuk ke arah Melly.


"Mmm.. Apa ya? Aku kasih tantangan apa? Aku bingung!" kata Paula.


"Ayo apa aja. Aku siap" kata Melly.


"Aku tau.." Kania mendapatkan ide. "Tantangannya adalah telepon mantan pacar terus bilang kangen"


"Apa?" teriak Melly.


Haa.. Haa..


Tawa Dona, Stella, dan Dini meledak.


"Kalian kenapa?" tanya Kania.


"Kau tau, Melly itu belum move on dari mantannya" kata Dini.


"Apa? Kau serius?" tanya Kania.


"Iya, bahkan dia masih suka stalking Instagram mantannya" kata Dini.


"Wah bagus dong, siapa tau setelah ini mereka balikan" kata Kania.


"Masalahnya, mantannya itu udah nikah dan sekarang mereka sedang menantikan kelahiran buah hati mereka" jelas Dini.


Paula dan Kania membulat 'kan matanya sempurna. Mereka tidak tau tentang masalah itu. Dan sekarang Kania merasa sangat bersalah pada Melly.


"Melly maaf, aku gak tau" sesal Kania.


"I'ts ok Kania"


"Aku ganti aja kali ya tantangannya" kata Kania.


"Gak usah"


"Kau serius?"


Melly tidak menjawab pertanyaan Kania. Wanita itu malah mengeluarkan ponselnya dan benar Melly menelpon sang mantan.


Panggilan pertama, kedua tidak di angkat tapi setelah panggilan ketiga baru di angkat.


(In call)


"Hallo" kata Melly.


"Hallo, ini Melly?" tanya sang mantan.


"Iya, aku kangen"


"A-apa?"


Tut.. Tut.. Tut..


Melly mengakhiri panggilan teleponnya sepihak.


(Call End)


Haa.. Haa..


Tawa mereka meledak. Mereka mendengar pembicaraan Melly dengan sang mantan.


"Ini gila! Melly kau gila!" kata Dini.


Melly menghela napasnya sangat dalam. Akhirnya ia bisa mengungkapkan rasa rindunya itu pada sang mantan. Ya walaupun Melly tau itu salah tapi setidaknya sekarang hatinya lega.


Paula menepuk-nepuk pundak Melly. "Lupakanlah dia, kau berhak bahagia Mell. Lihatlah aku, kau tau kisah cinta ku bukan? Aku bahagia sekarang, sangat bahagia. Melupakan seseorang yang special dari masa lalu itu memang sulit sangat sulit, terlebih lagi ketika kita sangat mencintainya. Tapi percayalah, suatu saat nanti kau akan mendapat 'kan seseorang yang jauh lebih baik darinya"


"Makasih Paula, kau benar aku harus melupakannya" kata Melly.


Paula memeluk melly dan Melly membalas pelukan Paula.


"Pengen di peluk juga" kata Kania merentangkan tangannya.


"Pelukan aja sana sama laki-laki yang tadi itu" Paula masih kesal sama Kania.


"Siapa? O.. Laki-laki yang tadi itu, Eza?"


"Ya gak tau siapa, aku juga gak peduli"


"Pau, kamu masih marah?"


"Enggak, siapa yang marah?"


"Ck, dasar"


Kania merasa ada seseorang yang mengawasi mereka. Kania mengedarkan pandangannya melihat ke sekitar tapi tidak ada yang mencurigakan. Karena tepat saat Kania akan melihat ke arah Malvin dan Leon mereka memalingkan wajahnya dan bersikap normal. Mereka juga melakukan penyamaran dengan menggunakan topi dan pakaian biasa jadi sulit untuk di kenali.


"Kania, kau kenapa?" tanya Stella yang melihat Kania celingukan.


"Aku merasa seperti ada yang mengawasi kita" jawab Kania.


"Tuh 'kan bener apa kata aku tadi saat di bioskop, aku juga merasa ada yang mengawasi kita" kata Stella.


"Iya, tapi siapa?" tanya Kania.


"Ya aku gak tau"


"Tuan sepertinya mereka mulai menyadari jika ada yang mengawasi mereka" kata Leon.


"Iya, aku tau itu. Kita bersikap normal saja supaya tidak ketahuan" kata Malvin.


"Iya, aku juga tau itu" batin Leon.


"Iya, tuan"