Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 12 : Siapa Aku?



Malam harinya..


Paula masih di rumah sakit. Saat ini keadaan Malvin sudah sangat baik mungkin besok dokter sudah mengijinkannya pulang.


"Sayang kamu pulanglah istirahat, sudah dari pagi kamu di sini. Kamu pasti capek 'kan?" kata Malvin.


"Kamu ngusir aku" kesal Paula, ia memanyunkan bibirnya.


Malvin tersenyum gemas melihat tingkah wanitanya itu.


"Gak gitu sayang. Kamu juga harus istirahat bukan, kalau kamu di sini terus kamu gak akan bisa istirahat. Aku gak mau kamu sakit"


"Aku gak papa kok, aku bisa istirahat di sini. Aku juga udah mutusin, aku akan menginap di sini. Aku bisa tidur di sofa"


"Apa? Gak, jangan. Kamu harus pulang, asisten Leon akan mengantar mu. Kamu gak bisa nginep di sini."


"Kenapa? Apa kamu gak suka aku temenin? Kalau emang gak suka, ya uda aku pulang" lirih Paula.


Malvin menarik Paula ke dalam pelukannya.


"Maaf, bukan itu maksud aku. Aku gak bisa biarin kamu tidur di sini. Apa lagi tidur di sofa, itu gak akan nyaman sayang"


"Nyaman, aku bisa tidur di sofa. Dari pada aku pulang terus aku gak bisa tidur karena mikirin kamu gimana?"


Malvin tersenyum. "ya udah. Kamu boleh nginep di sini, tapi jangan tidur sofa"


"Terus aku tidur di mana?"


"Di sini di samping aku" Malvin menepuk-nepuk ranjang.


"Gak mau. Bagaimana bisa aku tidur di sana, itu terlalu sempit"


"Ya kalau kamu gak mau, kamu harus pulang"


"Ck! Dasar menyebalkan" umpat Paula.


Tok.. Tok..


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Sedetik kemudian terlihat seorang pria dan seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruang inap Malvin.


Mata Paula membulat sempurna saat melihat kedua orang yang baru saja datang itu. Terlebih lagi ketika ia melihat sikap mereka yang sudah sangat akrab dengan Malvin.


"Mama, ka Raihan" gumam Paula.


Kedua orang itu adalah ibu dan kakak laki-laki Paula, Raihan.


Raihan adalah seorang Pilot. Ia memang jarang sekali ada di rumah. Sekali pun ada, waktunya itu ia habiskan hanya untuk beristirahat.


"Hai.. Bro" sapa Raihan, ia bersalaman dengan Malvin ala pria.


"Bagaimana keadaan mu" tanya Mayang.


"Udah jauh lebih baik tan. Terimakasih tante udah datang ke sini" kata Malvin.


"Mama, ka Raihan. Kok bisa ada di sini?" tanya Paula yang merasa bingung.


"Kenapa? Apa mama gak boleh jenguk calon menantu mama yang sakit?"


"Apa?" pekik Paula.


Bagaimana bisa mamanya berkata seperti itu di depan Malvin? Terus bagaimana bisa mamanya tau jika dirinya dengan Malvin memang sedang menjalin hubungan? Se-ingat Paula, ia belum menceritakan tentang Malvin pada mamanya itu. Karena Paula baru saja akan memperkenalkan Malvin pada mamanya saat Malvin sudah keluar dari rumah sakit nanti. Tapi, apa ini? Kenapa sepertinya mereka sudah saling mengenal? Bahkan terlihat sangat akrab. Mereka seperti sudah mengenal sejak lama.


Paula melihat Malvin, Raihan dan mamanya secara bersamaan untuk meminta jawaban. Tapi yang di dapat Paula bukan sebuah jawaban, ia malah mendapatkan umpatan.


"Ck! Dasar bodoh" umpat Raihan yang sukses membuat Kania marah.


"Ka Raihan!"


"Gimana? Apa dia sudah menerimanya?" tanya Mayang pada Malvin.


"Iya tan, udah" jawab Malvin.


"Syukurlah. Akhirnya drama ini selesai juga. Tante udah kesel banget dengan sikapnya yang sok jual mahal dan sangat merepotkan mu itu. Emang dasar gadis nakal!"


"Mama!"


"Iya dia emang nyebelin banget tan"


"Malvin, kamu juga. Kalian ini kenapa sih?" marah Paula.


"Ma, sebaiknya kita pergi dari sini. Jika tidak habis kita di terkam macan betina itu" kata Raihan.


"Ya udah kalau gitu. Malvin tante pamit sekarang ya. Semoga kamu lekas sembuh"


"Iya tan. Sekali lagi terimakasih udah dateng"


"Aku juga pamit Vin. Kau bersiaplah menghadapi kemarahan macan betina itu"


Malvin hanya tersenyum menanggapi ucapan Raihan sedangkan Paula amarahnya sudah berada di puncak dan akan segera meledak.


"Paula, kakak mau kenalin kamu sama teman kakak. Lihatlah dia, dia teman kakak. Namanya Mark" bisik Raihan tepat di telinga Paula kemudian ia langsung menyusul sang ibu yang sudah pergi lebih dulu.


Mendengar ucapan Sang kakak, Paula mendadak diam. Hilang sudah amarahnya yang entah pergi kemana. Kini ia merasa sangat bingung. Paula menatap Malvin yang juga menatapnya.


"Paula, siapa aku?" tanya Malvin. Menyadarkan Paula dari lamunannya.


"Kak Mark" kata Paula.


"Akhirnya kamu memanggil ku dengan nama itu lagi"


Malvin adalah sahabat Raihan sejak SD. Dulu Malvin sering main ke rumah Raihan. Malvin sangat dekat dengan Paula yang saat itu Paula masih kecil. Ketika masa kuliah, Malvin dan Raihan jarang bertemu bahkan hampir tidak pernah, karena Malvin kuliah di Amerika. Tapi sesekali mereka masih tetap saling berkomunikasi. 'Mark' adalah panggilan Malvin saat masih sekolah dulu.


"Kamu beneran kak Mark?" tanya Paula yang masih belum percaya.


"Iya ini aku. Kak Marknya kamu, kelinci kecil ku"


"Kelinci kecil? Aaa.. Iya, sekarang aku ingat 'kelinci kecil'. Itu panggilan kak Mark untuk aku dulu"


"Jadi kamu lupa. Pantes aja saat aku panggil kamu 'kelinci kecil' di kantor waktu itu, kamu diam aja"


"Ya wajar aja kalau aku lupa. 'Kan saat itu aku masih kecil"


Paula terus saja menatap Malvin tanpa berkedip.


"Kenapa liatin aku sampe gak ngedip gitu. Aku lebih ganteng ya sekarang?"


"Idih nggak tuh, biasa aja" Paula memalingkan wajahnya.


"Kak Mark?" tanya Paula kemudian.


"Hmm.. Kenapa?"


"Aku boleh nanya gak?"


"Apa?"


"Kenapa nggak kasih tau aku, kalau kamu itu adalah kak Mark dari awal?"


"Kalau aku kasih tau kamu dari awal, apa kamu akan langsung terima lamaran aku?"


"Kak Mark, apaan sih" pipi Paula memerah.


"Aku gak nyangka kelinci kecil ku ini akan tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan berhasil membuat aku jatuh cinta" goda Malvin.


"Kak Mark!"


"Jangan panggil kak Mark dong, panggil sayang aja"


"Gak mau, aku panggilnya kak Mark aja"


"Kamu gak mau panggil aku sayang?"


"Iya aku gak mau, terus kenapa?"


Malvin menyeringai. "Baiklah, kamu akan aku hukum" Malvin menarik Paula kemudian menciummnya. Paula awalnya terkejut tapi akhirnya ia juga membalas ciuman itu.


Malvin dan Paula berbaring di ranjang rumah sakit yang hanya untuk satu orang itu. Malvin memeluk Paula dari belakang. Mereka belum tidur.


"Kak Mark, aku mau tanya lagi boleh?"


"Hmm.."


"Kak Mark tau dari mana aku bekerja di Vuitton Grup? dan bagaimana bisa kak Mark mengenalin aku?"


"Hari itu aku melihat kamu bersama Raihan di depan kantor, saat itu kamu baru saja turun dari motor Raihan. Awalnya aku pikir kamu itu adalah pacarnya Raihan. Setelah kamu masuk ke kantor, aku turun dari mobil dan langsung menemui Raihan, aku bilang padanya 'Pacar kamu cantik'. Tapi Raihan malah menertawai aku, terus dia bilang 'Bagaimana bisa kamu melupakan kelinci kecil mu?'. Setelah Raihan mengatakan itu aku baru tau, jika ternyata wanita cantik yang bersama Raihan adalah kelinci kecil ku"


Malvin membayangkan kembali pertemuan pertamanya bersama Paula setelah lama tidak bertemu. Di matanya saat itu Paula terlihat sangat cantik dan ia tidak menyangka jika bidadari yang turun dari motor itu adalah kelinci kecilnya.


"Jadi, kak Mark dari awal emang udah ngenalin aku"


"Iya" Malvin mengelus pipi Paula.


"Terus sejak kapan ka Mark mencintai aku?"


"Sejak pertama kali aku melihat mu. Mungkin itu bisa di bilang jatuh cinta pada pandangan pertama"


Paula mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya sendiri, mendadak ia merasa sangat kepanasan. Jantungnya juga berdetak dengan kencang, rasanya seperti ingin meledak.


"Sejak Saat itu aku sudah memutuskan, aku akan mengejar cintamu. Tapi saat aku akan mulai mendekati kamu, aku baru tau ternyata kamu udah punya pacar. Jadi aku mundur, aku gak mau ngerusak hubungan kalian. Aku tau saat itu kamu sangat mencintainya dan kamu terlihat sangat bahagia bersamanya"


"Saat itu aku pikir dia adalah pria baik, pria yang bisa membuat mu bahagia. Tetapi pikiran aku itu salah besar. Dia bukan pria yang baik, dia hanyalah pria brengsek yang gak pantas di cintai oleh wanita baik seperti kamu"


Mendengar cerita Malvin, Paula bangun dan langsung duduk melihat ke arah Malvin. Malvin juga bangun dan duduk di sebelah Paula. Malvin menggenggam tangan Paula.


Paula sungguh tidak menyangka jika ternyata Malvin tau tentang masa lalunya itu. Masa lalu yang membuat hatinya benar-benar hancur. Masa lalu yang sangat menyakitkan.