Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 21 : Menjadi Sekretaris



"Paula, antar 'kan berkas ini ke ruangan pak Malvin" titah bu Rina memberikan berkasnya pada Paula.


Paula mengambil berkasnya. "Baik bu" jawab Paula dan berlalu pergi ke ruangan Malvin.


Saat sampai di depan ruangan Malvin, Paula di sambut oleh Leon.


"Silahkan nona, tuan Malvin sudah menunggu" kata Leon membukakan pintu untuk Paula.


"Terimakasih" kata Paula kemudian masuk ke ruangan Malvin.


Saat Paula masuk ke ruangan, Malvin langsung memeluk Paula. Laki-laki itu terlihat sangat cemas.


"Sayang, kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Malvin khawatir.


Paula melepas pelukannya. "Kak Mark ada apa? Aku baik-baik aja" jawab Paula.


Malvin kembali memeluk Paula. Laki-laki itu menempelkan keningnya dengan kening Paula. "Jangan pernah pergi meninggalkan ku. Jangan pernah"


"Aku tidak akan pergi. Kak Mark kenapa? Ada apa?" tanya Paula bingung dan juga khawatir.


"Tidak ada sayang, aku hanya merindukan mu saja" kata Malvin berbohong.


"Ck! Dasar, aku kira apa" Paula mengerucutkan bibirnya.


Cup..


Malvin mengecup sekilas bibir Paula.


"Kak Mark!" Paula membulatkan matanya sempurna.


Malvin semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Paula. Wajahnya dengan wajah Paula hanya berjarak beberapa inchi saja. Malvin hendak mencium Paula tapi Paula menahan dada Malvin untuk memberi jarak.


"Kak Mark! Ini di kantor. Bagaimana jika nanti ada yang melihatnya lagi?" kata Paula.


Malvin tersenyum tipis. "Gak akan ada yang berani masuk ke dalam ruangan ku tanpa seijin ku sayang"


Malvin langsung melahap bibir ranum Paula rakus. Ciuman kali ini benar-benar membuat Paula kesusahan untuk mengimbanginya. Entah apa yang terjadi dengan Malvin? Laki-laki itu seakan tidak ingin membagi Paula dengan siapa pun. Malvin ingin memiliki Paula seutuhnya.


Malvin berbaring di pangkuan Paula.


"Kak Mark, aku harus kembali bekerja. Ini sudah terlalu lama" kata Paula.


"Aku mengantuk" kata Malvin.


Paula tersenyum. "Tidurlah" Paula mengelus pipi Malvin lembut.


Malvin mengecup tangan Paula dan menggenggamnya erat.


Setengah jam berlalu..


Malvin perlahan membuka matanya. Ia mendongak ke atas dan melihat Paula yang juga tertidur. Malvin bangun dan duduk di sebelah Paula.


Malvin mengelus pipi Paula lembut. "Tidak akan ku biarkan siapa pun merebut mu dari ku. Kau milik ku Paula. Aku sangat mencintai mu" Malvin mengecup kening Paula.


Malvin menggendong Paula ala bridal style. Ia membawa Paula ke kamar tersembunyi di balik rak buku tempat Malvin istirahat di kantornya. Malvin merebahkan Paula di atas tempat tidur kemudian ia menyelimutinya dan keluar dari ruangan itu.


Tok..


Tok..


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuklah" kata Malvin.


Asisten Leon masuk ke ruangan Malvin.


"Siapa dia?" tanya Malvin.


"Dimas" jawab Leon.


Satu kata yang keluar dari mulut Leon itu berhasil membuat rahang Malvin mengeras.


Malvin menyeringai. "Sudah ku duga. Cari dan temukan dia"


"Baik tuan" Leon keluar dari ruangan Malvin.


"Dimas" desis Malvin.


Satu jam..


Dua jam..


"Eungghhh.." Paula perlahan membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya mencari Malvin.


"Kak Mark" panggil Paula.


"Iya, sayang. Aku di sini" Malvin masuk ke ruangan rahasia itu.


"Kak Mark, ini di mana?" tanya Paula.


"Ini masih di ruangan ku sayang"


"Ha? Aku gak tau di ruangan kak Mark ada kamar tidurnya" kata Paula polos. Malvin terkekeh mendengarnya.


"Kak Mark, sekarang jam berapa?"


Malvin melihat arlojinya. "Jam tiga sore"


"Apa? Kak Mark, kenapa gak bangunin aku? Aku akan kembali bekerja sekarang" Paula turun dari tempat tidur.


"Kamu bekerja dengan keadaan seperti itu" kata Malvin.


Penampilan Paula sangat berantakan. Rambutnya, pakaiannya sangat kusut dan di tambah lagi dengan wajah bantalnya.


Paula melihat ke arah cermin. "Oh.. Ya ampun"


"Mmm.. Tapi.."


"Ini.." potong Malvin tau apa yang akan Paula katakan.


Malvin memberikan paper bag yang berisi satu set pakaian pada Paula dan Paula menerimanya.


"Terimakasih" kata Paula dan berlalu pergi ke kamar mandi.


Setengah jam berlalu..


Kini Paula sudah terlihat rapih.


"Kak Mark, aku balik kerja ya"


"Kiss dulu" Malvin menunjuk bibirnya.


Cup..


Paula mengecup bibir Malvin sekilas. "Udah, aku pergi sekarang" kata Paula dan berlalu pergi.


Malvin tersenyum melihat tingkah Paula yang menurutnya sangat menggemaskan itu. Laki-laki itu sudah sangat jatuh terlalu dalam ke dalam jurang cintanya Paula. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa mencintai Paula yang usianya jauh di bawahnya. Selama ini sudah banyak wanita yang mencoba menggoda Malvin tapi Malvin sedikit pun tidak merasa tertarik.


Paula sudah kembali ke ruangannya. "Maaf bu saya.." kata Paula pada bu Rina.


"Saya tau, tadi asisten Leon mengatakan jika kamu membantu pak Malvin dengan pekerjaannya" potong bu Rina.


"Ha? Oh.. I-iya bu, tadi saya membantu pak Malvin" kata Paula.


"Maaf bu Rina, lagi-lagi aku harus membohongi mu" lirih Paula dalam hatinya.


"Paula, pak Malvin sangat menyukai pekerjaan mu.."


"Ck! Pekerjaan apanya?" batin Paula.


"Dan pak Malvin meminta mu untuk menjadi sekretarisnya"


"Apa?"


"Mulai besok kau akan menjadi sekretaris pak Malvin" kata bu Rina.


"Tapi bu.. Bagaimana saya bisa jadi sekretaris pak Malvin"


"Jika kamu ingin protes, kamu langsung saja temui pak Malvin" final bu Rina. "Sekarang kembalilah bekerja, ini hari terakhir mu bekerja sebagai staff administrasi keuangan" sambungnya lagi.


"Baik bu" Paula kembali ke meja kerjanya.


"Aku pikir kamu tidak akan kembali dari ruangan pak Malvin" kata Kania yang meja kerjanya tepat di sebelah meja Paula.


"Apaan sih"


"Paula kau ingat, ini kantor"


"Aku tau ini kantor, lagian aku juga gak ngapa-ngapain sama pak Malvin"


"Paula, kau tidak bisa membohongi ku"


"Apa maksud mu?"


"Pakaian mu"


Paula melihat Pakaiannya. "Oh.. Tadi aku mandi, jadi aku ganti pakaian" kata Paula polos.


"Apa? Mandi?" pekik Kania dan di angguki oleh Paula.


Kania mengulum senyumnya. Pikirannya sudah traveling ke mana-mana.


"Apa yang kamu pikir 'kan? Itu tidak seperti apa yang ada di dalam otak kotor mu itu" kata Paula.


"Iya-iya. Eh.. Paula, kamu udah kasih tau pak Malvin tentang Dimas?" tanya Kania.


"Oh.. Iya, aku lupa" Paula menepuk jidatnya sendiri.


"Ya ampun Kania, kau ini gimana sih?" Kania menggeleng-gelengkan kepalanya.


Malam harinya..


Paula dan Malvin berada di balkon kamar Paula. Malvin memeluk Paula dari belakang memberikan kehangatan pada wanitanya itu.


"Kak Mark.."


"Hmm.."


"Aku ingin mengatakan sesuatu"


"Katakan saja"


"Tapi, kak Mark jangan marah"


Malvin membalikan tubuh Paula menghadap ke arahnya. "Ada apa?" tanyanya kemudian.


Paula memberikan kertas yang di berikan Dimas padanya saat di restoran tadi pada Malvin.


"Apa ini?"


"Bacalah"


'APA KAU MERINDUKAN KU SAYANG? DIMAS'


Malvin mengeraskan rahangnya setelah membaca surat itu.


"DIMAS KAU SUDAH BERANI MENGGANGGU PAULA. KAU AKAN TERIMA AKIBATNYA NANTI" batin Malvin.


"Kak Mark" Paula menggenggam tangan Malvin yang terkepal. Malvin merengkuh Paula masuk ke dalam pelukannya.