
Keesokkan harinya..
Setelah pulang kerja Kania dan Jennie menemani Marissa dan Angel datang kerumah Paula.
Saat ini mereka semua sudah ada di rumah Paula. Mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Paula aku minta maaf, aku sangat menyesal" kata Angel.
"Aku juga minta maaf Paula, aku udah jahat banget sama kamu" kata Marissa.
"Iya aku udah maafin kalian. Aku juga minta maaf gara-gara aku kalian jadi di pecat"
"Ga papa Paula, itu bukan salah kamu. Kita memang pantas mendapatkan itu" kata Marissa.
Setelah permasalahan di antara Paula, Marissa dan Angel selesai. Marissa dan Angel pamit pulang sedangkan Kania dan Jennie masih berada di rumah Paula.
"Paula kata pak Malvin aku harus temenin kamu sampai keluarga kamu pulang" kata Jennie.
Mayang, Raihan dan Malvin tengah menyiapkan sesuatu yang sangat spesial untuk Paula di hari pernikahan yang akan di adakan besok.
"Eh iya aku baru sadar, pantesan aja rumah ini sepi banget. Emangmya tante Mayang sama kak Rai kemana?" tanya Kania.
"Kenapa? Kangen ya sama kak Rai?" goda Paula.
"Apaan sih Pau!"
"Kalau kangen bilang aja"
"Udah ah.. Aku mau pulang dulu mandi, nanti ke sini lagi" kata Kania.
"Ya udah sana mandi, dandan yang cakep biar kak Rai terpesona"
"Ck! Dasar Paula ini, dia terus saja menggoda ku" kesal Kania dalam hatinya.
"By" Kania melambaikan tangannya dan berlalu pergi.
"Kak Rai itu siapa?" tanya Jennie.
"Dia kakak aku"
"Kakak kamu sama Kania pacaran?"
"Nggak sih, tapi aku maunya mereka pacaran bahkan kalau bisa langsung menikah"
"Ohh.."
Jennie menanggapi ucapan Paula dengan mengangguk-angguk 'kan kepalanya sembari ber-oh ria.
"Rai.. Itu gak mungkin Jen, nama Rai di negeri ini tuh banyak banget. Gak mungkin dia orang yang sama" gumam Jennie dalam hatinya.
"Jen, kalau kamu mau mandi ke kamar aku aja. Baju gantinya ada di lemari, kamu pilih aja pakaian yang nyaman untuk kamu" kata Paula.
"Iya, terimakasih. Kamar kamu di mana?"
"Naik aja, kamar ku di sebelah kanan. Kamu jangan masuk ke kamar satunya, itu kamar kak Rai bisa bahaya nanti"
"Bahaya?"
"Iya bahaya, nanti kamu hamil lagi" Paula terkekeh.
"Oh ya ampun Paula, pikiran mu itu"
Setengah jam berlalu, kini Paula dan Jennie berada di dapur mereka sedang memasak. Lebih tepatnya sih Jennie yang memasak, Paula hanya membantu saja.
"Pintar masak juga ternyata kamu ya Jen"
"Nggak, biasa aja. Awalnya juga aku sama kayak kamu gak bisa masak, bahkan aku gak suka memasak. Tapi karena paksaan dari kakak aku akhirnya aku mulai belajar memasak dan sekarang aku menyukainya"
"Kakak kamu yang ngajarin kamu masak?" tanya Paula.
"Iya dan masakan yang kita masak ini adalah resep yang di ajarkan kakak ku" suara Jennie bergetar dan matanya sudah berkaca-kaca.
"Jen, kamu kenapa?"
"Aku nggak papa Paula. Ayo sekarang kita sajiin masakannya"
"Iya"
Setelah menyajikan semua masakan mereka di atas piring mereka lalu membawanya ke meja makan.
"Eh.. Ponsel ku di mana ya?" Jennie mengedarkan pandangannya mencari ponsel. "Paula kamu lihat gak?" tanya kemudian.
"Pasti ada di tas kamu, tas kamu di mana?"
"Oh iya kamu bener, pasti ada di dalam tas. Tas aku ada di kamar kamu, aku ambil ponsel ku dulu ya"
"Ya udah sana cepetan, aku udah laper dan gak sabar pengen nyicipin masakan kamu"
"Iya sebentar"
Setelah Jennie pergi ke kamar Paula tak lama Raihan dan Mayang datang. Saat mereka baru saja membuka pintu, mereka langsung di suguhkan dengan aroma masakan yang sukses membuat perut mereka keroncongan.
"Mah ini siapa yang masak? Wanginya hmm.. Aku jadi laper" kata Raihan.
"Mama juga gak tau Rai tapi yang pasti ini bukan masakan Paula"
"Mama! Kak Rai!" pekik Paula saat melihat mama dan kakanya itu datang.
"Siapa yang masak?" tanya Mayang.
"Temen aku ma"
"Kania" tebak Raihan.
"Bukan, kak Rai mah mikirnya Kania mulu" kata Paula.
"Terus kalau bukan Kania siapa? Temen kamu 'kan Kania doang"
"Dih.. Temen aku banyak kak Rai. Kak Rai kali tuh yang gak punya temen"
"Sstt.. Kalian ini. Udah pada gede juga, masih aja berantem"
"Maaf ma" kata Paula dan Raihan kompak.
Plak..
Paula memukul tangan Raihan yang akan mengambil makanannya.
"Kak Rai, jangan dulu di makan. Kita tunggu yang masaknya dulu"
"Kelamaan, aku udah laper"
"Ck! Tunggu aja, sebentar lagi dia dateng"
"Emang di mana sih dia?"
"Tuh.. Di belakang kak Rai" Paula menunjuk Jennie yang ada di belakang Raihan lewat sorot matanya.
"Oh.. Ternyata Jennie yah yang masak" kata Mayang lalu menghampiri Jennie.
Mayang bertemu dengan Jennie sekali di rumah sakit saat Paula dan Jennie terluka karena ribut di toilet waktu itu.
"Iya tan, tante apa kabar?"
"Tante baik, kamu?"
"Aku juga baik tan"
Sementara itu saat Raihan membalikkan badannya dan melihat siapa teman Paula itu seketika tubuh Raihan mematung.
"Dia.."
Di sisi lain Jennie yang melihat sosok laki-laki yang berdiri di hadapannya itu juga seketika tubuhnya mematung.
"Dia.."
Pandangan mereka bertemu.
"Kalian kenapa? Kalian saling kenal?" tanya Paula penasaran dengan tingkah kedua orang itu yang sepertinya sudah saling mengenal.
"Jennie.."
"Kak Raihan.."
"Kamu temennya Paula?"
Jennie mengangguk 'kan kepalanya. "Kamu kakaknya Paula?"
Raihan mengangguk 'kan kepalanya. Suasana tiba-tiba terasa sangat canggung.
"Ini ada apa sih? Kak Rai? Jen? Kalian saling kenal?" tanya Paula sedikit kesal karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya tadi.
"Pau, dia.. Jenna.." Raihan tidak bisa melanjutkan ucapannya.
"Ha?"
Paula membekap mulutnya sendiri setelah ia mengerti apa yang di ucapkan kakaknya itu.
Paula sangat mengenal dengan nama yang di sebutkan Raihan itu. 'Jenna' itu adalah nama kekasih Raihan yang sudah meninggal.
"Jadi, Kakak yang kamu ceritain tadi itu.. Kak Jenna?" tanya Paula melihat ke arah Jennie.
"Iya"
"Tapi saat kak Jenna meninggal, aku gak lihat kamu"
"Itu karena aku ada di luar negeri, aku kembali sehari setelah kakak ku meninggal"
Paula mengangguk 'kan kepalanya mengerti.
Raihan terus saja menatap Jennie. Raihan seperti melihat Jenna kekasihnya yang sudah meninggal itu karena memang wajah Jennie dan Jenna sangat mirip. Apa lagi bagian mata dan bulu mata mereka terlihat sama persis.
"Ekhm.. Ngeliatinnya gitu amat kak Rai" kata Paula membuyarkan lamunan Raihan.
Raihan berdehem. "Ayo kita langsung makan aja, aku udah laper"
Mereka pun akhirnya makan malam bersama dengan tenang.