Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 13 : Tinggal Serumah



FLASH BACK ON


Malam itu Malvin dan Leon baru saja selesai makan malam bersama klien di restoran. Saat akan pergi, Malvin secara tidak sengaja melihat sosok seorang pria yang ia tau pria itu adalah Pacar Paula. Awalnya ia duduk sendirian dan tak lama datang seorang wanita yang Malvin pikir itu adalah Paula tapi ternyata bukan.


Malvin mengeraskan rahangnya saat melihat wanita itu mencium pacar Paula.


"Tuan, anda kenapa?" tanta Leon yang melihat perubahan sikap Malvin yang sangat tidak mendukung.


"Asisten Leon, kau lihat dua orang di sana" kata Malvin seraya menunjuk dua orang yang duduk tidak jauh dari mejanya dengan sorot matanya yang tajam.


Leon mengikuti arah tatapan Malvin. "Iya tuan"


"Kau awasi mereka berdua, jangan sampai ada yang terlewat"


"Baik tuan"


Di kantor..


Malvin sedang duduk di kursi kebesarannya. Di depannya ada Leon dan seorang pegawai wanita.


"Bagaimana? Apa dia percaya?" tanya Malvin pada pegawai wanita itu.


"Tidak tuan, dia tidak percaya. Sepertinya dia sangat mempercayai pacarnya itu" jelas pegawai wanita itu.


"Akh sial" kesal Malvin.


Pegawai wanita itu adalah pegawai wanita yang sama yang memberitahu Paula jika dirinya bertemu dengan pacar Paula di restoran bersama seorang wanita.


Sebenarnya pegawai wanita itu adalah orang suruhan Malvin. Malvin yang memerintahkan pegawai wanita itu untuk memberi tau Paula tentang pacarnya yang selingkuh. Malvin terpaksa melakukan itu karena tentu saja ia tidak bisa menyampaikan apa yang di lihatnya malam itu pada Paula secara langsung.


"Baiklah kau boleh pergi sekarang. Tapi kau harus ingat jangan sampai ini bocor. Jika tidak kau akan terkena masalah" kata Leon memberi peringatan pada pegawai wanita itu.


"Baik tuan, saya mengerti" pegawai wanita itu membungkuk 'kan kepalanya dan berlalu pergi dari ruangan Malvin.


Asisten Leon menerima pesan dari orang suruhannya yang sedang mengawasi pacar Paula dan selingkuhannya itu.


"Tuan, saat ini mereka berada di tangga darurat" lapor Leon.


Malvin menyeringai, ia sudah memiliki rencana untuk membongkar perselingkuhan itu.


"Maaf kelinci kecil ku. Aku harus melakukan ini" batin Malvin.


"Leon sekarang kau suruh Paula dan Kania mengantarkan laporan mingguan ke ruangan ku dan pastikan mereka menaiki tangga darurat" titah Malvin.


"Baik tuan" jawab Leon kemudian ia pergi menjalankan rencananya.


Pertama Leon meminta sekertaris Malvin untuk menghubungi kepala staf administrasi keuangan dan memastikan jika Paula dan Kania lah yang harus mengantarkan dokumen itu.


Rencana pertama sukses, kini Leon menjalankan rencana kedua. Ia memanggil teknisi untuk membantunya kali ini. Ia meminta teknisi itu untuk mengatakan pada Paula dan Kania jika lift dalam perbaikan. Rencana itu juga sukses, Paula dan Kania menggunakan tangga darurat.


Kini hanya tinggal takdirlah yang akan berbicara. Jika hari itu Paula memang harus mengetahui tentang pacarnya yang selingkuh, maka terjadilah.


Dan akhirnya takdir pun menuntaskan semuanya. Apa yang di rencanakan Malvin, semuanya terjadi. Takdir mendukung usahanya. Misinya terselesaikan.


FLASH BACK OFF


"Maaf" lirih Malvin setelah ia menceritakan semuanya pada Paula.


"Saat itu aku tidak punya cara lain. Aku sudah memberitau mu lewat pegawai wanita itu, tapi kamu gak percaya. Jadi aku terpaksa melakukan itu. Aku tau itu sangat menyakitkan untuk mu. Maafkan aku" sambung Malvin lagi.


"Terimakasih" Paula memeluk Malvin erat. Malvin membalas pelukannya.


"Kamu gak marah?" tanya Malvin.


"Untuk apa aku marah? Jika bukan karena kamu, aku pasti masih terjebak dengan pria brengsek itu. Aku akuin saat itu aku benar-benar hancur, itu sangat menyakitkan. Tapi sekarang luka itu udah hilang dan itu semua karena kamu. Kamu benar dia memang bukan pria yang baik untuk aku, karena pria yang baik untuk aku saat ini ada di hadapan ku dan aku sangat mencintai pria itu" jelas Kania.


"Aku juga sangat mencintai mu" kata Malvin.


Mereka mengungkap 'kan seberapa besar cinta mereka lewat ciuman. Malam itu mereka terlihat sangat bahagia. Tak lama mereka pun masuk ke alam mimpinya masing-masing. Mereka tidur saling berpelukan.


Hari ini Malvin sudah boleh pulang. Mayang dan Raihan sudah datang ke rumah sakit. Mereka tengah bersiap-siap mengurus kepulangan Malvin.


"Malvin, kamu akan tinggal di rumah tante untuk sementara waktu" kata Mayang.


"Gak usah tante, sekarang aku udah baik-baik aja. Aku akan pulang ke rumah. Tante gak usah khawatir" Malvin bukan tidak ingin tinggal di rumah Paula. Ia malahan senang akan hal itu, karena dirinya bisa terus bersama Paula selama dua puluh empat jam. Tapi di sisi lain ia juga takut, takut tidak bisa mengendalikan dirinya saat selalu berhadapan dengan Paula. Mau bagaimana pun ia tetap seorang pria.


"Gimana tante gak khawatir. Kamu itu baru keluar dari rumah sakit dan kalau kamu pulang ke rumah kamu, gak ada orang di sana. Siapa yang akan merawat kamu?"


"Ada bi Marni kok tan, ada asisten Leon juga"


"Tante gak mau tau, kamu akan tinggal di rumah tante selama satu minggu titik" putus Mayang.


"Udah Ikut aja ke rumah vin. Emang gak bosen apa tinggal di rumah segede itu sendirian?" tanya Raihan.


Malvin memang selama kurang lebih tiga tahun ini tinggal sendirian, karena orang tuanya tingga di New York untuk pengobatan sang kakek. Malvin juga memiliki seorang kakak perempuan yang sudah menikah, dan sekarang ia tinggal bersama suaminya di luar kota.


"Ma, gimana bisa kak Mark tinggal di rumah kita?" protes Paula.


"Kenapa? Bukankah seharusnya kamu senang ya. 'Kan nanti kamu bisa ketemu setiap waktu sama calon suami mu itu. Nanti juga setelah kalian menikah, kalian akan tinggal bersama di rumah dan bahkan di kamar yang sama. Anggap aja ini latihan"


"Latihan apanya?" kesal Paula


Paula sungguh tidak mengerti kenapa mamanya melakukan hal itu. Paula dan Malvin tinggal di rumah yang sama. Sungguh itu hal yang sangat menakutkan. Bagaimana jika nanti Malvin ilfil dengan Paula setelah melihat kelakuan Paula saat di rumah. Paula bukan wanita yang jago memasak bukan juga wanita yang pintar beresin rumah. Jika kalian masuk ke kamar Paula, kalian mungkin akan mengira jika itu gudang. Masak? Paula pernah memasak tetapi masakan itu berubah menjadi sampah. Sosok Paula jauh dari kata 'istri idaman'.


Di rumah Paula..


Paula mengantar Malvin istirahat di kamar tamu.


"Istirahatlah" kata Paula ia membenarkan selimut Malvin.


"Terimakasih"


Malam harinya Paula, Malvin, Raihan dan Mayang tengah menikmati makan malam mereka.


"Malvin, kamu itu harus makan makanan yang bergizi, biar kuat dan gak pingsan lagi" Mayang mengambilkan lauk untuk Malvin.


"Iya tan, terimakasih"


"Kamu besok mau makan apa? Biar tante masakin"


"Terserah tante aja. Malvin akan makan masakan apa aja yang tante buat"


"Baiklah. Besok tante akan masak makanan yang spesial untuk kamu"


"Oh.. Ya ampun, mama. Aku anak mu yang jarang pulang ini ada di sini juga lho ma" kata Raihan.


"Iya ma. Aku anak mu yang paling cantik kayak bidadari ini juga ada di sini lho ma" kata Paula.


"Berasa nyamuk kita di sini, iya 'kan Pau" kesal Raihan.


"Iya bener, di cuekin kita kak"


"Kalian ini kenapa sih? Kalian cemburu mama lebih perhatian sama Malvin" Mayang menggoda kedua anaknya itu.


"Siapa yang cemburu?" kata Paula dan Raihan kompak.


Melihat interaksi ibu dan anak itu malah membuat Malvin merindukan orang tuanya. Akhir-akhir ini ia sudah sangat jarang berkomunikasi dengan mereka.


"Kapan orang tua kamu akan kembali Malvin?" tanya Mayang yang seakan tau apa yang sedang Malvin pikirkan.


"Mereka akan kembali sebelum acara pertunangan tante" jawab Malvin.


"Terus gimana kabar kakek kamu?"


"Kakek baik tante dan kakek juga udah mutusin untuk kembali lagi tinggal di sini. Masalah pengobatan, kakek akan melanjutkan di sini aja katanya"


"Syukurlah kalau gitu"