
Ruangan Malvin..
"Gimana enak gak? Ini aku sendiri lho yang masak" tanya Paula saat Malvin sudah menghabiskan semua makanan yang di bawanya.
"Enak sayang, aku suka. Makasih ya" Malvin menggenggam tangan Paula kemudian mengecup punggung tangannya.
"Sayang ini kenapa?" tanya Malvin khawatir saat melihat tangan Paula yang terkena wajan saat memasak tadi.
Paula menunjukkan cengir kudanya. "Kena wajan"
"Mulai sekarang kamu gak boleh masak lagi!" tegas Malvin.
"Kok gitu? Kenapa? Bukannya tadi kak Mark bilang masakan aku enak dan kak Mark menyukainya"
"Iya sayang, masakan kamu enak dan aku sangat menyukainya. Tapi aku gak mau karena kamu masak, kamu jadi terluka kayak gini"
"Ya ampun kak Mark. Aku 'kan masih belajar, wajar aja kalau tangan ku terluka. Lagian ini hanya luka kecil"
"Aku gak akan biarin kamu terluka walau hanya sedikit saja. Dan kalau masalah masak, aku yang akan melakukannya"
"Tapi 'kan itu tugas seorang istri kak Mark, memasak untuk suaminya"
"Gak ada larangan seorang suami memasak untuk istrinya bukan?"
Paula menghela napasnya pasrah. "Iya terserah kak Mark aja lah" mengerucutkan bibirnya.
Cup
Malvin mengecup bibir Paula.
"Kak Mark"
"Apa?"
"Aku boleh minta sesuatu?"
"Boleh dong sayang. Kamu mau minta di cium lagi? Sini aku cium lagi" goda Malvin seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Paula.
"Kak Mark, bukan itu"
Malvin merengkuh Paula masuk ke dalam pelukannya. Paula bersandar di dada bidang Malvin.
"Kak Mark besok aku akan pergi bersama.."
"Baiklah, tapi aku juga ikut" potong Malvin.
"Gak boleh, kak Mark gak boleh ikut. Besok adalah girl time. Aku akan pergi bersama teman-teman ku. Aku ingin menghabiskan waktu bersama mereka sebelum kita menikah"
Malvin mengecup pucuk kepala Paula. "Iya, bersenang-senanglah. Tapi kamu harus hati-hati, jaga diri mu jangan sampai terluka"
"Kak Mark aku hanya pergi jalan-jalan bukan pergi berperang"
"Aku hanya takut kamu terluka sayang"
"Iya, aku akan hati-hati. Makasih kak Mark"
Cup
Kali ini Paula yang mengecup bibir Malvin. Malvin menyeringai.
"Kamu mulai berani ya sayang"
Malvin menangkup wajah Paula. Di usapnya bibir ranum Paula.
Paula berdehem. "Kak Mark, aku melupakan sesuatu"
Paula menahan dada bidang Malvin tapi Malvin terus saja mendekat ke arah ke arah Paula.
"Kak Mark, kita harus pergi sekarang. Bukankah kita harus fitting baju pengantin. Mama sama mami pasti sudah menunggu kita di butik"
"Biarkanlah mereka menunggu kita, mereka masih bisa menunggu tapi aku tidak bisa menunggu lagi sayang"
"Tapi, hmmmptt.."
Malvin ******* bibir Paula rakus. Paula sedikit terkejut tapi akhirnya ia membalas ******* Malvin.
Butik..
Mayang dan Sania sudah sangat kesal menunggu Malvin dan Paula yang tak kunjung datang. Mereka sudah berada di butik sejak dua jam yang lalu.
"Kalian dari mana aja sih?" tanya Sania.
"Maaf mi, tadi itu jalanan macet banget" bohong Malvin.
"Alesan aja kamu" Sania memeluk Paula. "Apa kabar cantik, Malvin gak bikin kamu repot 'kan?" tanyanya kemudian.
"Nggak mih" jawab Paula.
"Mami apaan sih" kesal Malvin.
"Kita langsung aja, nanti keburu malem" kata Mayang.
"Kalian ikutlah dengan mas dan mbaknya, mereka akan membantu kalian" suruh Sania.
"Mari nona Paula" ucap seorang wanita, mengarahkan Paula masuk ke ruang ganti wanita.
Malvin dan Paula masuk ke ruang ganti yang posisinya bersebelahan.
Malvin keluar terlebih dahulu, ia terlihat begitu menawan dengan tuxedo berwarna hitam pekat di padukan dengan kemeja wing collar di lengkapi dengan dasi kupu-kupu.
"Wahh.. Calon menantu ku ini memang sangat tampan" pujian yang di lontarkan Mayang pada Malvin.
"Makasih tan" kata Malvin.
"Kamu udah mau nikah sama Paula masa manggilnya masih tante sih, panggil mama aja"
"Iya mama" Malvin tersenyum.
"Silahkan tuan duduklah dulu, mempelai wanitanya membutuhkan waktu sedikit lebih lama" ucap seorang wanita pemilik butik.
"Berapa lama?" tanya Malvin.
"Tunggu saja Vin. Apa kau sudah rindu dengan menantu mamih hah?" goda Sania.
"Mami tau aja"
"Ck. Dasar"
Tak lama Paula keluar dari ruang ganti. Malvin sangat terpesona dengan kecantikan Paula yang terlihat bak seorang putri dengan gaun putih cantik nan simple dengan kerah sabrina dan pada bagian rok panjang agak menjuntai.
"Anakmu ini jeng, memang sangat cantik" ucap Sania memuji kecantikan Paula.
"Iya, sama kayak mamanya" ucap Mayang percaya diri.
"Iya jeng, percaya" kedua wanita itu tertawa.
Malvin mendekat ke arah Paula. "Cantik" bisiknya tepat di telinga Paula.
"Makasih. Kak Mark juga terlihat sangat tampan"
"Aku tau itu"
"Iya.. Iya.. Percaya"
"Mih, kita langsung menikah di sini aja sekarang. Aku udah gak tahan"
Plak..
Paula memukul lengan Malvin. "Kak Mark apaan sih"
"Malvin, kau ini. Sabarlah dua hari lagi kalian menikah. Awas kau jangan sampai menerkam menantu mami sebelum waktunya" peringat Sania.
"Gak papa lah mih, itung-itung nyicil buat cucu. Bukankah mami ingin segera nimang cucu dari aku?"
Paula yang mendengar pembicaraan antara ibu dan anak itu hanya bisa menunduk malu. Sudah dapat di pastikan saat ini wajah Paula memerah seperti kepiting rebus yang siap di makan.
Malam harinya..
Keluarga Malvin dan Kekuarga Paula mengadakan makan malam bersama yang sempat tertunda karena Paula masuk rumah sakit. Makan malam itu di adakan di kediaman Vuitton.
Saat ini mereka sudah selesai makan malam dan sedang berkumpul di ruang keluarga. Mereka semua berkumpul kakek, orang tua Malvin dan kakak perempuan Malvin juga ada bersama anak dan suaminya. Yang tidak ada hanya Raihan karena ia masih bekerja dan besok baru pulang.
"Jadi ini wanita yang berhasil membuat cucu ku yang kayak kulkas itu jatuh cinta" kata Vuitton.
Paula hanya tersenyum menanggapi perkataan orang yang paling di hormati di keluarga Vuitton itu.
Malvin menggenggam tangan Paula yang terlihat sedikit gugup. "Tenanglah sayang" bisiknya kemudian.
"Aunty Paula cantik ya Mih" kata Miko.
Miko usia tujuh tahun adalah anak dari Diana, kakak Malvin sedangkan suaminya bernama Reza. Diana dan keluarganya selama ini tinggal di luar kota.
"Iya sayang, aunty Paula sangat cantik" kata Diana.
Miko berjalan ke arah Paula. "Aunty nikahnya sama aku aja jangan sama uncle Malvin. Aku lebih tampan dari dia"
Semua orang tertawa mendengar perkataan Miko tapi tidak dengan Malvin, laki-laki tidak berekspresi sama sekali, wajahnya terlihat sangat datar. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Apa mungkin dia cemburu? Hei.. Ayolah masa iya Malvin cemburu dengan bocah berusia tujuh tahun.
Malvin menatap tajam Miko. Mereka saling bertatapan.
"Kak Mark ayolah, dia hanya anak kecil" kata Paula.
"Kamu jangan ikut campur sayang, ini masalah laki-laki"
"Iya aunty Paula jangan ikut campur ini masalah laki-laki" kata Miko.
"Kau menantang ku boy?" tanya Malvin.
"Iya" jawab Miko yakin.
"Baiklah. Tapi jangan menangis kalau kalah nanti"
"Aku laki-laki, aku tidak akan menangis"
"Mereka memang selalu begitu, selalu bersaing. Kita lihat saja siapa yang akan menang nanti" kata Diana menatap Paula.