Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 38 : Selfie



Malvin dan Leon masih mengawasi para gadis itu. Malvin melihat sebuah keluarga yang duduk tepat di sebelah meja Paula pergi meninggalkan restoran dan sebuah ide muncul secara tiba-tiba di pikiran Malvin.


"Asisten Leon"


"Iya tuan"


"Kau pergilah, duduk di sana" menunjuk meja yang kosong. "Setelah itu kau telepon saya, saya ingin mendengar apa yang sedang mereka bicarakan" sambungnya lagi.


"Baik tuan"


"Tapi tetap waspada, jangan sampai ketahuan mereka"


"Saya akan berhati-hati tuan"


Leon kemudian pergi dan duduk tepat di sebelah meja Paula. Tidak ada yang menyadarinya karena Leon duduk membelakangi mereka. Leon lalu menelepon Malvin dan menyimpan ponselnya di atas meja.


"Haah.." Melly mengenyahkan rasa sesak dalam hatinya. "Kita lanjut 'kan lagi permainannya. Sekarang giliran aku yang akan memutar botolnya"


Melly memutar botolnya dan kali ini botol itu berhenti tepat di depan Paula.


Melly tampak ragu memberikan tantangannya pada Paula. Melly tidak ingin berakhir sama seperti Marissa dan Angel. Melly masih ingin bekerja di Vuitton Grup.


"Kenapa diam saja? Katakanlah! Apa tantangannya?" tanya Paula.


Melly tidak menjawab dan Paula mengerti apa yang sedang di pikirkan wanita itu.


"Nggak apa-apa Mel, lagian kak Mark juga gak ada di sini. Dia gak akan tau"


"Kau yakin? Gimana kalau pak Malvin tau? Terus dia marah.. Habislah aku!!"


"Nggak.. Kak Mark gak akan tau. Kalau pun sampe kak Mark tau, aku yang akan mengurusnya"


"Kau janji?"


"Iya, aku janji"


"Baiklah.. Tantangannya mmm.. Apa ya?" Melly mengedarkan pandangannya melihat sekitar.


"Dia.." Melly menunjuk seorang laki-laki yang duduk sendiri tepat di sebelah meja mereka, yang mereka tidak tau jika laki-laki itu adalah asisten Leon.


"Kau harus selfie dengannya lalu posting di Instagram" sambungnya lagi.


"Selfie aja ya, jangan di posting di Instagram" tawar Paula.


"Ck, tadi kau sendiri yang bilang 'Kalau pun sampe kak Mark tau, aku yang akan mengurusnya'. Terus sekarang apa? Kau berubah pikiran? Kau takut?" kata Kania.


"Nggak, aku gak takut" kata Paula.


"Buktikanlah"


"Ok"


Paula berdiri dari duduknya kemudian menghampiri laki-laki itu.


"Permisi.."


"Nona Paula ini saya, asisten Leon. Bersikaplah seolah tidak mengenal saya" kata Leon memotong ucapan Paula.


"Haa.." Paula membekap mulutnya sendiri. "Asisten Leon, kenapa kau ada di sini?" tanyanya kemudian.


"Nona duduklah, saya akan menjelaskan semuanya"


Paula duduk di sebelah Leon.


"Nona lihatlah arah jam dua belas tepat di depan kita, di ujung sana" kata Leon.


Paula melihat ke arah yang di sebutkan Leon dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok yang sangat di kenalnya menatap tajam ke arahnya.


"Haaa.." Paula kembali membekap mulutnya sendiri. "Kak Mark!!" pekiknya tertahan.


Di ujung sana Malvin memberi kode dengan menunjuk ponselnya.


"Kak Mark kenapa nunjuk-nunjuk ponselnya sendiri?" tanya Paula yang tidak mengerti kode yang Malvin berikan.


Leon yang mengerti kode dari Malvin pun langsung mengambil ponselnya yang ia letakan di meja tadi kemudian memberikan ponsel itu pada Paula. Dan saat itu juga Paula sadar jika Malvin sudah mendengar semuanya.


"Ini nona" kata Leon seraya memberikan ponselnya.


Paula mengambil ponselnya dan kemudian meletakan ponsel itu di sebelah telinganya. Malvin dan Paula saling menatap.


"Sudah berani ya kamu sekarang. Mau aku hukum hmm?" kata Malvin.


"Apa?"


"Sayang aku denger lho semuanya"


"Denger apa?"


Malvin hendak berdiri tapi lebih dulu di cegah oleh Paula hingga laki-laki itu kembali duduk di kursinya.


"Jangan!!"


"Kak Mark maafkan aku, aku akan terima apapun hukumannya tapi tidak sekarang, nanti aja. Aku harus menyelesaikan tantangannya dulu"


Tut.. Tut..


Paula mengakhiri panggilan teleponnya sepihak. Kemudian Paula langsung mengambil foto selfie bersama Leon dan mempostingnya. Lalu Paula kembali ke mejanya.


"Lama banget, ngobrolin apa sih?" tanya Kania.


"Aku sudah menyelesaikan tantangannya. Tapi maaf, kayaknya aku harus pulang sekarang"


"Kenapa? Paula, apa yang terjadi?" tanya Kania yang mulai khawatir terlebih lagi saat ini wajah Paula terlihat pucat.


"Aaa.."


Teriakan Dini sontak membuat semuanya terkejut.


"Kalian lihatlah postingan Paula" kata Dini lemas.


Semua langsung melihat postingan Paula. Untung saja Instagram Paula bersifat pribadi jadi orang luar tidak bisa melihat postingannya. Hanya followersnya saja yang dapat melihatnya itupun tidak banyak.


"Asisten Leon!!" kata Dona.


Saat selfie tadi memang Leon sempat memalingkan wajahnya dan hanya wajah bagian sampingnya saja yang terlihat. Tapi itu tidak merubah apapun karena walaupun dari samping wajah tampan Leon masih terlihat jelas di sana.


"Paula.."


Semua menatap Paula meminta penjelasan.


"Iya, dia asisten Leon" kata Paula.


"P-pak Malvin?" tanya Kania.


"Kak Mark juga ada di sini" jawab Paula.


"Hah.." pekik semuanya kompak.


Semua menatap ke arah Malvin dan Leon yang entah sejak kapan berdiri di belakang Paula. Malvin merangkul pinggang Paula posesif.


"Aku pulang dulu ya" pamit Paula. "Kalian lanjutkan saja" sambungnya lagi.


Semua mengangguk 'kan kepalanya dan memberi hormat pada Malvin. Paula, Malvin dan Leon pun pergi meninggalkan para wanita itu.


Kini Paula dan Malvin sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat yang Paula tidak tau kemana Malvin akan membawanya, karena ini bukan jalan menuju rumahnya atau pun rumah Malvin.


"Kak Mark, kita mau kemana?" tanya Paula.


"Aku akan memberi mu hukuman" kata Malvin menyeringai.


"Hah? Kak Mark, kamu mau apa?"


"Tunggulah sayang"


Sementara itu Leon masih berada di mall. Tadi ia pergi dengan Malvin menggunakan satu mobil dan sekarang apa Malvin malah meninggalkannya.


"Haahh.." Leon menghela napasnya dalam.


"Sabar Leon" kata Leon mengelus dadanya sendiri.


"Asisten Leon.."


Suara itu sontak membuat Leon terkejut kemudian ia membalikkan badannya melihat ke arah sumber suara.


"Kau.." kata Leon.


Orang itu adalah Jennie. Jennie awalnya berfikir jika ia melihat orang yang mirip dengan Leon, jadi ia memanggilnya untuk memastikan dan benar saja jika orang itu memang asisten Leon.


Jennie menatap Leon dari ujung rambut sampai ujung kaki tanpa berkedip. Kerena ini untuk pertama kalinya Jennie melihat Leon yang berpakaian casual dan menurutnya Leon terlihat jauh lebih tampan dengan pakaian seperti itu. Biasanya 'kan Jennie hanya melihat Leon dengan Pakaiannya yang formal saat di kantor saja.


Leon yang di tatap seperti itu merasa sangat risih.


"Kenapa menatap saya seperti itu? Ada yang salah?" tanya Leon.


"Eoh.. T-tidak, tidak ada" jawab Jennie gugup.


"Asisten Leon, kau.."


"Saya permisi" potong Leon dan berlalu pergi karena taxi online yang di pesannya sudah datang.


"Tampan sih, tapi sikap cueknya itu sangat mengganggu" gumam Jennie.


"Apa kabar pacarnya? Pasti dia sangat frustasi menghadapi sikapnya itu"


"Eh.. Tapi, kalau sama pacar mah pasti sikapnya romantis. Apa bener gitu?"


"Akh.. Sudahlah. Kenapa aku memikirkan hal itu?"


Jennie kemudian masuk ke dalam mall untuk bertemu dengan seseorang.


Sementara itu Malvin dan Paula sudah sampai di apartemen. Malvin membawa Paula ke apartemen miliknya.


Malvin menatap Paula dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Kak Mark.."


"Sayang, kamu 'kan tau aku gak bisa lihat kamu berdekatan dengan laki-laki mana pun selain aku"


"Aku tau"


Malvin merengkuh pinggang Paula memeluknya posesif.


"Tadi laki-laki itu sentuh kamu di sini 'kan?" tanya Malvin seraya meletakan tangannya di pundak Paula yang tadi di sentuh oleh Eza.


"Kak Mark, aku bisa jelasin"


"Gak ada yang boleh sentuh kamu selain aku" tegas Malvin. Laki-laki itu menggerakan tangannya di bahu Paula seakan-akan sedang membersih 'kan kotoran yang ada di sana.


"Ponsel kamu?" tanya Malvin.


"Tas" Paula menunjuk tasnya yang ia letakan di atas sofa tadi.


Malvin meraih tas Paula kemudian mengambil ponsel Paula di sana. Malvin membuka Instagram Paula dan langsung menghapus foto yang Paula posting tadi. Foto selfie Paula dan Leon.


"Hanya aku, laki-laki yang boleh kamu posting fotonya di akun sosial media kamu"


Paula mengulum senyumnya melihat sikap Malvin yang cemburuan seperti itu. Menurut Paula itu sangat menggemaskan. Ia menyukainya sangat menyukainya.


Karena gemas Paula lantas mengecup bibir Malvin sekilas.


Malvin menatap Paula. "Sayang, kamu yang mulai. Aku tidak akan melepaskan mu begitu saja"


"Aaa.. Kak Mark!!"