
Paula membalas pelukan Malvin. Ia memeluknya sangat erat. Hatinya berhasil mengalahkan pikirannya. Ia sudah tidak perduli apa yang akan terjadi padanya nanti. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah kebahagiaan dirinya bersama Malvin. Ia akan menanggung resikonya nanti.
Paula melepas pelukannya kemudian ia menatap manik mata Malvin lekat.
"Apa ini? Apa aku bisa menyimpulkan ini adalah jawaban kamu? Atau aku hanya terlalu berharap?" tanya Malvin.
Paula mengeluarkan cincin yang di berikan Malvin dari saku hoodie yang di pakainya. Malvin menghela napasnya dalam. Ia mengira jika Paula akan mengembalikan cincin itu padanya.
Paula tersenyum sedangkan Malvin menatapnya bingung.
"Pak Malvin tidak ingin memakaikannya di jari ku?" tanya Paula.
"Apa?" Malvin merasa tidak percaya dengan pendengarannya. Ia mungkin saja salah dengar.
"Apa saya harus memakainya sendiri?"
"Tidak" Malvin menggelengkan kepalanya cepat kemudian ia mengambil cincin itu di tangan Paula.
"Aku akan memakaikannya" kata Malvin seraya menyematkan cincin itu di jari manis Paula.
Malvin menggenggam tangan Paula. Ia menatap cincin yang sudah terpasang di jari manis Paula kemudian mengecup tangannya.
"Aku mencintai mu Paula Michelle Zourist. Sangat mencintai mu"
Malvin menatap manik mata hazel Paula kemudian dengan perlahan ia mengikis jarak di antara mereka. Wajah Malvin dan Paula kini hanya tersisa jarak beberapa senti saja.
Paula bisa merasakan hembusan napas Malvin yang menyapu kulit wajahnya. Dan itu berhasil membuatnya merona. Jantungnya berdetak sangat cepat.
Saat wajah Malvin semakin mendekat ke arah wajahnya. Paula sontak menutup matanya. Ia mengira jika Malvin akan mencium bibirnya tapi nyatanya Malvin hanya mengecup keningnya. Paula merasa kecewa dan Malvin menyadari akan hal itu.
"Sebenarnya aku sangat ingin merasakan ini" kata Malvin sembari mengelus bibir tipis Paula. "Tapi sayangnya ini di pinggir jalan. Apa kamu tidak akan mengajak ku masuk?" goda Malvin.
Paula memalingkan wajahnya karena kesal. Ia mengerucutkan bibir tipisnya itu.
"Ck! Kenapa dia selalu saja menggoda ku? Dadar menyebalkan!" batin Paula mengumpat.
"Aku tidak bisa menahannya lagi" Malvin menarik Paula masuk ke dalam mobilnya. Mereka duduk di kursi belakang.
Malvin mencium sekilas bibir Paula. Mendapat serangan mendadak seperti itu Paula sangat terkejut. Matanya nyaris saja keluar.
Malvin menyisir rambut Paula dengan tangannya ke belakang. Ia kemudian mengelus pipi Paula lalu mengelus bibir merah Paula. Malvin kembali mencium bibir Paula kali ini dengan ******* lembut yang membuat Paula mabuk kepayang. Ciuman itu berlangsung lama. Paula hanya sesekali membalas ******* Malvin.
Malvin menyeka bibi Paula yang basah. Malvin menempelkan keningnya pada kening Paula. Napas keduanya yang memburu menyapu wajah mereka. Malvin terus saja tersenyum, Paula yang melihatnya ikut tersenyum.
"Aku suka lihat kamu tersenyum" kata Paula secara tak sadar. Kalimat itu begitu saja keluar dari mulutnya.
"Aku juga suka saat kamu berbicara santai seperti ini"
"Eoh.. Ma-maaf pak" Paula menyadari kebodohannya.
"Sekali lagi kamu panggil aku dengan sebutan 'pak' aku akan mencium bibir mu itu sampai bengkak"
"Jangan" Paula menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Baiklah. Tapi mulai sekarang, kamu harus panggil aku, sayang"
"Apa? A-aku, aku gak bisa"
"Kenapa gak bisa? Sekarang ini 'kan aku pacar kamu"
"Iya tapi"
"Ya udah, kalau kamu gak mau" Malvin merasa Kecewa.
"Enggak gitu" Paula menjeda ucapannya, ia menarik napasnya dalam. "Iya sayang" cicitnya kemudian.
Mendengar itu Malvin langsung mencium bibir Paula lagi. Awalnya Paula terkejut tapi akhirnya ia membalas ciuman itu.
"Dasar pembohong" gerutu Paula. Setelah ciuman itu selesai.
"Aku?" Malvin menunjuk dirinya sendiri.
"Tadi katanya kalau aku panggil kamu sayang, kamu gak akan nyium aku lagi. Terus tadi itu apa?"
"Iihhh.. Apaan sih kamu?" Paula nyubit perut Malvin. Tapi Malvin sama sekali tidak merasa kesakitan.
"Oh.. Gitu ya. Sekarang kamu berani nyubit aku" Malvin menatap Paula dengan seringainya.
"Kamu mau apa?"
"Rasakan, ini hukuman mu" Malvin mengelitiki perut Paula hingga wanita itu menggelinjang kegelian.
"Aaaaa.. Geli.. Geli.. Geliiii" pekik Paula.
"Terimakasih" kata Malvin saat ia menghentikan aksi jailnya. Ia memeluk Paula.
"Kamu sudah mau menerima ku. Aku sangat bahagia" sambungnya lagi. Malvin melepaskan pelukannya. "Aku mencintai mu"
Paula hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum membalas pernyataan cinta Malvin. Malvin juga ikut tersenyum, ia tau jika Paula belum sepenuhnya membuka hati untuk dirinya.
"Aku akan membuat mu mengatakan tiga kata ajaib itu"
"Aku juga akan berusaha. Kamu tau ini terlalu cepat untuk ku. Tapi yang harus kamu tau, aku menerima mu tulus dari dalam hati ku"
"Aku tau" Malvin menidurkan kepalanya di atas paha Paula. Malvin secara perlahan menutup matanya. Ia masuk ke alam mimpinya.
"Bagaimana dia bisa tertidur dalam waktu sekejap?" gumamnya tersenyum.
Paula memperhatikan wajah tampan Malvin intens sambil terus mengelus kepala Malvin lembut. Paula menyentuh setiap inci wajah Malvin dari mata, alis, hidung, dan bibir. Paula mengagumi wajah sempurna Malvin yang bak titisan dewa yunani itu. Hingga tanpa ia sadari ia pun ikut masuk ke alam mimpi bersama Malvin. Mereka tidur di dalam mobil Malvin.
Pagi harinya..
Tok.. Tok.. Tok..
Suara cukup keras terdengar dari seseorang yang mengetuk kaca mobil Malvin dari luar. Suara itu berhasil membuat Malvin terbangun dari tidurnya.
Malvin mengucek matanya kemudian bangun dan duduk di sebelah Paula yang masih tertidur. Malvin melihat ke arah luar dan ia melihat di sana ada seorang wanita yang berdiri mematung dengan mulut menganga.
Wanita itu adalah Kania. Kania datang kerumah Paula untuk nebeng ke kantor, karena mobilnya lagi ngambek. Tapi saat akan membuka gerbang, kania melihat mobil asing terparkir di depan gerbang rumah Paula.
Entah kenapa Kania merasa sangat tertarik dengan mobil itu. Kemudian ia mendekat dan mengintip ke dalam mobil yang kacanya hitam itu. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Paula ada di dalam mobil itu sedang tidur terlebih lagi ada seorang pria yang juga tertidur di atas pangkuannya.
Awalnya Kania tidak mengetahui jika pria itu adalah sang big bos karena wajahnya tidak terlihat. Tetapi saat pria itu terbangun dan duduk di sebelah Paula barulah Kania tau jika pria itu adalah Malvin.
"OH MY GOD"
"PAULA.. PAK MALVIN?"
"APAKAH AKU BARU SAJA MENANGKAP BASAH MEREKA"
Akhirnya Paula juga perlahan membuka matanya ia terbangun karena sentuhan Malvin yang menepuk-nepuk pelan pipinya mencoba untuk membangunkannya.
"Morning sayang" Malvin memberikan morning kiss pada Malvin.
Paula membulatkan matanya, ia merasa sangat terkejut. Paula terkejut bukan karena ciuman Malvin tetapi karena ia tertidur di mobil Malvin. Bagaimana bisa? Dan apalagi sekarang hari sudah pagi. Jadi semalaman ia tidur bersama dengan Malvin.
"Kamu kenapa?" tanya Malvin.
"Ini sudah pagi?" tanya balik Paula. Ia belum menyadari keberadaan Kania yang berdiri di luar mobil.
Malvin menganggukkan kepalanya.
"Jadi semalaman kita tidur di sini? Berdua?"
Malvin kembali menganggukkan kepalanya. Paula seketika membeku.
Malvin mengecup kening Paula. "Aku pulang dulu. Kita ketemu lagi di kantor nanti. Aku mencintai mu" Malvin mengelus pucuk kepala Paula.
"Ah ya. Kau harus menjelaskan ini semua pada sahabat mu" sambungnya lagi.
Paula mengerutkan kedua alisnya. "Kania?"
"Iya. Dia ada luar"
"Apa?"