
Paula berjalan dengan sangat cepat di lorong koridor rumah sakit menuju ruang perawatan Malvin. Di ikuti asisten Leon yang setia mengekorinya dari belakang seraya menunjukkan jalan menuju ruang inap Malvin.
Paula membuka pintu ruangan di mana Malvin di rawat. Paula meneteskan air matanya saat melihat Malvin terbaring lemah dengan selang infus tertempel di tangannya.
Sesaat setelah Malvin mengakhiri panggilan telephonenya dengan Paula, ia mendadak pingsan dan asisten Leon langsung membawanya ke rumah sakit.
Malvin pingsan karena kelelahan. Beberapa hari ini memang ia sering merasakan sakit kepala. Semalam saat ia datang ke rumah Paula pun sebenarnya ia sudah merasa tidak enak badan. Tapi ia menghiraukan rasa sakitnya itu.
Paula berjalan mendekat ke ranjang Malvin. Sedangkan asisten Leo ia menutup kembali pintunya dan menunggu di luar.
Paula duduk di sisi ranjang Malvin, ia kemudian menggenggam tangannya.
"Maafkan aku" isak Paula.
"Aku mohon bangunlah, buka mata mu"
"Lihatlah" Paula menunjukkan jari tangannya tepat di depan mata Malvin yang tertutup. "Aku gak lepas cincinnya dan aku berjanji aku akan selalu memakai cincin ini. Aku gak akan pernah mengecewakan kamu lagi, aku mohon bangunlah. Jangan bikin aku takut"
"Saat kamu bangun nanti aku janji aku akan menuruti semua keinginan kamu. Jadi aku mohon sayang, bangunlah"
"Apa kamu gak mau dengar kata yang akan aku ucapkan, tiga kata ajaib itu. Bukalah mata mu aku akan mengatakannya" Paula menutup matanya dan saat matanya tertutup butiran bening itu keluar dari sana.
Paula mengutarakan semua isi hatinya pada Malvin. Ia sadar jika dirinya memang benar-benar sudah mencintai Malvin, tidak ada lagi keraguan. Entah kapan itu terjadi? Yang pasti saat ini ia sudah menyadari cintanya itu dan tidak akan menyangkalnya lagi.
"Katakanlah aku ingin dengar tiga kata ajaib itu" suara bariton yang sangat di kenal Paula itu terdengar dan sontak membuat mata Paula terbuka.
Paula menyeka air matanya. "Kamu udah sadar. Apa yang kamu rasakan?Aku akan memanggil Dokter" Paula hendak berdiri tapi Malvin menahannya.
"Gak usah, aku baik-baik aja. Aku gak butuh Dokter, aku butuhnya kamu"
"Ck!" Paula berdecak kesal bagaimana bisa di saat seperti ini Malvin masih bisa menggodanya.
"Ayo, katakanlah sayang" titah Malvin.
"Katakan apa?" Paula berusaha mengelak.
"Itu, tiga kata ajaib"
"Kata ajaib apa?"
"Dasar pembohong" kesal Malvin.
Paula mengulum senyumnya. Kini ia juga sangat senang menggoda Malvin. Paula berdiri kemudian membungkuk 'kan badannya, wajahnya tepat di depan wajah Malvin.
"Aku mencintai mu. Malvin Mark Vuitton" kata Paula. Sedetik kemudian ia mencium sekilas bibir pucat Malvin.
Saat Paula akan kembali menegak 'kan badannya, Malvin dengan cepat menahan tengkuk Paula kemudian dengan perlahan ia mendekatkan wajah Paula ke arah wajahnya. Sesaat setelah bibir mereka menempel terdengar suara ketukan dari luar.
Tok.. Tok..
"Tuan ini saya" kata Leon di balik pintu.
"Akh.. Sial, mengganggu saja. Kau harus membayar semua ini asisten Leon" gerutu Malvin kesal sedangkan Paula hanya tersenyum menyikapi situasi itu.
"Iya, masuk"
Asisten Leon masuk ke dalam ruang inap Malvin. Tangannya terlihat menjinjing sebuah paper bag kecil berwarna hitam.
"Jika ini bukan hal yang penting. Kau akan ada dalam masalah besar asisten Leon" sarkas Malvin. Ia sangat kesal kenapa asistennya itu datang di saat yang tidak tepat bahkan sangat tidak tepat. Kerenanya ia jadi gagal bercumbu dengan Paula.
"Maaf tuan" Leon sedikit membungkuk 'kan badannya. "Saya hanya ingin mengantarkan pesanan tuan tadi pagi" Leon menyimpan paper bag itu di atas meja samping ranjangnya.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi" Leon kembali membungkuk 'kan badannya dan berlalu pergi.
"Ambilah paper beg itu" kata Malvin pada Paula. Paula lantas mengambilnya.
"Bukalah"
Paula membuka paper bag itu dan di sana ada sebuah kotak perhiasan kecil berwarna biru tua. Kemudian Paula membuka kotak perhiasan itu. Seketika ia membulatkan matanya saat melihat isinya. Ya isinya sebuah cincin berlian. Cincin itu memang terlihat sangat sederhana, tapi percayalah cincin itu seharga rumah mewah.
"Ini" kata Paula.
"Untuk mu" potong Malvin.
"Iya tapi, untuk apa? Bukankah kamu sudah memberi ku cincin?"
"Iya aku sudah memberi mu cincin. Tapi tadi pagi kamu sendiri yang bilang 'kan, kalau kamu gak nyaman pake cincin itu ke kantor dan kamu juga gak mau 'kan kalau hubungan kita di ketahui oleh orang-orang. Jadi aku berfikir aku akan mengganti cincin itu" jelas Malvin.
Malvin mengambil cincin yang baru itu kemudian ia melepas cincin yang di pakai Paula. Malvin kini menyematkan cincin yang baru itu ke jari manis Paula dan menyimpan cincin yang lama ke dalam kotak perhiasan.
"Simpanlah cincin ini, kamu akan memakainya nanti saat kamu berperan sebagai Michelle" Malvin mencoba untuk membuat Paula tertawa. Tapi sayangnya Paula tidak tertawa, sebaliknya ia malah menangis terharu.
"Terimakasih" lirih Paula seraya memeluk Malvin.
"Bukannya tadi kamu marah?" tanya Paula setelah ia melepaskan pelukannya.
"Maaf, tadi aku hanya bercanda saja"
"Ck! Dasar. Aku kira tadi kamu beneran marah. Aku takut kamu membenci aku" Paula mengerucutkan bibirnya.
"Sini" Malvin menggeser sedikit badannya kemudian menepuk ranjangnya. Paula mengerutkan kedua alisnya.
"Sini tidurlah di sebelah ku"
Paula menuruti ucapan Malvin. Ia membaringkan badannya di ranjang pasien bersama Malvin. Mereka berbaring saling berhadapan satu sama lain.
Malvin menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Paula. Malvin mengecup satu persatu bagian wajahnya dari kening, kedua mata dan juga alisnya, hidung, kedua pipi, dan yang terakhir bibirnya. Paula menutup kedua matanya merasakan sentuhan lembut Malvin.
"Aku mencintai mu" Malvin menempelkan keningnya ke kening Paula.
"Aku juga mencintai mu"
Mereka akhirnya berciuman setelah sempat tertunda tadi karena asisten Leon. Ciuman itu semakin lama semakin menuntut. Mereka menghentikan sejenak ciumannya karena sudah sama-sama kesulitan bernapas. Mereka menghirup udara banyak-banyak dengan napas yang memburu. Setelah di rasa cukup, mereka kembali menyenangkan satu sama lain. Mereka hanya berciuman.
Di kantor..
Saat jam makan siang. Kania makan bersama Stella di restoran dekat kantor. Sudah bisa di pastikan Stella mendekati Kania untuk mengorek informasi tentang Paula yang tidak masuk kantor bersamaan dengan pak Malvin yang juga tidak masuk. Melihat itu, Stella semakin yakin jika Paula itu adalah Michelle. Stella sengaja mengajak Kania makan siang dengannya. Siapa tau ini hari keberuntungannya dan dia mendapatkan bukti tentang kecurigaannya.
Mereka sedang menunggu pesanan mereka datang.
"Kenapa kau malah makan siang bersama ku? Di mana teman-teman mu itu" tanya Kania yang merasa aneh dengan kelakuan tidak biasa Stella. Biasanya dia selalu bersama dengan gengnya.
"Kau jangan tanyakan mereka. Aku gak tau mereka di mana dan aku gak peduli juga. Sudahlah jangan bicarakan mereka, di sini aku ingin makan dengan tenang" jawab Stella.
Mendengar jawaban Stella, Kania sudah bisa menebak jika Stella sedang ada masalah dengan gengnya.
Tak lama pesanan mereka datang. Mereka makan dengan tenang hanya terdengar suara dentingan alat makan yang saling beradu.
Stella sengaja tidak terburu-buru menanyakan tentang Paula. Ia menunggu waktu yang tepat karena jika tidak Kania akan mencurigainya dan itu tidak menguntungkan untuknya. Karena pasti nanti Kania akan lebih berhati-hati dan akan sangat sulit untuk mendekatinya.
Kania memang belum mengetahui tentang Stella yang mencurigai Paula itu adalah Michelle. Karena Paula juga kemarin tidak mengatakan apa-apa padanya. Jadi tadi saat Stella mengajaknya makan ia mengiyakannya saja tanpa sedikit pun curiga.