
Keesokan harinya..
Malvin, Paula dan Mayang tengah sarapan. Raihan sudah kembali bekerja dan saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju Swiss. Enaknya bekerja sebagai Pilot, bisa bekerja sekaligus liburan.
"Kak Mark! Kenapa aku harus jadi sekretaris?" keluh Paula.
"Kenapa? Kamu ga mau?" tanya Malvin.
"Bukan itu"
"Terus apa?"
"Apa aku bisa jadi sekretaris? Aku sama sekali tidak punya pengalaman jadi seorang sekretaris. Apa aku bisa membantu kak Mark? Aku takut, aku hanya akan menghambat pekerjaan kak Mark nantinya" jelas Paula.
Malvin tersenyum. "Kamu bisa sayang, lagian tugas kamu hanya mengurus dan memanjakan aku aja" goda Malvin.
"Kak Mark!"
"Sudah hentikan, kalian ini" kata Mayang menengahi pasangan itu. Mayang sudah menyelesaikan sarapannya dan ia hendak pergi.
"Mama mau ke mana?" tanya Paula.
"Mama mau ke rumah sakit" jawab Mayang.
"Ha? Mama kenapa? Mama sakit apa?" tanya Paula panik.
"Bukan mama sayang, teman mama yang sakit"
Paula menghela napasnya lega. "Ya udah, mama hati-hati"
"Iya sayang. Mama pamit" kata Mayang dan berlalu pergi.
Paula melihat jam tangannya. "Kak Mark, kita juga harus berangkat sekarang, ini sudah terlambat"
"Tunggu sebentar"
"Kenapa?"
Malvin berjalan mendekat ke arah Paula. Laki-laki itu memberikan dasinya yang belum terpasang pada Paula.
"Tugas pertama kamu sebagai sekretaris aku" kata Malvin.
Paula terdiam. Wanita itu sama sekali tidak bergerak. Ia hanya menatap dasi yang ada di tangan Malvin.
"Kenapa? Kamu gak mau?" tanya Malvin.
"Aku gak bisa, aku gak tau caranya memakaikan dasi" cicit Paula.
"Hufftt.. Haa.. Haa.." Malvin terbahak.
"Kak Mark!" Paula mencebikkan bibirnya kesal.
"Maaf sayang" Malvin menghela napasnya dalam untuk menetralkan dirinya. "Baiklah sekarang aku akan mengajarkan mu cara memakai dasi" sambungnya lagi.
"Gimana caranya?" tanya Paula.
"Nih ambilah" Malvin memberikan dasinya pada Paula dan Paula mengambilnya.
"Sampirkan dasi itu di kerah kemeja ku"
Paula mengikuti arahan Malvin. "Terus?" tanya Paula lagi.
Saat ini posisi tangan Paula melingkar di leher Malvin. Malvin menyeringai kemudian ia merengkuh pinggang Paula, merapatkannya dengan badannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Paula mendapatkan sinyal berbahaya. Wanita itu menahan dada bidang Malvin supaya tidak bersentuhan dengan aset kembarnya.
Malvin membelai wajah Paula. "Aku akan menghukum mu karena kamu gagal melakukan tugas pertama mu" bisik Malvin tepat di telinga sebelah kiri Paula.
Paula meremang, tubuhnya bergetar saat merasakan hembusan napas Malvin yang menyapu lehernya.
Malvin mencium harum vanilla dari tubuh Paula dan itu sudah menjadi candu untuknya. Harum vanilla itu berhasil memabukkan dirinya. Laki-laki itu tidak bisa menahannya lagi.
Malvin mencium, menggigit dan menghisap leher jenjang Paula hingga meninggalkan tanda kepemilikkan di sana. Malvin bermain dengan leher Paula cukup lama.
Paula hanya bisa menikmati sentuhan yang di berikan Malvin padanya. Sebenarnya Paula ingin menghentikan Malvin karena mereka harus bekerja tapi apalah daya pikiran dan badannya melakukan hal yang bertentangan.
Jari-jari tangan Malvin mengabsen setiap inchi wajah Paula, membelainya sensual. Malvin menyentuh bibir ranum Paula dan hendak menciumnya.
"Kak Mark, kita sudah terlambat" cegah Paula yang masih tersisa sedikit kewarasannya.
Malvin menghiraukan perkataan Paula. Laki-laki itu langsung memagut dan ******* bibir Paula rakus. Malvin mengabsen setiap bagian di dalam rongga mulut Paula. Ciuman itu berlangsung lama.
Di kantor..
Semua mata pegawai tertuju pada Malvin yang berjalan dengan gagahnya memasuki lift. Bukan, lebih tepatnya mereka menatap Paula yang berjalan di samping Malvin. Mereka berjalan hanya berdua tidak ada asisten Leon di sana.
Semua pegawai sudah mengetahui tentang Paula yang sudah di angkat menjadi sekretaris sang big bos. Mereka merasa penasaran, bagaimana bisa Paula secara tiba-tiba di angkat menjadi seorang sekretaris? Dan ada juga yang merasa iri bahkan tidak terima, mereka tidak menyukai Paula.
"Apa yang dia berikan sampai pak Malvin menjadikannya sebagai sekretaris?" kata Jennie.
"Dasar ******! Apa dia sudah memberikan keperawanannya pada pak Malvin?" kata Marissa.
"Munafik, dari luar terlihat baik tapi dalamnya licik" kata Angel.
Ketiga wanita itu adalah wanita yang menganggap dirinya paling cantik di kantor. Mereka penggemar berat Malvin.
"Habislah mereka jika pak Malvin mendengar apa yang mereka katakan tentang calon istrinya" bisik Stella pada Kania.
Setelah Stella mengetahui hubungan antara Malvin dan Paula. Stella menjadi lebih dekat dengan Kania dan ia malah sudah tidak bergabung lagi dengan gengnya.
"Sssttt.. Stella, kau jangan bicara sembarang. Bagaimana jika nanti ada yang mendengarnya? Bukan mereka yang akan terkena masalah tapi kita" kata Kania menutup mulut Stella.
Stella menunjukkan cengir kudanya. "Maaf"
Di ruangan Malvin..
Sudah dua jam Malvin sibuk menatap layar laptopnya sedangkan Paula hanya diam. Wanita itu terlihat sangat bosan karena sedari tadi Malvin hanya menyuruhnya diam dan tidak mengijinkannya melakukan hal apa pun.
"Pak Malvin, apa bapak perlu sesuatu?" tanya Paula menahan kesalnya.
"Nggak sayang" jawab Malvin tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
"Ck! Tau gini, lebih baik aku tidur aja di rumah" gerutu Paula.
Malvin tersenyum melihat tingkah Paula kemudian ia menutup laptopnya dan berjalan menghampiri Paula yang duduk di sofa.
"Aaa.." pekik Paula saat Malvin tiba-tiba saja menggendongnya ala bridal style.
"Kak Mark!"
"Apa?"
"Turunkan aku. Kenapa malah menggendong ku?"
"Bukannya tadi kamu yang bilang, kamu mau tidur. Ya udah ayo kita tidur"
"Kak Mark! Apaan sih, cepat turunkan aku" kesal Paula.
Malvin menurunkan Paula dari gendongannya.
Tok..
Tok..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar dan tak lama terlihat asisten Leon masuk ke ruangan Malvin.
"Sayang, aku boleh minta tolong photocopy-in berkas?"
"Tentu saja"
"Itu berkasnya ada di atas meja"
"Baiklah" kata Paula senyum. Ia senang akhirnya Malvin memberinya pekerjaan.
Malvin sengaja melakukan itu, karena ia tidak ingin Paula mendengar pembicaraannya dengan Leon.
"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Malvin ketika Paula sudah keluar dari ruangannya.
"Kita sudah menemukan tempat tinggal barunya tuan, tapi dia tidak terlihat di sana. Sepertinya dia sudah pindah. Dia tau jika kita akan mencarinya" jelas Leon.
"Kerahkan semua orang-orang kita. Temukan dia secepatnya dan ya perketat keamanan di rumah maupun di kantor. Terutama keamanan Paula. Jangan sampai kita lengah"
"Baik tuan"
Sementara itu Paula sedang mem-photocopy berkas yang di minta Malvin, setelah selesai Paula hendak kembali ke ruangan Malvin.
Bruk..
Paula tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang hingga berkas yang di tangannya terlempar dan berserakan di lantai. Paula juga sampai terjatuh.
"Ups.. Maaf, apa sakit?" tanya Jennie.
Jennie yang hendak mem-photocopy juga secara sengaja menabrakan dirinya dengan dengan Paula karena ia tidak menyukainya.
"Iya, tidak apa-apa" kata Paula.
"Ayo aku bantu" Jennie mengulurkan tangannya.
"Terimakasih" Paula menerima uluran tangan Jennie.
"Aww.." teriak Paula saat Jennie melepas tangannya dan itu membuat Paula terjatuh lagi.
Tangan Paula terasa sangat sakit karena menahan tubuhnya. Sepertinya tangannya terkilir.
Jennie tersenyum sinis. "Maaf Paula, tangan ku licin"
"Aww.." Paula memegang tangannya yang sakit.
"Ya ampun Paula, kau kenapa?" teriak Kania dan ia langsung menghampiri Paula. Kania yang hendak kembali ke ruangannya setelah dari toilet panik melihat Paula yang terjatuh.
"Kania tangan ku sakit sekali" rintih Paula.
"Paula tangan mu terkilir" kata Kania setelah melihat pergelangan tangan Paula.
"Sakit sekali rasanya"
Mendengar Paula yang kesakitan, Jennie merasa sangat bersalah. Wanita itu tidak berniat mencelakai Paula apa lagi sampai membuat tangannya terkilir. Niat Jennie hanya untuk memberi pelajaran saja pada Paula karena ia sudah berani mendekati Malvin.
Konyol memang yang di lakukan Jennie. Siapa dia? Sehingga ia berbuat seperti itu. Ia tidak tau saja siapa Paula sebenarnya, jika ia tahu tidak akan mungkin ia berani melakukan hal itu, karena pekerjaan dan masa depannya yang akan menjadi taruhan.