
"Terimakasih kak Mark. Tapi aku tidak akan merubah keputusan ku. Aku akan tetap menjadikan Jennie sebagai asisten pribadi ku" kekeh Paula.
"Aku juga tetap tidak akan mengijinkan dia menjadi asisten pribadi mu"
"Kak Mark ayolah.. Aku butuh Jennie"
"Butuh Jennie? Maksudnya?" tanya Malvin bingung.
"Iya aku butuh Jennie. Tangan aku 'kan lagi sakit, aku gak bisa beraktivitas seperti biasa dengan hanya menggunakan satu tangan saja terlebih lagi aku hanya bisa menggunakan tangan kiri ku, itu sangat sulit. Tadi saja aku kesusahan saat mengganti pakaian ku. Jadi aku butuh seseorang yang akan membantu ku" jelas Paula.
"Itu tidak di perlukan sayang. Jika kamu butuh bantuan, aku yang akan membantu mu. Aku juga bisa membantu mengganti pakaian mu"
"Kak Mark!"
"Ck! Dasar mesum! Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu di hadapan asisten Leon dan juga Jennie" rutuk Paula dalam hati.
Sungguh rasanya Paula ingin menggali tanah dan bersembunyi saja di sana saking malunya. Sedangkan asisten Leon seperti biasanya, ia tidak bereaksi sama sekali. Seakan pendengarannya tidak berfungsi dengan baik. Padahal dengan sangat jelas Malvin mengatakan hal yang sangat vulgar. Berbeda dengan Jennie, wanita itu bahkan sampai lupa untuk bernapas saking terkejutnya.
"Kalian keluarlah" titah Malvin melihat ke arah Leon dan Jennie.
Leon dan Jennie hendak pergi tapi Paula menghentikannya. Paula menyadari ada sinyal berbahaya.
"Tidak, Jennie kau tetap di sini. Kak Mark dan asisten Leon yang pergi. Ada hal yang harus aku bicarakan dengan Jennie"
Malvin mengerutkan kedua alisnya. "Kamu ngusir aku? Dari ruangan aku sendiri?
"Kalau kak Mark gak mau. Ya udah, aku yang akan keluar"
"Bicaralah, aku akan menunggu mu di luar" Malvin mengelus pucuk kepala Paula dan keluar dari ruangan di ikuti Leon yang berjalan di belakangnya.
Di luar, Malvin tetap mengawasi Paula dari CCTV yang tersambung langsung dengan ponselnya. Malvin dan Leon duduk di sofa yang letaknya berada tepat di depan ruangan Malvin.
Ting..
Nada pesan terdengar dari ponsel Leon, ia kemudian membaca pesannya.
"Tuan, kita sudah menemukan keberadaan Dimas" lapor Leon.
"Kau pergilah. Bawa dia ke mansion, kurung di ruang bawah tanah. Aku akan menyusul"
"Baik tuan" Leon membungkuk hormat dan berlalu pergi.
Sementara itu di dalam ruangan Malvin, Paula dan Jennie sama-sama diam. Mereka masih tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Jennie duduklah" kata Paula akhirnya.
"Ha.." Jennie melihat ke arah Paula sekilas kemudian ia kembali menunduk. "Tidak usah bu, saya berdiri saja" tolak Jennie.
Setelah mengetahui hubungan antara Paula dan Malvin, Jennie merasa sangat canggung di dekat Paula. Wanita itu takut melakukan kesalahan lagi.
"Duduklah, tidak akan nyaman jika kita berbicara dalam posisi seperti ini"
Walau ragu akhirnya Jennie menuruti permintaan Paula. Ia duduk di sebelah Paula.
"Apa kau membenci ku?" tanya Paula.
"Tidak" jawab Jennie sembari menggeleng 'kan kepalanya cepat.
"Terus kenapa sikap mu seperti ini? Kau merasa tidak nyaman berbicara dengan ku"
"Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja saya.." Jennie tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa bersikap seperti itu. Sungguh Jennie masih belum mempercayai semua ini.
"Aku tau, kau pasti sangat terkejut mengetahui hubungan ku dengan Malvin. Tapi aku harap kau bersikap seperti biasanya pada ku. Kau tidak usah merasa canggung"
"Bagaimana mungkin saya bersikap seperti biasanya? Terlebih lagi sekarang bu Paula adalah atasan saya, saya bekerja sebagai asisten bu Paula"
Mendengar Jennie memanggilnya dengan panggilan 'Bu Paula' Paula merasa sangat aneh. Ia belum terbiasa mendengarnya. Mungkin Paula memang harus membiasakannya karena setelah semua orang mengetahui hubungannya dengan Malvin nanti, pasti mereka semua juga akan memanggilnya dengan panggilan 'Bu Paula'.
"Baiklah jika itu mau mu, saya juga akan bersikap sebagai atasan kamu. Dan tugas pertama yang akan saya berikan pada mu adalah bersikaplah seperti biasanya. Kau mengerti?" tanya Paula sedikit meninggikan suaranya.
"I-iya saya mengerti" jawab Jennie terbata.
"Bagus, sekarang pergilah"
Jennie menunduk 'kan kepalanya dan berlalu pergi.
Jennie duduk di sofa tepat di hadapan Malvin.
"Untuk kali ini, saya memaafkan mu. Tapi jika kau mengulanginya lagi, saya pastikan kau akan hancur" kata Malvin.
Jennie menelan ludahnya susah payah mendengar perkataan yang menyerupai ancaman itu.
"Dan ya.. Kau harus turuti semua perintah Paula, apa pun itu. Jika dia meminta mu untuk bersikap seperti biasa padanya, lakukanlah tapi tetap jaga batasan mu"
"Ha?" kaget Jennie. Wanita itu bingung bagaimana bisa Malvin mengetahui pembicaraan antara dirinya dengan Paula tadi.
"Kau mengerti?"
"I-iya pak, s-saya mengerti"
"Baguslah. Dan satu lagi, jangan sampai ada orang yang tau tentang apa yang terjadi di ruangan saya tadi. Jika ini sampai bocor, kau tau apa yang akan terjadi dengan diri mu bukan?"
Sebenarnya Malvin ingin semua orang segera mengetahui tentang hubungannya dengan Paula, tapi tidak dengan cara seperti ini. Malvin ingin memperkenalkan Paula sebagai calon istrinya nanti secara resmi saat pertunangan mereka yang akan di adakan beberapa hari lagi.
"Tidak, saya tidak akan memberitahu siapa pun. Saya berjanji"
"Pergilah"
Jennie menunduk 'kan kepalanya dan berlalu pergi.
Malvin masuk ke dalam ruangannya. Laki-laki itu duduk di sofa tepat di samping Paula yang terlihat sedang melamun.
"Sayang.." Malvin meletakan tangannya di atas pundak Paula. Paula melihat ke arah Malvin.
"Ada apa?" tanya Malvin.
"Kak Mark, apa sikap ku terlalu berlebihan pada Jennie? Aku bahkan sampai meninggikan suara ku tadi"
"Maksudnya?"
Paula menghela napasnya dalam. "Aku tau, kak Mark pasti mendengar pembicaraan ku dengan Jennie tadi, iya 'kan?"
Malvin tersenyum. "Nggak sayang, gak apa-apa. Kau harus mulai terbiasa dengan semua ini"
Paula mengangguk 'kan kepalanya kemudian ia memeluk Malvin.
"Sayang.."
"Hmm.."
"Aku akan pergi"
"Kemana?"
"Meeting, aku ada meeting di luar. Kamu tunggu di sini, aku akan segera kembali" bohong Malvin.
Sebenarnya Malvin ingin menyusul Leon dan ia sangat berharap jika kali ini asistennya itu bisa menangkap Dimas.
Paula mengerutkan kedua alisnya. "Aku gak ikut? Aku 'kan sekarang sekretarisnya kak Mark"
"Aku 'kan udah bilang, tugas kamu sebagai sekretaris aku hanya mengurus dan memanjakan aku aja" Malvin mengelus pipi Paula.
Malvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Paula. Malvin menatap bibir merah Paula sembari mengelusnya. Saat bibir Malvin dan bibir Paula akan menempel, Paula memalingkan wajahnya.
"Pergilah, nanti kak Mark terlambat meetingnya" ketus Paula. Wanita itu terlihat kesal.
Melvin menangkup wajah Paula. Manik matanya menatap manik hazel Paula.
"Bukan aku yang menunggu mereka tapi mereka yang harus menunggu ku"
Malvin menarik tangan kiri Paula hingga badan wanita itu terjerembat jatuh di atas badan tegap Malvin yang perlahan tertidur di sofa.
"Kak Mark!" pekik Paula.
Paula berusaha untuk bangun tapi Malvin menahan pinggangnya dengan satu tangan sedangkan tangan yang lainnya berada di tengkuk Paula.
Perlahan Malvin mendekatkan wajah Paula ke wajahnya. Laki-laki itu ******* bibir Paula dengan gerakan yang sangat halus hingga membuat Paula terbuai dan kemudian membalasnya. Mereka berciuman dengan sangat lembut tidak ada nafsu di sana.