
Keesokkan harinya..
Paula sudah keluar dari rumah sakit dan saat ini tengah beristirahat di kamarnya. Paula melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul sepuluh siang.
"Sebentar lagi waktu jam makan siang" Paula terlihat sedang berfikir. "Mmm.. Aku akan ke kantor dan mengejutkan kak Mark sekalian membawakan kotak makan siang. Aku yakin pasti kak Mark senang" sambungnya lagi.
Paula bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan makanannya. Setelah sampai di dapur Paula terlihat sangat bingung. Paula lupa jika dirinya tidak bisa memasak.
"Oh ya ampun.." Paula menepuk keningnya sendiri.
"Paula, kau tidak bisa memasak. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Sayang.. Sedang apa kau di dapur?" tanya Mayang yang berhasil membuat senyum terbit di wajah cantik Paula.
"Ma.. Ajarin Paula Masak" pinta Paula yakin.
"Ha?"
Mayang sangat terkejut mendengarkan permintaan putri semata wayangnya itu. Pasalnya ini pertama kalinya Paula meminta untuk di ajarkan memasak padahal dari dulu Mayang selalu meminta Paula untuk belajar memasak tapi Paula selalu menolaknya dan mengatakan jika memasak itu adalah hal yang paling merepotkan.
"Ma.. Kenapa diam? Ajarin Paula masak" pinta Paula lagi.
"Sayang, kamu gak papa 'kan?"
"Ma.. Apaan sih. Emangnnya Paula kenapa?"
"Ini keajaiban. Kamu minta mama ajarin kamu masak? Apa matahari tadi pagi terbit dari arah yang berlawanan?"
"Ma.." kesal Paula.
Mayang terkekeh. "Iya sayang. Mama akan ajarin anak mama yang cantik ini masak"
"Makasih ma" Paula memeluk Mayang.
"Ini pasti karena Malvin?" tanya Mayang.
Paula menganggukkan kepalanya. "Dua hari lagi 'kan aku sama kak Mark menikah. Aku tau, aku bukan wanita yang sempurna tapi aku akan berusaha menjadi istri yang sempurna untuk kak Mark"
"Mama yakin kamu pasti bisa sayang dan mama akan selalu dampingi kamu"
"Mama emang yang terbaik"
Pelajaran memasak pun di mulai. Paula dan Mayang memakai celemek dan topi chef yang membuat mereka terlihat seperti seorang chef profesional.
"Yang pertama kamu harus cincang bawang merah dan bawang putih, cincang yang halus lalu iris daun bawang" titah Mayang.
"Ok ma"
Paula mulai menjalankan instruksi yang Mayang berikan dan..
"Ma.. Hiks.. Hiks.. Perih" rengek Paula kini matanya sudah banjir.
Mayang terkekeh melihat putrinya itu. "Gak apa-apa, nanti juga terbiasa"
Hanya memotong bawang-bawang saja Paula menghabiskan waktu dua puluh menit.
"Sekarang kita bikin telur orak ariknya dulu. Kamu ambil satu butir telur lalu kocok" instruksi Mayang selanjutnya.
Paula mengambil satu butir telur lalu memecahkan telur itu dengan mengetuknya ke mangkuk. Tapi sayangnya Paula mengetuk telurnya terlalu keras hingga telur itu pecah dan jatuh ke lantai.
Mayang hanya bisa menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Paula menunjukkan cengir kudanya.
Setelah satu telur terbuang sia-sia akhirnya Paula berhasil memecahkan telur dengan baik lalu mengocoknya.
"Panaskan minyaknya lalu masukkan telurnya"
Paula kembali mengikuti instruksi yang Mayang berikan.
"Gosong.." kata Paula lemah saat membalik telurnya yang gosong.
Mayang hanya bisa menghela napasnya lagi dan lagi.
Paula berhasil membuat telur orak arik setelah percobaan ke tiga.
"Sekarang panaskan minyak, tumis bawang putih dan bawang merah hingga harum setelah itu masukkan udang, cumi dan telur orak ariknya"
Paula mengikuti instruksi yang Mayang berikan.
"Aw.." ringis Paula.
Tangan Paula secara tidak sengaja menyenggol wajan yang panas.
"Hati-hati"
"Iya ma"
Setelah satu jam bergulat dengan panci penggorengan akhirnya masakan Paula selesai.
Paula memasak nasi goreng seafood. Ya hanya memasak nasi goreng seafood saja Paula menghabiskan waktu selama satu jam di dapur. Mungkin itu adalah rekor waktu terlama memasak nasi goreng seafood.
"Yeay.." Paula bersorak riang.
"Akhirnya Paula bisa menyelesaikan masakan Paula. Makasih ma" Paula memeluk Mayang.
"Iya. Ya udah sekarang kamu mandi siap-siap ini udah jam sebelas"
"Iya ma"
Setengah jam berlalu. Kini Paula sudah terlihat rapih dan cantik ya walau pun bekas luka dan memar di wajahnya masih sedikit terlihat.
"Ma.. Paula berangkat ya" pamit Paula.
"Iya sayang hati-hati"
Saat di perjalanan Paula mengirimkan pesan pada Leon.
(Nona Paula : Asisten Leon, aku akan ke kantor membawakan makan siang untuk kak Mark. Apa kak Mark ada di kantor sekarang?)
(Asisten Leon : Iya nona, pak Malvin ada di kantor)
(Nona Paula : Jangan bilang sama kak Mark kalau aku akan ke kantor ya)
(Asisten Leon : Baik nona)
(Nona Paula : Terimakasih asisten Leon)
(Asisten Leon : Iya, sama-sama nona)
Di kantor..
Waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Cacing di perut Malvin juga sudah berteriak minta makan tapi asisten Leon belum juga membawakan makan siang untuknya. Biasanya Leon selalu tepat waktu membawakan makan siang untuk Malvin jika dirinya sangat sibuk dan tidak ada waktu untuk makan siang di luar. tapi tidak kali ini. Apakah asistennya itu lupa? Tapi, bagaimana bisa bukankah itu sudah menjadi tugasnya?
Tuk.. Tuk..
Leon masuk ke ruangan Malvin.
"Iya tuan, ada apa?" tanya Leon.
Malvin mengerutkan kedua alisnya bingung. "Asisten Leon, apa kau melupakan sesuatu?" tanyanya kemudian.
"Tidak ada tuan" jawab Leon.
"Bagaimana dengan makan siang saya"?
Leon mengerutkan kedua alisnya kemudian laki-laki itu melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit.
"Apa yang terjadi? Kenapa nona Paula belum samapi?" tanya Leon dalam hatinya yang mulai merasa khawatir dengan keadaan Paula.
"Asisten Leon kenapa kau diam? Ada apa?" tanya Malvin.
"Tuan, tadi nona Paula mengirim pesan jika nona akan ke kantor membawakan makan siang untuk tuan jadi saya tidak membelikan makan siang untuk tuan" jelas Leon.
"Tapi kenapa sampai sekarang Paula belum juga datang?"
"Saya tidak tau tuan, seharusnya sekarang nona Paula sudah sampai"
"Arghh.." teriak Malvin. "Sayang kamu di mana?"
Leon menelpon bodyguard yang mengawal Paula.
(In Call)
"Di mana nona Paula sekarang? Apa kalian sudah sampai di kantor?" tanya Leon.
"Iya tuan kami sudah sampai di kantor. Nona Paula lima belas menit lalu sudah masuk ke dalam kantor" jelas bodyguard itu.
"Apa? Kalian cepat cari nona Paula. Periksa semua CCTV"
"Baik tuan"
(Call End)
"Bagaimana? Di mana Paula?" tanya Malvin yang sudah sangat marah.
"Tuan nona Paula sudah sampai di kantor lima belas menit lalu"
"Apa?"
Malvin dan Leon berlari ke luar dari ruangan itu untuk mencari Paula yang entah ada di mana. Lagi-lagi Paula menghilang saat di kantor. Malvin khawatir jika kejadian saat di toilet terulang lagi dan jika itu sampai terulang mungkin kali ini Malvin tidak akan bisa menahan emosinya lagi.