Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 36 : Girls Time



"Huuaa.. Mami, Miko kalah lagi sama uncle" rengek Miko.


Sudah tiga ronde Miko kalah dari Malvin. Mereka memainkan game race car.


"Hapus air mata mu, katanya tadi gak akan nangis kalau kalah. Terus ini apa?" Diana menyeka air mata di pipi putranya itu.


"Aku gak nangis mih, itu keringet aku bukan air mata" elak Miko.


Semua orang terkekeh melihat tingkah Miko yang menggemaskan itu.


Saat ini Malvin dan Paula berada di kamar Malvin. Ini pertama kalinya Paula masuk ke dalan kamar Malvin. Kamar yang di dominasi warna monokrom itu terlihat sangat nyaman dan besar.


Setelah drama antara Malvin dan Miko selesai. Malvin langsung mengajak Paula ke kamarnya. Paula dan Mayang malam ini akan menginap di kediaman Vuitton.


"Kak Mark, kenapa ajak aku ke sini? 'Kan gak enak sama yang lainnya" tanya Paula.


Malvin tidak menjawab pertanyaan Paula. Laki-laki itu malah mengarahkan Paula untuk tidur di kasur king size miliknya lalu Malvin juga tidur di sebelah Paula seraya memeluknya posesif.


"Aku mengantuk ingin tidur" Malvin menyusupkan kepalanya ke ceruk leher Paula dan perlahan ia menutup matanya.


Paula menatap Malvin yang tertidur. "Dia terlihat seperti bayi saat tidur" mengelus-elus pipi Malvin.


"I love you, kak Mark"


Secara perlahan Paula mendekatkan wajahnya ke wajah Malvin hendak mencium keningnya. Tapi saat wajah mereka hanya berjarak beberapa inci, tiba-tiba saja Malvin membuka matanya.


"I love you too"


"Ha?" kaget Paula. "Kak Mark belum tidur?" tanyanya kemudian.


"Menurut kamu di saat seperti ini apa aku masih bisa tidur?" tanya balik Malvin.


Paula mendapatkan sinyal bahaya sedangkan Malvin tersenyum menyeringai. Mata mereka bertemu.


Brak..


Tiba-tiba pintu kamar Malvin terbuka dan tak lama Sania masuk.


"Mami!" pekik Paula.


Paula bangkit dari tidurnya kemudian berdiri di sebelah tempat tidur sedangkan Malvin, laki-laki itu terlihat sangat santai dan malah tidak bergerak sedikit pun.


"Mami apaan sih! Ganggu aja!" kesal Malvin.


Sania menghampiri Paula yang berdiri mematung.


"Ayo sayang ikut mami" ajak Sania menggenggam tangan Paula.


"Mami mau di bawa ke mana calon istri aku?" tanya Malvin.


"Malam ini Paula tidur sama mami"


"Gak bisa, Paula tidur sama aku"


"Kamu mulai berani sama mami" hardik Sania.


"Tapi mi.."


"Sudahlah Vin, malam ini kamu tidur sama papi aja" kata Tama, ayah Malvin yang baru saja datang.


"Apa?"


Tama langsung tidur di sebelah putranya itu.


"Ya udah sayang, kita tidur di kamar mami" kata Sania.


"Iya mih" kata Paula.


Paula dan Sania keluar dari kamar Malvin.


"Mami.." teriak Malvin.


"Berisik! Papi mau tidur" sentak Tama.


"Maaf pih"


Satu jam..


Dua jam..


Tiga jam..


"Akhh.." geram Malvin tertahan.


"Bagaimana mami bisa tahan tidur dengan papi? Lihatlah, papi tidur seperti sedang konser saja" gerutu Malvin.


Malvin kemudian keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang kerjanya. Malvin tidur di sofa yang ada di sana.


Keesokan harinya..


Paula kini berada di sebuah Mall bersama Kania, Stella, Dini, Melly dan Dona. Hal pertama yang akan mereka lakukan adalah menonton film di bioskop. Para wanita itu akan memanjakan diri mereka seharian full karena ini juga adalah hari libur.


"Baiklah" kata Dona.


Dona, Melly dan Dini masuk terlebih dahulu sedangkan Paula, Kania dan Stella mengantri untuk membeli popcorn dan minumannya.


Stella melihat ke arah kiri kanan depan dan belakang secara bergantian.


"Stel, kau kenapa? Kau lihat apa?" tanya Kania.


"Entahlah, aku merasa seperti ada orang yang mengawasi kita" jelas Stella.


"Mengawasi?" Kania mengedarkan pandangannya tetapi ia tidak melihat sesuatu hal yang mencurigakan. "Gak ada apa-apa. Mungkin itu hanya perasaan mu aja kali Stel"


"Mungkin"


"Ada apa? Kalian lagi ngomongin apa?" tanya Paula.


"Tidak ada" jawab Kania.


Setelah sepuluh menit mengantri akhirnya mereka mendapatkan popcorn dan juga minumannya kemudian mereka pun menyusul yang lainnya masuk karena lima menit lagi film akan di mulai.


Setelah selesai menonton mereka pergi ke restoran untuk makan siang. Mereka makan di selingi dengan canda dan tawa. Mereka terlihat sangat akrab padahal mereka dekat satu sama lain baru-baru ini.


"Bagaimana kalau kita memainkan permainan" kata Stella.


"Permainan apa?" tanya Melly.


"Bagaimana kalau permainan truth or dare" kata Dona.


"Setuju" kata Dini.


"Paula, Kania, kalian gimana?" tanya Stella.


Paula dan Kania mengangguk 'kan kepalanya sebagai jawaban.


"Baiklah, kita mulai sekarang. Aku yang akan memutar botolnya"


Stella memutar botolnya dan botol itu berhenti tepat menunjuk ke arah Dona.


"Truth or dare" tanya Melly.


"Dare" jawab Dona.


Huuu..


Mereka semua bersorak mendengar jawaban Dona.


"Karena aku yang memutar botolnya aku juga yang akan memberikan tantangannya. Bersiaplah Dona.." kata Stella.


"Katakan apa tantangannya, aku akan langsung menyelesaikannya dengan sangat mudah" kata Dona percaya diri.


"Baiklah, sekarang kau lihat pasangan yang di pojok sana" Stella menunjuk pasangan yang lagi mesra-mesraan di pojokan. Semuanya melihat ke arah yang di tunjuk Stella.


"Tantangannya adalah kau harus memeluk laki-laki itu tepat di depan pacarnya" kata Stella kemudian.


Paula, Kania, Dini dan Melly membekap mulutnya sendiri saking terkejutnya.


"Gimana? Berani gak?" tanya Stella.


Dona menghela napasnya dalam kemudian wanita itu mulai menjalankan aksinya. Dona berjalan ke arah pasangan itu dan tepat saat di dekat si laki-laki, Dona menjatuhkan dirinya dan langsung memeluk laki-laki itu.


"Aw.." pekik Dona.


"Kau tidak apa-apa?" tanya laki-laki itu.


"Aku tidak apa-apa. Maaf tadi aku tersandung dan terima kasih sudah membantu ku" kata Dona masih memeluk laki-laki itu.


"Iya tidak apa-apa"


Laki-laki itu tersenyum sedangkan si wanita merasa sangat geram. Wanita itu mengepalkan tangannya dan..


Brak..


Wanita itu menggebrak meja hingga menimbulkan suara yang cukup keras hingga membuat atensi orang-orang yang ada di sana melihat ke arah mereka.


Dona melepas pelukannya. "Pacar kamu pemarah ya, mending pacaran sama aku aja" bisiknya tepat di telinga Laki-laki itu dan kemudian Dona pun kembali ke mejanya.


Saat Dona berjalan laki-laki itu terus saja menatapnya sampai pada akhirnya..


Plak..


Satu tamparan mendarat mulus di wajah laki-laki itu. Pelakunya siapa lagi kalau bukan wanita yang bersamanya.


"Brengsek!" umpat wanita itu dan berlalu pergi.


Si wanita pergi dan si laki-laki mengejarnya. Entah apa yang terjadi dengan pasangan itu? Mereka putus atau lanjut tidak ada yang tau.


Sedangkan Dona kembali duduk di kursinya dengan senyum kemenangan.


"Ini gila!"