
Hari ini Malvin sudah kembali bekerja di kantor. Laki-laki itu terlihat sangat fokus menatap layar laptopnya.
Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar dan tak lama terlihat asisten Leon masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana?" tanya Malvin.
"Saya sudah memeriksa rekaman CCTV yang ada di sekitaran jalan dekat rumah sakit tuan dan benar ada yang mengawasi tuan. Ini tuan" kata Leon memberikan tab yang berisikan rekaman CCTV.
Malvin melihat rekaman CCTV itu. "Kau sudah tau siapa dia?" tanya Malvin kemudian.
"Maaf tuan, saya masih belum bisa melacaknya. Karena mobil yang dia pakai adalah mobil sewaan dan dia menggunakan identitas palsu saat menyewanya" jelas Leon.
"Sial.." kesal Malvin. "Cari dan temukan siapa dia bagaimana pun caranya. Bereskan sebelum acara pertunangan"
"Baik tuan" kata Leon menunduk 'kan kepalanya dan berlalu pergi.
"Siapa dia? Tidak akan ku biarkan dia jika sudah berani mengusik ku" gumam Malvin dengan sorot matanya yang tajam.
Di sisi lain Paula sedang berada di toilet. Ia sedang mencuci tangannya. Tak lama Stella masuk ke dalam toilet. Wanita itu terlihat sangat tidak nyaman berada di dekat Paula. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.
"Stella, kau mau ke mana?" tanya Paula yang melihat Stella hendak kembali ke luar dari toilet.
"Ha.. Mmm.. Saya melupakan sesuatu" Stella berusaha menghindari Paula. Ia tidak mau terkena masalah karena sudah mengganggu kekasih sang big bos.
"Stella kau menghindari ku?"
"Tidak"
"Kenapa bicara mu sangat formal?"
"Tidak, saya hanya.."
"Bisa kita bicara saat makan siang nanti?" Paula mendekat ke arah Stella. "Kau masuklah, aku sudah selesai" sambungnya lagi dan berlalu pergi.
Haaahhh..
Helaan napas lega terdengar saat Paula keluar dari toilet. Entah kenapa saat berada di dekat Paula, Stella merasa sangat takut seakan ia sedang berhadapan langsung dengan Malvin.
Setelah mengetahui hubungan Paula dan Malvin. Stella menjadi sangat takut bertemu Paula. Wanita itu takut melakukan kesalahan yang akan berakibat buruk padanya. Terlebih lagi saat mendapat ancaman dari asisten Leon, ia takut keceplosan dan membongkar semuanya. Karena itu juga Stella menghindari teman-temannya.
Saat jam makan siang Paula dan Stella makan di restoran dekat kantor, Kania juga ikut gabung bersama mereka.
"Stella, bersikaplah seperti biasa dengan ku" kata Paula membuka obrolan.
"Bagaimana mungkin saya melakukan hal itu. Saya harus menjaga batasan saya"
"Batasan apa? Stella kita berteman!"
"Terimakasih, sudah menganggap saya sebagai teman. Saya merasa sangat terhormat"
Haa.. Haa..
Suara gelak tawa Kania menggelegar. "Stella, kau sangat lucu. Ada apa dengan sikap mu?" tanyanya kemudian. Stella hanya terdiam.
"Aku tau kau pasti merasa takut setelah kau mengetahui hubungan pak Malvin dengan Paula. Aku juga sama seperti mu, aku takut bahkan sampai sekarang pun masih sama. Takut melakukan kesalahan yang nantinya akan berakibat buruk untuk diri kita sendiri. Tapi kau tidak usah takut, pak Malvin tidak akan melakukan apa pun asalkan kita tidak menyakiti Paula saja. Bukankah ini adalah kesempatan yang baik untuk kita, kita bisa memanfaatkan Paula untuk menaikan jabatan kita di kantor. Kita hanya perlu bersikap baik saja padanya" jelas Kania.
"Kania!" kesal Paula. Kania menunjuk 'kan cengir kudanya.
"Kau benar juga Kania. Siapa tau setelah kita berbuat baik pada bu bos, kita akan naik gaji bulan ini" kata Stella.
"Stella! kau juga" Paula semakin kesal.
Haa..
Haa..
Haa..
Mereka semua tertawa dan pada akhirnya Stella bersikap seperti biasa. Wanita itu juga mulai dekat dengan Paula dan Kania. Mereka melanjutkan obrolan mereka dengan membicarakan hal-hal yang tidak penting.
"Mmm.." Stella ingin mengatakan sesuatu tapi bingung.
"Kenapa?" tanya Paula.
"Aku bingung harus memanggil mu apa?"
"Maksudnya?"
"Aku sama kamu sama-sama pegawai tapi di sisi lain kamu juga calon istri dari pak Malvin sang big bos. Aku gak tau harus memanggil mu apa"
"Panggil nama aku aja, kita ini 'kan teman. Kau tidak usah mengganti panggilan mu pada ku"
"Baiklah"
"Stella, kemarin asisten Leon bicara apa?" tanya Paula.
"Dia mengancam ku" adu Stella.
"Apa?"
"Iya, dia mengancam ku. Jika aku berani buka mulut, aku akan terkena masalah"
"Gak usah minta maaf Paula, aku mengerti"
"Stella, kita senasib" kata Kania.
"Maksudnya?"
"Iya, kita senasib. Kita sama-sama memergoki Paula dan pak Malvin berciuman tapi bedanya kamu melihat mereka berciuman di kantor sedangkan aku di dalam kamar" jelas Kania.
Uhuk.. Uhuk..
Stella tersendak minumannya saat mendengar ucapan Kania. "Apa? Kania kau serius"
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" tanya Kania. Stella menggeleng 'kan kepalanya.
"Kalian apaan sih" marah Paula.
"Maaf bu bos" kata Kania dan Stella kompak.
Kemarahan Paula sudah ada di ambang batas dan mungkin akan segera meledak. Tapi untung saja ada waiters yang mengintrupsi jadi Kania dan Stella selamat dari amukan singa betina.
"Permisi, apa anda nona Paula?" tanya waiters itu.
"Iya saya, ada apa ya?"
"Ada yang meminta saya memberikan ini pada nona" waiters itu memberikan setangkai bunga mawar merah dan sepucuk surat.
Paula menerimanya. "Terimakasih" katanya kemudian.
"Sama-sama" Waiters itu menunduk 'kan kepalanya dan kemudian kembali mengerjakan tugasnya.
"Ekhm.. Yang dapet bunga dari calon suami. Senengnya" ledek Kania.
"So swiet" kata Stella.
Paula menghiraukan perkataan kedua wanita itu. Ia mencium aroma mawar itu dan kemudian membaca suratnya.
Setelah membaca surat itu, raut wajah Paula seketika berubah. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
"Paula, kau kenapa?" tanya Kania yang melihat perubahan sikap Paula.
Paula menjatuhkan bunga dan suratnya hingga jatuh ke lantai.
"Paula, ada apa?" panik Kania.
Stella mengambil surat yang di jatuhkan Paula kemudian membancanya.
"APA KAU MERINDUKAN KU SAYANG? DIMAS" kata Stella membaca surat itu.
"Apa?" pekik Kania. ia merebut surat itu dari tangan Stella kemudian membacanya.
"Sepertinya nama itu terasa sangat tidak asing. Aku pernah mendengarnya, tapi di mana?" kata Stella.
"Ck! Apa kau lupa. Dia mantan pacar Paula" kata Kania.
"Iya, aku ingat. Dia orang yang selingkuh dengan resepsionis itu 'kan?"
"Stella!" teriak Kania.
Stella menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. "Maaf Paula, aku tidak bermaksud. Maaf 'kan aku" sesalnya kemudian.
"Tidak apa-apa Stella" kata Paula.
"Pau, kau yakin tidak apa-apa?" tanya Kania.
"Aku baik-baik aja Kania. Lagian dia hanya masa lalu ku. Aku sudah melupakannya. Aku hanya terkejut aja tadi"
"Baguslah. Aku senang mendengarnya"
"Kenapa dia mengirim mu surat?" tanya Stella.
"Entahlah, aku tidak tau" kata Paula.
"Apa jangan-jangan dia ingin balas dendam" kata Stella menerka-nerka.
"Apa maksudnya" tanya Paula.
"Paula kau tau. Satu tahun yang lalu, seisi kantor heboh membicarakan tentang kejadian perselingkuhan itu"
"Ya aku tau. Tapi yang aku bingung, dari mana kalian tau tentang kejadian itu?" tanya Paula penasaran.
"Iya dari mana kalian tau? Bukankah saat itu hanya ada aku, Paula dan kedua orang itu. Bagaimana bisa kejadian itu di ketahui semua orang di kantor?" tanya Kania yang juga penasaran.
Paula dan Kania baru sadar akan fakta itu. Bagaimana bisa kejadian perselingkuhan itu di ketahui oleh semua orang di kantor? Yang jadi pertanyaan, siapa yang membocorkannya? Karena Paula maupun Kania tidak pernah membicarakan hal itu pada siapa pun. Atau mungkin ke dua orang itu yang membocorkannya? Tapi apa itu mungkin? Apa ada orang yang bisa membuka aibnya sendiri di depan orang lain?
"Itu karena pak Malvin" jawab Stella.
"Maksudnya?" tanya Paula.
"Iya, kita tau tentang perselingkuhan itu dari pak Malvin" jelas Stella.
"Apa?" kaget Paula dan Kania kompak.