
"Selamat siang semuanya. Terimakasih sebelumnya sudah hadir di konferensi pers ini. Saya Malvin Mark Vuitton, pemimpin Vuitton Grup. Di konferensi pers kali ini saya akan menyampaikan mengenai pernikahan saya"
"Dalam tiga hari saya akan melangsungkan pernikahan saya dengan wanita yang sangat saya cintai"
"Saya tau kalian semua penasaran tentang siapa wanita itu dan di konferensi pers kali ini saya akan mengungkapkan identitas calon istri saya"
"PAULA MICHELLE ZOURIST dia adalah wanita sederhana yang berhasil membuat saya jatuh cinta"
"Saya meminta do'a dan restu dari kalian, semoga pernikahan saya dan Paula berjalan lancar dan kehidupan pernikahan kami bahagia"
"Hanya itu saja yang ingin saya sampai 'kan. Terimakasih untuk semua yang sudah hadir di konferensi pers ini"
Di sebuah rumah kecil yang tempatnya sangat jauh dari kota. Dimas sedang menyaksikan konferensi pers Malvin di ponselnya.
Dimas menatap sebuah bingkai photo dirinya dan Paula saat masih berpacaran dulu.
"Tiga hari sayang, tiga hari lagi kita akan bertemu. Kamu pasti sangat merindukan ku bukan? Aku juga sama sayang, aku sangat merindukan mu" Dimas mengecup photo Paula.
"Aku sangat mencintai mu Paula dan aku yang akan menjadi mempelai pria mu. Aku yang akan menikahi mu bukan Malvin"
"Laki-laki bodoh itu sudah memisahkan kita dan aku yang akan memperbaikinya"
"Aku akan menyatukan kembali lagi cinta kita sayang dan aku tau pasti kau juga masih sangat mencintai aku"
"Tunggu aku sayang, sebentar lagi kita akan bersama untuk selamanya"
Dimas menatap tajam photo Malvin yang di tempelnya di dinding. Dimas memberikan tanda silang pada photo itu menggunakan pisau kecil yang ada di tangannya.
"MALVIN, dulu kau yang membuat hubungan ku hancur dengan Paula dan kali ini aku pastikan kau akan terima pembalasan ku. Aku akan merebut kembali apa yang sudah menjadi milik ku. Paula adalah milik ku dan akan tetap menjadi milik ku"
Setelah pulang kantor Kania, Stella, Dona, Melly dan Dini menjenguk Paula ke rumah sakit. Mayang dan Sania sudah pergi setengah jam yang lalu sedangkan Malvin sedang berbicara dengan Leon di depan ruangan Paula.
"Ya ampun Pau, muka kamu" kata Kania menatap wajah Paula.
"Aku gak papa Kania" kata Paula.
"Gak papa gimana, muka kamu sampe lebam dan luka kayak gini kamu bilang gak papa" kesal Kania.
"Iya Paula ya ampun, ini parah banget lho. Wajar aja sih kalau pak Malvin marah banget dan langsung memecat mereka" kata Stella.
"Emang gimana sih Pau, kok bisa sampai berantem gitu?" tanya Kania.
Paula menghela napasnya dalam lalu menceritakan kejadian yang terjadi di toilet.
"Paula maaf, harusnya aku ada di sana bersama mu saat itu" sesal Kania seraya memeluk Paula.
"Iya gak papa Kania"
"Mmm.. Paula, ini ada temen-temen aku juga" kata Stella menunjuk Dona, Melly dan Dini yang sedari tadi hanya diam.
Dona, Melly dan Dini menundukkan kepalanya secara bersamaan. Dan hal itu sontak membuat Paula, Kania dan Stella tertawa.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa bersikap formal begitu?" tanya Paula sembari menahan tawanya.
"Tidak, kami tidak apa-apa bu Paula" jawab mereka kompak.
Haa.. Haa.. Haa..
Tawa kembali pecah di ruangan itu.
Sementara itu Malvin dan Leon duduk di kursi tepat di ruangan Paula.
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Malvin.
"Belum tuan. Kami sudah mengawasi orang itu tapi sepertinya dia memang tidak tau keberadaan Dimas di mana?" jawab Leon.
"Sial.." kesal Malvin. "Kau terus cari dia kerahkan semua orang-orang kita. Temukan dia secepatnya. Saya tidak mau terjadi sesuatu saat acara penikahan nanti. Dan juga perketat keamanan Paula" titahnya kemudian.
"Baik tuan, saya permisi" pamit Leon seraya menundukkan sedikit kepalanya dan berlalu pergi.
Setelah Leon pergi, Malvin langsung masuk ke dalam ruangan Paula dan saat Malvin masuk sontak langsung menghentikan tawa para wanita itu.
Suasana pun seketika terasa sangat canggung, mereka semua terdiam.
Paula berdecak kesal. "Ck. Kak Mark ngapain duduk di situ. Lihatlah, mereka jadi gak nyaman. Kak Mark keluarlah"
"Sayang, kamu ngusir aku"
"Iya. Kak Mark pergilah dulu, kemana gitu. Aku masih mau ngobrol sama mereka"
Malvin tersenyum kemudian mendekat ke arah Paula. Para wanita itu sampai mundur ke belakang saat Malvin berjalan di hadapan mereka. Mereka bahkan menundukkan kepalanya tidak berani menatap Malvin.
"Aku merindukan mu sayang, jangan usir aku ya" Malvin merengkuh Paula masuk ke dalam pelukannya.
"Kak Mark lepas ada banyak orang di sini, aku malu" cicit Paula.
"Biarkan saja mereka" bukannya melepas pelukannya Malvin malah semakin erat memeluk Paula.
"Kak Mark!"
"Mmm.. Paula kita pamit sekarang" kata Kania.
Kania, Stella, Dona, Melly dan Dini menunduk hormat pada malvin dan berlalu pergi dari ruangan itu.
Paula melepaskan pelukannya. "Ini gara-gara kak Mark mereka jadi pergi" kesal Paula seraya mengerucutkan bibirnya.
Cup..
Malvin mengecup sekilas bibir Paula. "Sengaja ya bibirnya di majuin gitu minta di cium" goda Malvin.
"Apaan sih" Paula memalingkan wajahnya.
Malvin menangkup wajah Paula. "Maaf ya sayang, aku ngelakuin itu karena kamu harus istirahat. Jika mereka masih ada di sini, kamu gak akan mungkin bisa istirahat"
"Iya, tapi 'kan gak gitu juga caranya. Aku gak enak sama mereka"
"Gak papa, pasti mereka juga ngerti. Kamu istirahat ya sekarang"
Paula menganggukkan kepalanya lalu berbaring dan Malvin membenarkan selimut Paula. Laki-laki itu mengelus lembut kepala Paula dan tak lama Paula masuk ke alam pimpinya.
Setelah dari rumah sakit Kania, Stella, Dona, Melly dan Dini pergi ke restoran untuk menghilangkan rasa lapar mereka.
"Kalian tadi kenapa sih bersikap konyol kayak gitu? Mana mukanya tegang banget lagi. Paula itu lebih suka kalau orang-orang bersikap biasa aja padanya" kata Stella pada Dona, Melly dan Dini.
"Iya sikap kalian formal banget tadi, mana manggil Paula pake sebutan ibu lagi" kata Kania.
Haa.. Haa..
Kania dan Stella kembali tertawa ketika mengingat kejadian saat di rumah sakit tadi.
"Puas kalian berdua hah?" sentak Dona.
"Tau nyebelin banget dari tadi ketawain kita mulu" kesal Dini.
"Stella ayo ceritain semua yang kamu tau tentang hubungan Paula dan pak Malvin. Kamu sudah janji tadi" kata Melly menagih janji Stella.
"Iya.. Iya, aku ceritain tapi nanti setelah makan. Lapar banget ini" kata Stella.
"Ck. Dasar" kesal Melly.
Mereka pun akhirnya makan terlebih dahulu setelah itu baru Stella menceritakan semuanya.
"Apa? Jadi kau memergoki mereka sedang bercumbu di kantor?" kaget Dona setelah mendengar cerita dari Stella.
Stella hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Bukan hanya aku yang pernah memergoki mereka sedang bercumbu tapi Kania juga" sambungnya lagi seraya menatap ke arah Kania.
"Serius? Kania kamu juga?" tanya Melly penasaran.
"Ya begitulah" kata Kania. "Kalian liat sendiri 'kan tadi, gimana bucinnya pak Malvin sama Paula" sambungnya lagi.
"Iya bener. Aku gak nyangka pak Malvin yang sikapnya kaya kulkas itu bisa bersikap romantis juga" kata Dini.
"Namanya juga cinta. Cinta bisa merubah semuanya" kata Kania.