Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 45 : Perubahan Besar



Dimas tersenyum penuh kemenangan kala ia melihat berita di televisi menyatakan jika calon istri dari Malvin Mark Vuitton, CEO dari Vuitton Grup telah meninggal karena kecelakaan.


"Bodoh! Sangat mudah untuk membodohi mu Malvin. Kau percaya begitu saja jika wanita yang ada di dalam mobil yang terbakar itu adalah Paula, hanya karena wanita itu memakai cincin Paula. Kau memang sangat bodoh Malvin!"


Sementara itu di kamar, Paula baru menyadari jika cincinnya hilang.


"Di mana cincin ku? Apa terjatuh?"


Paula berusaha mencari cincinnya di sekitar ruangan itu tapi ia tidak bisa menemukannya.


"Tidak ada, di mana cincinnya? Di mana aku menjatuhkannya?"


Tiba-tiba Dimas masuk ke dalam kamar yang sudah sangat berantakan karena Paula menggeledah setiap sudut untuk mencari cincinnya.


"Apa yang sedang kau cari?" tanya Dimas.


"Di mana cincin ku?" tanya balik Paula.


"Cincin apa?" dusta Dimas.


Paula menghela napasnya. Butiran bening itu lolos dari netranya.


"Kenapa kau menangis Paula? Jangan menangis! Aku tidak suka melihatnya"


Paula mengabai 'kan ucapan Dimas dan ia terus saja menangis seraya memegang jari manisnya.


"Saya turut berduka cinta atas meninggalnya nona Paula"


Kalimat itulah yang selalu di ucapkan semua rekan bisnis Malvin yang datang ke acara pemakaman.


Selama pemakaman tidak terlihat sedikit pun kesedihan di wajah Malvin. Entah apa yang terjadi dengan Laki-laki itu. Malvin terus saja menatap nama yang tertulis di nisan itu dengan ekspresi yang sangat sulit untuk di artikan.


"Malvin.."


Sebuah tangan halus menyentuh pundak Malvin. Hati Sania teriris kala melihat sang putra seperti itu. Sania memeluk Malvin erat.


"Menangislah Vin, tumpahkan semua kesedihan mu. Mami tau ini sangat berat untuk mu" kata Sania.


"Aku tidak apa-apa mih" kata Malvin dingin.


Sania tak kuasa menahan air matanya, ia menangis di pelukan putranya itu.


"Paula maafin kakak, kakak gak bisa jagain kamu, kaka bukan kakak yang baik. Maafin kakak Pau, maafin kakak" lirih Raihan seraya menyentuh nisan itu seakan sedang berbicara pada Paula.


Raihan melihat ke arah Mayang yang ada di sampingnya. "Maafin Rai ma, Rai gak bisa jagain Paula. Maafin Rai"


"Ini bukan salah kamu, Rai. Ini takdir, kita tidak bisa berbuat apa-apa"


Raihan menumpahkan tangis kesedihannya di pelukan mayang. Ibu dan anak itu saling berpelukan sembari menangis.


Kania, Jennie, Stella, Dini, Melly dan Dona juga hadir di pemakaman. Mereka tidak ada yang menyangka jika acara pernikahan itu akan berubah menjadi acara pemakaman. Mereka semua menangis terlebih lagi Kania.


Dua minggu berlalu..


"Ma-maaf pak Malvin, s-saya tidak sengaja" sesal seorang office boy yang tidak sengaja menumpah 'kan kopi pada lengan kemeja Malvin.


Malvin menyeringai kemudian ia mencengkram kerah baju office boy itu.


"Cari mati kau?" desis Malvin.


"Ma-maaf.. Akh" ringis office boy itu kala Malvin mengencangkan cengkramannya.


"Tuan, lepas 'kan dia, dia bisa kehilangan nyawanya" kata Leon yang sudah sangat panik melihat kejadian itu.


Leon melepaskan cengkraman Malvin dengan susah payah. Office boy itu akhirnya bisa bernapas kembali.


"Pergilah" kata Leon pada office boy itu.


Office boy itu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur dari sang bos yang sangat menyeram 'kan itu.


Setelah pemakaman itu Malvin memang berubah menjadi orang yang sangat menakut 'kan. Malvin gampang sekali marah. Ia akan menghajar siapa pun orang yang mengusik hidupnya. Senyum menghilang dari wajah tampannya itu. Dunianya menjadi gelap, ia kehilangan sebuah penerang dalam hidupnya. Itu semua karena Paula cintanya di renggut darinya.


Sementara itu Paula masih memikir 'kan cara supaya ia bisa kabur dari cengkraman Dimas. Selama dua minggu ini Paula hanya berada di dalam kamar, Dimas benar-benar tidak membiarkan Paula keluar dari kamar itu. Dimas selalu mengawasi Paula dari CCTV yang di pasangnya di kamar itu.


"Apa yang sedang kau pikir 'kan?" tanya Dimas yang menyadarkan Paula dari lamunannya.


Dimas duduk di pinggiran kasur seraya menatap Paula lekat. Paula mengalih 'kan pandangannya.


"Mau sampai kapan kau akan mengabaikan ku seperti ini?"


"Sampai aku mati!" sarkas Paula.


"Sstt.." Dimas menempel 'kan jari telunjuknya di binir Paula dan di detik itu juga Paula langsung menepisnya.


"Jangan berani menyentuh ku!"


"Aku tidak akan menyentuh mu. Tapi kau harus janji, kau tidak akan berbicara seperti itu lagi. Bagaimana aku bisa hidup jika kau mati Paula?"


Paula mengabaikan ucapan Dimas dan lebih memilih untuk tidur. Wanita itu bahkan sampai menutup semua tubuhnya dengan selimut.


"Tidurlah, aku akan kembali lagi nanti. Aku membawakan mu buah-buahan, kau bisa makan nanti setelah kau bangun" kata Dimas dan berlalu pergi tak lupa juga ia kembali mengunci kamar itu.


Setelah terdengar suara pintu tertutup, Paula membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya itu. Paula menghela napasnya dalam karena ia merasa sekak karena ulahnya sendiri. Kenapa juga menutup kepalanya dengan selimut ya pasti pengaplah.


Saat Paula sedang mengatur napasnya, tiba-tiba saja ada sebuah ide gila muncul di benaknya. Paula menatap sebuah gelas kaca yang ada di nakal di samping tempat tidurnya.


"Apa aku harus melakukan itu?"


"Kalau aku mati beneran gimana?"


"Tapi, hanya itu satu-satunya cara supaya aku bisa keluar dari kamar ini"


Paula bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Kalau aku menggunakan gelas itu dan melakukannya di sini, Dimas pasti langsung menolong ku dan keadaan ku nanti tidak mengharus 'kan aku di bawa ke rumah sakit"


"Aku harus memastikan Dimas membawa ku ke rumah sakit"


Paula meraih gelas yang ada di atas nakas kemudian melangkah 'kan kakinya menuju kamar mandi yang ada di kamar itu. Paula mengunci pintu kamar mandi itu dari dalam.


Tiga puluh menit berlalu..


Dimas mulai panik karena sudah lama Paula masuk ke dalam kamar mandi namun sampai sekarang ia belum juga keluar.


Biasanya hanya dalam waktu lima belas menit saja Paula menyelesaikan ritual mandinya. Dimas sangat hafal karena ia selalu mengawasi Paula.


Dimas tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam kamar mandi karena memang CCTV hanya ada di dalam kamar tidur saja.


"Kenapa dia lama sekali?"


"Apa terjadi sesuatu dengan Paula?"


"Tidak Dimas, apa yang kau pikir 'kan? Itu tidak mungkin terjadi. Paula orang yang sangat pintar, dia tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu"


Pikiran Dimas sudah di penuhi dengan hal-hal negatif yang terjadi pada Paula.


Dimas pergi ke kamar Paula kemudian membuka kunci kamar itu dan ia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Tok.. Tok..


Dimas mengetuk pintu kamar mandi itu seraya mencoba untuk membukanya tapi tidak bisa karena pintunya terkunci dari dalam. Dimas semakin panik karena dari dalam sana juga tidak terdengar jawaban dari Paula yang terdengar hanya suara gemercik air yang keluar lalu jatuh dari atas shower.


Brak..


Dimas mendobrak pintu kamar mandi itu. Berkali-kali Dimas mendobrak pintu itu sampai pada akhirnya pintu itu terbuka. Dimas masuk ke sana dan..


"Paula.." pekik Dimas.