Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 4 : Masa lalu



"Kau harus bisa melupakannya Paula. Ini sudah satu tahun come on, kau berhak bahagia. Lupakan dia yang sudah menyakiti mu. Kau harus terus melanjutkan hidup mu dan menemukan kebahagian mu"


"Aku takut Kania, aku takut" Paula tidak bisa menahan butiran bening itu untuk tidak keluar. Runtuh sudah pertahanannya. Ia kembali teringat akan masa lalu yang sangat menyakitinya.


"Menangislah, keluarkan semuanya. Tapi setelah ini kau harus bahagia. Sudah cukup selama satu tahun ini kau menderita, tidak lagi"


FLASH BACK ON


Satu tahun yang lalu, Paula menjalin hubungan dengan salah seorang pegawai di Vuitton Grup bahkan mereka bekerja di divisi yang sama. Awal hubungan mereka baik-baik saja tapi setelah 7 bulan berpacaran hubungan itu hancur meninggalkan luka yang mendalam di hati Paula.


Suatu hari saat jam makan siang ketika paula makan di kantor kantin, tiba-tiba saja ada salah satu pegawai yang memberi tau pada Paula, jika dirinya bertemu dengan pacar Paula di salah satu restoran kemarin malam. Pegawai wanita itu juga mengatakan bahwa pacar Paula di sana tidak sendirian, ia terlihat bersama seorang wanita dan mereka terlihat sangat romantis layaknya pasangan yang sedang memadu kasih.


Saat itu Paula tidak langsung percaya dengan perkataan pegawai wanita itu karena ia sangat mepercayai sang kekasih. Paula sangat mencintainya. Ia mencintai lelaki itu teramat dalam. Buta memang, tapi ya mau bagaimana lagi kalau sudah berurusan dengan hati ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Paula apa kau baik-baik saja? Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Kania cemas akan keadaan sahabatnya itu. Saat ini mereka sedang berada di kamar Paula. Kania menginap di rumahnya.


"Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik aja"


"Soal tadi bagaimana?"


"Kania, aku sangat mempercayainya"


"Paula, kau ini terlalu polos. Seenggaknya kau tanyakan padanya, kemana dia kemarin malam dan sama siapa?"


"Sudahlah kau ini sangat cerewet. Aku sudah mengantuk. Aku akan tidur dan jangan lupa sebelum kau tidur matikan dulu lampunya" Paula berbaring lalu menutup badannya dengan selimut.


"Iya bapau"


"Ya semoga saja keyakinan mu itu benar Paula. Kau memang wanita yang sangat baik" batin Kania.


Kania menghela napasnya dalam. Ia kemudian mematikan lampu dan menyusul Paula ke alam mimpi.


Keesokan harinya, Paula dan Kania akan mengantarkan berkas penting ke sekertaris big bos namun saat akan menaiki lift ada yang mengatakan jika lift mengalami sedikit kerusakan dan lagi dalam proses perbaikan.


"Maaf bak, lift dalam proses perbaikan. Mungkin sekitar sepuluh menit lagi selesai" kata teknisi itu.


"Paula gimana ini, kita harus segera mengantarkan dokumen ini, jika tidak pasti kita akan terkena masalah. Kau tau sendiri 'kan bagaimana big bos kita itu" kata Kania.


"Iya juga, bisa-bisa kita di pecat nanti jika kita terlambat mengantarkan dokumennya. Ya terpaksa kita harus menggunakan tangga"


Dengan sangat terpaksa mereka harus menaiki tangga jika tidak ingin di pecat. Namun saat mereka baru saja membuka pintu tangga darurat. Mereka mendengar suara aneh, itu seperti suara decapan orang yang lagi memadu kasih. Suara itu berasal dari lantai bawah.


"Oh, ya ampun. Bagaimana bisa mereka melakukan itu di kantor, apalagi ini di tangga darurat. Kenapa tidak memesan hotel aja sekalian" kata Kania yang merasa sangat risih.


"Ayo Paula, kita hiraukan saja mereka. Kita harus segera mengantarkan dokumen ini" sambungnya lagi lalu berjalan menaiki anak tangga meninggal 'kan Kania.


Entah apa yang di pikirkan Paula, bukannya dia mengikuti Kania menaiki tangga, ia malah mengikuti arah suara itu yang semakin lama semakin terdengar jelas. Paula menuruni anak tangga dan


Deg..


Paula menjatuhkan berkas di tangannya dan sontak kedua orang yang sedang memadu kasih itu kalang kabut terutama sang pria.


Pria itu adalah pacar Paula. Ia sedang berciuman panas dengan seorang pegawai wanita dan Paula sangat mengenal wanita itu. Wanita itu adalah salah satu Resepsionis.


"Paula sayang, ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku bisa jelasin semuanya" pria itu memegang tangan Paula erat dan menatapnya lekat.


"Dasar brengsek" sungut Kania, saat ia melihat ke belakang ia melihat Paula yang malah menuruni tangga lalu ia mengikutunya.


"Lepaskan tangan Paula, pergi kalian dari sini. Menjijikan, pergi kalian" teriak Kania lalu ia mengusir kedua orang brengsek itu.


Setelah kejadian itu Paula tidak masuk kerja selama satu Minggu karena sakit dan ia bahkan sempat di rawat di rumah sakit selama tiga hari. Dan ketika Paula kembali bekerja, ia mengetahui jika kedua orang yang sudah memberikan luka di hatinya itu sudah tidak bekerja lagi di sana. Entah apa yang terjadi? Tapi paula sangat bersyukur karena ia tidak harus bertemu lagi dengan mereka.


Karena itulah Paula menutup diri dan hatinya. Ia merasakan trauma yang sangat dalam. Ia sangat takut hal itu akan terulang lagi. Jadi dia lebih memilih untuk sendiri selama satu tahun ini. Sampai saat ini belum ada pria yang mampu menyembuhkan luka di hatinya itu dan ia sangat berharap suatu hari nanti akan ada orang yang menjadi alasan dari kebahagiaannya.


FLASH BACK OFF


Setelah lelah menangis Paula akhirnya tertidur, Kania juga ikut tertidur. Paula beruntung memiliki sahabat seperti Kania yang selalu menemaninya dalam keadaan apapun. Ia sangat bersyukur akan hal itu.


Keesokan paginya..


"Aaaaaa..." teriak Paula.


Mendengar teriakan Paula, Kania yang masing tertidur lelap sontak langsung membuka matanya.


"Paula kau ini, pagi-pagi udah rusuh aja" kesal Kania dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kania, kita dalam masalah" panik Paula.


"Emmm.. Masalah apa?" Kania Masih mengumpulkan nyawanya.


Paula menunjukkan jam weker pada Kania dan Kania sontak membulatkan matanya sempurna. Ini sudah jam delapan pagi dan mereka masih bergelut dengan selimut. Tadi malam mereka tidur jam tiga pagi.


"Habislah kita, jika tidak potong gajih ya kita harus siap-siap untuk di pecat"


Setelah lima belas menit akhirnya mereka telah siap untuk bekerja walaupun sudah sangat terlambat.


"Lah kenapa kalian masih ada di rumah? Apa kalian gak kerja?" tanya Mayang yang melihat putri dan sahabatnya itu turun dari tangga dengan terburu-buru.


"Mama kenapa gak bangunin kita?" tanya Paula.


"Iya tante, kita jadi terlambat 'kan?" timpal Kania.


"Mama pikir kalian udah berangkat, soalnya tadi mama pergi ke pasar"


"Ah mama ini, ya udah kita berangkat sekarang" kata Paula pamit.


"Kalian tidak sarapan dulu?"


"Nanti aja ma di kantor. Ini udah terlambat banget"


"Ya sudah hati-hati, jangan ngebut"


"Iya ma"


"Siap tante"


Di kantor..


"Bagaimana? Apakah semuanya sudah siap?" tanya Malvin pada Leon asisten pribadinya.


"Sudah tuan" kata Leon.


"Pastikan semuanya sempurna dan ingat jangan sampai ada flas kamera. Saya tidak ingin kejadian semalam terulang lagi"


"Baik tuan"