
Malvin mengeluarkan kotak cincin dari saku jasnya kemudian ia memberikan kotak cincin itu pada Paula.
"Ambilah, aku akan menunggu jawaban mu"
"Tapi pak, ini. Bagaimana bisa saya terima ini?"
"Kamu simpan saja cincin itu. Berpikirlah selama yang kamu mau, aku tidak akan memaksa mu. Aku hanya ingin mengatakan satu hal pada mu. Aku tidak main-main. Kamu bisa mempercayai ku"
"Apa pak Malvin tidak marah? Bapak tidak akan memecat saya bukan?"
"Kamu ini, bagaimana bisa aku marah dengan orang yang sangat aku cintai. Dan jika aku memecat mu? Apa yang akan terjadi dengan diri ku? Jika aku merindukan mu bagaimana? Aku pasti akan sangat kehilangan diri mu? Tidak ada hal yang bikin aku semangat untuk datang ke kantor"
Mendengar itu manik mata Paula membulat sempurna, ia tidak tau harus bereaksi seperti apa. Bagaimana bisa sang big bos killer itu menjelma menjadi sang pencinta hanya dalam waktu satu malam?
Malvin mengelus pipi merah merona Paula.
"Aku suka melihat pipi merona mu ini"
Paula memalingkan wajahnya merasa sangat malu.
"Hah.." Paula tersentak ketika Malvin menggenggam tangannya.
"Aku akan mengantar mu pulang"
"Pak Malvin tau dari mana rumah saya?" tanya Paula saat mereka sudah sampai di depan gerbang rumahnya.
Malvin tersenyum. "Masuklah, istirahat dan jangan terlalu di pikirkan soal ini, santai saja. Kita ketemu besok di kantor. Good night my sweety"
Paula terdiam menatap Malvin tanpa berkedip. Pipinya kembali merona.
"Aku suka di tatap terus seperti itu sama kamu. Aku memberi mu ijin untuk menatap ku sepuas hati mu, bahkan jika kamu menginginkan yang lebih pun boleh. Karna aku adalah milik mu"
Paula memalingkan wajah seraya mengipas-ngipas wajahnya itu menggunakan tangan. Entah kenapa wajahnya sangat panas, padahal di dalam mobil mewah milik malvin itu sangat dingin.
"Terimakasih, pak Malvin sudah mengantarkan saya pulang. Saya permisi" Paula membuka seatbeltnya kemudian ia keluar dari mobil lalu masuk ke dalan rumahnya dengan berlari kecil.
"Akh sial, bikin malu saja. Bagaimana bisa aku menghadapinya besok?" batin Paula merutuki kebodohannya karena kedapatan menatap Malvin terlebih lagi dengan pipinya yang merona itu. Dasar mata dan pipi tidak tau diri.
Ting.. Tong..
Paula menekan bel rumahnya tak lama seorang wanita paruh baya terlihat membuka pintu.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Mayang, ibu Paula. Ia melihat mobil Malvin yang masih berada di depan gerbang.
"Oh.. I-itu ma, temen" bohong Paula.
"Bukannya tadi kamu berangkat sama Kania?"
"Kania?"
Paula baru sadar. Di manakah sahabatnya itu sekarang? Ia sampai melupakannya karena kejadian tadi. Paula dan Kania tadi berangkat ke pesta bersama karena Paula malas menyetir.
Paula menepuk jidatnya. "O iya, kania. Bagaimana bisa aku melupakannya?"
"Kamu ini kenapa? Apa yang terjadi?"
"Gak ada ma"
"Ya udah, kamu istirahat sana. Jangan lupa hubungin Kania. Dia pasti nyariin kamu"
"Iya ma"
Paula masuk ke kamarnya kemudian ia mengirim pesan pada Kania, memberitahunya jika ia sudah ada di rumah lalu ia masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
"PAULA..." teriakan terdengar dari lantai bawah ketika Paula baru saja keluar dari kamar madi.
"Dasar cempreng" umpat Paula pada sahabatnya.
Teriakan itu adalah teriakan Kania, ia merasa sangat jengkel karena setelah kejadian mencengang 'kan di pesta tadi Paula malah menghilang. Kania sangat tau jika wanita yang bersama sang big bos itu adalah Paula. Kania merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Bagaimana bisa sang big bos di tempat mereka bekerja melamar sahabatnya? Apakah itu nyata?
FLASH BACK ON
Sebelum Kejadian mencengang 'kan itu terjadi Kania pergi ke toilet. Dan betapa terkejutnya ia ketika kembali, ia melihat Paula yang sedang berdansa dengan seseorang. Saat itu Malvin masih mengenakan Topeng.
"Bukankah itu Paula? Siapa pria yang berdansa dengannya?" tanya Kania pada dirinya sendiri.
Saat Malvin membuka topengnya, Kania membulatkan matanya sempurna.
"Paula apa yang kau lakukan? Bagaimana kau bisa berdansa dengannya?"
"Oh My God, what happened? This is impossible"
Kania tidak tau lagi harus bereaksi seperti apa? Ia hanya bisa terdiam melihat semuanya. Ia bahkan sampai terdorong kesana kesini ketika wartawan berkumpul untuk mengabadikan momen itu. Sampai pada akhirnya ia tidak bisa melihat lagi sahabat itu dan ketika sekumpulan wartawan itu mulai memisahkan diri ia tidak bisa melihat Paula di mana pun, sahabatnya itu menghilang.
"Dimana dia?" tanya Kania kebingungan.
Setelah pesta itu berakhir, Kania pergi dengan rasa penasaran yang sangat tinggi. Ia mencoba menghubungi Paula namun tidak di angkat.
Ketika Kania mendapatkan pesan Dari Paula, ia langsung saja pergi ke rumah sahabatnya itu yang jaraknya hanya terhalang beberapa rumah saja dengan rumahnya.
FLASH BACK OFF
Brak..
"PAULA.." Kania membuka pintu kamar Paula dengan sangat keras.
"Kania, bisa tidak ketuk pintu dulu sebelum masuk kamar orang? Menyebalkan"
"Kau yang menyebalkan, kau sangat menyebalkan Paula. Aku gak mau tau sekarang kau jelaskan semuanya. Jelaskan sejelas-jelasnya" Kania merasa kesal juga penasaran.
"Kenapa kau menghilang? Pergi kemana kau tanpa memberitahu ku hah? Kau tau aku mencari mu kemana-mana. Kau juga tidak mengangkat telephone dari ku. Dasar menyebalkan. Kau tau aku hampir mati karena penasaran" sambungnya lagi.
"Tenang dulu Kania, oh ya ampun. Kau ini sangat cerewet"
"Bagaimana aku bisa tenang hah?" sungut Kania. Ia sungguh sudah sangat penasaran.
"Kau tenanglah, bagaimana aku bisa cerita jika kau terus nyerocos gitu"
"Ok baiklah, aku akan diam. Sekarang kau ceritakan, semuanya"
"Apa? Jadi dia beneran melamar mu?" tanya Kania tidak percaya ketika sudah mendengar semua cerita Paula dari awal Paula berdansa bersama Malvin sampai Malvin mengantar Paula pulang.
"Aku sendiri masih bingung, aku masih tidak mempercayainya. Ini sangat sulit untuk di percaya. Kania apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Jika kau saja bingung, bagaimana dengan diri ku? Kau ini"
Ting..
Tiba-tiba terdengar nada pesan masuk di ponsel Paula dan betapa terkejutnya ia ketika membaca pesan itu, ia lantas melempar ponselnya ke atas kasur.
"Siapa yang mengirim mu pesan? Kenapa kau sangat terkejut?" tanya Kania penasaran. Ia kemudian mengambil ponsel Paula dan membaca pesannya.
* Mimpi indah my sweety😍
Selamat tidur
I love you ❤
Malvin Mark Vuitton
"APA?? Apakah dia benar big bos kita?" tanya Kania.
"Entah lah.. Sungguh ini membuatku sangat frustasi. Bagaimana bisa aku menghadapinya besok? Kania aku harus apa?"
"Apa keputusan mu? Kau akan terima atau kau tolak lamarannya?" tanya Kania.
"Aku gak tau? Bagaimana menurut mu?"
"Jika yang di lamar itu aku, aku akan langsung menerimanya saat itu juga"
"Hahh.. Kau ini. Aku serius Kania!"
"Aku juga serius Paula. Kau ini sangat bodoh, di luar sana para wanita berlomba-lomba hanya untuk mendapatkan perhatiannya saja. Nah di sini kamu malah ragu untuk menerima lamarannya"
"Ini gak semudah yang kamu bayangkan Kania sayang. Ini masalah serius, aku gak mau menyesal nantinya"
"Bagaimana kau bisa menyesal, jika kau menikahi pewaris Vuitton Grup yang ada kau akan sangat bahagia Paula sayang dan hidup mu akan terjamin"
"Ini bukan masalah harta tapi ini masalah hati. Memang benar jika aku menikah dengannya hidup ku akan terjamin tapi tidak dengan kebahagiaan ku. Belum tentu aku bahagia hidup bersamanya"
"Aku mengerti ketakutan mu itu Paula. Kau juga harus ingat, tidak semua laki-laki itu brengsek ada juga yang baik, yang tulus mencintai mu dan yang aku lihat pak Malvin itu tulus mencintai mu, jika tidak dia tidak akan mungkin melamar mu di depan banyak orang dan dia juga bahkan memperlakukan mu layaknya seorang putri"
"Ya semoga saja"