Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 11 : Stella Beraksi



Setelah selesai makan Kania dan Stella tidak langsung balik ke kantor, mereka masih betah berada di restoran karena cuaca siang hari ini terasa sangat panas.


Mereka memakan ice cream sembari berbincang. Lebih tepatnya sih Stella yang tidak berhenti berbicara. Bersama Stella, Kania yang sangat cerewet itu mendadak diam, ia hanya mendengarkan Stella saja yang sedari tadi bicara tentang gosip yang lagi hangat di perbincangkan di kantor.


Stella membicarakan gosip tentang seorang kepala staff yang berselingkuh dengan seorang office girl. Kania hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja mendengar cerita Stella sembari menikmati ice creamnya.


"Iya Kania, perselingkuhan itu terjadi saat si office girl tidak sengaja menumpahkan kopi panas di celana kepala staff itu. Tepatnya sih di area pahanya. Karena panik si office girl spontan membersihkan celana si kepala staff dengan tangannya. Dan itu malah membuat si kepala staff terangsang. Setelah itu si kepala staff langsung menerkan si office girl itu tanpa ampun. Dan sialnya ketika mereka sedang bercinta tiba-tiba saja istri si kepala staff yang juga pegawai itu masuk ke ruangan dan ia memergoki suaminya itu sedang bercinta dengan seorang office girl. Kania kau tau setelah itu apa yang terjadi?"


"Ya apa lagi, mereka pasti berpisah. Istrinya pasti langsung meminta cerai pada suaminya. Istri mana yang bisa terima jika suaminya itu berselingkuh"


Stella tertawa sedangkan Kania merasa bingung, kenapa Stella malah tertawa mendengar jawabannya? Apa ada yang lucu?


"Kau salah Stella. Mereka tidak berpisah"


"Ya itu berarti istrinya sangat baik, ia memberikan kesempatan kedua untuk suaminya. Ia pasti sangat mencintai suaminya itu dan memilih untuk mempertahankan rumah tangganya"


Mendengar jawaban Kania, Stella kembali tertawa bahkan kali ini ini tertawa cukup keras sampai orang-orang yang berada di restoran itu pun melihat ke arah mereka.


"Stella kau ini kenpa? Apa kau sudah gila? Kau tidak malu? Lihatlah orang-orang memperhatikan kita" kesal Kania, ia merasa sangat malu.


"Iya, maaf Kania. Haahh.." Stella menghela napas dalam untuk menetralkan dirinya. "Kania kau ini sangat polos" sambungnya lagi.


"Apa maksud mu?"


"Kania, mereka berpisah bukan karena Istrinya itu baik dan sangat mencintai suaminya. Mereka berdua itu sama saja"


"Sama saja?"


"Iya, sama saja. Sama-sama selingkuh"


"Apa? Kok bisa?"


Kania membulatkan matanya. Awalnya ia memang tidak begitu tertarik dengan gosip yang di ceritakan Stella. Tapi setelah Stella mulai cerita ia mulai tertarik dan penasaran bagaimana kisah perselingkuhan itu berakhir.


"Setelah istrinya memergoki suaminya berselingkuh mereka memang sempat bertengkar. Bahkan mereka bertengkar di kantor dan menjadi tontonan para pegawai lainnya. Tapi besoknya, saat si suami ingin meminta maaf pada sang istri. Ia malah memergoki istrinya yang juga selingkuh. Si istri berselingkuh dengan seorang pegawai yang jauh lebih muda"


"Wah kau serius? Jadi mereka mereka sama-sama selingkuh, itu sebabnya mereka tidak berpisah karena mereka sama saja. Sungguh hubungan yang luar biasa" Kania menganga tidak percaya.


"Iya dan setelah terbongkarnya perselingkuhan mereka berdua kini mereka terlihat lebih harmonis bahkan di umur mereka yang sudah tidak muda lagi. Kania lihatlah pasangan di belakang kamu" kata Stella.


Kania membalikan badannya dan ia melihat pasangan yang sedang saling menyuapi itu.


"Mereka adalah pasangan yang sedang kita bicarakan 'kan" sambung Stella.


"Apa? Jadi, pasangan yang sama-sama selingkuh itu mereka?" pekik Kania.


Stella mengangguk 'kan kepalanya.


"Apa kau sudah gila? Bagaimana jika nanti mereka dengar ucapan kita?"


"Kau memang tidak waras. Bagaimana bisa kau membicarakan aib orang lain di depan orangnya langsung?"


Kania dan Stella tertawa geli.


"Ekhm.. Kania. Paula ke mana? Kenapa dia tidak masuk?" tanya Stella akhirnya. Ia mulai melancarkan aksinya. Stella rasa ini adalah waktu yang tepat untuk mengorek informasi tentang Paula.


"Paula ijin, dia pergi ke rumah sakit" jawab Paula santai.


"Paula kenapa? Dia sakit?"


"Bukan dia yang sakit, tapi tunangannya"


Setelah mengatakan itu Kania berdehem. Kania terlihat salah tingkah dan itu sangat di sadari oleh Stella.


"Oh, ya ampun Kania. Apa yang kau lakukan?" batin Kania merutuki kebodohannya itu.


Untung saja Kania tidak menyebutkan nama, ia hanya bilang tunangannya Paula. Bagaimana jika tadi Kania menyebutkan nama Malvin, habislah sudah dia kena amarah Paula bahkan mungkin Malvin juga akan memarahinya. Tidak, itu adalah mimpi buruk untuk Kania.


"Tunangan? Paula sudah bertunangan?"


Kania sudah tidak tau lagi harus mengatakan apa. Kania terlihat sangat panik tapi dia berusaha sangat keras mengontrol ekspresi wajah dan dirinya untuk tetap tenang.


"Stella, sepertinya kita harus segera balik ke kantor, jam makan siang sebentar lagi habis" kata Kania melihat jam tangannya. Ia mencoba untuk menghindari pertanyaan dari Stella.


"Kau benar, kita harus balik ke kantor sekarang juga" Stella juga melihat jam tangannya.


Kania dan Stella keluar dari restoran itu. Karena jarak restoran itu dekat dengan kantor. Mereka kembali ke kantor dengan berjalan kaki.


"Stella kau harus sabar. Kau harus bermain cantik supaya Kania tidak curiga. Rencana mu ini sudah mulai berhasil. Sekarang kau tau jika Paula sudah bertunangan. Kau hanya perlu mencari tau siapa tunangan Paula itu? Apakah dia adalah pak Malvin? Jika itu benar maka misi mu untuk membongkar identitas Michelle berhasil" batin Stella.


Di ruangannya Stella fokus menatap layar laptopnya. Ia menatap layar laptopnya bukan karena dia sedang mengerjakan tugasnya melainkan ia sedang melihat foto Malvin bersama Paula saat di pesta dansa malam itu yang masih beredar di internet. Stella sedang mengatur rencana untuk membongkar sosok Michelle yang ia yakini itu adalah Paula.


"Insting ku gak pernah salah. Aku yakin banget dia adalah Paula" gumam Stella sembari menunjuk wajah Paula di layar laptopnya.


Kini Stella melihat foto saat Malvin berlutut untuk melamar Paula. Stella men-zoom gambar di bagian cincinnya. Ia memperhatikan cincin itu dan mengingatnya di kepala.


"Saat Paula kembali bekerja nanti, aku harus melihat jari manisnya. Aku yakin sekali Paula akan memakai cincin ini dan jika itu benar aku akan mendapatkan bukti yang sangat sempurna. Aku akan membongkar siapa sosok Michelle itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Paula"


"Dan aku bisa membuktikan pada ketiga orang itu bahwa kecurigaan ku ini benar dan membungkam mulut mereka semua" kesal Stella pada ketiga teman gosipnya itu.


"Aku sangat kesal. Bagaimana bisa mereka tidak mempercayai ku. Apakah benar mereka itu adalah teman ku?"


"Ck! Dasar menyebalkan. Lihat saja nanti, akan aku pastikan kalian meminta maaf pada ku karena sudah tidak mempercayai ucapan ku dan malah menertawai ku"


Sementara itu Kania juga tidak bisa fokus mengerjakan pekerjaannya. Ia masih memikirkan tentang kebodohannya itu. Bagaimana bisa ia keceplosan mengatakan jika Paula sudah bertunangan di depan Stella, salah satu dari geng wanita pembuat gosip. Dan sudah dapat ia pastikan, paling lambat besok gosip itu akan sudah tersebar luas di kantor.


Kania hanya bisa berharap jika hal itu tidak di sangkut pautkan dengan Malvin. Ya semoga saja.