Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 39 : Apartemen



Malvin menggendong Paula ala bridal style masuk ke kamar. Dengan perlahan Malvin membaring 'kan Paula di kasur king size miliknya.


Malvin berada di atas tubuh Paula. Awalnya Malvin hanya mencium bibir Paula tapi lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi ******* yang menggairahkan.


Paula mengalungkan tangannya di leher Malvin. Paula membuka mulutnya memberi akses pada Malvin untuk menjelajahi bagian dalam rongga mulutnya.


Malvin melepaskan lumatannya sebelum kewarasannya benar-benar menghilang. Napas mereka memburu.


"Sayang, kita sudahi ini sekarang" kata Malvin seraya membaringkan badannya di sebelah Paula.


Entah kenapa Paula merasa sangat kehilangan. Ia tidak ingin ini berakhir dengan cepat.


"Kenapa?" tanya Paula.


"Aku tidak bisa menahannya lagi" Malvin menutup matanya.


"Lanjutkan saja" kata Paula yang sontak membuat Malvin membuka matanya.


Paula memiringkan badannya kemudian memeluk Malvin.


'Lanjutkan saja' maksud Paula adalah ciumannya. Paula tidak memikirkan hal yang lain tetapi berbeda dengan Malvin, laki-laki itu bahkan sekarang pikirannya sudah di penuhi dengan hal-hal mesum.


"S-sayang.." pekik Malvin tertahan.


Sungguh Malvin tidak mengerti apa yang terjadi dengan kelinci kecilnya itu. Biasanya hanya ciuman saja Paula masih malu-malu. Tapi sekarang apa? Paula malah yang lebih dulu berinisiatif. Jika sudah seperti ini, apa yang Malvin harus lakukan?


"Sayang.."


Paula tidak menjawab, ia malah semakin mengeratkan pelukannya. Entah kenapa tiba-tiba saja Paula merasa ngantuk, ia ingin tidur. Pelukan Malvin terasa sangat nyaman.


"Oh.. ****!!" batin Malvin ketika ia merasakan miliknya di bawah sana mulai bereaksi karena sentuhan Paula.


"Sayang, kamu udah buat dia bangun"


Paula mengernyitkan kedua alisnya kemudian ia mendongakan kepalanya menatap Malvin.


"Bangun? Siapa yang bangun?" tanya Paula polos.


Malvin terkekeh mendengar pertanyaan polos Paula itu kemudian ia menunjuk ke arah selangkangannya dan Paula mengikuti arah yang di tunjuk Malvin.


"Aaaa.."


Teriak Paula saat melihat sesuatu di bawah sana yang sudah berdiri.


Sungguh Paula tidak tau, jika apa yang di lakukannya itu akan membuat milik Malvin bereaksi. Paula hanya ingin tidur di pelukan Malvin. Itu saja.


Paula dan Malvin bangun dari tidurnya. Paula berdiri di sisi tempat tidur sedangkan Malvin duduk di tempat tidur.


Paula memalingkan wajahnya yang kini wajahnya itu terlihat persis seperti kepiting rebus.


"Sayang, kamu harus bertanggung jawab. Kau sudah membangunkannya dan kau juga yang harus menidurkannya kembali"


"Dasar mesum!!" pekik Paula kemudian ia berlari keluar dari kamar itu.


Malvin terkekeh. "Haahh.. Sabar ya boy, sepertinya kita harus menyelesaikan ini di kamar mandi"


Sementara itu Paula berada di dapur. Paula mengambil air dingin di lemari es kemudian meneguknya langsung dari botol.


"Hah.. Panas banget"


Paula kembali meneguk air itu sampai tandas.


Tanpa sadar Paula kembali membayangkan milik Malvin yang berdiri tadi.


"Oh ya ampun.. Itu sangat besar" Paula bergidik ngeri.


Kini otak Paula sudah di penuhi dengan hal-hal mesum. Bahkan ia sampai membayangkan miliknya dan milik Malvin bersatu.


"Paula, ada apa dengan dirimu? Kenapa kau malah membayangkan hal seperti itu"


Paula memegang kedua pipinya sendiri yang terasa sangat panas.


"Kau memang sudah gila Paula!!"


Setengah jam berlalu..


Malvin keluar dari kamar dan mendapati Paula yang sedang tertidur di sofa. Entah sejak kapan Paula tertidur di sana, tadinya ia sedang menonton televisi.


Malvin menggendong Paula ala bridal style kemudian membawanya ke kamar. Di tidurkannya Paula di kasur king size miliknya kemudian ia menyilimuti Paula.


Di restoran..


Jennie masuk ke dalam restoran dan ia melihat rekan kerjanya juga berada di sana. Jennie hanya menyapanya saja karena ia tidak terlalu dekat dengan mereka. Jennie kemudian duduk di meja yang kosong.


"Kania bukankah itu Jennie, asisten pribadinya Paula?" tanya Stella.


"Iya" jawab Kania.


"Eh.. Itu, bukankah itu Marissa dan Angel?" tanya Dini menunjuk dua orang wanita yang sedang berjalan ke arah Jennie.


Kania mengepalkan kedua tangannya. Kania masih marah pada Marissa dan Angel yang telah menyerang sahabat baiknya. Kania tidak terima, ia akan membalas perbuatan mereka.


Kania kemudian berjalan ke meja mereka dengan membawa dua gelas jus miliknya dan milik Stella.


Byur..


Kania menumpahkan ke dua jus yang di bawanya itu ke badan Marissa dan Angel.


"Itu adalah balasan karena kau sudah berani menghina sahabat ku" kata Kania sinis.


Sungguh ini bukanlah sifat Kania. Kania sendiri tidak menyangka ia bisa bersikap seperti itu.


"Oh My God" kata Dona.


"Apa itu Kania?" tanya Melly.


"Itu sangat keren" kata Dini.


"Girls bersiaplah" kata Stella.


Stella yakin ini akan menjadi perang kedua di antara para pegawai Vuitton Grup.


Tapi tidak, itu tidak terjadi. Karena Marissa dan Angel tidak terlihat marah sama sekali, mereka menerima perlakuan Kania begitu saja. Sungguh itu sangat di luar dugaan. Apa yang terjadi? Bukankah seharusnya Marissa dan Angel marah?


"Kania, kau tenanglah dulu. Aku tau kau sangat marah, tapi tolong dengarkan penjelasan mereka. Mereka sudah menyesali perbuatan mereka" kata Jennie menenangkan Kania dan menuntun Kania untuk duduk di sebelahnya.


Kania mengatur napasnya menetralisir amarah yang sudah menguasai dirinya. Tidak butuh waktu lama kania pun mulai tenang.


Alasan Jennie bertemu dengan Marissa dan Angel adalah untuk membantu mereka meminta maaf pada Paula. Awalnya Jennie menolak tapi karena mau bagaimana pun mereka adalah temannya jadi Jennie memutuskan untuk membantunya dan mereka juga sudah menyesali perbuatan yang telah mereka lakukan pada Paula.


"Kita benar-benar menyesal Kania, kita ingin meminta maaf pada Paula" kata Marissa.


"Iya Kania, bantulah kita" kata Angel.


"Bantulah mereka Kania, aku ingin membantu mereka tapi kau 'kan tau aku hanya asisten pribadi Paula, kau 'kan sahabatnya, kau pasti bisa membantu mereka" kata Jennie.


"Jen, apa kau yakin mereka benar-benar sudah menyesali perbuatan mereka dan ingin meminta maaf pada Paula?" tanya Kania curiga.


"Percayalah pada ku, aku sudah lama mengenal mereka Kania" jawab Jennie yakin.


"Baiklah, aku akan membatu kalian. Besok kita akan pergi ke rumah Paula"


"Terimakasih Kania" kata Marissa dan Angel.


Euunghhh..


Perlahan Paula membuka matanya kemudian ia mengedarkan pandangannya. "Kamar? Bukannya tadi aku ada di sofa?"


Paula merasakan tangan kokoh Malvin memeluk pinggangnya. "Sudah berapa lama aku tertidur?"


Haaa..


Kaget Paula saat melihat ke arah jendela yang ternyata langit sudah mulai gelap.


"Kak Mark, bangun!! Kita harus pulang sekarang" Paula menepuk-nepuk lengan Malvin yang ada di perutnya.


Bukannya bangun Malvin malah semakin mempererat pelukannya.


"Kak Mark kita harus pulang"


"Malam ini kita tidur di sini aja"


"Kak Mark!!"


"Iya.. Iya sayang, kita pulang sekarang. Tapi kita mandi dulu. Kita mandi bareng aja sayang, gimana? Itu hukuman kamu karena tadi sudah membiarkan aku menyelesaikannya sendiri"


"Kak Mark!!!!!"