Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 28 : Keributan di Toilet



Saat ini Leon dan Jennie sudah berada di ruangan Malvin. Malvin dan Paula duduk di sofa sedangkan Leon dan Jennie berdiri di hadapannya.


"Sayang, kamu pergilah dengan Jennie ke salon" kata Malvin.


"Untuk apa?" tanya Jennie.


"Malam ini kita akan makan malam bersama keluarga ku sayang"


"Apa? Mereka sudah kembali?"


"Iya, kemarin malam"


"Tapi kenapa kak Mark baru kasih tau aku sekarang?"


"Semalam aku ingin memberitahu mu tapi karena Kania datang dan menceritakan tentang gosip itu aku jadi marah terus aku lupa"


Paula menghela napasnya dalam. "Ck! Dasar!" Paula mencebikkan bibirnya.


"Pergilah, persiapkan diri mu tampil yang cantik. Buat calon mertua mu merasa terpukau akan kecantikan mu" goda Malvin


"Kak Mark!"


"Aku akan menjemput mu nanti" Malvin mengecup kening Paula.


"Iya"


Paula dan Jennie pergi dari ruangan itu meninggalkan Malvin dan Leon yang terlihat sangat canggung.


Malvin bangkit dari duduknya kemudian ia berjalan ke kursi kebesarannya. Malvin mengabaikan Leon seakan ia tidak ada di sana.


"Tuan, soal tadi.." kata Leon.


"Kapan jadwal meeting bersama klien dari Macau?" tanya Malvin memotong ucapan Leon.


"Tiga puluh menit lagi mereka akan sampai tuan" jawab Leon. "Tuan soal yang tadi saya.." sambungnya lagi.


"Tidak usah di bahas" Malvin kembali memotong ucapan Leon.


"Baik tuan. Saya hanya ingin meminta maaf"


"Kali ini saya memaafkan mu. Jangan di ulangi lagi"


"Terimakasih tuan, saya akan mengingatnya"


"Pergilah, siapkan meetingnya"


"Baik, saya permisi" Kata Leon membungkuk hormat dan berlalu pergi.


Sementara itu Paula dan Jennie sedang berjalan di lobi dan hendak keluar kantor.


"Jen, aku ke toilet dulu" kata Paula.


"Baiklah, ayo" kata Jennie.


"Kau tunggulah di sini"


"Tapi.."


"Tunggulah, aku akan segera kembali" kata Paula dan berlalu pergi.


Paula pergi ke toilet pegawai. Saat Paula membuka pintu ia melihat ada Marissa dan Angel yang sedang memperbaiki riasan mereka.


Marissa dan Angel menatap Paula dengan tatapan tidak suka. Paula mengabaikan mereka dan langsung masuk ke bilik toilet. Tak lama Paula keluar dan langsung mencuci tangannya di wastafel.


"Heh j*l*ng.." kata Marissa menatap sinis Paula. Paula diam.


Setelah kejadian tadi pagi, Marissa dan Angel menjadi semakin tidak suka dengan Paula.


"Apa kau tuli hah!" sentak Marissa.


Paula menghela napasnya dalam kemudian ia melihat ke arah Marissa.


"Kau berbicara dengan ku" Paula menunjuk dirinya sendiri.


"Memangnya ada j****g lain selain kau di sini?"


Paula menghela napasnya dalam mencoba untuk menahan emosinya. Ia tidak ingin membuat keributan.


Paula tersenyum manis. "Ada apa ya?"


"Dari luar terlihat seperti wanita terhormat tapi nyatanya wanita rendahan" ejek Marissa.


"Iya, dasar munafik" kata Angel.


Paula mengabaikan ucapan dua wanita itu dan memilih untuk segera keluar dari toilet. Tapi saat Paula akan membuka pintu, Marissa menghalanginya. Wanita itu berdiri tepat di depan pintu.


"Permisi, saya harus pergi" kata Paula.


Marissa dan Angel tertawa.


"Mau kalian apa sih?" tanya Paula yang mulai kesal.


"Jauhi pak Malvin" kata Marissa.


"Iya, jauhi pak Malvin. Kau ini 'kan tunangannya asisten Leon jadi stop, jangan tebar pesona di hadapan pak Malvin" kata Angel.


Paula tersenyum. "Haah.. Kak Mark lihatlah para wanita ini. Mereka sebegitunya tergila-gila pada mu" kata Paula dalam hatinya.


"Kenapa kau tersenyum? Kau mengejek kita?" tanya Marissa membentak.


"Tidak"


"Kau pikir kita bodoh hah?" Marissa sudah sangat marah.


Marissa hendak melayangkan tangannya pada Paula tetapi tertahan karena ada seseorang yang membuka pintu toilet.


"Oh ya ampun, Marissa apa yang kau lakukan?" tanya Jennie panik ketika melihat tangan Marissa yang terangkat di udara.


Jennie merasa ada sesuatu hal yang terjadi pada Paula di toilet. Karena sudah lima belas menit Paula belum juga kembali dan benar saja saat Jennie tiba di toilet, ada dua harimau yang akan siap menerkam Paula.


"Marissa turunkan tangan mu! Jangan sakiti Paula!" sentak Jennie.


"Kenapa? Bukankah kau juga pernah menyakiti Paula? Kenapa sekarang kau malah membelanya?" tanya Marissa sinis.


"Marissa aku sudah memperingatkan mu" kata Jennie.


Jennie ingin sekali berteriak, mengatakan pada dua temannya itu jika Paula adalah tunangannya pak Malvin. Tapi tidak bisa ia lakukan, ia hanya bisa memperingatkan ke dua temannya itu.


"Jennie, kau kenapa sih? Kenapa kau berubah? Bukannya kau juga tidak menyukai Paula tapi kenapa sekarang kau malah membelanya?" tanya Angel.


"Aku mohon sama kalian berdua, pergilah sekarang. Jangan ganggu Paula" kata Jennie.


"Heh j****g, ini gara-gara kau Jennie jadi berubah. Aku tidak akan mengampuni mu?" kata Marissa.


"Aww.." pekik Paula karena Marissa tiba-tiba saja menjambak rambutnya.


"Marissa! Lepas!" teriak Jennie berusaha menarik tangan Marissa dari rambut Paula.


"Jen, kau gak usah ikut campur" Angel menjauhkan Jenni dari Marissa dan Paula.


"Aw.." pekik Paula.


"Ini balasannya karena kau berani tebar pesona di hadapan pak Malvin" Marisa menarik rambut Paula sangat kencang hingga kepala Paula tertarik ke belakang.


"Aww..." pekik Paula lagi.


"Dan ini balasannya karena kau teman kita jadi berubah" Marissa kembali menarik rambut Paula kali ini lebih keras dari sebelumnya.


"Marissa!" teriak Jennie.


"Aww.." pekik Marissa karena tiba-tiba saja Jennie menjambaknya. "Jen, lepas sakit aw.." sambungnya lagi.


"Aku akan lepas tapi kau juga harus melepaskan Paula"


"Iya.. Iya.."


Marissa melepaskan jambakannya di rambut Paula begitu juga dengan Jennie melepaskan jambakannya di rambut Marissa.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Jennie.


"Iya" jawab Paula.


"Jen, kau ini kenapa sih? Kenapa kau sangat membela ****** ini?" tanya Marissa seraya menunjuk Paula.


"Marissa stop! Ini sudah keterlaluan" teriak Jennie.


"Jen sudahlah, kita pergi saja dari sini" kata Paula.


"Tapi.."


"Kita pergi sekarang"


"Baiklah"


Marissa tertawa. "Di bayar berapa kau jen sama j****g ini? Kau sangat patuh padanya. Apa dia membagi penghasilannya saat menjadi j****g pak Malvin?"


Plak..


Satu tamparan mendarat mulus di pipi Marissa. Paula menampar Marissa dengan sangat keras. Dari tadi Paula sudah berusaha menahan emosinya tapi kini ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Perkataan Marissa sungguh sangat menyakiti hatinya.


Plak..


Satu tamparan mendarat mulus di pipi Paula. Karena tidak terima, Marissa membalas tampar Paula.


Perkelahian di antara mereka pun tidak bisa di hindari lagi. Mereka saling menampar dan juga menjambak. Tidak ada yang mau mengalah dari keduanya. Mereka bertarung dengan sengitnya. Bahkan kini Jennie dan Angel pun ikut dalam perkelahian itu. Suasana di dalam toilet kini sudah seperti arena tinju.