Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 24 : Asisten Pribadi Paula



"Kau di pecat!"


Tiga kata yang keluar dari mulut Malvin itu berhasil membuat mata Jennie membulat sempurna.


"Ha.. Di pecat?" tanya Jennie kaget sekaligus bingung.


"Apa saya harus mengulangi ucapan saya?"


"T-tapi pak, kenapa saya di pecat? Salah saya apa?"


Leon menunjukkan rekaman CCTV dari tab yang di pegangnya. Jennie membekap mulutnya sendiri saat melihat rekaman CCTV itu. Di sana terlihat sangat jelas saat Jennie dengan sengaja melepas tangan Paula hingga membuatnya terjatuh.


"Perusahaan ku tidak sudi mempekerjakan orang anarkis seperti diri mu" sarkas Malvin.


"Pak Malvin, i-itu tidak seperti yang terlihat. Itu tidak di sengaja. Saat itu tangan saya licin dan tangan Paula terlepas begitu saja dari genggaman saya" kata Jennie mencoba untuk membela diri walau kenyataannya itu memang di sengaja.


"Pak Malvin tidak bisa memecat saya begitu saja. Bapak harus mendengar penjelasan saya terlebih dahulu. Bapak harus adil, bapak tidak boleh memihak pada siapa pun" entah dari mana Jennie mendapat keberanian hingga ia bisa berkata seperti itu di depan Malvin.


Malvin menyeringai. "Harus adil? Baiklah"


Malvin bangkit dari duduknya kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kamar rahasia dan Malvin membuka pintu kamar itu.


"Masuklah" titah Malvin.


"Ha?" kaget Jennie. Pikiran wanita itu sudah traveling ke mana-mana.


"Masuk!" sentak Malvin.


Tubuh Jennie bergetar mendengar sentakan Malvin. Ia sangat takut. Wanita itu sekilas melihat ke arah Leon berharap laki-laki itu akan membantunya tapi Leon sama sekali tidak bereaksi.


Dengan langkah tertatih Jennie menuruti perintah Malvin dan saat Jennie berdiri tepat di ambang pintu, langkahnya terhenti. Manik mata Jennie nyaris jatuh saat melihat sosok yang sangat di kenalanya berbaring di tempat tidur.


"Paula!" teriak Jennie.


"Pelankan suara mu" kata Malvin.


Jennie mengedipkan kedua matanya berkali-kali, ia memastikan yang di lihatnya nyata atau hanya imajinasinya saja.


"Kau lihatlah dia, lihat tangannya. Kau sudah membuatnya terluka" Malvin menunjuk tangan Paula yang terlihat sedikit membengkak.


"Apa tadi kau bilang? Saya harus adil. Ok baiklah, saya akan bersikap adi. Saya tidak akan memecat mu"


Jennie menghela napasnya lega karena Malvin tidak jadi memecatnya. "Terimakasih pak Malvin"


"Sebagai bos kamu, saya tidak akan memecat mu. Tapi sebagai kekasih Paula, saya tidak akan bisa terima jika ada orang yang menyakitinya" kata Malvin penuh penekanan.


"Apa!" kaget Jennie.


"Saya bilang, pelankan suara mu" peringat Malvin.


"Euungghhh.."


Teriakan Jennie berhasil membuat Paula terusik dari tidurnya. Dengan perlahan Paula membuka matanya.


"Kak Mark.."


"Iya sayang, aku di sini" Malvin duduk di sisi tempat tidur kemudian mengelus pipi Paula lembut. Paula mengecup tangan Malvin yang ada di pipinya.


"Hahh.."


Napas Jennie terasa tercekat saat melihat interaksi antara Malvin dan Paula yang terlihat sangat romantis. Jennie tidak mempercayai apa yang di lihatnya. Wanita itu bahkan sampai jalan mundur keluar dari kamar.


"Jennie.."


"Sayang, kau bersihkanlah diri mu dulu. Pakaian mu ada di lemari" kata Malvin kemudian laki-laki itu keluar dari kamar.


Setelah lima belas menit Paula keluar dari kamar. Ia melihat Jennie yang berdiri dengan wajah yang entahlah wanita itu terlihat sedih tapi juga terlihat bingung. Sedangkan Malvin duduk di sofa dan asisten Leon berdiri di samping Malvin.


"Sayang, duduklah" kata Malvin mengalihkan perhatian Paula yang sedang menatap Jennie.


Paula duduk di samping Malvin. "Kak Mark, ini ada apa? Apa yang terjadi?" tanyanya kemudian.


Malvin merangkul pinggang Paula kemudian ia menatap tajam ke arah Jennie yang tertunduk.


"Seperti yang saya bilang tadi. Sebagai bos, saya tidak akan memecat mu. Tapi sebagai kekasih Paula, saya tidak akan bisa terima jika ada orang yang menyakitinya" Malvin menjeda kalimatnya kemudian menatap sendu ke arah Paula.


"Jika ada orang yang menyakiti Paula sama saja orang itu menyakiti diri ku" sambungnya kemudian.


"Aku akan memproses ini secara hukum" tegas Malvin.


"Apa?" kaget Jennie. Tubuh wanita itu terlihat bergetar karena ketakutan. "Tidak, jangan pak Malvin saya mohon. Jangan laporkan saya pada polisi" lirihnya kemudian. Butiran bening itu sudah mengalir deras keluar dari manik matanya.


"Saya mengaku, saya salah. Saya memang sengaja melepas tangan Paula, tapi saya tidak tau jika itu akan menyakiti Paula. Saya benar-benar minta maaf, saya tidak berniat menyakiti Paula" akhirnya Jennie mengakui kesalahannya berharap Malvin akan merubah keputusannya.


Malvin tersenyum sinis. "Sekarang kau mengakuinya, bukankah tadi kau menyangkalnya. Tapi baguslah, saya tidak usah repot-repot menjelaskannya pada Polisi, kau saja yang langsung menjelaskannya"


"Pak Malvin, saya mohon maaf 'kan saya. Saya benar-benar minta maaf. Saya menyesal" Jennie berlutut di hadapan Malvin.


"Kak Mark sudahlah terima aja permintaan maaf Jennie. Tidak usah sampai seperti ini. Kasihan dia" bujuk Paula yang tidak tega melihat Jennie memohon sambil berlutut seperti itu. Rasanya sungguh tidak pantas melihat seorang wanita berlutut meminta pengampunan hanya karena kesalahan kecil saja. Itu yang Paula rasakan.


"Tapi sayang, kamu dengar sendiri 'kan tadi. Dia sengaja melepas tangan mu, dia memang berniat untuk menyakiti diri mu. Melihat semua itu, Bagaimana bisa aku memaafkan dia? Dia harus mendapatkan balasan atas apa yang sudah di lakukannya."


"Iya dia emang salah, tapi dia sudah mengakui kesalahannya dan dia juga menyesali perbuatannya. Maaf 'kan lah dia kak Mark, aku mohon"


"Sssttt.." Malvin meletakkan jari telunjuknya di bibir Paula. "Jangan memohon pada ku seperti itu sayang. Jangan pernah memohon pada ku dan pada siapa pun. Kamu mengerti" sambungnya lagi.


Malvin menghela napasnya dalam. "Baiklah, aku memaafkan dia. Tapi dia harus mengundurkan diri dari perusahaan ini" putus Malvin.


"Kak Mark.."


"Terimakasih pak Malvin, sudah mau memaafkan saya. Saya akan turuti permintaan pak Malvin, saya akan mengundurkan diri dari perusahaan ini" kata Jennie


Bukankah ini jauh lebih baik dari pada harus di penjara. Jennie juga sangat bersyukur karena Malvin juga tidak memecatnya karena jika itu sampai terjadi sudah dapat di pastikan ia akan susah mencari pekerjaan nantinya. Mengundurkan diri adalah jalan terbaik untuk jennie saat ini. Jennie mengakui kesalahannya, tidak seharusnya dirinya berbuat seperti itu pada Paula. Jennie menerima keputusan Malvin dan ia pantas mendapatkan semua itu.


"Ini adalah hari terakhir saya bekerja di perusahaan ini. Besok saya akan menyerahkan surat pengunduran diri saya secara resmi"


"Tidak Jennie, kau jangan mengundurkan diri" cegah Paula.


"Tidak apa-apa Paula, kau sangat baik. Aku minta maaf, aku sangat menyesal"


"Jika kau sangat menyesal, lakukan sesuatu untuk ku"


"Baiklah katakan, apa mau mu?"


"Batalkan pengunduran diri mu dan jadilah asisten pribadi ku"


"Sayang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Malvin.


"Bukankah tadi kak Mark bilang, jika Jennie harus mendaptkan balasan atas apa yang sudah di lakukannya. Jennie berbuat salah pada ku bukan? Jadi aku yang akan membalaskan apa yang sudah di lakukannya pada ku dan aku sudah memutuskan, selama tangan ku sakit Jennie akan menjadi asisten pribadi ku"


"Bagaimana bisa itu di sebut sebagai balasan atas perbuatannya? Tidak, aku tidak akan mengijinkannya. Baiklah Jennie, kau tidak usah mengundurkan diri dari perusahaan ini. Saya juga tidak akan memecat mu dan saya juga tidak akan melaporkan mu pada Polisi"


Yang benar saja bagaimana bisa Paula menjadikan Jennie sebagai asisten pribadinya. Bagaimana jika nanti Jennie kembali melakukan hal yang sama pada Paula? Atau bahkan mungkin jauh lebih berbahaya dari sebelumnya. Memikirkannya saja sudah membuat Malvin gila bagaimana jika itu benar-benar terjadi. Setelah ini Malvin harus benar-benar mengawasi Jennie.