
FLASH BACK ON
Seminggu sebelum pesta anniversary 50th Vuitton Grup di adakan. Malvin datang ke rumah Paula untuk membicarakan acara lamaran bersama Mayang dan Raihan. Paula saat itu sedang bekerja.
"Jadi, Malvin. Kamu sudah yakin akan melamar Paula saat pesta nanti?" tanya Mayang.
"Iya tan, aku sangat yakin" jawab Malvin.
"Tapi, apa ini gak terlalu cepat? Kamu tau juga 'kan, Paula masih trauma dengan kejadian itu?"
"Tante tenang aja, aku akan meyakinkan Paula"
"Aku bingung deh vin sama kamu. Kamu itu 'kan seorang big bos, kok bisa kamu suka sama Paula? Padahal 'kan kalau kamu mau, kamu bisa dapetin perempuan yang jauh lebih cantik dari Paula" kata Raihan yang sontak mendapatkan pelototan dari Mayang.
"Raihan, kau memang kakak yang kejam" kata Malvin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sudahlah kita hiraukan saja ucapannya. Mungkin dia sirik karena adiknya sebentar lagi akan menikah sedangkan dirinya masih aja men-jomblo" ledek Mayang pada anak laki-lakinya itu. Mayang sengaja berbicara seperti itu supaya Raihan mulai memikirkan masalah pernikahannya juga.
"Siapa yang sirik?" kata Raihan.
"Makanya cari pacar, ya kalau bisa langsung calon istri. Masih suka perempuan 'kan?" kata Malvin.
"Ya masih lah, aku masih normal" sungut Raihan menatap sengit Malvin.
"Kalau gitu buktiin dong. Cepat bawa calon mantu mama ke sini" tantang Mayang.
"Ok, Raihan akan kenalin calon istri Raihan ke mama. Secepatnya"
"Janji"
"Iya, Rai janji"
"Mama tunggu" Mayang tersenyum puas.
"Mama udah puas 'kan? Sekarang kita balik lagi ke masalah lamarannya Paula. Bisa?"
Malvin dan Mayang tertawa puas.
"Ini tan" Malvin memberikan sebuah kotak berukuran sedang pada Mayang.
"Apa ini?" tanya Mayang.
"Ini gaun dan juga topeng untuk Paula kenakan nanti tan"
"Baiklah, tante akan berikan ini pada Paula"
"Terimakasih tan dan tante juga harus pastiin Paula memakai gaun dan juga topeng ini"
"Kenapa gitu?" tanya Mayang.
"Biar nanti aku lebih gampang untuk cari Paulanya tan"
"O.. Jadi gitu. Payah" ejek Raihan pada Malvin.
"Apa maksud kamu?" tanya Malvin yang tidak terima dengan ejekan Raihan.
"Nih.. Ambil gaun dan juga topengnya, Paula tidak akan memakai itu" Raihan memberikan kembali kotak itu pada Malvin. Malvin dan Mayang mengernyitkan kedua alisnya bingung.
"Jika kamu berhasil menemukan Paula tanpa gaun dan topeng itu, aku terima kamu jadi adik ipar aku. Tapi jika kamu gagal, jangan harap kamu bisa menikahi Paula" tantang Raihan menyeringai.
"Ok. Kau lihat saja nanti. Aku akan berhasil menemukan Paula tanpa gaun dan topeng itu" kata Malvin menerima tantangan Raihan. "Bahkan dengan menutup mata pun aku mampu untuk menemukan Paula" sambungnya.
"Hati-hati, jangan sampai salah. Nanti yang kau lamar malah orang lain, bukan Paula"
"Itu tidak akan terjadi. Lamaran ku nanti pasti akan berhasil" kata Malvin yakin. Ia pun langsung pamit untuk kembali ke kantor.
"Raihan, apa yang kamu lakukan? Bagaimana jika nanti terjadi masalah seperti yang kamu bilang tadi?" kata Mayang khawatir.
"Mama tenang aja, aku kenal sahabat ku itu. Dia gak mungkin salah. Aku tau dia sangat mencintai adik ku" kata Raihan tersenyum.
Seminggu kemudian..
Malvin sudah sampai di hotel tempat di adakannya pesta itu. Malvin mengedarkan pandangannya untuk mencari di mana keberadaan Paula. Tidak butuh waktu lama Malvin sudah berhasil menemukan Paula yang tengah berdiri sendiri menggunakan red dress lengkap dengan topeng goldnya.
"Aku menemukan mu. Bersiaplah sayang. Malam ini akan menjadi malam yang sangat istimewa untuk kita berdua" batin Malvin tersenyum.
Malvin dengan yakin melangkah 'kan kakinya. Ia berjalan mendekati Paula untuk mengajaknya berdansa.
FLASH BACK OFF
Setelah selesai makan malam Paula, Malvin, Raihan dan Mayang berada di ruang keluarga. Mayang bercerita pada Paula.
"Jadi mama sama kak Raihan udah tau tentang lamaran itu? Hanya aku yang gak tau apa-apa di sini" kata Paula cemberut.
"Ya 'kan di sini kamu yang jadi bintang utamanya, sayang" kata Mayang.
"Tetap aja nyebelin" kesal Paula.
"Rai, lihat deh mereka. Apa kamu gak iri?" tanya Mayang.
"Untuk apa aku iri?" jawab Raihan acuh.
"Ehh.. Kak Rai, emang kakak udah punya pacar?" tanya Paula, ia mengingat kembali cerita Mayang tadi yang katanya Raihan akan secepatnya mengenalkan calon istrinya.
"Ya udah lah" jawab Raihan.
"Siapa?"
"Mau tau aja, apa mau tau banget?"
"Kak Rai" Paula melempar Rai dengan bantal kecil yang ada di sofa.
"Kalian ini terus saja bertengkar" kata Mayang. Ia teringat kembali masa kecil kedua anaknya itu. Mereka memang selalu saja bertengkar.
"Rai, aku sudah menyelesaikan tantangan mu itu. Sekarang giliran kamu, buktikan janji mu itu" kata Malvin.
"Janji apa?" elak Raihan.
"Janji yang kamu buat sama mama" kata Mayang penuh penekanan.
"Oh itu.. Iya nanti pasti Rai tepatin janjinya Rai sama mama" kata Raihan kikuk.
Sebenarnya Raihan tidak bersungguh-sungguh saat itu. Ia hanya asal ucap saja supaya mamanya senang.
"Sial.. Kenapa bisa jadi begini? Apa yang harus aku lakukan? Siapa yang akan aku kenalin ke mama? Pacar aja belum punya apa lagi calon istri. Dasar Raihan bodoh" batin Raihan merutuki dirinya sendiri.
Angin malam berhembus menerbangkan rambut indah Paula saat ini ia sedang menikmati suasana malam di balkon kamarnya.
Paula tersentak saat tangan kokoh Malvin memeluk pinggangnya dari belakang.
"Kak Mark, Kenapa di sini? Ayo kita masuk ke dalam. Angin malam gak bagus buat kak Mark" kata Paula, ia menarik tangan Malvin masuk ke dalam kamar Paula.
"Aku boleh tidur di sini?" tanya Malvin.
"Gak boleh" kata Paula cepat.
Malvin tersenyum. "Aku gak bisa tidur kalau gak sama kamu"
"Sebelumnya juga gak sama aku, kamu masih bisa tidur"
"Itu dulu sayang, sekarang aku gak bisa kalau tidur gak sama kamu"
"Mana bisa gitu, udah deh sekarang kak Mark kembali ke kamar. Kak mark harus istirahat"
"Ayolah sayang. Udah dua malam ini kita tidur bareng, aku udah terbiasa tidur sama kamu"
Paula menghela napasnya dalam. "Ya udah, tapi janji hanya tidur aja"
"Paling cium doang"
"Kak Mark!"
"Iya sayang, aku janji. Tapi cium boleh 'kan?"
"Udah ah, aku mau tidur" Paula membaringkan badannya.
Malvin mengikuti Paula, ia juga membaringkan badannya di sebelah Paula. Malvin memeluk Paula yang tidur membelakanginya dari belakang. Malvin mengecup-ngecup tengkuk Paula.
"Kak Mark!" Paula membalik 'kan badannya menghadap Malvin.
Malvin dan Paula bertatapan. Dengan perlahan Malvin mendekatkan wajahnya ke wajah Paula. Dengan lembut Malvin mencium bibir Paula. Paula terbuai ia lantas membalas ciuman Malvin dan
Brak..
Seseorang membuka pintu kamar Paula dengan keras yang sontak menghentikan ciuman Paula dan Malvin kemudian mereka melihat ke arah pintu.
"Pau.. OH MY GOD.. Ini terjadi lagi" kata Kania membelalakan matanya.
Sudah menjadi Kebiasaan Kania memang, tidak pernah mengetuk pintu dulu saat akan masuk ke kamar Paula.
"Maaf, aku akan kembali lagi nanti" sesal Kania, ia menutup kembali pintu kamar Paula.
"Haahh.. Hari itu aku melihat mereka tidur bersama di dalam mobil, sekarang melihat mereka ciuman di dalam kamar. Entah setelah ini aku akan melihat apa lagi?" gumam Kania.
"Sahabat mu itu selalu saja memergoki kita, dia selalu ada di mana-mana" keluh Malvin. Paula tersenyum.
"Sana kamu temuin Kania" kata Malvin.
"Ya udah, kak Mark langsung tidur aja"
"Mmm"