
Ruangan Malvin..
"Kenapa dia lama sekali?" tanya Malvin khawatir karena sudah lebih dari tiga puluh menit Paula belum juga kembali.
Malvin memanggil Leon dan tak lama laki-laki itu masuk ke ruangan Malvin.
"Di mana Paula?"
"Bukankah tadi tuan memintanya untuk memfotocopy berkas"
"Iya, tapi dia belum kembali. Ini sudah lebih dari tiga puluh menit"
"Tuan tenanglah, aku akan mencarinya"
Sementara itu Paula berada di klinik kantor bersama Kania dan Jennie. Dokter baru saja selesai mengobati tangan Paula. Untung saja cedera tangan Paula tidak terlalu parah jadi cukup hanya di kompres saja dan Dokter juga sebelumnya sudah memberi Paula obat pereda nyeri.
"Paula, maaf. Aku benar-benar tidak sengaja" sesal Jennie.
"Aku tau Jennie, tidak apa-apa. Kau pergilah, lanjutkan pekerjaan mu"
"Terimakasih" kata Jennie dan berlalu pergi.
"Bagaimana? Apa masih sakit?" tanya Kania.
"Sedikit"
"Kau mau ke mana?" tanya Kania yang melihat Paula hendak pergi.
"Aku harus segera kembali, jika tidak akan terjadi masalah nanti"
"Tapi, tangan mu.."
"Sudah, tidak apa-apa"
"Bagaimana jika pak Malvin tau"
"Dia tidak boleh tau, kau jangan memberitaunya" kata Paula dan berlalu pergi.
"Paula!"
Saat Paula keluar dari lift dan akan masuk ke ruangan Malvin, ia berpapasan dengan Leon yang baru saja keluar dari ruangan Malvin.
"Nona Paula" kata Leon yang sedikit terkejut dan juga merasa lega.
"Kau kenapa asisten Leon? Iya ini aku Paula, kau melihat ku seperti melihat hantu saja"
"Maaf nona"
"Ada apa?"
"Tuan Malvin, mencari nona"
"Baiklah, aku akan menemuinya" kata Paula dan langsung masuk ke ruangan Malvin.
"Sepertinya ada yang di sembunyikan nona Paula" batin Leon yang entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari sikap Paula.
Leon hendak pergi ke luar kantor dan saat ia berpapasan dengan geng wanita pembuat gosip Dona, Melly dan Dini. Leon terkejut ketika mendengar apa yang mereka bicarakan dan sontak ia langsung menghentikan langkahnya.
"Apa yang kalian bilang tadi? Nona Paula terluka" tanya Leon menatap tajam ke tiga wanita itu.
"Asisten Leon!"
Dona, Melly dan Dini terkejut ketika Leon berbicara dengan mereka. Karena ini untuk pertama kalinya Leon berbicara pada mereka. Leon terkenal sebagai asisten yang kaku dan sangat irit ketika berbicara. Leon bahkan lebih cocok menjadi robot dari pada manusia.
"Ceritakan apa yang terjadi dengan nona Paula?"
Ketiga wanita itu menceritakan kejadian yang terjadi pada Paula. Leon mengeraskan rangangnya ketika ia mendengar cerita mereka.
"Akh.. Sial. Bagaimana bisa aku kecolongan? Aku kira di dalam kantor akan aman untuk nona Paula tapi ternyata malah jauh lebih berbahaya" batin Leon dan berlalu pergi meninggalkan ketiga wanita yang nampak kebingungan itu.
"Apa kalian lihat tadi, asisten Leon terlihat sangat marah" kata Dini.
"Iya, dia sangat marah" kata Melly.
"Yang jadi pertanyaan, kenapa asisten Leon terlihat sangat marah saat mendengar Paula terluka? Apa jangan-jangan asisten Leon adalah tunangannya Paula?" tebak Dona.
Ketiga wanita itu saling menatap dan..
Aaaaa...
Mereka berteriak senang karena mereka akhirnya tau siapa tunangan Paula. Mereka sudah sangat yakin jika asisten Leon adalah tunangan Paula.
"Rahasia tidak akan selamanya menjadi rahasia. Cepat atau lambat rahasia itu pasti akan terbongkar" kata Dona.
"Jadi laki-laki yang mengantar Paula waktu itu adalah asisten Leon. Oh ya ampun, bagaimana bisa kita tidak menyadarinya?" kata Dini.
"Baiklah, waktunya kita beraksi. Ini akan menjadi berita yang sangat fenomenal" kata Melly.
Ruangan Malvin..
"Eoh.. I-itu aku, mmm.. Kania, aku ketemu Kania" bohong Paula.
Malvin menatap lekat Paula. "Benarkah? Sayang.. Kamu sangat mencurigakan"
"Aku tidak menyembunyikan apa pun"
Malvin tersenyum kemudian ia menggenggam tangan Paula.
Awww..
Teriak Paula saat Malvin menyentuh pergelangan tangannya yang terkilir.
"Sayang, kamu kenpa? Kenapa berteriak? Apa kamu sakit? Apa yang sakit? Katakan pada ku" panik Malvin dengan rentetan pertanyaannya.
"Kak Mark tenanglah, aku tidak apa-apa"
"Tidak, kamu berbohong. Sayang cepat katakan, kamu kenapa? Jawab aku atau aku akan menanyakannya pada semua orang di kantor ini"
Paula menghela napasnya dalam. "Aku terjatuh dan tangan ku terkilir"
"Apa?"
"Kak Mark tenanglah, tangan ku hanya terkilir"
"Bagaimana aku bisa tenang, kamu terluka sayang" Malvin mengambil ponsel di saku jasnya.
"Kak Mark mau apa?" tanya Paula.
"Panggil Dokter sayang, apa lagi?"
"Gak usah. Aku tadi udah di kasih obat sama Dokter di klinik kantor"
Aaa..
Teriak Paula saat Malvin menggendongnya la bridal style dan langsung membawanya ke kamar yang ada di dalam ruangan Malvin.
Malvin membaringkan Paula di tempat tidur. "Istirahatlah"
"Kak Mark, aku baik-baik aja"
"Apa perlu kita ke rumah sakit sekarang" ancam Malvin.
"Aku akan istirahat" Paula membaringkan badannya.
Malvin menyelimuti Paula. "Tidurlah, aku akan segera kembali"
"Kak Mark mau ke mana?"
"Aku akan kembali bekerja. Tidurlah"
Malvin mengelus-elus kepala Paula dan tak lama Paula sudah masuk ke alam mimpinya.
Malvin ke luar dari kamar itu kemudian ia duduk di kursi kebesarannya. Wajah laki-laki itu terlihat sangat marah.
Tok..
Tok..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar dan tak lama terlihat asisten Leon masuk ke ruangan Malvin.
Leon menghela napasnya dalam ketika ia melihat wajah Malvin yang mengeras. Hanya dengan melihat wajahnya saja, Leon tau jika Malvin sudah mengetahui apa yang terjadi dengan Paula.
"Bagaiman itu bisa terjadi?" tanya Malvin.
"Ini tuan" Leon memberikan tab berisi rekaman CCTV yang merekam kejadian Paula terjatuh.
Setelah mendengar cerita dari geng pembuat gosip tadi, Leon langsung pergi ke ruangan CCTV.
Malvin melihat rekaman CCTV itu. Laki-laki itu mengepalkan tangannya saat melihat Jennie dengan sengaja melepas tangan Paula saat ia akan membantu Paula untuk berdiri. Terlebih lagi saat manik mata Malvin melihat bibir Jennie yang tersenyum puas saat melihat Paula terjatuh.
Brak..
Malvin meletakan tab itu di atas meja dengan kasar hingga menimbulkan suara yang lumayan keras. Malvin sudah sangat marah. Laki-laki itu mengendurkan dasinya dan melepas satu kancing kemejanya.
"Berani sekali dia" dada Malvin naik turun menahan amarahnya.
"Bawa dia ke sini" titah Malvin menyeringai.
"Baik tuan" kata Leon menunduk hormat dan berlalu pergi.
Tak lama Leon kembali dan ia datang bersama Jennie.
Saat berhadapan dengan Malvin, Jennie hanya bisa menunduk 'kan kepalanya. Wanita itu tidak berani melihat wajah Malvin yang terlihat sangat menakutkan. Walau begitu ketampanannya tidak luntur satu persen pun. Itu menurut Jennie yang sesekali mencuri-curi pandang melihat wajah Malvin.
Jantung Jennie berdetak dua kali lebih cepat. Ia tidak tau kenapa ia di panggil untuk berhadapan langsung dengan sang big bos. Di satu sisi ia senang karena ini untuk pertama kalinya ia bisa melihat wajah tampan Malvin secara dekat, tapi di sisi lain ia merasa takut. Jennie bahkan sampai memutar ingatannya kembali, apakah ia melakukan kesalahan atau tidak dalam pekerjaannya.