
"Tahukah kamu bahwa ada hampir delapan miliar orang di bumi ini? Dan dari semuanya, aku memilih mu... Aku tidak memintamu hanya untuk menikah denganku. Aku memintamu untuk memegang tangan ku saat kita memulai babak baru dalam hidup kita. Aku di sini untuk perjalanan panjang. Aku di sini untuk berdiri di samping mu, melanjutkan perjalanan hidup bersama mu sampai akhir. Aku di sini sekarang, dan akan di sini selamanya"
"Aku Malvin Mark Vuitton memintamu untuk menjadi ibu dari anak-anak ku dan menua bersama ku?" pria itu menatap manik mata hazel wanita di hadapannya lekat. Tidak ada keraguan maupun kebohongan yang terpancar dari manik matanya yang ada hanya rasa cinta yang begitu tulus terpancar di sana.
Melihat peristiwa yang bersejarah di keluarga Vuitton tersebut, tentu saja Para pewarta pencari berita tidak ingin kehilangan satu momen pun. Mereka terus saja memotret momen yang bisa di bilang langka itu hingga menimbulkan kilatan cahaya yang terlihat seperti kilatan cahaya saat ada petir.
"Aaaa.." Paula teriak ketakutan. Karena ia takut petir.
Malvin tersentak, tak lama ia menyadari alasan ketakutan Paula dan langsung merengkuh Paula masuk ke dalam dekapannya. Memberikan rasa nyaman untuk wanitanya.
"Tenanglah. Itu bukan cahaya petir, itu hanya flash kamera. Sekarang tutup mata mu, jangan takut aku ada di sini" Malvin semakin mengeratkan dekapannya.
Merasa keadaan sudah semakin tak terkendali, di tambah lagi para wartawan yang semakin menggila seperti singa yang sudah mendapatkan buruannya. Akhirnya Malvin memutuskan untuk meninggalkan tempat itu seraya menggendong paula ala bridal style menerobos kerumunan wartawan yang terus saja memotret mereka. Para bodyguard yang mengawal pun sedikit kewalahan menghadapinya.
"P-pak Malvin.. Bisa bapak turunkan saya?" kata Paula yang masih berada dalam gendongan Malvin. Mereka saat ini berada di dalam lift.
"Maafkan aku" kata Malvin menyesal.
"Maksud bapak?"
"Maafkan aku, aku berjanji ini tidak akan terjadi lagi.. Aku berjanji"
"Dia kenapa? Kenapa dia meminta maaf?" batin Paula. Sungguh ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Apa ini mimpi? Jika ya.. Tapi kenapa rasanya sangat nyata? Jika tidak.. Apakah ini mungkin?
Ting..
Ketika pintu lift terbuka mata Paula membulat sempurna. Terlihat kelopak mawar merah yang membentuk sebuah jalan dan di ujungnya terlihat sebuah meja yang sudah di hias begitu indah.
Paula menatap Malvin. Banyak sekali pertanyaan yang muncul di benaknya. Tapi ia tidak mampu untuk mengutarakannya. Seakan mulutnya terkunci dan kuncinya hilang.
Malvin yang masih menggendong Paula, berjalan di atas kelopak mawar itu. Manik matanya terus saja menatap wajah Paula yang masih tertutup topeng. Paula mengalihkan pandangannya ia tidak sanggup jika harus terus bertatapan dengan Malvin. Untung saja wajahnya tertutup topeng jika tidak, ia akan merasa sangat malu karena pasti saat ini wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
Malvin menurunkan Paula dan membantunya untuk duduk di kursi setelah itu ia juga ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan Paula. Di meja sudah terhidang sajian makan malam.
Ketika Malvin memotong steak, entah kenapa di mata Paula itu terlihat sangat menawan. Urat-urat tangannya terlihat sangat sexy. Senyum terus saja menghiasi wajah tampannya. Sungguh itu pemandangan yang sangat memabuk 'kan.
"Makanlah" kata Malvin. Ia menukar piring Paula dengan piringnya.
Mendapat perlakuan seperti itu tentu saja hati Paula terenyuh. Ia tidak bisa mendengar suara apapun selain suara debaran jantungnya yang berpacu dengan sangat cepat seperti sedang berlari maraton.
Melihat Paula tak bereaksi sama sekali, Malvin tersenyum gemas. Ia tau apa yang ada di dalam pikirankan Paula saat ini.
"Aku tau apa yang sedang kamu pikirkan. Pasti banyak sekali pertanyaan yang ingin kamu tanyakan pada ku. Aku pasti akan menjawab semua pertanyaan mu itu. Tapi untuk sekarang, makanlah dulu. Aku tau kamu belum makan"
Paula hanya mengangguk 'kan kepalanya kemudian ia mulai memasuk 'kan potongan steak yang sudah di potong Malvin sebelumnya ke dalam mulutnya. Mereka makan malam dengan tenang, sunyi hanya ada suara dentingan alat makan yang saling beradu.
Deg..
Paula mematung saat ibu jari Malvin menyentuh bibirnya untuk menyeka saus di sana lalu Malvin memasuk 'kan ibu jari ke dalam mulutnya, ia memakan saus itu. Wajah Malvin berada tepat di depan wajahnya. Mereka baru saja selesai makan.
"Manis" kata Malvin setelah mengeluarkan ibu jari dari mulutnya. Paula menelan ludahnya melihat itu.
Paula berdehem untuk menetralkan hatinya lalu menghela napas dalam untuk menormalkan detak jantungnya. Kegiatan Paula itu tidak lepas dari pengamatan Malvin. Merasa gemas ia lantas mengelus lembut pucuk kepala Paula.
"Gimana keadaan mu sekarang?" tanya Malvin.
"Maksudnya?"
"Bukankah tadi kamu ketakutan?"
"Darimana dia tau aku takut petir?" batin Paula saat mengingat kejadian tadi.
"Syukurlah. Paula, sekarang kamu bisa tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan"
"Pak Malvin, apa semua ini? Apa maksudnya" setelah mengumpulkan keberaniannya akhirnya Paula bertanya.
"Aku rasa di usia mu saat ini, kamu pasti memahami semuanya"
"Ck! tadi di suruh nanya, sekarang giliran di tanya jawabannya sungguh sangat membantu. Emang dasar bos nyebelin" batin Paula kesal.
"Iya tapi, apa itu mungkin?" tanya Paula.
"Kamu pikir aku bercanda?"
"Maaf" lirih Paula. Ia menundukan kepalanya.
"Paula, lihat aku. Apa kamu tidak mempercayai ucapan ku?" Malvin memegang tangan Paula yang ada di atas meja.
Paula menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja saya tidak mengerti, kenapa saya?"
"Because I Love You, Paula Michelle Zourist"
Mendengar itu Paula, hahh entahlah rasanya nano-nano.
"Kenapa pak Malvin bisa mencintai saya?" tanya Paula yang masih belum bisa percaya.
"Apa kita perlu alasan untuk mencintai seseorang?"
"Bukan itu maksud saya"
"Terus apa? Apa alasan kamu tidak mempercayai ucapan aku?"
"Bagaimana bisa pak Malvin mencintai saya? Padahal 'kan kita tidak mengenal satu sama lain secara pribadi. Selama saya bekerja pun saya hanya melihat pak Malvin sesekali bahkan kita sama sekali tidak pernah saling berkomunikasi dalam segi apapun. Karena memang hubungan kita hanya sebatas atasan dan bawahan saja. Melihat semua itu, apa bapak pikir saya akan langsung mempercayai ucapan bapak? Maaf jika saya bersikap tidak sopan dan saya mohon jika pak Malvin hanya main-main, tolong hentikan sekarang juga." Paula mengatup 'kan kedua tangannya di depan dada.
"Paula lihat aku, tatap aku. Apa kamu tau siapa aku?" tanya Malvin yang hanya di jawab angguk 'kan kepala oleh Vaula.
"Siapa aku?" tanya Malvin lagi.
"Kenapa dia bertanya seperti itu? Bukankah sudah jelas, dasar aneh" umpat Paula dalam hati.
"Malvin Mark Vuitton pemimpin Vuitton Grup" kata Paula lantang.
Mendengar jawaban Paula, Malvin menghela napasnya dalam. Kemudian ia berdiri lalu berjalan mendekati Paula. Malvin membuka topeng yang masih menutupi wajah cantik Paula.
"Apa yang bapak lakukan?" Paula mulai merasa was-was.
Malvin tersenyum.
"Aku akan menanyakan pertanyaan yang sama lain kali. Dan aku akan pastikan jawaban kamu itu akan berubah"
"Maksud bapak?"
"Aku mengerti, ini terlalu cepat untuk mu. Dan aku akan menunggu mu sampai kamu siap"
Paula mengernyitkan dahinya. Sungguh ia tidak tau apa yang terjadi dengan bosnya ini. Ia sama sekali tidak mengerti ucapannya. Ini sangat membingungkan.