Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 31 : Pembalasan



Sania menatap tajam ke arah Marissa dan Angel.


Plak.. Plak..


Plak.. Plak..


Tanpa berkata Sania menampar kedua wanita itu secara bergantian. Masing-masing mendapatkan dua tamparan. Marissa dan Angel hanya bisa meringis menahan perih di kedua pipinya. Kedua wanita itu sangat tau jika wanita paruh baya yang berdiri di hadapan mereka saat ini adalah nyonya besar Vuitton.


"Nyonya maafkan kami. Kami benar-benar tidak tau jika Paula itu calon istrinya pak Malvin" sesal Marissa.


"Iya nyonya maafkan kami. Kasih kami kesempatan satu kali lagi. Jangan pecat kami nyonya" sesal Angel.


Sania tersenyum sinis. "Saya sangat mengenal wanita macam kalian ini. Cantik di luar tapi busuk di dalam. Saya tidak punya waktu berurusan sama kalian. Cepat pergilah dan jangan pernah kembali lagi ke kantor ini" katanya kemudian.


Kedua bodyguard itu kembali menyeret Marissa dan Angel sampai benar-benar mereka menjauh dari gedung Vuitton Grup.


Setelah itu Sania dan Leon pergi ke rumah sakit.


"Aw.." ringis Stella. "Itu pasti sakit pake banget tuh" sambungnya lagi.


"Stella aku gak mau tau, kamu harus ceritain semua yang kamu tau tentang hubungan Paula dan pak Malvin" kata Dona memaksa.


Melly dan Dini pun mengangguk 'kan kepalanya kompak mengiyakan perkataan Dona.


"Iya nanti aku ceritain, tapi sekarang kita harus kembali bekerja jika tidak kena marah kita nanti" kata Stella.


Akhirnya semua pegawai pun kembali bekerja. Suasana kantor juga kembali normal seakan tidak terjadi sesuatu di sana. Kini semuanya juga sudah tau siapa calon istri sang big bos yakni Paula rekan kerja mereka sendiri.


Mulai sekarang mereka harus berhati-hati saat bersikap dengan Paula karena jika sampai mereka melakukan kesalahan dan membuat Paula dalam masalah sudah dapat di pastikan nasib mereka akan berakhir sama seperti Marissa dan Angel atau mungkin bahkan jauh lebih parah.


Di rumah sakit..


"Oh god"


Jennie menutup mulutnya sendiri ketika melihat video saat Marissa dan Angel di seret ke luar gedung dan saat nyonya besar Vuitton menampar mereka bahkan sampai dua kali.


"Jen, ada apa?" tanya Paula sedang memakan buah apel.


"Ini lihatlah" Jennie memberikan ponselnya pada Paula.


Paula membulatkan matanya sempurna saat melihat video itu.


"Sayang, ada apa sih?" tanya Mayang penasaran.


Paula memberikan ponsel Jenni pada Mayang.


"Bagus Sania, kau melakukan hal yang sangat benar" Mayang terlihat sangat marah saat melihat dua wanita yang sudah menghina putri semata pulangnya itu.


"Ma.. Apa ini gak terlalu berlebihan?" tanya Paula.


"Nggak sayang, mereka pantas mendapatkan itu"


"Tapi ma, aku juga salah. Aku yang memulai pertengkaran itu"


"Kamu memang yang memulai pertengkaran itu tapi kamu ngelakuin itu karena orang-orang itu yang menghina kamu duluan 'kan?"


"Iya tapi.."


"Sudahlah sayang, itu bukan karena kamu. Mereka pantas mendapatkan itu. Mereka seperti itu karena memang mereka bukan orang yang baik. Jika mereka orang yang baik, mereka tidak akan menghina mu seperti itu"


"Iya Paula, mama kamu benar. Mereka pantas mendapatkan itu" kata Jennie.


"Jen, maafkan aku" lirih Paula.


"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Jennie.


"Gara-gara aku, kamu juga ikut terlibat dan bahkan sampai terluka. Maaf dan terimakasih karena kamu membela aku tadi"


"Iya. Ini juga 'kan sudah menjadi tugas aku sebagai asisten pribadi kamu"


"Jennie.. Lebih baik sekarang kamu pulang. Kamu juga harus istirahat" kata Mayang.


"Iya Jen, kamu pulang aja" kata Paula.


"Tapi.." Jennie tidak mungkin pergi meninggalkan Paula karena tadi Malvin sudah memintanya untuk tetap bersama Paula selama Malvin pergi.


"Tidak apa-apa Jen, di sini 'kan udah ada mama. Pulanglah, kau juga harus istirahat"


"Baiklah" putus Jennie akhirnya. "Saya permisi" Jennie pamit dan berlalu pergi dari ruangan itu.


"Kak Mark, ada mama" malu Paula. Ia melepaskan pelukannya.


Sedangkan Mayang hanya mengulum senyumnya melihat adegan romantis anak dan calon menantunya itu.


"Ekhm.. Tenggorokan mama rasanya kering banget" Mayang memegang tenggorokannya sendiri. "Sayang, mama mau ke luar beli minuman. Kamu mau nitip sesuatu?" sambungnya kemudian.


Sebenarnya itu hanya alasan saja karena Mayang sebenarnya tidak mau mengganggu pasangan itu. Mereka butuh waktu berdua untuk berbicara.


"Gak ada ma" kata Paula.


"Ya sudah, mama pergi" kata Mayang dan berlalu pergi.


Setelah mayang pergi Malvin kembali memeluk Paula. Malvin mengecup-ngecup pundak Paula.


"Sayang.."


"Iya"


"Kamu gak marah 'kan dengan keputusan aku? Aku langsung mengumumkan pernikahan kita tanpa ijin kamu dulu"


"Gak apa-apa kak Mark"


"Tapi kamu gak ngerasa di paksa 'kan? Kalau memang kamu belum.."


"Aku siap kak Mark" potong Paula.


Malvin menangkup wajah Paula dan menatapnya dalam. Laki-laki itu menyampirkan rambut Paula ke belakang telinganya. Dengan sangat lembut dan tidak menuntut Malvin mencium bibir Paula.


"I Love You" kata Malvin.


"I Love You Too" kata Paula.


Pasangan itu kembali bercumbu dengan mesranya. Mengungkapkan perasaan cintanya masing-masing lewat ciuman yang sangat dalam.


Mayang kembali dan ia datang bersama Sania yang memang baru saja sampai di rumah sakit bersama Leon.


Saat pintu ruang inap Paula terbuka, di sana menampilkan pasangan yang sedang di mabuk cinta. Malvin sedang memotong dan menyuapi Paula berbagai macam buah.


"Emmm.."


"Asem ya?" tanya Malvin.


"Iya, jeruknya asem banget" kata Paula.


Paula mengambil anggur lalu ia masukkan anggur itu ke dalam mulutnya secara utuh dan itu membuat mulutnya yang kecil menjadi mengembung.


Malvin yang melihatnya merasa gemas kemudian laki-laki itu langsung mencium bibir Paula kemudian ia mengambil anggur itu dari dalam mulut Paula memindahkannha ke dalam mulutnya sendiri.


"Kak Mark"


Malvin menyeringai kemudian ia memakan anggur itu. "Manis" katanya kemudian.


Sementara itu Mayang dan Sania yang diam-diam mengintip dari pintu yang sedikit terbuka merasa senang melihat anak-anaknya bahagia. Sebagai orang tua mereka turut bahagia saat anak yang mereka cintai bahagia karena kebahagiaan orang tua ada pada kebahagiaan anak-anaknya.


"Ekhm.." kedua wanita paruh baya itu berdehem.


"Mama.." pekik Paula.


"Mami.." pekik Malvin.


Sania langsung memeluk calon menantunya itu. "Apa kabar cantik"


"Baik tante" kata Paula.


"Jangan tante dong sayang panggil mami aja"


"Iya, mami" Paula tersenyum.


"Ya ampun.. Wajah cantik menantu mami jadi seperti ini" Sania menatap wajah Paula yang penuh lebam dan luka dengan tatapan sedih.


"Mereka itu memang wanita jahat. Gak ngerti mami, kenapa Malvin mempekerjakan wanita seperti itu di perusahaannya" kesal Sania. "Tapi mami puas, karena mami sudah membalas mereka" sambungnya kemudian.


Malvin mengerutkan kedua alisnya. "Apa yang mami lakukan?" tanyanya kemudian.


Sania tersenyum sinis. "Mami tampar"


Malvin hanya bisa menggeleng 'kan kepalanya mendengar pengakuan orang yang sudah melahirkannya itu.