Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 18 : Makan Malam



Aaa..


Teriakan Paula sampai ke telinga seseorang yang sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan di ruangannya yang berada di lantai yang sama dengan ruangan Paula. Ia merasa penasaran dan kemudian mencari di mana asal sumber suara itu.


Ya.. Orang itu adalah Stella. Stella juga mengerjakan pekerjaannya sampai malam. Sudah beberapa hari ini ia tidak fokus bekerja karena terlalu fokus memikirkan siapa sosok Michelle itu sampai-sampai ia mengabaikan pekerjaannya.


Stella bahkan sudah mendapat teguran dari seniornya dan memintanya untuk menyelesaikan pekerjaannya paling lambat besok pagi. Jadi mau tidak mau Stella harus menyelesaikan pekerjaannya malam ini juga.


Dan di sinilah Stella sekarang di depan ruangan staff administrasi keuangaan mematung melihat adegan percintaan antara Paula dan Malvin. Saking terkejutnya Stella bahkan sampai menjatuhkan ponsel yang di genggamnya.


Brak..


"OH MY GOD"


Mendengar suara yang cukup keras membuat Malvin dan Paula tersentak. Mereka menyudahi ciumannya dengan terpaksa. Mereka mengatur nafasnya yang memburu.


"Suara apa itu?" tanya Malvin.


"Entahlah.. Aku ti.." jawab Paula menggantung.


Paula melihat ke arah luar ruangannya dan di sana ia melihat Stella yang mematung. Wanita itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Tolong periksa juga apa dia masih bernapas.


"Stella.." pekik Paula kemudian.


Paula, Malvin dan Stella kini berada di ruangan Malvin. Mereka duduk di sofa. Malvin duduk bersebelahan dengan Paula sembari terus menggenggam tangannya sedangkan Stella duduk di sofa single.


Tidak ada satu orang pun dari mereka yang berniat membuka mulut. Paula merasa sangat malu, ia tidak tau harus mengatakan apa. Stella juga masih belum bisa menetralkan dirinya dari rasa terkejutnya, ia hanya bisa menundukkan kepalanya.


Sedangkan Malvin, laki-laki itu terlihat santai ia sedang menunggu seseorang siapa lagi kalau bukan asistennya. Leon yang mendapat panggilan dari Malvin pun langsung memutar balik mobilnya kembali ke kantor. Untung saja ia belum terlalu jauh meninggalkan kantor jadi hanya dalam waktu lima menit saja ia sudah berada di hadapan big bosnya itu.


"Ayo sayang, kita pulang" kata Malvin menatap Paula.


"Tapi, ini?"


"Asisten Leon yang akan mengurusnya"


Malvin menggandeng Paula pergi dari ruangan itu tapi sebelum pergi Malvin menatap Leon seakan sedang memberikan sebuah perintah dan Leon mengerti akan hal itu. Leon hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Kini hanya tinggal Leon dan Stella yang ada di ruangan itu. Leon duduk berhadapan dengan Stella.


"Stella Audi" kata Leon datar. Ia membaca data diri Stella dari tab yang ada di tangannya.


Stella masih menundukkan kepalanya. Wanita itu tidak tau harus bereaksi seperti apa.


"Apa yang kau lihat?" tanya Leon.


"Ha?"


"Apa yang kau lihat?" Leon mengulang pertanyaannya penuh penekanan.


"I-ii-itu" Stella tergagap.


"Kau lupakan apa yang sudah kau lihat malam ini. Jika ini sampai bocor, kau orang pertama yang saya cari. Kau mengerti" hardik Leon.


"I-iya, saya mengerti"


"Kau pergilah"


Stella bangkit dari duduknya lalu pergi dengan perasaan yang ahh entahlah campur aduk. Sebelum pergi wanita itu sedikit menundukkan kepalanya.


Sementara itu Malvin dan Paula sudah sampai di rumah. Paula masuk ke kamarnya. Wanita itu melempar tas dan heelsnya ke sembarang arah kemudian merebahkan badannya yang sudah sangat lelah di tempat tidur dan tanpa sadar ia sudah masuk ke alam mimpinya. Paula tertidur.


Malvin masuk ke kamar Paula. Laki-laki itu tersenyum melihat Paula yang tertidur pulas.


Malvin duduk di sisi ranjang, ia membelai lembut kepala Paula. "Sayang bangun" bisik Malvin di telinga Paula.


"Euunggghh.." Paula perlahan membuka matanya. "Kak Mark"


"Bersihkan diri mu, setelah itu kita makan malam"


"Iya"


Paula masuk ke kamar mandi sedangkan Malvin pergi keluar kamar tetapi sebelum itu Malvin mengambil tas dan heels Paula lalu menyimpannya di tempatnya.


Setelah lima belas menit Paula keluar dari kamar mandi. Wanita itu terdiam ketika melihat kamarnya yang sudah rapih. Ia melihat tas dan heelsnya yang di lempar tadi kini sudah ada di tempatnya.


"Pasti kak Mark yang menyimpannya" gumam Paula.


Paula keluar dari kamarnya dan saat sudah ada di lantai bawah wanita itu mencium aroma masakan yang sukses membuat perutnya berbunyi.


Paula melangkahkan kakinya menuju dapur dan..


"Kak Mark" kaget Paula saat melihat Malvin yang sedang memasak.


Malvin membalikan badannya melihat Paula. "Duduklah" kemudian ia kembali melanjutkan acara memasaknya.


Paula duduk di meja makan. Wanita itu memperhatikan Malvin yang sedang memasak. Matanya sangat mengagumi sosok yang ada di hadapannya itu.


Tak lama Malvin ikut duduk di meja makan dengan membawa hasil masakannya.


"Makasih" Paula tersenyum kemudian ia memakan makanannya. "Enak.. Ini enak banget" Paula makan dengan sangat lahap.


"Makannya pelan-pelan sayang"


"He.. He.." Paula menunjukkan cengir kudanya.


"Kamu suka"


"Banget. Eh.. Kak Mark, mama sama kak Raihan mana?" tanya Paula.


"Mereka tadi pergi"


"Kemana?"


"Entahlah, tadi aku lupa bertanya"


"Ish.. Gimana sih"


"Sayang, sekarang hanya ada kita berdua di rumah" Malvin menyeringai.


"Iya, terus kenapa?"


Malvin menatap Paula dengan tatapan yang menggoda. "Apa kita bisa menyicil buat cucu untuk orang tua kita" kata Malvin dengan deep voicenya.


Uhuk.. Uhuk..


Paula tersendak saat mendengar ucapan Malvin. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.


Malvin menepuk pelan punggung Paula kemudian ia memberinya minum. "Sayang, ga papa 'kan?" tanya Malvin khawatir. Paula hanya mengangguk 'kan kepalanya.


Malvin memeluk Paula dari belakang. "Gimana?" bisik Malvin tepat di telinga Paula yang sontak membuat tubuh gadis itu menegang.


Malvin membimbing Paula untuk berdiri. Tangannya menangkup wajah Paula. "Tenanglah, aku hanya bercanda"


Paula mencubit perut Malvin. "Kak Mark! Gak lucu!" kesal Paula.


"Iya maaf"


Malvin menggesekan hidungnya dengan hidung Paula. "Aku gak akan nyentuh kamu sebelum kita menikah"


Paula memeluk Malvin erat dan Malvin membalas pelukan Paula.


"Sayang, minggu depan kita akan bertunangan secara resmi dan aku akan mengenalkan kamu ke publik sebagai calon istri aku. Menurut kamu gimana? Apa kamu setuju?" tanya Malvin.


"Aku ikut kak Mark aja"


"Kamu udah siap jika identitas kamu sebagai Michelle terbongkar?"


"Iya aku udah siap"


Malvin mencium kelopak mata, ke dua pipi, hidung dan berakhir di bibir ranum Paula.


"Aku mencintai mu" kata Malvin.


"Aku juga mencintai mu" kata Paula. Mereka kembali bepelukan.


"Mama abis dari mana?" tanya Paula yang melihat mama dan kakaknya itu baru saja pulang. Paula dan Malvin sedang menonton film di ruang keluarga.


"Ini" Mayang menunjukkan dua kantung belanjaan di tangannya.


"Pau, ambilin kakak minum dong." pinta Raihan. Laki-laki itu duduk di sebelah Paula.


"Ambil aja sendiri" tolak Paula.


"Vin, kamu yakin mau nikahin Paula. Kau lihat sendiri 'kan di suruh gitu aja gak mau" kata Raihan menatap Malvin. Malvin tak bereaksi.


"Ish.." kesal Paula kemudian ia melangkahkan kakinya menuju dapur mengambil 'kan minum untuk Raihan dengan sangat terpaksa.


"Air dingin ya" kata Raihan terkekeh.


Paula kembali dengan membawa segelas air dingin untuk Raihan.


"Makasih adik ku sayang" kata Raihan dan langsung meminum air itu sampai tandas.


"Belanja sama emak-emak sungguh melelahkan" keluh Raihan.


"Bicara apa kamu?" kata Mayang sembari menjewer telinga Raihan.


"Aw.. Ampun ma. Rai ga bicara apa-apa kok"


"Kamu pikir mama gak denger" Mayang memutar telinga Raihan hingga memerah.


"Aww.. Maafin Rai ma, sakit ini perih"


Paula dan Malvin terbahak melihat penderitaan Raihan.