
Rumah Malvin..
"Asisten Leon, kau mengerti apa yang sudah saya jelaskan tadi?" tanya Malvin.
"Saya mengerti tuan?" jawab Leon.
"Pastikan semuanya aman. Tempat 'kan bodyguard terbaik untuk mengawal Paula. Saya yakin akan ada tamu tak di undang yang akan datang"
"Saya pastikan, tidak akan ada masalah di hari pernikahan tuan dan nona Paula besok. Saya permisi tuan" Leon sedikit menunduk 'kan kepalanya dan berlalu pergi.
Sementara itu tamu yang di maksud Malvin sudah siap dengan rencananya untuk menggagalkan pernikahan mantan pacar dan mantan bosnya itu.
Dimas berada di sebuah gedung kosong bersama dengan orang-orang suruhannya.
"Semua harus berjalan sesuai rencana kita. Kalian mengerti!" kata Dimas.
"Kami mengerti tuan"
"Kalian pergilah! persiapkan semuanya"
"Baik tuan, kami permisi"
"Malvin saksikanlah kehancuran mu sendiri! Besok.. Besok aku akan membalas semua penghinaan mu pada ku. Aku akan merebut apa yang memang sudah menjadi milik ku dari awal" seringai jahat terlihat jelas di wajahnya.
"Sayang maaf, aku sudah membuat mu menunggu terlalu lama. Tapi aku janji, besok kita akan memulai semuanya dari awal. Kita akan hidup bahagia selamanya sebagai sebuah keluarga. Hanya aku dan kamu. Aku mencintai mu.. Sangat mencintai mu Paula" kata Dimas seolah sedang berbicara pada Paula yang berdiri di hadapannya.
Rumah Paula..
Setelah selesai makan malam, Jennie dan Raihan mengobrol di ruang tamu sedangkan Paula dan Mayang sedang menonton televisi di ruang keluarga.
"Kak Raihan, apa kabar?" tanya Jennie memecah keheningan karena memang dari tadi Raihan diam saja jadi Jennie berinisiatif untuk membuka pembicaraan.
"Hah! Iya.. Aku baik. Kamu?"
"Aku juga baik"
"Kamu orang yang membatu Paula saat dia bertengkar di kantor waktu itu ya?" tanya Raihan.
"Iya"
"Makasih ya, kamu udah belain Paula"
"Aku asisten pribadinya Paula, kak Raihan dan itu udah jadi tugas aku"
Raihan menatap Jennie tak berkedip dan Jennie menyadari akan hal itu.
"Kak Raihan kenapa?"
"Kamu mirip banget sama Jenna seakan sekarang aku sedang berbicara dengannya"
Jennie terkekeh mendengar ucapan Raihan. "Kita 'kan adik-kakak kak Raihan, pabriknya sama ya pasti miriplah"
Mereka berdua tertawa terbahak.
Mayang melihat interaksi antara Jennie dan putranya itu sembari senyum-senyum sendiri.
"Mama kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Paula.
"Kakak mu"
"Kenapa kak Rai?"
"Lihatlah" Mayang menunjuk ke arah Raihan dan Jennie dengan sorot matanya.
Paula melihat ke arah yang di tunjuk Mayang.
Paula tersenyum. "Baru kali ini aku lihat kak Rai malu-malu gitu di depan perempuan"
"Kayaknya kakak mu itu suka deh sama Jennie"
"Ha? Apa itu benar?"
"Percaya sama mama. Mama setuju, mereka juga terlihat saling menyukai. Kamu gimana setuju gak?"
"Kalau aku sih ikut kak Rai aja. Kalau kak Rai emang suka sama Jennie ya aku pasti setuju"
"Aku sama kak Jenna emang mirip. Tapi yang mirip wajahnya aja, sifat kami sangatlah berbeda. Kak Jenna itu cantik, baik, lembut sedangkan aku, kak Raihan tau sendirilah" kata Jennie.
Jennie sekolah dan tinggal di luar negeri. Kehidupan di sana sangatlah bebas. Raihan sempat mendengar dari Jenna tentang kehidupan Jennie saat berada di luar negeri.
'Cewek bar-bar' itulah julukan untuk Jennie dari teman-temannya di sana.
Jennie memang gadis 'nakal' tapi ia masih bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita. Jennie tau batasannya.
"Itu 'kan dulu, sekarang kamu udah berubah" kata Raihan.
"Berubah? Kak Raihan belum tau aja, apa yang sudah aku lakukan pada Paula?"
Raihan mengerutkan kedua alisnya.
"Kalau kak Raihan tau, pasti kak Raihan benci aku"
"Sudahlah Jen, jangan di bahas lagi" kata Paula yang baru saja datang.
"Emangnya apa? Ada masalah apa di antara kalian?" tanya Raihan penasaran, ia tidak tau apa-apa tentang masalah ini.
Paula memang tidak menceritakan masalah tentang Jennie pada keluarganya. Mayang sempat bertanya, kenapa tangan Paula bisa sampai terkilir dan Paula menjawab jika ia tidak sengaja terjatuh.
"Gak ada apa-apa kak Rai, itu hanya sedikit kesalah pahaman aja tapi sekarang udah selesai. Kak Rai lihat sendirikan aku dan Jennie sekarang baik-baik aja dan kita berteman baik"
"Syukurlah, kalau masalahnya udah selesai" kata Raihan.
"Paula.. Jennie.."
"Ya udah deh kalian lanjutin aja" kata Raihan dan berlalu pergi ke kamarnya.
Tapi sebelum Raihan pergi ke kamarnya ia berjalan ke arah Kania yang berdiri di ambang pintu.
"Berisik" kata Raihan sembari mengacak-ngacak rambut Kania.
Deg..
Kania merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Senyum terlihat jelas di wajah cantiknya itu.
"Kania sadarlah! Kak Rai itu hanya menganggap mu sebagai adik saja tidak lebih. Jangan terlalu berharap"
Kania menggelengkan kepalanya mengenyahkan pikiran aneh itu.
"Kania, kenapa kau diam saja di situ? Sini duduk" kata Paula seraya menepuk-nepuk sofa kosong di sebelahnya.
"Ah, iya" Kania berjalan kemudian duduk di sofa bersama Paula dan Jennie.
"Aaa.. Paula..." Kania tiba-tiba memeluk Paula.
"Kenapa?"
"Kamu besok nikah setelah itu kamu akan tinggal sama pak Malvin di rumahnya terus aku gimana? Kalau aku kangen sama kamu gimana? Yang akan dengerin curhatan aku siapa? Yang nemenin aku nonton film sampai malam siapa?" rengek Kania.
Paula terkekeh. "Kania aku hanya menikah, bukan menghilang dari dunia ini"
"Paula jangan ngomong sembarang" sarkas Kania.
"Iya maaf" cicit Puala. "Pokoknya Kamu gak usah khawatir, kita 'kan masih bisa ketemu. Kamu bisa temuin aku kapan pun itu" sambungnya lagi.
"Tapi kayaknya susah deh, temuin kamu nanti. Pasti harus minta ijin dulu"
"Kenapa?"
"Bagaimana bisa seorang pegawai biasa bertemu dengan nyonya Malvin Mark Vuitton? Itu akan sangat sulit"
"Kania!!" kesal Paula.
"Iya maaf, becanda"
"Aku di cuekin nih dari tadi. Aku pulang aja deh" kata Jennie.
"Eh jangan, maaf" kata Paula.
"Iya jangan pulang dulu, gimana kalau kita nonton film?" tanya Kania.
"Setuju" kata Paula dan Jennie kompak.
Para gadis itu asik menonton film bahkan mereka ikut menangis melihat adegan film itu yang begitu menyayat hati.
Ting tong..
Tiba-tiba suara bel rumah berbunyi.
"Ck! Siapa sih yang datang? Ganggu aja" gerutu Paula.
Paula berjalan ke arah pintu dan kemudian membukanya. Terlihat sosok yang sangat di kenalnya berdiri di sana sembari membawa sebuket bunga mawar merah yang nampak cantik.
"Kak Mark.." Paula tersenyum manis.
Sedangkan Malvin terlihat sangat khawatir melihat netra hazel Paula yang sembab.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Malvin seraya merengkuh Paula masuk ke dalam pelukannya.
"Aku gak papa, kak Mark"
Paula nampak sangat bingung. Kenapa Malvin tiba-tiba memeluknya dan bertanya keadaannya.
"Jangan bohong sayang, mata kamu sembab. Kamu abis nangis? Kenapa?"
Paula terkekeh kemudian ia mengajak Malvin masuk ke dalam rumahnya. Paula menunjuk ke arah kedua sahabatnya yang tengah menonton film sembari menangis pada Malvin.
"Ya ampun, aku kira kamu kenapa"
"Itu bunganya untuk aku?" tanya Paula.
"Iyalah sayang ini untuk kamu" Malvin memberikan bunganya pada Paula. "Suka?" tanyanya kemudian.
"Iya, makasih kak Mark"
"Apa filmnya se-seru itu ya? Mereka sampai gak sadar aku ada di sini. Gak ada sopan santunnya sama bos sendiri"
"Hahh.. Kak Mark ini bukan kantor. Di sini mereka sahabat aku bukan pegawainya kak Mark"
"Iya sayang maaf"
"Kak Mark ngapain ke sini?"
"Ketemu kamulah, aku kangen sayang" Malvin mencium bibir Paula sekilas kemudian memeluknya erat.
"Kak Mark!!"
"Gak papa, gak ada yang lihat juga"
"Kata siapa? Mama lihat" kata Mayang yang baru saja keluar dari kamarnya dan langsung melihat adegan romantis itu.
"Mama!" pekik Malvin dan Paula kompak.
Mendengar suara yang cukup keras membuat Kania dan Jennie yang tengah asik menonton film melihat ke arah sumber suara dan..
"Pak Malvin!" kini giliran Kania dan Jennie yang terkejut.