
"Stel, tadi kenapa kamu liatin Paula?" tanya Dona yang merasa aneh dengan tingkah salah satu temannya itu. Dona juga melihat bagaimana cara Stella melihat Paula tadi.
"Entahlah, aku sedikit curiga sama dia" jelas Stella.
Stella yang memang dari awal melihat sosok Michelle itu merasa tidak asing. Karena ia seperti pernah melihat wajah Michelle di suatu tempat, walaupun wajahnya setengah tertutup topeng. Tapi ia tidak tau pernah melihatnya di mana. Setelah ia melihat Paula secara dekat saat di kantin, entah kenapa ia merasa jika wajah Michelle dan Paula itu mirip.
"Curiga kenapa?" tanya Melly yang juga penasaran.
"Aku curiga Michelle itu sebenarnya Paula"
Jawaban Stella sontak saja membuat ketiga temannya itu tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun Stella, sumpah becanda mu itu gak lucu. Gak mungkinlah, ngaco kamu" kata Dona, ia bahkan sampai memegang perutnya yang sedikit sakit karena tertawa.
"Ck! Ya sudah kalau gak percaya" kesal Stella karena teman-temannya itu tidak ada yang mempercayai ucapannya.
"Bagaimana kita bisa percaya sama ucapan mu itu Stella? Itu gak mungkin, kau ini ada-ada saja" kata Dini sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku serius. Kalian lihat deh wajah Paula, wajahnya mirip dengan wajah Michelle dan juga bukankah Michelle itu nama panjang Paula" Stella terus saja meyakinkan teman-temannya itu.
"Stella kau ini, sudahlah kau lupakan itu. Paula itu bukan Michelle, mereka orang yang berbeda dan masalah nama mungkin itu hanya kebetulan aja" kata Dona.
"Iya bener kata Dona, Stel. Gak mungkinlah Paula itu Michelle, mustahil. Ini bukan kisah dongeng Cinderella Stella, ini kisah nyata. " kata Dini membenarkan ucapan Dona.
"Tunggu deh Stel, kenapa kamu bilang jika wajah Michelle dan Paula itu mirip? Emangnya kamu pernah lihat wajah Michelle tanpa topeng?" tanya Melly.
"Belum. Tapi serius deh percaya sama aku, mereka itu mirip. Dari bentuk wajahnya bahkan mereka sama-sama mempunyai mata hazel" Stella masih kukuh dengan pendapatnya.
"Terserah kau sajalah Stella" kata Dona.
"Baiklah jika kalian tidak mempercayai ucapan aku. Tapi aku sangat yakin jika Paula dan Michelle itu adalah orang yang sama dan mulai dari sekarang aku akan mengawasi Paula. Jika kalian tidak tertarik terserah. Aku akan melakukannya sendiri saja" kata Stella lalu ia pergi meninggalkan ketiga temannya itu.
Dari keempat wanita pembuat gosip itu Stella lah yang selalu punya pendapat sendiri. Ia tidak akan berhenti sebelum mendapatkan kebenarannya. Terlebih lagi ketika ia sudah mulai merasa curiga.
"Dia kenapa?" tanya Dini.
"Kau seperti baru mengenalnya saja, sudahlah biarkan saja dia" jawab Dona.
"Kita sebaiknya pergi juga, jam makan siang sudah hampir habis" kata Melly.
Haaaahh..
Helaan napas Paula terdengar saat wanita pembuat gosip itu pergi dari kantin. Tadi saat Paula sudah sampai di ruangannya ia baru sadar jika ponselnya tertinggal di kantin. Paula balik lagi ke kantin untuk mengambil ponselnya dan saat akan kembali ke tempat ia duduk tadi, Paula malah mendengar geng pembuat gosip itu membicarakan dirinya. Lantas Paula duduk di meja yang kosong tepatnya di belakang meja para wanita yang sedang membicarakannya itu. Karena saking fokusnya bergosip para wanita itu sampai tidak menyadari kehadiran Paula.
Paula mengambil ponselnya yang tertinggal di meja kemudian ia duduk termenung di sana. Suasana kantin saat itu sudah sepi hanya ada beberapa orang saja, karena memang jam makan siang sudah hampir habis.
Paula merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang. Ia sangat takut jika orang-orang akan tau bahwa dia adalah sosok Michelle wanita yang di lamar sang big bos itu. Paula takut dengan pendapat orang-orang yang akan merendahkan ia nantinya. Paula sadar diri, jika dirinya dengan Malvin itu seperti bumi dan langit.
Paula tersadar dari lamunannya saat sebuah tangan memegang pundaknya.
"Paula, kau ini kenapa? Kenapa malah melamun di sini? Gimana ponselnya? Udah ketemu?" tanya Kania, ia merasa khawatir karena Paula belum juga kembali jadi ia pergi ke kantin menyusul Paula dan benar saja ketika ia sampai, ia melihat Paula yang sedang melamun.
"Aku gak papa, ponselnya juga udah ketemu" jawab Paula seraya menunjukkan ponselnya. Paula terpaksa berbohong pada Kania, ia tidak ingin sahabatnya itu khawatir.
"Ya sudah kalo gitu, kita balik ke ruangan sekarang?"
Malam harinya..
Paula menatap cincin yang di berikan Malvin Padanya. Sejak pulang dari kantor tadi sore, Paula hanya berdiam diri di kamarnya. Pikirannya sedang bergulat, ia tidak tau keputusan apa yang akan dia ambil. Menolak atau menerima lamaran Malvin.
Sebenarnya Paula mulai merasakan sesuatu yang aneh dengan dirinya, hatinya mulai nyaman dengan perhatian yang di berikan Malvin padanya dan ingin membuka hatinya itu untuk Malvin. Tapi di sisi lain pikirannya menolak, perkataan para wanita pembuat gosip itu berhasil membuat Paula tersadar akan statusnya yang hanya pegawai biasa. Paula dilema, ia harus mengikuti kata hatinya atau justru mendengarkan pikirannya.
Hati dan pikiran Paula saat ini sedang bertarung dan ia butuh sebuah pencerahan untuk menghentikan pertarungan itu. Jika tidak segera di hentikan bisa-bisa ia akan kehilangan akal sehatnya.
Ting..
Nada pesan terdengar dari ponsel Paula, ia kemudian membaca pesannya.
(Malvin : Sweety keluarlah, aku ada di depan gerbang rumah kamu)
"Apa? Mau apa dia ke sini? Apa dia mau meminta jawaban dari ku? Bagaimana ini?" panik Paula.
Tanpa sadar Paula berjalan ke arah cermin dan membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan dan juga merapikan bajunya.
"Oh ya ampun, Paula. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bersikap seperti ini?"
Deg.. Deg.. Deg..
"Ini kenapa lagi? Hey jantung.. Kenapa kau berdetak sangat cepat? Tenanglah"
"Hahh.. Paula kau harus kendalikan diri mu"
Paula menghela napasnya dalam beberapa kali berharap itu bisa membuat dirinya sedikit tenang. Tapi nyatanya tidak, Paula tidak bisa tenang.
Ting..
Nada pesan kembali terdengar dari ponsel Paula, ia kemudian melihatnya.
(Malvin : kamu kenapa? Kamu tidak ingin menemui ku? Baiklah, maaf jika aku sudah mengganggu kamu. Aku akan Pergi)
Entah kenapa setelah membaca pesan dari Malvin, hati Paula mencelos. Ia tidak ingin jika Malvin pergi begitu saja tanpa menemuinya. Ia tidak ingin Malvin kecewa padanya. Dengan cepat ia membalas pesan itu. Paula berlari keluar menemui Malvin, ia juga membawa cincin itu.
(Paula : Tunggu, saya akan keluar)
Mendapat balasan dari Paula, Malvin yang berdiri sambil bersandar di samping mobilnya tersenyum lebar. Hatinya berbunga-bunga, ia merasa sangat senang.
Tak lama terlihat Paula yang keluar dari rumahnya dengan berlari. Ia membuka gerbang dan kemudian berdiri tepat di depan Malvin sambil mengatur napasnya.
"Kenapa kamu berlari? bagaimana nanti jika terjatuh?" tanya Malvin yang terlihat sedikit marah.
"Saya takut pak Malvin pergi, jadi saya berlari" jawab Paula yang langsung mendapat pelukan dari Malvin.
"Aku tidak akan pergi Paula. Kamu jangan takut, aku tidak akan pernah meninggalkan mu" kata Malvin mempererat pelukannya.
Sungguh ketika Paula berada di pelukan Malvin, ia merasa sangat nyaman dan tenang. Ia tidak ingin melepaskan pelukan itu. Apakah Paula sebenarnya sudah memiliki perasaan yang lebih terhadap Malvin? Mungkin iya mungkin juga tidak. Tapi yang pasti hatinya merasa sangat nyaman ketika bersama sang big bosnya itu.
"Kamu adalah rumah ku Paula. Bagaimana bisa aku meninggalkan rumah ku sendiri? Sekali pun nanti aku pergi, aku tidak akan pernah pergi jauh dan pasti akan kembali"
"Aku akan menunggu jawaban kamu Paula. Sampai kapan pun itu, aku akan menunggu. Aku tidak akan pernah pergi" bisik Malvin tepat di telinga Paula.