Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 43 : Hari Pernikahan



Hari ini adalah hari pernikahan Malvin dan Paula. Pernikahan itu berlangsung di sebuah hotel berbintang.


Paula menatap dirinya sendiri di sebuah cermin besar. Paula terlihat bak seorang putri dengan gaun putih cantik nan simple dengan kerah sabrina dan pada bagian rok panjang agak menjuntai. Senyum terus saja menghiasi wajah cantiknya.


"Paula ya ampun, kamu cantik banget" kata Kania.


Kania berada di ruangan tunggu menemani Paula.


"Makasih"


"Kalau aku laki-laki, dari dulu aku pasti nikahin kamu Pau"


Paula terkekeh seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan menanggapi ucapan sahabatnya itu.


"Kania, aku merasa sangat gelisah" kata Paula. Entah kenapa dari tadi ia merasakan perasaan yang aneh.


"Itu wajar Pau, semua orang yang akan menikah pasti merasakan hal yang sama"


"Tapi ini beda Kania. Rasanya seperti, entahlah aku tidak bisa menjelaskannya. Aku takut"


Kania terkekeh. "Paula, kau ini mau menikah bukan berperang. Kenapa takut? Sudahlah lupakan perasaan aneh yang kau rasakan itu. Fokus saja pada setiap moment dalam pernikahan mu, nikmati prosesnya. Karena ini hanya terjadi sekali seumur hidup"


"Kau benar Kania, makasih" Paula memeluk Kania dan Kania membalas pelukannya.


"Pau, aku keluar sebentar. Aku akan tanyakan kapan acaranya akan di mulai" kata Kania.


"Mm.. Iya, tapi jangan lama-lama"


"Aku akan segera kembali. Kau tetaplah di sini jangan kemana-mana"


"Iya"


Saat Kania akan membuka pintu, tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu terlebih dahulu. Ada dua orang yang masuk ke dalam ruangan itu. Mereka mengenakan pakaian seorang pelayan.


"Siapa kalian? Kenapa kalian bisa masuk ke sini?" tanya Kania.


Kania merasa sangat heran. Kenapa ada orang asing yang bisa masuk ke ruangan itu? Kemana para bodyguard yang berjaga di luar? karena tidak ada orang yang di ijinkan masuk ke ruangan itu selain keluarga dan teman-teman Paula saja. Leon sudah menempatkan bodyguard terbaiknya untuk menjaga Paula.


Tapi apa ini? Sekarang malah ada dua orang pelayan yang masuk ke sana. Tetapi jika di lihat secara seksama mereka bukanlah seorang pelayan sungguhan, di lihat dari gerak geriknya mereka malah terlihat seperti seorang penjahat. Paula dan Kania kini mulai merasa takut.


Dengan gerakan yang sangat cepat kedua orang itu membekap Paula dan Kania menggunakan sapu tangan yang sudah ada obat biusnya dan tak lama mereka pingsan.


Kedua orang itu adalah anak buah Dimas yang menyamar sebagai pelayan. Kenapa mereka bisa dengan mudahnya masuk ke dalam ruangan?itu karena mereka sudah menyebarkan asap yang di campur dengan obat bius di depan ruangan Paula. Jadi siapa saja yang menghirup asap itu pasti akan langsung pingsan.


Begitu juga dengan para bodyguard yang berjaga di depan ruangan Paula yang jumlahnya ada sepuluh orang itu, dengan sangat mudahnya bisa di kalahkan oleh anak buah Dimas yang hanya dua orang saja tanpa harus bersusah payah berkelahi. Anak buah Dimas sudah memakai sebuah alat untuk melindungi wajahnya jadi mereka tidak bisa menghirup asap itu.


Kedua anak buah Dimas itu kemudian langsung membawa Paula keluar dari hotel lewat sebuah jalan rahasia. Mereka melewati sebuah lorong dan di ujung lorong terlihat sebuah mobil berwarna hitam yang sudah menunggu kedatangan mereka.


Mereka membawa Paula masuk ke dalam mobil itu. Lalu mobil itu pergi dengan kecepatan tinggi.


Di dalam mobil itu ada Dimas yang menunjukkan senyum kemenangannya.


"Malvin, kau memang pintar. Menempatkan banyak bodyguard untuk menjaga Paula. Tapi aku jauh lebih pintar dari mu. Lihatlah dengan sangat mudahnya aku membawa mempelai wanita ku yang sangat cantik ini" Dimas membelai wajah Paula yang tengah pingsan di sampingnya.


"Kita jalankan rencana selanjutnya" titah Dimas.


"Baik tuan"


"Aarrrggghhh ... Bodoh kalian semua!"


Bodyguard itu tidak berani membalas, mereka menerima pukulan Malvin karena ini memang kesalahan mereka yang sudah gagal dalam menjalankan tugasnya.


"Vin tenanglah, kita harus berfikir dengan kepala dingin. Kita harus segera menemukan Paula. Entah apa yang akan di lakukan keparat itu padanya" kata Raihan mencoba untuk mengembalikan kewarasan Malvin.


"Leon periksa semua CCTV di dalam maupun di luar gedung ini dan sebar semua orang-orang kita untuk mencari Paula" titah Malvin.


"Baik tuan" jawab Leon.


"Vin, papa akan meminta bantuan teman papa di kepolisian supaya kita bisa menemukan Paula lebih cepat" kata Tama.


"Iya pa, terimakasih"


"Tante maafin aku, aku gak bisa jagain Paula. Gara-gara aku Paula ... " sesal Kania.


"Sstt.. Nggak Kania, ini bukan salah kamu. Kamu juga korban di sini. Jangan salahkan diri mu sendiri. Paula pasti baik-baik saja" kata Mayang menenangkan hati Kania walau sebenarnya hatinya juga sangat khawatir memikirkan keadaan putrinya itu.


Mereka berpelukan dan tangisan mereka pecah. Sania dan Diana yang melihat itu juga langsung ikut menangis.


"Mih, Paula akan baik-baik saja 'kan? Aku gak tega lihat adik ku hancur seperti itu" kata Diana.


"Paula akan baik-baik saja sayang, ini akan segera berakhir" kata Sania.


Sementara itu berita penculikan Paula sudah tersebar di semua media cetak dan online. Bahkan berita itu juga di siarkan secara live di televisi. Malvin menyiapkan hadiah besar untuk siapa saja yang memberikan informasi mengenai keberadaan Paula.


Malvin mengusap wajahnya kasar. "Sayang, kamu di mana? Akh ... " Malvin meninju tembok beberapa kali sampai punggung tangannya itu berdarah.


"Tuan, kita sudah menemukan mobil yang membawa Paula" lapor Leon.


"Kita pergi sekarang"


"Tapi t-tuan.."


"Kenapa? Ada apa? Paula baik-baik saja 'kan?"


Leon diam ia tidak tau harus memulainya dari mana karena kabar yang akan ia sampai 'kan pasti akan membuat bosnya itu hancur.


"Asisten Leon, kenapa kau diam saja? Cepat katakanlah" karena Kesal Malvin sampai mencengkram kerah baju Leon.


Melihat itu Raihan langsung melepaskan cengkraman tangan Malvin dari kerah baju Leon. "Vin tenanglah! Biarkan asisten Leon bicara dulu"


"Cepat katakan bodoh!"


"Tuan, mobil yang membawa nona Paula terjatuh ke dalam jurang dan meledak lalu terbakar"


Bugh..


Satu pukulan mendarat mulus di wajah Leon hingga darah segar keluar dari sudut bibirnya.


"Bodoh kau! Itu pasti bukan Paula. Cepat kau cari Paula sampai ketemu. Jika kau memberikan informasi yang salah lagi tidak akan aku ampuni kau"


"Tuan.."


Mendengar penuturan Leon semua orang menangis mereka tidak mempercayai ucapan asisten pribadi Malvin itu. Mereka masih berharap jika itu salah dan Paula baik-baik saja.


"Sayang, aku tau kamu pasti baik-baik saja di mana pun kamu berada sekarang. Bersabarlah dan tunggu aku, aku pasti akan datang dan menjemput mu pulang"


Malvin tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis dalam pelukan ibunya. Begitu juga dengan Raihan. Kedua laki-laki itu terlihat sangat rapuh.