Target Bucin CEO

Target Bucin CEO
Chapter 27 : Malvin Cemburu



Malam harinya di rumah Paula..


"Apa?"


"Haa.. Haa.. Haa.."


Tawa Paula meledak saat Kania menceritakan gosip tentang dirinya dan Leon bertunangan.


"Sayang kenapa?" tanya Malvin yang baru saja datang.


"Kak Mark, masa di kantor ada gosip tentang aku dan asisten Leon"


Malvin mengerutkan kedua alisnya bingung. "Gosip apa?"


"Orang-orang di kantor pikir kalau aku dan asisten Leon bertunangan"


"Apa?" Malvin terlihat marah.


"Kak Mark marah? Kak Mark itu hanya gosip"


"Tapi tetap saja itu salah. Sayang kamu itu tunangannya aku, bukan asisten Leon" Malvin merangkul pinggang Paula posesif.


Kania hanya bisa menghela napasnya dalam melihat kebucinan Malvin pada Paula.


"Haaahh.. Lagi-lagi aku berada di tempat yang salah" gumam Kania dalam hatinya.


Kania harus mulai membiasakan diri melihat hal-hal yang membuat jiwa jomblonya meronta-ronta.


Keesokkan harinya di kantor..


Kania dan Stella baru saja sampai di kantor, mereka berangkat bersama. Saat di lobi Kania dan Stella bertemu dengan Dona, Melly dan Dini.


"Hai Stella. Apa kau sudah dengar gosip yang lagi hangat di perbincangkan di kantor ini?" tanya Dona.


Stella hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Dona. "Aku duluan ya"


"Stella tunggu dulu, kau ini kenapa? Kenapa belakangan ini kau selalu menghindar dari kita?" tanya Melly.


"Aku? Tidak, aku tidak menghindar dari kalian"


"Kau berubah Stella" kata Dini.


"Emangnya aku ini power rangers apa bisa berubah, kau ini"


"Aku serius Stella. Kau berubah saat kau berteman dengan Kania, kau sudah tidak pernah lagi bergosip dengan kita, kau selalu saja bersama dia" jelas Dini.


"Aku melakukan itu karena aku tidak mau terkena masalah. Jika aku terus bersama kalian, aku takut aku akan membongkar hubungan pak Malvin dengan Paula. Maaf 'kan aku" kata Stella dalam hatinya.


"Oh ya ampun.. Kalian ini pagi-pagi sudah membuat drama saja" kata Kania yang mulai merasa jengah. Tapi di sisi Kania juga kagum dengan pertemanan mereka.


"Lihatlah pak Malvin sudah datang" sambungnya lagi.


Para wanita itu kemudian melihat ke arah Malvin dan membungkuk hormat begitu juga dengan para pegawai lainnya.


Malvin berjalan dengan gagahnya memasuki kantor. Paula dan Leon berjalan di belakangnya.


Jika biasanya Malvin yang menjadi sorotan, tapi kali ini para pegawai malah lebih tertarik dengan Paula dan Leon. Malvin menyadari akan hal itu dan ia sangat tidak suka melihatnya. Terlebih lagi saat para pegawai saling berbisik mengatakan bahwa Paula dan Leon adalah pasangan yang serasi.


"Lihatlah, mereka cocok sekali"


"Mereka pasangan yang sempurna"


"Mereka terlihat sangat serasi"


"Asisten Leon ayolah gandeng tangan Paula, kita sudah tau hubungan kalian. Jangan di sembunyikan lagi"


Bruk..


Paula menabrak punggung Malvin yang menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.


"Aw.." ringis Paula memegang keningnya.


Malvin membalikkan badannya dan..


"Asisten Leon! Lepaskan Paula!" sarkas Malvin yang melihat Paula berada di pelukan Leon.


Saat Paula menabrak punggung Malvin, ia kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Leon yang melihatnya tanpa sadar langsung memeluk Paula menahannya supaya tidak terjatuh.


Saat Leon mendengar suara Malvin, ia langsung tersadar jika dirinya saat ini tengah memeluk Paula. Leon sontak langsung melepaskan pelukannya dan itu malah membuat Paula terjatuh ke lantai.


"Aw.." ringis Paula untuk yang ke dua kalinya.


Leon yang merasa bersalah tanpa sadar kali ini ia memegang bahu Paula berniat untuk membantunya berdiri.


"Jangan sentuh Paula!" hardik Malvin, kini laki-laki itu terlihat sudah sangat marah dengan kelakuan asistennya.


Malvin menghempaskan tangan Leon yang berada di pundak Paula.


"OH MY GOD. Apa yang aku lihat tadi? Apakah itu nyata?" tanya Melly.


"Kenapa pak Malvin yang menggendong Paula? Bukankah asisten Leon tunangan Paula? Harusnya asisten Leon yang menggendong Paula bukan pak Malvin?" tanya Dini.


"Tunangan Paula yang sebenarnya itu siapa sih? Asisten Leon? Atau pak Malvin?" tanya Dona.


"Apa yang kalian lihat? Kembalilah bekerja!" sarkas Leon yang merasa sangat jengah mendengar bisikan-bisikan para pegawai itu kemudian berlalu pergi.


"Hahh.. Aku sudah tau ini akan terjadi" kata Kania.


"Maksudnya?" tanya Stella.


"Semalam aku ke rumah Paula, menceritakan tentang gosip dirinya dan asisten Leon yang bertunangan, terus pak Malvin dengar dan dia sangat marah" jelas Kania.


"Kau serius? Padahal 'kan itu hanya gosip"


"Apa aku terlihat bercanda? Kau lihat sendiri tadi 'kan, pak Malvin terlihat sangat marah"


"Bukan marah, lebih tepatnya sih cemburu" kata Stella penuh penekanan di kata cemburu.


"Cemburu? Siapa yang cemburu Stella?" tanya Dona yang sedari tadi berusaha untuk mendengar pembicaraan antara Kania dan Stella yang saling berbisik. Dona hanya berhasil mendengar kata Cemburu yang keluar dari Mulut Stella.


"Hah" kaget Stella.


"Kenapa kau sangat terkejut? Aku hanya bertanya, siapa yang cemburu?"


Stella menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wanita itu terlihat sangat gugup.


"Dona, kau ini seperti baru mengenal Stella saja. Kau tau 'kan jika dia menyukai pak Malvin" jelas Kania.


Stella menghela napasnya lega kemudian ia melihat Kania, memberinya ucapan terimakasih lewat sorot matanya.


"Sudahlah, lebih baik kita bekerja. Kau tadi lihat sendiri 'kan, asisten Leon sangat marah" kata Kania.


Para pegawai wanita itu pun pergi ke ruangannya masing-masing dan mulai mengerjakan pekerjaannya.


Ruangan Malvin..


Malvin membawa Paula ke kamar rahasia yang berada di dalam ruangannya.


"Kamu di sini aja, jangan keluar. Jika butuh sesuatu, panggil saja aku" kata Malvin.


"Kak Mark ada apa dengan mu? Apa kak Mark akan mengurung ku di sini sepanjang hari?"


"Iya, dan mulai sekarang aku melarang mu bertemu dengan asisten Leon"


"Ha?"


"Kenapa? Apa kamu keberatan? Kamu ingin selalu bertemu dengan asisten Leon. Kamu senang jika asisten Leon memeluk mu seperti tadi"


"Kak Mark ayolah, tadi itu asisten Leon hanya membantu aku aja. Itu juga karena salah kak Mark sendiri, kenapa tiba-tiba berhenti?"


"Itu modus bukan membantu. Kalau mau bantu ya bantu aja, gak usah peluk-peluk"


"Tuhan beri aku kesabaran menghadapi laki-laki pecemburu ini tapi sialnya aku malah sangat menyukai sikapnya ini" batin Paula.


"Ck! Dasar pecemburu!" ejek Paula tersenyum.


"Apa kau mengejek ku?" tanya Malvin.


"Enggak" elak Paula mengulum senyumnya.


Malvin hendak pergi dari kamar itu tapi langkahnya terhenti saat Paula memeluknya dari belakang.


"Apa kak Mark Marah?" tanya Paula. Malvin diam saja.


"Kak Mark" Paula berjalan ke hadapan Malvin sambil terus memeluknya.


"Maaf, kalau aku udah buat kak Mark marah" lirih Paula. Wanita itu hampir saja menangis.


Malvin yang melihat wajah sedih Paula sontak langsung memeluknya. "Enggak sayang, jangan minta maaf. Aku gak marah sama kamu"


"Kamu benar sayang, aku cemburu sangat cemburu. Rasanya darah ku mendidih saat ada laki-laki lain yang menyentuh mu. Aku tau asisten Leon hanya membantu mu saja tidak lebih, tapi tetap saja aku tidak bisa menerimanya" sambungnya lagi.


Sementara itu asisten Leon berdiri di depan ruangan Malvin. Entah sudah berapa lama ia berdiri di sana. Leon ingin meminta maaf atas kejadian tadi tapi ia merasa takut, takut Malvin akan memecatnya. Leon sangat mengetahui sifat bosnya itu, Malvin tidak akan membiarkan siapa pun yang sudah berani mengusik hidupnya terlebih lagi ini menyangkut wanita pujaannya.


Leon mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu tapi ia urungkan kembali niatnya itu dan terus saja seperti itu. Sampai-sampai Leon tidak menyadari kehadiran Jennie yang berdiri di belakangnya. Jennie menatap Leon bingung pasalnya ini pertama kalinya ia melihat asisten Leon yang sempurna bersikap seperti itu.


Jennie mengulum senyumnya. "Di balik wajahnya yang datar itu ternyata asisten Leon sangat menggemas 'kan" kata Jennie dalam hatinya.


"Asisten Leon! Kau sedang apa?" tanya Jennie yang sontak membuat Leon terkejut.


"Haa.. Jennie?"