
Mansion Malvin..
Malvin berjalan di sebuah lorong yang gelap menuju ruang bawah tanah. Malvin berdiri tepat di sebuah pintu besi dan saat pintu itu di buka, terlihat sebuah tangga yang juga terbuat dari besi. Malvin menuruni anak tangga itu.
Malvin menatap tajam seseorang yang sudah tidak berdaya di hadapannya. Tangan dan kakinya terikat. Wajahnya tertutup kain hitam. Dan sepertinya orang itu pingsan.
"Buka penutup wajahnya" titah Malvin.
Bodyguard yang berdiri di sebelah kanan orang itu membuka kain hitam, hudi dan juga masker yang menutup wajah orang itu dan..
"Siapa dia? Di mana Dimas?" tanya Malvin marah.
"Maaf tuan, sepertinya anak buah kita menangkap orang yang salah" sesal Leon.
"Bagaimana itu bisa terjadi? Apa kau tidak memeriksanya terlebih dahulu?"
"Maaf tuan"
"Akh sial" Malvin melempar kursi kayu ke arah tembok hingga hancur. Rahang laki-laki itu mengeras. Dadanya naik turun menahan amarah.
FLASH BACK ON
Di apartemen Dimas..
Dimas melihat ke arah luar lewat jendela apartemen. Laki-laki itu melihat anak buah Malvin.
Dimas menyeringai. "Malvin.. Malvin.. Kau sangat bodoh, kau pikir aku tidak akan mengenali anak buah mu itu. Baiklah jika kau ingin bermain-main ku. Let's start this game"
Dimas keluar dari apartemennya, ia menggunakan hudi dan masker. Laki-laki itu mengendarai mobilnya menuju supermarket. Sebelumnya Dimas terlihat menelepon seseorang.
"Temui aku di supermarket dekat apartemen sekarang dan pastikan kau sudah melakukan apa yang aku katakan tadi"
"....."
Tak lama Dimas sampai di supermarket. Laki-laki itu melihat kaca spionnya, ia melihat mobil yang dari tadi terus mengikutinya. Dimas tau benar jika itu adalah anak buah Malvin.
Dimas melangkahkan kakinya masuk ke dalam supermarket.
"Ini kunci mobilnya. Kau alihkan orang-orang itu. Bawa mereka ke tempat yang jauh" kata Dimas.
"Baiklah"
"Dan pastikan, kau jangan membuka hudi dan masker mu itu. Jika sampai ketahuan, aku tidak akan membayar mu"
"Kau tenang saja, percayakan semuanya pada ku" orang itu mengambil kunci dari tangan Dimas dan berlalu pergi.
Orang itu adalah Ivan salah satu teman Dimas. Sebelumnya Dimas meminta temannya itu untuk membantunya. Dimas meminta Ivan untuk menggunakan hudi hitam dan juga masker dengan warna senada. Dimas melakukan itu untuk mengecoh anak buah Malvin dan setelah itu ia akan pergi ke tempat yang sangat jauh untuk sementara waktu.
"Aku akan kembali Malvin. Kau bersiaplah untuk kehilangan kekasih mu itu. Karena Paula akan kembali menjadi milik ku"
Dimas sudah memiliki rencana besar untuk memisahkan Paula dan Malvin. Nanti saat waktunya sudah tepat ia akan kembali untuk melakukan rencananya itu.
Ivan keluar dari supermarket dan kemudian masuk ke dalam mobil Malvin. Ivan melajukan mobilnya dan mobil anak buah Malvin kembali mengikutinya. Mereka tidak ada yang menyadari jika yang mereka ikuti itu bukan Dimas melainkan orang lain.
Dimas keluar dari supermarket dengan senyum smirknya.
"Bodoh.."
Tinnn....
Ivan mengklakson lalu mengerem mobilnya mendadak karena ia terkejut melihat ada mobil yang menghalangi jalannya.
Ivan terus saja mengklakson tapi mobil itu tetap saja menghalangi jalannya.
Ivan membuka seatbeltnya hendak memarahi si pengemudi mobil yang menghalangi jalannya. Tapi saat ia akan membuka pintu mobilnya. Laki-laki itu mengurungkan niatnya karena ia melihat orang yang ada di dalam mobil itu keluar.
Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya karena bukan hanya satu orang yang keluar dari mobil itu melainkan lima orang yang keluar dari sana. Mereka terlihat sangat menakutkan, badannya tinggi tegap dan sangat berotot.
Ivan berniat ingin kabur tapi saat ia melihat ke arah belakang lewat kaca spion. Laki-laki itu mematung karena ternyata di belakangnya ada mobil yang mengikutinya tadi. Dari mobil itu juga keluar lima orang yang sangat menyeramkan.
"Sial.." Ivan memukul setir mobilnya marah.
"Aku sudah terjebak. Apa yang haus aku lakukan sekarang?"
"Baiklah, sekarang aku harus membongkar identitas ku. Biarkan saja jika Dimas tidak membayar ku, yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan nyawa ku"
Tuk.. Tuk..
Anak buah Malvin menggedor kaca mobil Ivan. Ivan keluar dari mobilnya dan saat ia akan membuka hudi dan maskernya, anak buah Malvin terlebih dahulu memukul Ivan di kepala bagian belakangnya hingga pingsan kemudian menutup wajah ivan dengan kain hitam lalu memasukannya ke dalam mobil.
FLASH BACK OFF
Ivan perlahan membuka matanya. Laki-laki itu memegang kepala bagian belakangnya yang terasa masih sakit.
"Di mana Dimas?" suara bariton itu berhasil membuat bulu kuduk Ivan berdiri.
Ivan menatap Malvin yang duduk di hadapannya takut. Wajah Malvin terlihat sangat marah, rahangnya mengeras dan giginya bergemelutuk menahan amarah.
"Jika kau berbohong, saya tidak akan mengampuni mu"
"Saya tidak berbohong. Saya benar-benar tidak tau di mana Dimas sekarang"
"Lepaskan dia, tapi tetap terus awasi dia" titah Malvin pada Leon dan berlalu pergi.
"Lepaskan dia. Biarkan dia pergi " titah Leon setelah Malvin pergi.
"Baik tuan"
Bodyguard melepaskan ikatan Ivan kemudian bodyguard itu menyeret Ivan keluar dari ruang bawah tanah itu.
"Ikuti dia" titah Leon pada Bodyguard lainnya.
"Baik tuan"
Sementara itu Dimas berada di sebuah rumah kecil yang tempatnya sangat jauh dari kota. Laki-laki itu mematikan ponselnya.
Malvin sudah kembali ke kantor dan saat ini ia sedang makan siang bersama Paula di restoran. Malvin menyewa ruangan khusus di restoran itu.
"Kak Mark aku udah kenyang" kata Paula memegang perutnya.
"Baiklah" Malvin menyimpan piring bekas Paula makan di atas meja kemudian ia mengambil minum untuk Paula.
"Terimakasih" Paula tersenyum. Malvin membersihkan sisa makanan di bibir Paula dengan tangannya.
Malvin menyuapi Paula karena Paula tidak bisa makan menggunakan tangan kirinya.
"Sebaiknya kita balik ke kantor sekarang"
"Nggak sayang, kita akan pulang. Kamu harus istirahat"
"Tapi, pekerjaan kak Mark gimana?"
"Aku akan mengerjakannya di rumah nanti"
Paula mengangguk 'kan kepalanya kemudian mereka pergi dari restoran itu menuju rumah Paula.
Di kantor..
Jennie berada di dalam toilet. Di sana juga terlihat dua orang wanita yang sedang bergosip tentang Paula.
"Jadi tunangan Paula itu asisten Leon?" tanya wanita itu.
"Iya, dan itu sudah di pastikan. Gosipnya juga sudah tersebar. Ada yang melihat jika asisten Leon sangat marah ketika mengetahui Paula terjatuh" jawab wanita yang lainnya.
Kemudian kedua wanita itu keluar dari toilet meninggal 'kan Jennie yang sedari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka.
Jennie menghela napasnya dalam. "Ck dasar bodoh. Asisten Leon bereaksi seperti itu bukan berarti dia tunangan Paula. Kalian tidak tau saja siapa tunangan Paula sebenarnya. Tunangan Paula itu bukan asisten Leon tapi Pak Malvin" kata Jennie menatap ke arah cermin sembari membenarkan riasannya.
"Apa?"
Suara itu berhasil membuat jantung Jennie berdetak dua kali lebih cepat. Jennie mematung ketika melihat ada orang lain di toilet itu selain dirinya.
Jennie mengira hanya ada dirinya saja di dalam toilet karena dua wanita yang bersamanya tadi sudah pergi. Tapi ternyata masih ada orang di sana.
"Stella" lirih Jennie.
Sebenarnya dari tadi Stella berada di toilet karena sakit perut. Stela juga mendengar pembicaraan kedua wanita tadi.
"Jadi kau juga sudah tau jika Paula itu adalah tunangannya pak Malvin?" tanya Stella.
"Ha.. Kau juga mengetahuinya?" tanya balik Jennie.
Kedua wanita itu menceritakan bagaimana mereka bisa mengetahui hubungan Malvin dan Paula.
"Apa hanya kita berdua saja yang mengetahui ini?" tanya Jennie.
"Tidak. Kau tau Kania? Dia juga mengetahuinya" jawab Stella. "Jadi sekarang kau bekerja sebagai asistennya Paula" tanyanya kemudian.
"Iya" jawab Jennie lesu. Wanita itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Kau takut?" tanya Stella lagi.
"Aku takut melakukan kesalahan lagi. Jika itu sampai terjadi, entah apa yang akan pak Malvin lakukan pada ku nanti?"
"Kau tenang saja, Paula tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia orang yang sangat baik. Kau hanya perlu bersikap baik padanya saja"
"Kau benar. Aku selamat kali ini aja karena dia. Paula memang orang yang sangat baik"
"Sekarang kita berteman" Stella mengulurkan tangannya.
"Tentu" Jennie menerima uluran tangan Stella.
Stella dan Jennie. Dua wanita yang berasal dari dua geng yang berbeda. Stella dari geng wanita pembuat gosip sedangkan Jennie dari geng wanita yang menganggap dirinya paling cantik itu kini berada di kubu yang sama. Padahal sebelumnya mereka tidak akur, mereka sering cekcok satu sama lain.