
Sera berdiri dan berjalan mengikuti mommy Clarissa.Sampai di depan kamar mommy Clarissa memberikan nya kunci dan membiarkan Felicia istirahat.
"Tante tinggal dulu ya," ucap Mommy Clarissa
"Iya tante ," balas Sera
Saat akan masuk kedalam kamar Xavier menghampirinya.Hal itu membuat Sera mengurungkan niatnya dan berbalik menatap Xavier.
"Sera bisakah kita bicara tentang permintaanku yang kedua itu?" ucap Xavier sambil menatap Sera
"Ayo katakan apa yang kamu inginkan?" tanya Sera penasaran
"Aku ingin kita segera bertunangan," balas Xavier dengan pelan
"Ini terlalu cepat bagiku Xavier," ungkap Sera merasa emosi
Sera berbalik dan berjalan masuk kedalam kamar.Brak dia membanting pintu dengan keras.Hal itu membuat Xavier tertegun dengan ucapan dari Sera yang seakan enggan bertunangan dengan nya.Dia segera pergi dari kamar yang ditempati oleh Sera.Sementara Sera langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang.
"Aku belum mencintaimu Xavier hanya ada rasa nyaman saat aku didekatmu," ucap Sera
Sementara Xavier memilih duduk diruang tamu bersama kedua orang tuanya. Raut wajah Xavier terlihat masam dan hal itu terlihat oleh kedua orang tuanya.
"Kamu kenapa nak ceritakan apa yang terjadi?" tanya Mommy Clarissa dengan raut bingung
Xavier menghela nafas kasar lalu menceritakan semuanya perjanjiannya dengan Sera dan juga mengenai pertunangan pada kedua orang tua nya. Mommy dan Daddy pun mengerti dengan permasalahan puteranya dan Sera.
"Mommy sarankan jangan terburu buru bertunangan sayang karena hal itu akan membuatnya marah.Berilah dia waktu untuk membuka hati untukmu secara perlahan," tegur mommy dengan lembut
"Iya mom aku mengerti," balas Xavier tersenyum kecut
Sementara Dikamarnya Sera mengingat semua perlakuan manis Xavier padanya hingga tentang perjanjian itu.Sera hanya menghela nafas kasar dan memilih berbaring diatas ranjang.
"Bertunangan dengan Xavier jika aku sudah bisa mencintainya sepenuh hati," gumam Sera
Di apartemen Maureen kini sedang berada di kamarnya sambil membaca novel.Dia mengabaikan hapenya yang berbunyi hingga dia merasa jengah. Maureen memutuskan untuk membuka pesan yang dikirim oleh Max.
Lalu dia membaca pesan dari Max yang membuatnya terkejut.
"Jangan mengganggu ku Max," balas Maureen
Dia terkejut melihat Max yang sudah berdiri didepan pintu apartemennya.
"Selamat sore sayang," sapa Max sambil tersenyum tipis
"Kenapa kamu malah kesini?" tanya Maureen
"Aku merindukanmu Maureen beberapa hari ini kamu terus menghindariku dan mengabaikan pesanku memangnya aku salah apa?" tanya Max dengan raut bingung
"Kamu enggak salah apa apa kok aku hanya terlalu fokus pada kuliahku dulu," jawab Maureen tersenyum tipis
Max menghela nafas kasar lalu dia langsung menarik Maureen dan memeluknya erat.Sementara Maureen meronta namun Max mengabaikannya dan terus memeluknya. Setelah puas memeluknya Max pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah Maureen.
"Kamu menghindariku karena takut jatuh cinta padaku bukan," tebak Max menatap Maureen dengan tatapan menyelidik
"Tidak siapa yang bilang," balas Maureen menatap kearah lain
Maureen langsung duduk di sofa diikuti Max yang duduk disebelahnya. Max terus menatap Maureen dengan intens. Max merasa kurang puas dengan jawaban yang diberikan oleh Maureen.
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi padamu Maureen," ungkap Max menyerah
"Tapi Maureen bisakah aku menjadi suamimu 5 hari lagi," celetuk Max asal
Maureen melotot sekaligus terkejut dengan ucapan Max.Dia langsung menatap tajam Max yang berbicara sembarangan.Sementara Max hanya terkikik geli melihat reaksi dari Maureen.
"Tidak mungkin," ledek Maureen
"Baiklah sayang aku sudah memutuskan bahwa lima hari lagi kita akan menikah," ucap Max dengan serius
Max langsung mencium bibir Maureen sebelum dia membantah ucapannya. Sementara Maureen kesal dengan tindakan Max. Max pun menyudahi ciumannya dan menatap Maureen.
"Tidak ada bantahan sayang atau kamu mau aku buat lemas diatas ranjang hem," goda Max
"Mesum," ucap Maureen sambil tersipu malu
TBC