
"Pak Ezra, lagi asyik baca buku harian," tegur Pak Faisal yang tahu tahu berdiri dibelakang kursi. Ezra cepat cepat menutup buku, dalam hati ada dorongan agar orang lain kecuali Tania tidak ikut membaca.
" Iya Pak Fais," jawab Ezra singkat saja, kening di kerutkan seolah dia terbawa pada dunia Peter, berkali kali menarik nafas juga mengusap usap mata dengan punggung tangan tak jua lepas kilas balik masa lampau, dia seperti hidup di masa Peter.
" Pak Ezra, terlihat buku kuno, kertasnya seperti terbuat dari kulit, kaya bahan untuk membuat wayang kulit," kata Pak Fais yang guru Sejarah juga, dia juga suka barang barang antik.
" Pak, kalau sudah di baca, aku beli ya," lanjut Pak Fais antusias. Ezra keberatan dengan niat Pak Fais. Pak Fais meninggalkan Ezra, karena Ezra memijit mijit kening.
" Pak Ezra, terlihat pucat setelah membaca buku," kata Pak Kardono Kepala perpustakaan. Pak Ezra hanya diam dan bersender pada sandaran kursi dengan kepala ditengadahkan ke atas, matapun di pejamkan
" Pak, coba minum air putih," kata Pak Kardono dengan menyodorkan gelas berisi air putih, Pak Ezra meminum dan berkali kali mulutnya membaca suratan yang ia hapal. Hampir seperempat jam Ezra terbawa ke alam masa Peter, dengan dipijat pijat pundaknya oleh Pak Kardono, dan menarik nafas keras, maka masa kehidupan Peterpun hilang, iapun menghubungi Tania.
" Tan, aku tak mampu menyelesaikan membaca buku ini, hanya satu judul merasa capek," pesan ke Tania.
" Ya sudah Mas, yang penting sehat, " balas Tania.
Jam piket belum waktu pulang, Ezra berusaha melemaskan tubuh dengan berjalan keluar ruang perpustakaan dengan menuruni tangga dia menuju ke taman dibawah ruang itu, tak lupa tas kecil pria dengan buku tentang Peter di cangklong di pundak, dia berjalan menyusuri taman hanya sekedar untuk melemaskan otot otot yang kaku sehabis membaca.
" Bacaan itu betul betul menguras tenagaku," gumannya dengan melangkahkan kaki pada jalan kecil yang di paving.
Perut dan pipiku terasa sakit sampai sekarang saat Jos menghantamkan tangan ke perut dan menampar pipi Peter, bahkan tanganku masih sakit juga saat Peter menangkap tongkat Jos dalam mimpi.
" Tan, apa aku sudahi dulu bacanya, " kata Ezra seperti malas untuk meneruskan membaca buku itu.
" Mas, nanti kebawa mimpi kaya tadi malam," jawab Tania takut juga, karena jarinya juga merasa sakit saat Utari disabet tongkat Jos.
" Ada yang romantis De, toh Jos sudah tak serumah, mungkin tidak ada pemukulan," balesnya berharap romantis memerankan bersama dengan Tania.
" Mas, senengnya kaya gitu, hehehe," bales Tania berharap nanti malam bisa tidur nyenyak jangan sampai bermimpi tentang Peter.
Ezra dan Tania menyudahi berkirim pesan, Ezra berniat naik tangga menuju perpustakaan di lantai dua, tapi diajak teman rombongan menengok orang tua salah satu karyawan yang lagi opname di rumah sakit.
Pulang dari sekolah Ezra pingin menemui Tania di rumah, kebetulan tidak begitu jauh dari sekolah, dan sengaja tidak memberitahu.
" Emmm, mobilnya Mas Ezra," guman Tania yang lagi duduk di teras sambil baca cerita di ponsel. Tania tersenyum saat Ezra turun dari mobil dan mendekati, mata beradu pandang.
" Sudah makan Mas?" tanya Tania manja, dengan mengecup punggung tangan Ezra, dia mengangguk.
" Tan, pada kemana Ibu dan Bapak?" tanya Ezra meraih tangan Tania setelah masuk ke ruang tamu dan meremas jari jarinya lembut, terus tangan satunya meraih pinggang Tania, keduanya menatap begitu dekat dan Ezra mendekatkan bibir ke bibir Tania, dengan jantung berdebar keras keduanya saling mengecup bibir penuh kelembutan, dan mereka menyudahi dengan mengulum senyuman manis.
Hampir satu jam Ezra berkunjung ke rumah Tania, mereka ngobrol banyak hal, terutama rencana pernikahannya, orangtua tak juga pulang, akhirnya Ezra pamit dengan sebelumnya mengecup bibir Tania lembut.
Sampai di rumah Ezra menata ruang lotengnya untuk di jadikan ruang perpustakaan seperti yang sudah direncanakan berdua dengan Tania, di bantu Rendhi mengangkat rak buku dan meja serta buku buku, loteng sejak istrinya sakit sakitan hanya diisi karpet dan kasur lantai, kalau ada teman kuliah dulu datang baru di pakai, loteng hanya ada jendela besar satu disisi kiri arah dari tangga, kalau di buka yang terlihat jalan dan gedung gedung bertingkat dan rumah padat penduduk.
" Rend, kita bisa baca baca disini, kamupun bisa belajar lebih tenang disini," kata Ezra dengan keringat bercucuran disekujur tubuhnya.
Malampun tiba, karena siang Ezra bekerja keras, habis Isya langsung matanya terpejam, Rendhi duduk diruang tengah yang semakin longgar dengan nonton tv, acara yang disukai sepak bola, sampai dia ketiduran di sofa.
Sementara Ezra yang awalnya agak takut bermimpi tentang Peter bisa merasa lega.
Pagi menyapa
Ezra bangun, dan tubuh terasa segar.
Rendhi sudah biasa membantu dengan bersih bersih rumah. Sedang lauk untuk makan beli di warung dekat rumahnya, jadi tinggal menyiapkan nasi.
Ezra siap menuju ke loteng untuk meneruskan membaca buku harian Peter, sambil membawa minuman air putih dengan botol dan cemilan.
Pagi itu aku yang telah siap berangkat ke perkebunan, bertemu dengan Paman Tardi yang sedang merawat tanaman bunga.
" Paman, aku belum bertemu dengan istri dan anakmu," kata ku sambil berjalan menggunakan sepatu kulit dengan cepat untuk menuju perkebunan, tak lupa selalu bawa bekal yang selalu disiapkan Mama.
Pekerjaannya setiap hari hanya berjalan mengelilingi perkebunan, dan sejak Jos beristri jarang aku menjadi sasaran kemarahannya, tapi aku masih tetap membatasi diri untuk tidak terlalu dekat dengan Jos yang temperamen, siang ini aku melihat Jos dari kejauhan sedang memarahi pekerja, akupun menghindar darinya, aku sendiri mencari keberadaan Bi Tami.
" Koq dia tidak berangkat," gumanku, akhirnya aku bertanya pada salah satu temannya, mereka tidak tahu, akupun tak begitu memasalahkan tentang keberadaannya, cuma kepikiran tentang Utari. Setelah seharian lelah berjalan akupun pulang, langkah kupercepat karena salah satu ponakanku berulang tahun, nanti malam mau ada pesta, sampai di halaman biasa ketemu dengan Paman, tapi aku melihat berkelebat seorang gadis berambut hitam lebat dari taman samping menuju ke dapur.
" Gadis yang ke dapur anak Paman?" tanyaku datar.
" Iya Tuan," jawabnya dengan tetap bekerja.
" Siapa namanya?" tanyaku agak penasaran karena merasa pernah melihat di perkebunan.
" Utari Tuan," ucap Paman tanpa expresi, mendengar nama itu bak suara petir disiang hari menggelegar di telingaku.
" Utari Utari dari jauh kamu terlihat cantik, dengan kain selutut dan baju kebaya lengan pendek, kulitmu terlihat halus," gumannya, dengan cepat cepat masuk ke dalam untuk menemuinya.
" Mah, gantinya Yu Ipah, Bi Tami sama Utari?" tanyaku ke Mama di kamar yang sedang memijat Papa. Mama mengangguk. Sebenarnya aku terkejut kalau Utari anak Paman Tardi dan Bi Tami istrinya. Akupun bergegas ke dapur ingin bertemu dengan Utari, sebenarnya tak pernah aku menginjakkan kakiku ke dapur, baru kali ini karena keberadaan Utari yang menghipnotisku untuk ke dapur.
" Utari," panggilku penasaran, dia sedang memunggungiku untuk membantu Bi Tami memasak untuk makan malam kami, yang ku panggil menenggok dengan wajah pucat juga gemeteran mendekatiku sambil mrmbukukan badannya.
" Tuan ampun," jawabnya menunduk ketanah, aku mendekat, tangan ku beranikan untuk memegang dagunya agar kepalanya tidak menunduk, aku betul betul terpesona melihat kecantikan Utari.
" Utari," panggilku lembut, ingin ku peluk dia erat, tapi ia cepat cepat berlalu, tanggal ini kucatat sebagai hari yang sangat bersejarah buatku, 15-6-1847, bersamaan dengan hari ulang tahun Caroline ponakanku.
" Ma, aku ingin mengajak Utari ke pesta ulang tahun Caroline," pintaku ke Mama.
" Apa dia mau, kalau mau bisa pakai baju saat aku kecil," jawab Mama datar, sambil memilih baju baju pesta Mama dulu di almari dan tak kelihatan wajah marah dengan ketertarikanku pada gadis pribumi, Mama, juga kakak kakakku kecuali Joseph lebih moderat.
Bahkan saat berkumpul ingin diantara kita bersaudara ada yang mempersunting gadis pribumi, yang menentang hanya Jos. Sebenarnya kakak kakakku juga dulu sering jadi sasaran amukan Jos, tapi semua mengalah.
Sore itu aku mendekati Utari di dapur, Mama juga.
" Bi, Utari nanti mau aku ajak ke pesta," kataku bersemangat, tapi Utari keberatan, alasan dia sebentar lagi bersama ibunya juga supaya membantu di rumah Caroline. Mama sudah membawakan baju saat kecil dan tak pernah dipakai untuk di coba Utari, dia diajak Mama ke kamar untuk mencoba baju.
" Kepanjangan, ditubuhnya ketat tapi tambah bagus," kata Mama, setelah keluar kamar.
Malamnya kami menuju rumah Magdalena kakak iparku, Bi Tami dan Utari sudah sejak sore membantu disitu, dan malamnya Utari di paksa Mama untuk dirias dengan pakai baju yang tadi siang di coba.
Saat Utari digandeng Mama keluar, aku terpesona dengan kecantikannya, aku membayangkan seperti Cinderella, aku tidak mempedulikan orang orang yang hadir di pesta, mereka juga pada asyik berdansa, kupeluk pinggangnya dari belakang, kuciumi punggung kepalanya dengan kepala kubungkukkan, dan membalikan tubuh kecilnya sambil berdansa mengikuti alunan musik kudekap kuat tubuhnya.
" Utari dengarkan detak jantungku," bisikku dengan posisi mulut diubun ubunnya. Baju depanku basah, ternyata Utari menangis dalam dekapanku, sehingga dengan posisi membungkuk aku mengecup mata terus mencium bibirnya dengan lembut.
" Utari, aku mencintaimu, dan ingin segera menikahimu," bisikku disela sela kecupanku ke bibirnya, dia semakin mengucur air matanya.
Aku tahu dia baru berusia 15 tahun, tapi banyak gadis di desanya sudah menikah di usia 13 tahun.
Pesta malam itupun selesai, Utari cepat cepat mengganti pakaian pestanya dan pulang hampir dini hari membantu membersihkan perabotan.
Aku mengutarakan ke Mama untuk segera menikahi Utari. Mama setuju.
Papa tadi malam dibawa ke pesta juga hanya memberi isyarat setuju.