ROSES

ROSES
Part 40 Liburan Usai



Tania tahu kalau Ezra selalu di ganggu oleh Tina, apalagi sekarang suaminya telah tiada, Tina semakin menjadi jadi untuk menggoda Ezra, baik lewat ponsel atau datang langsung ke rumah orang tua Ezra. Sejauh ini Tania tidak cemburu pada Tina, karena Tania percaya suaminya lebih mencintai istrinya.


Saat mau berangkat ke negeri Belanda Tina berusaha menghalang halangi Ezra.


" Mas, aku minta tolong temani ke bank," ajak Tina datang ke rumah orangtua Ezra. Dan saat itu Ezra berusaha menolak.


" Mas, kamu setelah dengan wanita itu tidak lagi menganggap kami keluarga," protes Tina dengan menunjuk nunjuk muka Tania. Dan atas persetujuan Tania akhirnya Ezra mau, tapi dia sebenarnya kawatir ini suatu jebakan, seperti saat Vera sakit, Tina menjebak Ezra di kamar sehingga terjadilah kebebersamaan diantara mereka, padahal saat itu Vera sedang merasakan sakit yang luar biasa, dan itu selalu dilakukan Tina berkali kali di rumahnya. Dan setelah Vera meninggal Ezra tak bergeming untuk menikahinya, apalagi setelah tahu kalau Vera bukan anak orangtua Tina, juga tahu perlakuan keluarganya pada Vera.


" Ini mau kemana Tin?" tanya Ezra teringat kejadian dulu.


" Mas, besok kamu mau ke Belanda, beri kenang kenangan buatku, setelah ini janji aku tak mau mengganggumu," ngomongnya nyerocos dan ia tahu tahu di bawa ke hotel dan Ezra di pengaruhi dengan obat sehingga tak sadar dia melakukan kebersamaan dengan Tina, dan di video oleh Tina terus dikirim ke nomer ponsel Tania.


Tania melihat video itu hancur hatinya, air matanya mengalir deras tak bisa terbendung, dan ternyata sampai malam Ezra tak pulang pulang, Rendhi yang hari itu pulang agak siang berusaha mencari keberadaan Ezra.


" Sudah bun, kalau Ayah tidak pulang ditinggal saja besok," jawab Rendhi kesal.


" Ini ulah tante Tina untuk menghalangi Ayahnya pulang ke Belanda," guman Rendhi kesal.


" Iya Kak," jawabnya lesu, tapi sejauh ini Tania menyimpan rapat rapat video kiriman dari nomer tak dikenal.


Pagi menjelang berangkat Ezra baru pulang dengan naik taxi dan tanpa mandi maupun ganti baju langsung ikut mobil teman Rendhi. Tania sepanjang perjalanan sampai ke rumah tak mau bertegur sapa.


Dan hampir setengah bulan Tania berada di tanah air, orang tuanya hampir setiap hari vicall kangen Fifah.


" Uty sama Kakung sepi tanpa Fifah, kangen berat," pesannya dengan kalimat itu yang diulang ulang.


Orangtua Ezra karena dibujuk oleh Tania, akhirnya mau ikut ke Belanda, juga rencana liburan semester Mirna dan keluarga mau ke Belanda sekalian menjemput orangtua, mereka sudah di buatkan paspor dan dipesenkan tiket pesawat sama Rendhi. Teman akrab Rendhi saat SMP Faisal dan Agus juga ikut untuk bantu Rendhi saat buat vlog, disana kalau buat vlog hanya dibantu Anasthasia kerepotan.


Tania bersyukur orangtua Ezra sampai di Amsterdam sehat.


" Nang, disini banyak orang naik sepeda," kata Bapak saat dijemput sama Bapaknya Tania dan Oom Bahtiar. Ezra mengiyakan.


" Di desa nduk," kata Ibunya Ezra.


" Iya Bu," jawab Tania datar.


Setelah di rumah, suasana hati Tania yang tidak nyaman bisa membuat kedua orangtua Ezra jadi tak enak hati juga bisa menjadi salah persepsi apalagi jauh dinegeri orang, akhirnya Tania sadar.


" Toh itu juga kesalahanku," gumannya karena dialah yang menyuruh Ezra menemani ke bank, walau hatinya perih.


Tania sedang belajar lagi untuk bisa memaafkan Ezra, karena hati kecilnya tak mampu kalau harus berpisah lagi dengan Ezra apalagi ada Fifah.


" De, Fifah tidak diambil," pintanya sendu, Tania tidak tega melihat dia seperti itu.


" Iya Mas, Ibu dan Bapak kangen," jawab Tania tak mau menatap wajah suaminya yang merasa bersalah besar pada Tania, bahkan Ezra lebih banyak menunduk kalau sampai Tania berusaha menatapnya.


Dan orangtua Ezra sama nenek supaya nemani sehingga mereka sering ngumpul di rumah orangtua Tania.


" Nek, akhir pekan kita ke Paris naik kereta," ajak Rendhi, dan semua diajak.


Sementara Tania yang berusaha membuang jauh jauh sakit hatinya dengan Ezra bisa melayaninya setiap Ezra menginginkannya, walau hati tak bisa di bohongi untuk bisa menghilangkan bayangan itu, tapi Tania percaya dengan berjalannya waktu tentu bisa hilang.


Dan akhir pekan mereka ke Paris naik kereta, Ezra mencari alamat dari panti asuhan dan tak sulit untuk bisa menemukan nya dijaman ini, setelah berbincang dengan ibu angkat juga mencocokan foto kecilnya ternyata benar, untung mereka bisa berbahasa Inggris sehingga bisa nyambung. Rendhi terkejut bukan main.


" Ayah, mengapa tidak cerita sejak dulu," kata Rendhi terisak memeluk Oomnya. Dan Ayahnya menceritakan tentang bunda Vera sejak diasuh oleh orangtua tante Tina sampai akhir hayatnya. Oomnya juga cerita, saat itu umurnya empat tahun jadi ingat saat oleh tetangganya dimasukkan ke panti asuhan untung ada keluarga baik hati yang mau mengadopsi, dan dia juga ingat punya adik kecil, sesuai foto yang ditunjukan. Oomnya Rendhi juga menangis mendengar penderitaan adiknya Vera.


Tania untuk sementara waktu bisa melupakan kepedihan hatinya.


Haripun berlalu Tania merasa agak aneh yang dirasakan pada tubuhnya.


" Aku belum bulanan Mas," kata Tania dengan menelungkupkan kepala ke bantal untuk mengurangi pusing kepala. Perut Tania yang masih rata dielus lembut oleh Ezra setelah tubuh Tania dibalik.


" De, kamu keluar saja kerjanya, " pinta Ezra.


" Iya Mas," jawabnya, dan Tania akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaan, karena ngidamnya agak berat, terutama kalau bangun pagi, kepala selalu muter, untung saja mertua masih disini.


" Mas, aku kasihan sama Fifah baru 15 bulan mau punya adik," lanjut Tania, Ezra mengecup kening Tania lembut.


Liburan semesterpun tiba keluarga Mirna datang, Tania dan keluarga disini menyambut gembira kedatangannya.


Sementara itu Ezra sangat terkejut dan terpukul serasa kepalanya dihantam palu, dengan berita yang disampaikan oleh Mirna kalau Tina mengandung anaknya.


" Tolong De, jangan sampai Tania mendengar berita ini, apalagi dia sedang hamil," pinta Ezra memelas, Mirna tak tega melihat Ezra yang terlihat hancur.


Ternyata jembakan Tina dengan cara seperti ini, dan Ezra demikian pula Tania betul betul kecolongan, padahal mereka sudah waspada, tapi semua itu tak bisa di prediksi sebelumnya.


Sampai Tania melahirkan Elvaro adik laki laki dari Afifah belum tahu tentang anak perempuan Tina dengan Ezra.


" Mas, Tina aku ancam, kalau mengusik Tania rahasia keluargamu akan aku bongkar lewat jalur hukum," kata Mirna ke Ezra secara diam diam saat berlibur ke Belanda dulu.


Memang Tania sudah tak mau mengingat ingat video itu lagi setelah melahirkan Varo, dia merasa telah lengkap kebahagiaannya memiliki anak yang cantik dan tampan, seperti Ezra juga melupakan video yang dikirim Rio, semua itu karena hati kecilnya meronta apabila memilih untuk menjauh.


Tania atas saran Ezra supaya lebih fokus memperhatikan keluarga tetap berada di rumah, dengan kata lain hanya sebagai ibu rumah tangga. Tapi sebenarnya Tania tidak begitu repot sekali, karena disini tidak merasa sendiri, ada orangtua, nenek, Oom dan saudara saudara lainnya, karena perintah suami Taniapun menuruti.


" Mas, sudah cukup tiga saja anak kita ya," pinta Tania, maksudnya anak tiga dengan Rendhi.


" Kalau bisa nambah lagi De," jawabnya.


" Mas, dikira orang hamil enak," kata Tania.


" Beda ya De, abis kamu merem melik," ledek Ezra tertawa.


Yah begitulah rumah tangga Tania dan Ezra harus menghadapi cobaan dan rintangan yang bagi sebagian orang mungkin ada yang tak mampu melewatinya, hanya karena kata sabar dan tawakal sehingga mereka bisa menjalani.


" Bunda, aku sudah nyambung dengan keluarga bunda Vera di Kalimantan," kata Rendhi yang berusaha mencari lewat media sosial, matanya terlihat mengembun, mungkin ia ingat penderitaan bundanya semasa hidup.


" Rend, semoga kamu secepatnya bisa ketemu langsung," jawab Tania dengan senyum sumringah.


" Liburan panjang aku mau kesana bunda," kata Rendhi yang hari harinya selalu diisi dengan kuliah dan buat vlog dengan teman temannya.


" Iya kak, tapi Fifah suka cari cari kamu, kalau terlalu lama kasihan dia," jawab Tania sendu, mengingat Fifah sayang sama Rendhi sehingga dua hari ditinggal kakaknya buat vlog ribut melulu, sampai selalu minta vicall.


" Kakak koq lama enggak pulang," vicall Fifah sambil menangis pada suatu hari saat pergi ke Itali bersama dua sahabatnya.


" Iya De, kakak sibuk, janji kalau dirumah mau minta beli apa, nanti kakak beliin," jawabnya sendu.


Melihat Fifah demikian pula Varo begitu dengan Rendhi, hati Tania pun tidak mampu kalau harus menjauhkan mereka dengan yang lain hanya karena egonya.


Sementara itu Ezra menghubungi Tina saat berada diluar dengan ponsel khusus untuknya, bagaimanapun tak sukanya dia pada Tina tapi melihat foto juga video anak yang tidak berdosa akibat kelaleaannya dia tidak tega, apalagi anak perempuan. Dan sejak itu Tina setiap kali menghubungi Ezra, terutama kalau Ezra tak berada di rumah, kalau dirumah sengaja ponsel dimatikan dan juga nomor di lepas, sehingga sampai detik ini Tania merasa aman aman saja artinya belum tahu tentang rahasia Ezra dan Tina.


Suatu hari Tina mengirimkan kelucuan putrinya lewat video karena rindu akhirnya ia terbang ke tanah air sendiri dengan alasan orangtua, sementara Tania tidak ikut karena Varo belum kuat di perjalanan sebab masih kecil. Saat ketemu dengan putrinya Ezra yang penuh kasih sayang pada anak, tak kuat iapun meneteskan air mata dan menciumi putrinya.


" Ayah kangen banget nduk," belai Ezra pada Devina namanya, Tinapun menjebak untuk kesekian kali.


Dan hanya penyesalan yang dirasakan oleh Ezra.