
Suatu hari Tania pernah menemukan surat Rudolf dan dulu di baca bersama dengan Ezra di loteng.
Untuk Utari yang sudah di surga.
Utari, pertama aku bertemu denganmu, terasa aneh muncul di relung hati, mungkin ini cinta, tapi cinta yang salah karena cinta pada wanita yang menjadi istri saudaraku yaitu Peter, tapi tak apalah karena cinta tak harus memiliki.
Dan kesedihanku mulai muncul saat kamu memutuskan untuk kembali ke kampung halaman, walau jarak cuma 100km dari kota pelabuhan tapi untuk menuju ke kampungmu awalnya pakai gerobag kuda, dan bersyukur pemerintah membuat rel kereta api.
Utari, aku berdoa untukmu damailah di alammu, akupun pasti akan menyusulmu, entah kapan hanya Tuhan yang tahu.
Dan Utari, walau kita sekarang tak berjodoh, siapa tahu disuatu waktu Tuhan mempertemukan kita untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
Dari Rudolf yang tak bisa memiliki sekarang, damai selalu Utari kamu disana.
Saat itu Tania tak begitu berpikir jauh tentang surat Rudolf, tapi hari ini ia bangkit dari kasur dan kakinya ia turunkan dengan telapak kaki ia letakan di lantai, saat mau bangkit tangan asing menarik lengannya sehingga Tania terbaring di kasur kembali.
" Stev, ini sudah siang lihat matahari lagi mengintip," kata Tania yang dipeluk erat oleh Stev.
" Tapi aku pengin kamu disini dulu," jawabnya meneluk penuh kelembutan. Tania pun menyerah dan pasrah.
" Bunda bunda," panggil Fazal sambil menangis, dan Stev bangkit dengan tersenyum manis lalu membuka pintu kamar, menggendong Fazal terus meletakan di kasur.
" Tan, bangun," pintanya.
" Iya, Stev, kamu ingin baca surat Rudolf?" tanya Tania.
" Di loteng," jawabnya. Stev sama bidangnya dengan Tania, bahkan dia ingin menetap di Indonesia untuk menggali apapun yang berhubungan dengan sejarah di sini, toh pekerjaannya di negaranya juga sesuai dengan bidangnya, bahkan di dukung juga di danai, terutama yang belum terangkat, seperti Ezra dengan Tania yang berhasil membuka tabir gelap loji loji di Desa Wisata ini.
" Bunda," rengek Fazal, inginnya dia minum asi saja.
" Ayo ikut Papi dulu, katanya pengin ketemu Papi," ajak Stev. tangannya dijulurkan ke tubuh Fazal dan di gendongnya, Fifah dan Varo yang sudah lengket sejak di Belanda, tak begitu merasa asing dengannya.
" Pi, Fifah sama Varo diantar sekolah pakai mobil ya, biar enggak diejek sama Devina juga Askila,"kata Fifah yang suka cerita.
" Ok, gadis kecilku," jawab Stev mengelus rambut Fifah yang mirip dengan rambut bundanya.
" Tan, aku bikinkan nasi goreng komplit ya sama teh lemon, kamu yang buat," pinta selanjutnya.
" Hmmmm, kesampaian kamu disini Stev," jawab Tania menuju ke dapur. Stevpun tertawa dengan menggendong Fazal, saat Tania berjalan menuju dapur dirasakan apa yang ada pada Stev sebagai gambaran Rudolf, ya Stev itu Rudolfkah. Bahkan saat bikin nasi goreng sampai meletakan di meja makan di otak Tania hanya muncul,
"Rudolf Rudolf Rudolf," tak henti henti nama itu terekam di otak sampai Tania merasa lelah ingin menghilangkan rekaman itu di kepalanya, dan Tania yang sangat penat otaknya, sesekali memijit mijit keningnya.
" Kenapa?" tanya Stev melihat Tania memijit mijit kepalanya.
" Nanti kita bicara di loteng," jawab Tania sambil memberi tahu kalau nasi goreng dan teh hangat lemon sudah jadi.
"Enak,"kata Stev juga menyendok nasi goreng dari piringnya di suapkan ke Tania. Barend yang datang dengan istrinya langsung mengalungkankan tangan ke leher Tania.
" Aku pengin, masih ada?" tanya Barend dan ubun ubun Tania di kecupnya. Istri Barend juga Stev tidak merajuk, karena sudah budaya dalam keluarga, bahkan Stev menyuapkan satu sendok ke mulut Barend.
"Bagaimana pengalaman semalam Stev, mungkin Stev merupakan pengalaman pertama?" tanya Barend sambil tetap melingkarkan tangan di leher Tania sehingga istrinya menyuapi nasi goreng ke mulutnya.
" Stev lebih berpengalaman, kalau Tania baru dengan Ezra dan Stev," ceplos istri Barend tertawa, Tania ikut tertawa.
" Tapi hatiku hanya untuk Tania saja, tenang Tan hanya untukmu,"sanggah Stev sambil mengecup pipi Tania yang terhalang tangan Barend.
Tania walau sudah hampir10 tahun berada di Belanda, masih ada yang belum bisa menyesuaikan budaya.
" Tapi percaya kalau orang Belanda terkenal di dunia paling setia pada pasangannya sampai kakek nenek," jawab Barend sambil menatap mesra istrinya.
Menjelang matahari terbenam Tania menaiki tangga menuju ke loteng, diikuti oleh Stev, anak anak sama Eyang jalan sore di lingkungan.
" Ada apa kamu ngajak ke loteng?" tanya Stev, Tania mengambil surat yang terselip di salah satu buku kuno diserahkan ke Stev.
" Baca Stev," pinta Tania terus menuju jendela sebelah timur untuk di tutup, saat menuju ke jendela sebelah barat,
" Rudolf juga lebih suka pada sunset, kalau Peter suka sunrise, dia bener bener mirip juga Rudolf," guman Tania.
" Jangan dulu ditutup, aku baca dengan melihat sunset, tapi tadi pagi aku belum selesai," ujarnya mengecup pipi Tania lembut. Tania yang sebenarnya sudah akrab sejak kuliah bahkan sering bercanda sekarang menjadi kaku gara gara Stev memutuskan menikah dengannya.
" Stev, koq ngurus syarat syarat nikah beda negara cepet?" tanya Tania karena Stev masih menikmati sunset.
"Aku sudah ngurus lama dengan kelengkapan setumpuk, baru jadi satu minggu lalu dan yang disini punya kamu diurus sama bapak ya,"jawabnya mengecup bibir Tania.
" Aku enggak tahu Stev, aku kaget kalau kemaren kamu serius menikah denganku," jawab Tania, dan Tania cerita semua ke Stev.
" Kalau kamu aku beritahu jelas menolak, bukankah kamu tidak cinta pada ku?" tanyanya nyengir.
" Iya betul Stev," jawab Tania.
" Tapi kamu tadi malam suka, juga rasanya kaya nasi goreng buatanmu," jawabnya dengan tertawa.
" Dibaca Stev," pinta Tania setelah melepas kecupan. Dan Stevpun mulai membaca surat Rudolf.
" Koq kaya aku ke kamu dulu," katanya menatap Tania lembut.
" Jangan jangan kamu Rudolf," kata Tania.
" Kamu kali Utari," jawabnya, terus dia mendekap Tania dengan mengecup ubun ubunnya. Dan reflek keduanya saling mengecup bibir disaksikan sunset yang mengintip lewat jendela, nafaspun mulai sesak. Sudah cukup keduanya menikmati sunset lewat jendeka lalu turun, karena Adzan terdengar dari Mushola tidak jauh dari sini, Stev belajar ngaji dari orang Turki, hampir dua tahun dia belajar, sekarang sudah lancar.
" Bunda ada PR," kata Afifah, Tania ngajari Afifah dan Varo mewarnai gambar dipandu sama Stev, sedang Fazal mengganggu kedua kakaknya jadi pada ribut.
" Sini Fazal mainan sama kakek," kata bapak dengan mengangkat tubuhnya dibawa ke bale.
Malamnya Tania dan Stev menidurkan anak anak terus pindah ke kamar depan disebelahnya, dan didalamnya ada pintu untuk masuk kamar mereka.
"Stev, aku bisa berjalan sendiri," ujar Tania saat tubuhnya diangkat, sehingga Tania mengalungkan tangan keleher Stev, sambil diciumnya terus diletakan keatas kasur.
" Stev, aku bisa hamil karena kamu los terus," kata Tania.
" Kenapa kalau hamil?" tanyanya, matanya terpejam.
" Aku sudah tua,"jawab Tania.
" Masih banyak seusiamu hamil," jawabnya sambil tidur, akhirnya Tania tak mau mengganggu. Seperti biasa Tania membersihkan diri di kamar mandi terus membaringkan tubuh disebelah Steven yang sudah mendengkur halus.
Keluarga Stev yang datang menyaksikan pernikahan setelah mengunjungi peninggalan bersejarah langsung ke Bali, demikian keluarga Barend terus langsung pulang ke Belanda. Stev memutuskan tetap berada disini, kebetulan udaranya cocok karena setiap hari sejuk bagi Stevev.
Waktu terus merangkak, sudah satu bulan lebih Tania jadi istri Steven.
" Kamu sakit?" tanya Stev melihat Tania pucat dan lari ke kamar mandi mengeluarkan isi perutnya ke kloset saat baru bangun tidur di pagi hari, sampai perutnya terasa kaku karena perut kosong, kepala juga pening sampai berkunang kunang sehingga Stev langsung mengangkat ke atas kasur, karena pening kepala ditelungkupkan ke bantal.
"Pening kepala," jawabnya, Stev mengelus elus kepala Tania.
" Aku ambilkan air," pintanya, dikecup kening Tania.
" Aku buatkan juz apel, kamu yang buat," pinta Tania, Stev menuju ke dapur untuk membuat juz.
" Koq kamu Stev yang buat juz, Tania lagi apa?" tanya ibu yang biasa bangun malam tak tidur lagi.
" Tania sakit, wajahnya juga pucat," jawab Stev khawatir. Stev membawakan satu gelas juz apel ke kamar, ibu mengikuti dari belakang, dan diminumkan ke Tania yang lagi bersender pada sandaran bed dengan muka pucat.
" Tamu bulananmu belum datang?" tanya ibu sambil memijit kepala Tania.
" Belum Bu, sepertinya telat dua hari," jawab Tania lirih.
" Mungkin isi," kata ibu, Stev yang memegang telapak kakinya belum tahu maksud pembicaraan keduanya. Tania masih belum bisa menjawab, terlalu dini untuk berbicara hamil karena baru telat dua hari, tapi kalau dari tanda tanda yang Tania rasakan mengarah kesitu.