ROSES

ROSES
Part 12 Obrolan Mama ke Paman



" Semoga enggak ada barang yang terlewatkan De," kata Ezra, terlihat kelelahan karena harus mencari barang barang yang diperlukan, walaupan sebelumnya mereka berdua di saat ada waktu melihat lihat di media sosial.


" Sepertinya cukup Mas," jawab Tania yang tidak menginginkan berlebihan barang hantarannya.


Mereka pulang sudah larut malam, sehingga Ezra langsung mengantar Tania ke rumah, kebetulan motor Tania juga sudah di bawa pulang. Ezra mengantar sampai masuk rumah, sementara Rendhi tetap di mobil. Keduanya bergandengan tangan sampai masuk ke halaman, saat Ezra mau mengecup kening Tania orangtuanya keluar.


" Yaaah, tidak jadi!" ucap Ezra, keduanya tersenyum, Ezra langsung pamitan ke orang tua Tania.


" Yah, rumah makan Tante masih ramai pengunjung," kata Rendhi, yang dari tadi memperhatikan mobil mobil keluar parkiran. Ayahnya mengangguk.


Sementara Tania karena tubuhnya terasa agak kotor sehingga mandi, demikian Ezra dan Rendhi mereka tidak langsung tidur tapi membersihkan tubuh dulu.


" Mas, lagi dekat sama cewek, berarti sudah melupakan mba Vera," pesan pribadi Tina. Ezra tak mau bales pesan Tina, karena dia berusaha menghalangi bahkan akan mempengaruhi Rendhi kalau Ayahnya dekat dengan perempuan, akibatnya Rendhi selalu menentang pada ayahnya kalau dekat dengan wanita, tapi dengan Tania, Rendhi mau menerimanya, atau mungkin Rendhi sudah dewasa sehingga bisa berpikir mana yang terbaik buat ayahnya.


Dengan kiriman pesan pribadi dari Tina, Ezra mulai kepikiran karena dia bisa melakukan berbagai cara untuk menghalangi Ezra menikah lagi. Ezra hanya bisa berdoa semoga Tania tidak terpengaruh oleh hasutan Tina.


" Ini ada pesan dari Tante Tina menanyakan tentang Ayah dan Tante Tania," kata Rendhi saat sarapan pagi bersama.


" Rendhi sayang sama Ayah," kata Ezra sendu, ingat pengaruh Tina sedemikian kuat pada Rendhi sehingga tak ada wanitapun yang berani mendekat ke Ayahnya.


" Iya Ayah!" kata Rendhi kasihan pada Ayahnya, melihat keseharian ayahnya sebelum ada Tante Tania.


Ezra menyuruh agar Rendhi mengabaikan pesan dari Tante Tina.


" Yah, Tante Tania nanti datang kesini?" tanya Rendhi.


" Iya, sebentar lagi datang," jawab Ayahnya.


" Kemaren bilang mau bawa gurameh bakar," kata Rendhi.


Yang diomongin datang membawa gurameh, Rendhi menyambut dengan gembira.


" Bundaku!" kata Rendhi manja ke Tania dengan cium cium tangan. Ezra lihat sikap Rendhi tersenyum senyum. Rendhi sudah tahu tentang kegiatan Ayah dan Tania di loteng, bahkan kemaren beberapa kali naik untuk melihat Ayah.


" Ayah, mau baca lagi di loteng," kata Rendhi, Ezrapun mengangguk.


" Rend, kamu ikut keatas ya, sambil baca buku pelajaran," ajak Tania. Rendhi mengiyakan.


Ezra dan Tania naik ke loteng, Rendhi menyusul setelah mengunci semua pintu keluar.


Peter POV


Tak pernah kulakukan, apabila istirahat siang pulang ke rumah, karena aku selalu bawa bekal, tapi hari ini demi Utari aku akan menurutinya, sebenarnya aku juga ingin ketemu. Kendaraan satu satunya jaman ini adalah sepeda, tapi karena jarak tidak terlalu jauh aku selalu berjalan kaki, sampai di halaman tak terlihat Paman, karena jam segini istirahat.


" Utari!" panggilku lembut setelah aku masuk rumah melihat keberadaannya, dia tersenyum manis, aku mendekati dan kucium keningnya. Mama sambil mendorong kursi roda Papa menuju meja makan. Sepertinya Utari hanya melihat aku sudah puas, tapi aku pengin memeluk dia.


" Peter, kamu pulang, apa kamu tidak bawa bekal?" tanya Mama sambil mengerdipkan mata karena dia tahu alasanku pulang tentu karena Utari.


" Anak ku si bontot lagi jatuh cinta!" canda Mama mencubit lenganku.


" Sakit Ma!" kataku agak kenceng, kulirik Utari yang duduk di bangku pendek agak jauh dari ruang makan, dia tertunduk dengan senyum manis.


Aku berangkat lagi ke perkebunan, di tengah jalan ada beberapa pemuda menghadangku.


" Hai, kamu Joseph!" hardik para pemuda itu.


" Ayo hajar saja dia biar mampus!" para pemuda berusaha menyerangku masing masing dengan tangan mengepal, aku berlari sekuat tenaga, dan aku dengar omongan mereka.


" Dia bukan Joseph, tapi Peter, kita salah serang!" kata mereka yang akhirnya pergi entah kemana.


" Tuan Peter kenapa lari terbirit birit kaya di kejar anjing!" kata para wanita pemetik teh.


" Iya, barusan ada anjing galak mengejarku!" jawabku asal, tapi sebenarnya aku menutupi mereka, agar aman.


Setelah terjadi peristiwa tadi aku berpikir berangkat dan pulang jangan sendiri.


Sorenya aku pulang tidak sendirian. Di halaman depan aku melihat Utari, Bibi dan Paman sedang merawat bunga bunga yang indah bermekaran, sedang Mama dan Papa di teras depan sambil ngobrol sama Bibi dan Paman. Aku pun menggabung dengan duduk bersama Mama, dengan selalu beradu pandang sama Utari, aku tergerak untuk memetik satu mawar putih dekat Utari.


" Cantik kamu Utari!" kata Mama melihatnya.


" Paman, Utari secepatnya menikah dengan Peter!" pinta Mama.


" Nyonya, maaf pantaskah kami orang rendah berbesanan dengan Nyonya!" jawab Paman menunduk.


" Kami tak memandang status, lihat Peter sangat menyayangi Utari!" jawab Mama dengan wajah ceria.


" Nyonya, sebenarnya kami sudah melarang agar Utari jangan dekat dekat Peter," jawabnya merasa bersalah.


" Nyonya, maaf kami, silahkan hukum kami," ujar Bi Tami.


" Bi, mungkin Peter yang bersalah karena mencintai Utari," jawab Nyonya Cornelis.


" Tapi, aku setuju kalau Peter menikah dengan Utari," lanjutnya.


" Paman, aku berharap setuju dengan hubunganku ini, aku tak akan menyia nyiakan Utari,"aku mulai membuka mulut, dan Utari yang ada disampingku tertunduk malu.


" Paman, aku ingin segera menikahinya," lanjutku.


" Bagaimana Utari, karena yang mau menjalankan Utari maka aku serahkan jawaban pada dia," jawab Paman menunduk.


" Nanti kalau umurku 16 tahun, aku ingin bantu Nyonya Mama dulu,' jawabnya selalu ini dengan menunduk, akupun menurutinya, apalagi aku baru beberapa hari ini dekat dengannya, Utari mungkin juga ingin mengenalku lebih dekat.


Begitulah obrolan Mama dengan Paman juga Bibi yang sudah dianggap seperti saudara oleh Mama, apalagi Paman bekerja ke Mama sejak masih bujangan.


Karena langit mulai gelap kami masuk rumah. Kursi roda Papa aku dorong sampai ke kamar dan ku angkat ke kasur.


Malamnya kami makan bertiga, dan setelah Jos menikah jarang makan bersama demikian kakak yang lain, mereka tentu lebih penting pada keluarga sendiri, walau rumah pada satu kompleks juga hanya berjarak beberapa meter. Jos sendiri sudah begitu bahagia dengan putri kecilnya, yang baru tadi malam melihat dunia.


Setelah menemani Papa dan Mama di ruang tengah aku ke loteng, seperti biasa menulis kejadian kejadian yang penting, jendela sore tadi sudah ditutup, salah satu aku buka, karena sambil menulis juga sesekali pengin melihat langit, malam ini langit juga cerah, kerlap kerlip bintang terlihat dari jendela loteng, cuma aku hidup di dusun maka sepi, paling suara binatang malam terdengar, dan obrolan penjaga malam di pos sebelah kiri rumah, kalau aku tidak bisa tidur kadang ikut ngobrol dengan mereka, seperti malam ini, sudah merasa cukup berada di loteng sehingga turun, aku keluar lewat ruang makan, kata hati pengin menuju pos tapi Paman dan Bibi lagi duduk di bale bale seperti kedatangan tamu, aku mengalihkan keinginan untuk bergabung dengan Paman. mereka tahu kedatanganku.


" Tuan Peter, kebetulan sekali," kata Paman yang mengenalkan kedua anak saudaranya.


" Tuan, keduanya pengin ikut kerja di perkebunan," ucap Paman, kebetulan aku butuh pengawal, seperti kakak kakakku punya pengawal, sehingga kuterima, apalagi Mama dan saudara saudaraku sudah memintaku berkali kali untuk di dampingi pengawal.


Utari keluar membuatkan minuman, aku dan dia hanya saling pandang dan tersenyum.


" Tuan, anak Pak Lurah juga suka sama Utari, tapi oleh Pak Lurah tidak boleh," kata Salim sopan dan hati hati.


" Kami berterimakasih, orang rendahan seperti kami bisa ngobrol dengan tuan,"kata Tarjo pemuda yang satunya. Aku tersenyum.


" Aku kalau jenuh penginnya ngobrol,"jawabku datar dan pemberitahuan Salim aku anggap sebagai informasi maka tak perlu menjadi pemikiran. Aku menyadari orang secantik Utari tentu menjadi incaran para pemuda. Kata mereka para pemuda yang berebut Utari saling bersaing bahkan ada yang pukul memukul, itulah maka Utari belum mau menikah sampai seusia sekarang tidak seperti teman perempuan di kampung semua sudah punya anak. Karena malam sudah semakin larut kami undur diri, Utari sepertinya juga sudah tidur. Dan aku cerita ke Mama mulai besok dikawal, Mama saat aku pulang masih menjahit baju lama, Mama menyambut gembira.


" Ini baju besok kalau kamu menikah bisa dipakai Utari," katanya, aku pegang kainnya bagus kaya sutra.


" Oh ya, Utari pakai baju ini, terus buat rangkaian bunga mawar atau bunga lain dibuat lingkaran untuk diletakkan di kepala, tangan dan leher," kata Mama antusias.


" Mesti Utari cantik sekali ya Ma," kataku sambil membayangkan, Mama mengiyakan.


*


Sementara itu Tania dan Rendhi yang duduk disamping Ezra sudah mulai gelisah melihat cara Ezra membaca, sehingga keduanya memutuskan untuk menyudahinya.


" Mas, saya kira cukup membacanya," kata Tania dengan meremas jari tangan Ezra dan Rendhi memijit mijit kedua bahu ayahnya.


Dan Ezrapun meminum air putih yang disodorkan Tania padanya.


" Yah, kalau habis baca buku ini terlihat kecapain, seperti habis kerja berat," kata Rendhi dengan mengalungkan tangan ke leher ayahnya dan mencium punggung kepalanya.


" Iya, Ayah seperti lagi bermain peran layaknya pada drama," jawab Ayah dengan nafas yang masih ngos ngosan.


" Yang membuat aku berpikir ada kesamaan, kemaren kita belanja keperluan untuk menikah, disini bacaan akhir juga begitu," kata Ezra selanjutnya saat Rendhi turun untuk menyiapkan makan siang.


" Itulah mungkin Mas, akhirnya Peter mempercayakan kepada kita," jawab Tania.