ROSES

ROSES
Part 8 Kesedihan Peter



Libur akhir tahun masih berlangsung, Ezra hari ini berangkat ke sekolah untuk piket.


" Rend, beli lauk ya, Ayah tidak buat lauk," kata Ayahnya bersiap menuju kamar mandi.


" Iya Yah," jawab Rendhi mengambil box plastik di rak piring keluar untuk ikut ngantri beli lauk.


" Hmmm lama Rendhi beli lauknya," guman Ezra, terus menuju halaman menengok Rendhi di warung sayur dekat rumahnya, dengan melihat tanaman.


Tak lama Rendhi masuk ke rumah menenteng box, Ezra mengikuti dari belakang.


" Ayah sudah menanak nasi?" tanya Rendhi meletakan box lauk di meja makan dan mengambil piring di rak, Ayah mengangguk terus duduk di kursi.


" Ayah hari ini piket Rend," ucapnya, sambil memasukkan nasi dan lauk ke mulut.


Ezra siap siap berangkat menuju ke sekolah, tas cangklong dengan buku kisah Peter di bawa, dia ingin baca di perpustakaan sekolahnya.


" Tan, semoga nanti aku bisa baca di sekolah," pesan pribadi Ezra ke Tania.


" Mas, semoga tak ada gangguan, kalau selesai Mas bisa langsung menemui Bapakku," balesnya.


Sampai di sekolah Ezra menuju ke perpustakaan, ada beberapa teman yang datang di perpustakaan juga.


" Pak Ezra, suka cerita roman juga?" tanya Bu Agnes mendekat di kursi Ezra melihat sampul hitam tanpa judul.


" Bu, apa terlihat kaya buku cerita roman?" tanya Ezra, dalam hati berguman.


" Kok bisa bu Agnes buku ini cerita roman."


" Ya sudah Pak dibaca, nanti aku ganggu konsentrasi," bales Bu Agnes meninggalkan Ezra sendiri.


Di Perpustakaan, sepertinya agak tenang, sehingga tak ada kendala atau halangan untuk membacanya. Pertama Ezra membaca judul buku itu, buku ini tulisan tangan orang jaman dulu dengan huruf miring dengan menggunakan tinta hitam, yaach tulisan Peter.


" Hmmm kertas masih kuat dan tak ada satu lembarpun yang rusak di makan kutu," gumannya.


Dia baca halaman pertama berjudul "Pertama Bertemu Utari."


" Lho koq persis seperti dalam mimpi," gumannya.


Ezra menghubungi Tania lewat pesan pribadi, dan menfoto lembar demi lembar episode pertama. Tania yang membaca lewat ponsel semakin seperti tidak percaya dengan apa yang dialami bersama Ezra dalam mimpi tadi malam.


" Mas, apa mungkin mereka tidak tenang disana?" tanya Tania lewat chat.


" Bisa terjadi, mudah mudahan setelah ini loji bisa di bersihkan dan dibuka untuk umum dan Peter beserta keluarga bisa tenang disana," balas Ezra.


Sementara itu tentang Peter.


Setelah peristiwa di kebun teh, Aku pulang dengan langkah gontai, sesekali menengok belakang, siapa tahu melihat gadis kecil Utari pulang bersama Bi Tami.


" Oohh mereka belum selesai mengantri untuk menimbang hasilnya," guman ku yang merasa usia sudah menginjak dewasa.


Dalam perjalanan pulang wajah gadis kecil Utari tak dapat jua hilang dari pelupuk matanya.


" Jatuh cintakah aku, emmm dia masih terlalu kecil untuk mengerti cinta," gumannya lagi.


" Paman Tardi," sapaku terkejut dengan tanpa disadari hampir menabrak dia yang sedang merawat taman.


" Jangan melamun Tuan kalau jalan," ujarnya sambil tersenyum.


" Aku tidak berani bicara itu kalau dengan Tuan Joseph, bisa dihajar," guman Paman Tardi lirih, tapi aku dengar sehingga dia tersenyum.


Aku tidak langsung masuk rumah tapi duduk di kursi taman.


" Paman, bunga mawar putihnya tak henti bermekaran," kataku sambil melihat mawar mawar yang sengaja banyak ditanam di taman depan.


" Paman, cinta apa seharum bunga mawar?" tanyaku sendu.


" Iya Tuan, tapi kalau sakit, rasanya kaya kulit kita ketusuk duri ini," jawab Paman Tardi sambil menunjuk pada duri di batang mawarnya.


" Peter, kamu pulang lebih awal," kata Mama mendekati kami berdua dengan senyum khasnya.


" Iya Ma, lagi tidak bersemangat," jawab Peter sekenanya.


" Anak pemalas, hanya suka goda perempuan," cetus Joseph yang sudah berada diantara kami, tetapi Paman Tardi yang sudah tahu kedatangan Joseph cepat cepat pergi. Aku tak mau meladeni, langsung menuju kedalam. Biasanya aku selalu menuju ke perpustakaan di lantai atas, dan menulis apa yang dialami. Perpustakaan ini merupakan tempat pelarian bagi ku terutama saat sedih maupun suka, disini bisa menulis dan membaca, kebalikan Joseph, dia tidak suka seperti yang di lakukan olehku.


Hari berganti, Aku dan Joseph tidak juga bisa rukun, setiap hari ada yang selalu jadi bahan pertengkaran, dan aku lari ke perpustakaan, Joseph merasa alergi pada buku buku tebal di ruang baca tak akan mengejarnya. Sikap kasar Joseph mengakibatkan dijauhi keluarga, yang datang ke loji loji sebelahnya setiap setengah tahun sekali.


Itulah sifat pelarian ku ke perpustakaan, kadang di tempat ini aku hanya melihat lihat suasana sekitar sejauh bisa dipandang lewat jendela, melihat beberapa rumah adat penduduk disebelah kanan dan di sebelah kiri areal perkebunan teh, atau berteman dengan para pekerja yang banyak mau menerimaku, maka aku lebih memilih berada disini ketimbang pulang ke Belanda.


" Utari, aku tahu kau masih kecil untuk menerimaku, aku sabar menunggumu sampai kamu mengerti tentang rasa seperti di hatiku, percaya orangtuaku tak akan melarang keputusanku," lamunan ku sambil melihat hamparan hijau di depan lewat jendela yang sengaja kubuka lebar lebar pagi itu, sebelum membantu orang tua mengawasi pekerja di perkebunan, pada tanah yang disewa.


" Peter Peter," teriak Joseph dari bawah, dengan hati berat aku menuruni tangga menuju suara teriakan Joseph, dan bug, Joseph menghantamkan tangan ke perut ku, aku terhuyung huyung dengan menahan sakit, Mama tak bisa berkata melihat kekasaran Joseph yang wajahnya merah menunjukkan kemarahan.


" Ini sudah jam berapa, setiap hari cuma melamun diatas," teriak Joseph dan,


" Plak," tangan menampar wajahku yang masih kesakitan karena tendangan keras diperutnya. Aku meringis menahan rasa sakit di perut dan wajahnya, walau demikian aku tak mau menangis.


Sementara itu dari hari ke hari bahkan menuju bulan berikut perlakuan Joseph tak pernah berubah sehingga orang tua berniat untuk menitipkan ku ke adiknya, hanya demi keselamatan, karena Joseph dalam marahnya selalu mengancam akan menghabisi ku. Mendengar ini Joseph semakin marah, semua barang di rumah menjadi sasaran amukannya. Orangtua tak berdaya, hal ini yang membuat Papah selalu kepikiran pada sikap Joseph sampai Papah mengalami kelumpuhan, tidak hanya syarat kaki tapi berbicarapun cidal, untung masih bisa duduk.


Waktu berjalan terus Joseph jatuh cinta pada seorang wanita kulit putih dari anak teman Papah dan terus di nikahkan.


Dia dibuatkan loji di sebelah nya, Aku sedikit lega sejak Joseph menikah tidak menjadi sasaran kemarahannya.


Sejak Papah tidak bisa mengawasi para pekerja semua beban di berikan ke kami anak anaknya, tidak terlalu berat pekerjaan untukku karena tugasnya hanya mengawasi, para pekerja selalu patuh padaku, karena aku tetap tegas tetapi tidak suka marah atau menghardik dengan tongkat yang selalu ku bawa.


"Bi, Utari tidak diajak?" tanyaku saat Bi Tami lewat dengan menggendong keranjang besar berisi teh sambil membungkuk, sehingga dia mendongakan kepala untuk mencari suaraku.


" Oh Tuan Peter, iya tuan dia sudah kerja," jawabnya sambil tetap berjalan setengah membungkuk karena beban dipunggungnya.


" Kerja dimana Bi Tami?" tanyaku berjalan disampingnya.


" Di kebun bunga melati," jawabnya, dengan wajah ia tetap hadapkan kebawah untuk melihat jalan yang dilewati. Akupun berhenti tak mengikutinya, dan termenung membayangkan wajah cantik Utari tentu sekarang tambah cantik, sejak bertemu dua tahun yang lalu aku sudah tidak melihatnya lagi. Hatiku bergejolak ingin ketemu dengannya. Sejauh ini aku belum tahu rumah dan bapaknya. Aku pulang karena para pekerja wanita sudah pada turun untuk menimbang teh, yang mengawasi di penimbangan Josephin dan Magdalena, kedua kakak iparku, lojinya ada di depan loji Joseph juga disebelahnya, sedangkan dua kakakku mengawasi perkebunan disebelahnya, kedua kakakkupun sikapnya tidak seperti Joseph, hampir mirip aku, cuma mereka tak punya hobi membaca, waktunya lebih suka untuk bercengkrama dengan anak anak.


" Paman, Yu Ipah sudah tidak kerja hari ini," kataku, mendekati Paman Tardi yang lagi menanam pohon bunga melati, karena Yu Ipah sedang hamil.


" Tuan, bagaimana kalau istriku dan anakku yang disini?" tanya Paman agak sungkan.


" Boleh, tapi menginap ya," desakku.


" Tuan, nanti aku bagaimana?" ujarnya merasa keberatan.


" Bisa menempati rumah dibelakang, dari pada kosong," jawabku tidak memaksa tapi Paman menuruti.


Paginya Paman datang bersama dengan istri dan putrinya, aku tidak menyambutnya, hanya aku dengar dari loteng suara Mamah memandu mereka tentang pekerjaan yang harus dikerjakan, sepagi ini selalu menyempatkan menuju ke perpustakaan, dengan sebelumnya aku ke kamar Papah, menengok untuk sekedar menyapa, memijat atau mengecup kening, memang setiap aku habis pulang kerja selalu menengok kamar Papah, juga saat sebelum ke loteng selalu kusempatkan waktu untuk memijat Papah atau mencium kening. Papah setiap aku mau berangkat ku dorong kursinya untuk berjemur ditunggui Mamah.


Pagi ini langkah kakiku menuju jendela, dan membuka jendela kaca dan kayunya.


Emmm segar juga udara pagi, matahari kemerahan di langit ufuk timur, sinarnya menembus ke ruang ini, sambil memandang hamparan hijau kebun teh di kejauhan membayangkan Utari dengan bulu mata lentik tersenyum malu.


" Utari, semoga kamu juga menungguku," gumanku pada hamparan hijau yang nun jauh di sana, sedang matahari mengintip tersenyum seolah sedang mengawasi keberadaanku. Akupun tersenyum sendiri.


" Apakah ini yang dikatakan cinta, sehingga apapun yang ada didepan selalu jadi bahan puisiku?" gumanku dengan membalikan tubuh menuju jendela sebelah baratnya. Akupun membukanya, terlihat embun bening di dedaunan di taman dengan tanaman mawar merah yang sedang bermekaran, wanginya semerbak tercium sampai ke loteng, akupun tersenyum.


" Paman Tardi suka menaman mawar, oh ya mawar banyak di gunakan oleh masyarakat sini," gumanku, kamipun tak melarang paman.