ROSES

ROSES
Part 39 Berkunjung ke Loji



Tania membaringkan Afifah tidur siang, sekalian dia berbaring di sebelahnya karena Fifah belum mau melepas asinya, tak lama Ezra menyusul merebahkan tubuhnya sambil mengelus rambut Tania.


" Hmmmm mesti ada maunya,"ucap Tania sambil melepas asi dari mulut Fifah dengan tak lupa mengecup kening putrinya.


" Kamu cerdas De, selalu tahu yang ku mau, " ucap Ezra tertawa terkekeh.


Ritual pun dilaksanakan, Fifah kayak diayun ayun, membuat tertidur pulas, kadang bibirnya gerak kayak sedang minum asi, sehingga kedua orang yang belum tidur, tertawa melihat bibir lucunya.


Dan Tania kemudian bangkit menuju kamar mandi, langsung membersihkan diri disusul oleh Ezra, Tania hanya melilitkan handuk dan belum sempat menggunakan baju, karena Afifah merangkak dikasur mendekatinya langsung minta minum.


" Mas, aku kaya punya bayi dua, ini baru selesai yang itu merengek dan ini merengek lagi," ujar Tania tersenyum, Ezra juga tertawa tapi matanya sudah tidak mampu menahan kantuk.


" Bunda, mau pakai baju dulu ya nduk," kata Tania melepas asi dari mulutnya dan meletakkan Afifah di bawah ranjang, Ezra tidur pulas dengan dengkuran halus. Tania keluar kamar dengan menggendong Fifah, tangan kecilnya pegang roti kering, Tania mendekati ibunya Ezra yang sudah tua lagi mengambil baju jemuran di belakang rumah.


" Nduk, Rendhi belum pulang?" tanya ibu.


" Belum Bu, masih di lokasi usahanya," jawab Tania sambil buka ponsel mengikuti siaran langsung kegiatan Rendhi dan langsung tersimpan di media itu.


Sudah jam sembilan malam, Rendhi baru pulang diantar dua temannya.


" Kakak pulang sampai malam," kata Ezra khawatir.


" Iya Yah, dede Fifah kangen sama kakak,"ucap Rendhi menggendong adiknya terlihat kangen pada Rendhi karena Fifah terus menyenderkan kepala di bahunya.


" Enggak mau tidur tidur nunggu kakak ya Fifah," kata neneknya.


" Kak, udah selesai urusannya?"tanya Ayah.


" Sudah Yah, besok ke Desa Wisata," kata Rendhi sambil ngecup adiknya yang lagi manja, seperti protes ke kakaknya karena dua hari enggak ketemu. Dan Fifah tidur di gendongan Rendhi, dibaringkanlah diatas kasur yang oleh Tania ditepuk tepuk bagian tubuh bawah pinggangnya.


" Mas, Rendhi semakin dewasa menyikapi semua masalah, lebih baik jangan diceritakan dulu, kalau bisa kita buat kejutan," pinta Tania mengerutkan dahi dan Ezra setuju dengan idenya.


Sampai tengah malam mereka ngobrol, rasa kantukpun tak bisa ditahan, akhirnya berdua tidur dengan kepala Tania menelungkup di ceruk leher Ezra.


Habis Shubuh tak tidur lagi, persiapan menuju Desa Wisata, semua ikut demikian keluarga Rio sudah menunggu nunggu untuk ke lokasi itu yang baru pertama kali ini mengunjunginya.


Sampai ditujuan Ezra, Tania dan Rendhi berdecak kagum, karena pengunjung semakin ramai, terutama setelah terungkap sejarah dan kepemilikan loji loji itu, buku harian Peter laris manis, juga rumah rumah adat serta semua yang terdapat di desa itu sangat menarik bagi pengunjung, bahkan kata pemandu yang datang tidak hanya akhir pekan tapi setiap hari berdatangan.


Tania dan Fifah oleh pengunjung sebagai keturunan dari Cornelis selalu di minta untuk foto bersama.


" De, kasihan Fifah capek, istirahat dulu di dalam," ajak Ezra masuk kedalam. Tania masuk ke kamar menina bobokan Fifah yang terlihat lelah. Dan Ezra mengunci pintu kamar, yang jaman dulu di pakai kakek Peter.


" Mas, mesti ada udang di balik batu," celoteh Tania melirik Ezra.


"Iya donk, kamu punya magnet tersendiri," jawabnya tertawa.


" Mas, Rendhi kemana tadi?" tanya Tania.


" Ke kebun Teh," jawabnya. Kebun teh nya sekarang sudah jauh dari loji, ada sekitar tiga kilometer, kebunnya ada di dataran tinggi.


" Jalan kaki Mas?" tanya Tania.


" Belum tidur Fifah?" tanyanya, seperti tidak sabar menunggu.


Setelah Fifah tidur Tania ganti menina bobo baby yang lebih manja, dan banyak maunya. Merekapun melakukan aktivitas bersama.


"Mas, jeda dulu, Fifah bangun," kata Tania yang mulai repot dan konsentrasi terpecah, Fifah merangkak dekati asi Tania, dan mengisap puncaknya sedang tangan kecil satunya mainan puncak satunya.


" De, untuk Ayah mana?"tanya Ezra karena Fifah ada di perut bundanya.


" Mas, mengalah dulu," kata Tania, tapi dia tak mau mengalah, dengan susah payah dia meneruskan keinginannya, dan akhirnya tangan Tania mengelus punggung Fifah, sampai akhirnya Ezra menyudahinya dan cepet cepet lari ke kamar mandi. Tania melihat Ezra kasihan.


" Mas, kalau pakai sarung, tidak repot kaya gitu," ucap Tania.


" Kadang males makainya De," jawabnya, matanya sudah terlihat sayu karena kantuk.


" Cantik kaya gitu," ucapnya lemah.


" Mau lagi apa Mas?" ledek Tania, dia menggeleng lemah, dan diapun tidak bisa menahan kantuknya terus terlelap tidur. Tania berbaring di sebelah Fifah, ikut tidur juga.


Sorenya para wanita memasak untuk makan malam, Tania agak gelisah Rendhi sesore ini belum terlihat di loji, setelah memandikan Fifah terus keluar sambil menyuapi menuju ke jalan, dan tenda tenda sudah rapat berdiri di depan loji.


" Hmmm itu kakak lagi merekam lokasi yang penuh tenda," guman Tania, hatinya tenang kembali melihatnya.


" Dede Fifah ayo senyum," ucap Rendhi sambil menyorot kamera ke Fifah dan Tania. Fifah tertawa tawa sambil panggil panggil, dia sudah mulai bisa panggil kakak dan Ayah.


" Kak, makan siang dimana?" tanya Tania.


" Di dekat kebun teh ada warung," jawabnya. Rendhi datang kesini dengan teman SMP dan mereka banyak membantu pekerjaannya. Rendhipun tak pernah melupakan mereka dengan memberi sedikit rejeki.


Karena sudah gelap mereka masuk ke loji, berkumpul untuk makan malam bersama.


Tania naik ke loteng sambil menggendong Afifah, karena Ezra setelah makan malam menuju ke atas.


" Mas, gantian gendong Fifah, capek banget aku," keluh Tania.


" Dede, tahu enggak Ayah dulu disini sama bunda," celoteh Ezra ke putrinya yang belum tahu maksud cerita Ayah, karena dia hanya tertawa geli oleh ciuman ayahnya di kedua pipinya yang nyempluk. Tania melingkarkan kedua tangan ke pinggang Ezra dan kepala disenderkan di punggungnya.


" Mas, kalau disini jadi selalu ingat kakek Peter," kata Tania, tangannya semakin kuat mendekap pinggang Ezra, dan sesekali menciumi punggung suami.


" Pengin lagi De?" tanya Ezra mulai meledek.


" Enggak sih, cuman ingin bermanja saja," jawab Tania lembut.


" Tapi, Ayah jadi beda," ledek Ezra.


" Lha Ayah sih gitu maunya, kadang aku pengin bermanja yang enggak harus kesitu," jelas Tania merengut. Akhirnya mereka turun karena sudah malam, sementara di luar ramai ada api unggun. Bahkan Rio dan keluarga pada keluar melihatnya, gerobag jajanan ikut meramaikan malam yang selalu ada api unggunnya, dan setiap akhir pekan ada panggung hiburan berupa musik, yang nonton hanya yang menginap di areal perkemahan saja.


Pagi hari Ezra yang menggendong Fifah beserta Tania, mereka menuju loteng membuka jendela sebelah timur yang menjadi kebiasaan kakek Peter, sedangkan Ezra dan Tania memandang matahari kemerahan terlihat mengintip dibalik gunung, hamparan hijau teh sudah terlihat jauh dari pandangan matanya, tapi desa ini tetap cantik. Afifah diletakan diantara jeruji jendela dengan kedua tangan mencekeram erat dua jeruji sambil berceloteh riang.


" Mas, dipegangi Afifah," pinta Tania karena dia agak tertarik untuk buka almari buku. Tania menemukan surat tulisan Rudolf.


" Mas, ini surat Rudolf, belum ada yang buka juga," kata Tania.


" Coba dibuka isinya apa," pinta Ezra mendekat dengan menggendong Afifah.


" Surat untuk Jonathan dan Johanes, memberi kabar ingin tetap di kota pelabuhan,"jawab Tania datar, karena sudah agak siang mereka ke bawah, ternyata di bawah keluarga semua pada keluar, Rendhi juga.


" Kita duduk di bale, sudah mulai ramai pengunjung," ajak Ezra.


" Mas, perhatikan laki laki itu, dia kaya adiknya Tina, temui Mas, matanya mengawasiku terus," ucap Tania berbisik.


" Oh iya, benar itu adiknya Tina," jawab Ezra, berjalan untuk mendekatinya tapi dia malah pergi menghindar.


" Cari Rendhi mungkin Mas," kata Tania.


Rio beserta keluarganya senang datang kesini, mereka pengin kesini lagi tapi nginep pakai tenda, kaya yang di luar.


Seperti biasa menginap di loji dua hari dua malam, habis duhur terus pulang.


" Fifah terlihat seneng ya Nduk," kata Ibu sambil bermain main sama Fifah.


" Iya Bu, soalnya banyak temannya," jawab Tania datar. Sampai di rumah menjelang Maghrib, cuman Rendhi tadi dengan teman teman menyelesaikan rekaman mungkin pulangnya besok.


" De, kakak sudah sibuk sendiri ya, enggak ingat sama Fifah," keluh Ezra yang sudah merasakan ditinggal anak yang selama ini selalu bersama, tapi sekarang dia sudah mulai menjauh dari orang tua.


" Mas, mungkin semua orangtua punya perasaan kaya kita takut kehilangan anak setelah mereka menginjak dewasa," kata Tania berusaha menghibur suami.


" Iya De," hanya jawab itu sambil tertunduk sendu.